Tunangan Ana datang? Dan ... dia ada di kampus ini? Benar-benar ini suatu yang akan membuatku menjadi sengsara. perkelahian akan ada setiap hari. Aduh, aku tidak tahu harus bagaimana.
"Ana, kenapa kau bersamanya. Aku tunanganmu. Kau sudah selingkuh?" tuduhnya. Aku rasa itu memang benar. Aku sudah mengetahui jika Ana mempunyai tunangan. Apalagi kalau tidak dinamakan selingkuh.
"Siapa bilang kita berhubungan. Kita tidak ada hubungan sama sekali. Kau saja yang menganggap demikian. Pergilah dan jangan pernah mendekatiku. Sekarang aku memiliki kekasih, dan ini orangnya."
Ana menarikku jauh. Dia berjalan tergesa-gesa. Aku sama sekali tidak akan berbicara, karena aku tidak mau dia mengejekku karena aku tidak bisa berbicara.
Kami berada sangat jauh dari tempat sebelumnya. Ana terus berjalan tanpa henti. Aku sebaiknya menghentikannya.
Ana, ayolah. Kita sudah berjalan sangat jauh. Cukup, dan jangan berjalan lagi. Dia sudah tidak terlihat.
Ana kebingungan, dia mengamatibsemua arah. Memastikan jika tunangannya itu tidak ada.
"Dia sangat menyebalkan, Midas. Dia itu play boy, dan selalu saja mempermaikan wanita. Aku sangat membencinya. Dia tidak pernah tahu bagaimana menghormati wanita. Orang tuaku selalu percaya kepadanya. Aku melihatnya sendiri, dia bercinta dengan suster di ruang kerjanya."
Aku menarik Ana dan memeluknya. Tidak aku sangka, ada lelaki b*****t seperti itu. Dia sudah mencemari nama baik dokter.
Ana, kau harus pulang. Besok adalah hal besar buatku. Aku harus belajar dan menyelesaikan kesempatan ini.
"Baiklah, aku akan pergi dan segera pergi dari laki-laki b*****t itu. Kita akan ketemu besok. Jaga dirimu dengan baik, Midas," ucap Ana berjinjit dan memelukku. Entah apa statusku ini. Pacaran, atau bukan? Yang jelas, jika aku melanjutkannya, aku akan berperang dengan banyak orang. Tunangannya, dan ... tentu saja orang tuanya.
Kamu hati-hati. Kabari aku jika sampai rumah.
Ana menganggukkan kepalanya. Sedikit kecupan dia berikan di pipi kanan. Aku tersenyum bahagia menerimanya. Aku ingin sekali menciumnya. Tapi, sepertinya harus aku tahan.
Dia sudah berlalu. Aku berjalan cepat kembali ke kamar. Namun, langkahku terhenti. Tunangan Ana ternyata bernama Ben menghadangku. Nama itu terlihat di baju dokter yang masih dipakainya. Benardo Edward.
"Kau, jauhi Ana. Jangan pernah mendekatinya. Aku tidak akan membiarkannya. Ini benar-benar akan membuatku marah. Apa kau tahu siapa aku?" ucapnya sambil terus mendorongku. Dengan kuat aku menahannya.
"Katakan siapa dirimu?!" tanyanya dengan nada keras. Aku tetap diam dan tidak akan berbicara. Akan sangat gawat jika dia tahu aku bisu.
Yang lebih mengejutkan, beberapa pria menghampiri kami. Kurang lebih lima orang. Mereka menarikku dengan keras. Aku berusaha meronta, namun sia-sia. Cengkeraman mereka sangat kuat.
"Kau, akan aku hancurkan jika mendekati Ana. Kau akan aku buat keluar dari universitas ini!" teriaknya sekali lagi. Ini benar-benar gawat.
"Bicaralah!"
Ben mendorongku sampai punggungku menempel tembok. Aku tidak bisa melawan mereka. Aku bari daja menjadi mahasiswa di sini. Tidak mungkin aku akan menbuat keributan. Akan bisa membuatku keluar jika aku melayani mereka. Lebih baik aku tidak melakukannya.
"Jadi kau akan diam saja? Aku tidak berbicara lagi. Baiklah laki-laki tidak tahu diri. Aku akan membuatmu menyesal karena sudah membuatku marah!"
Dia mengarahkan tangannya. Kelima temannya itu yang sepertinya juga mahasiswa di sini, mendekatiku dan mulai memukulku secara bergantian
Buk, Buk!
Sebenarnya aku bisa mengalahkan mereka dengan mudah. Namun, aku tidak bisa melakukannya. Lebih baik aku mengalah. Jika aku membuat keributan, aku akan dikeluarkan dari sini.
"Ingatlah perkataanku. Jangan pernah mendekati Ana. Dengarkan perkataanku baik-baik, sialan!"
Aku tersungkur ke tanah sambil menahan tubuhku yang sangat sakit akibat pukulan mereka. Ben kembali menendang perutku dengan sangat kencang. Mulutku masih saja tidak bisa berteriak. Mereka akhirnya tertawa dan meninggalkanku begitu saja.
"Rasakan!"
Lebih parahnya air hujan mulai mencurah dari langit membuatku sangat basah. Aku seperti orang yang sangat tidak karuan. Aku harus segera berdiri dan kembali ke kamar untuk mempersiapkan keesokan harinya.
Sambil berjalan gontai aku terus berusaha melangkah untuk masuk ke dalam kamar. Beberapa mahasiswa yang berada di sebelah kamarku melihatku dengan mengernyit heran. Namun, mereka tidak berani mendekatiku. Mereka hanya memandang dan membiarkanku begitu saja. Tunangan Ana pasti memiliki pengaruh yang sangat kuat di sini. Mereka berbuat seperti itu karena tentu saja jika mereka mendekatiku, mereka akan terkena masalah juga.
Aku mengetuk pintu dan Rey membukanya. Dia melotot melihat tubuhku dipenuhi lebam dan sangat tidak karuan, ditambah sangat basah.
"Kenapa denganmu? Baru pertama kali masuk ke dalam universitas ini sudah sangat tidak karuan seperti ini. Apa kau berkelahi," ucap Rey menarikku masuk ke dalam dan menutup pintu dengan sangat rapat. Dia menggelengkan kepala kemudian mendudukkanku di kursi di sudut ruangan.
"Midas. Siapa yang sudah memperlakukanmu seperti ini? Jangan pernah membuat keributan karena universitas tidak akan menerimamu lagi. Kau harus mengerti itu. Midas. Hindari semua hal yang membuatmu akan celaka. Kau, tidak bisa menjadi seperti ini. Paham!"
Ana memelukku. Dia menyatakan perasaannya padaku, Rey. Dia mengatakan jika dia mencintaiku. Aku sangat kebingungan dan aku sendiri seperti ini karena tunangannya. Tepatnya lelaki yang mengakui tunangannya. Aku tidak mengerti.
"Apa? Midas, ini buruk," sela Rey menepuk jidatnya.
Sudahlah. Lebih baik aku membersihkan diri, lalu istirahat. Besok adalah hari yang sangat penting untukku.
"Tunggu! Jadi, tunangan wanita itu memiliki tunangan, dan menjadi mahasiswa di kampus? Ini benar-benar mengejutka. Ini ... sangat gawat Midas. Kau harus menghindarinya. Jangan mendekati wanita itu lagi. Sudahlah, hapus saja rasa cintamu itu. Banyak sekali wanita yang bisa kau dapatkan."
Perasaan tidak bisa dipaksakan Rey. Lebih baik aku sendirian saja dan menyelesaikan semua sekolah ini, lalu melanjutkan cita-citaku.
"Om kenapa kenapa seperti ini? Apakah penjahat itu sudah menghajar Om lagi? Gara-gara kami, Om menjadi sangat menderita. Aku sangat sedih," kata Putri kemudian menangis.
Aku berlari mendekati Putri dan berjongkok. Dia tidak boleh menangis seperti ini.
Om baik. Om tadi berkelahi karena, pacar Om diganggu laki-laki jahat. Hmm, bukankah benar jika Om harus melawan lelaki jahat itu?
"Om jangan seperti ini. Aku tidak mau," rengeknya kemudian memelukku. Untunglah dia bisa tenang kembali.
Sepanjang malam aku terjaga hingga pagi. Aku mempersiapkan diri dengan baik. Semua aku periksa agar tidak ada yang tertinggal. Rey sibuk membuat sarapan bersama Putri. Mereka juga sangat bersemangat. Ini adalah awal dari kebangkitanku. Aku akan berjuang untuk yang terbaik.
Kami melakukan sarapan dengan bahagia. Hingga waktunya tiba aku harus berangkat ke kampus. Aku berlari untuk segera ke sana.
Ruangan mewah dan megah semakin membuatku terpana. Aku hanya terdiam tanpa menyapa semua mahasiswa baru. Lebih baik aku duduk di belakang saja agar dosen itu tidak mengajakku banyak bicara.
Aku harus bisa. Ketakutan ini harus aku lawan.
Hingga waktunya dosen itu memasuki ruangan. Dia mengedarkan pandangan, mengamati semua mahasiswa baru yang sudah siap menerima ilmu yang akan dia sampaikan.
"Kau! Iya, kau," tunjuknya kepadaku. Aku sangat terkejut.
"Iya, kau. Majulah dan perkenalkan dirimu. Aku selalu memulai dari siswa yang duduk di belakang. Baiklah, jangan membuang waktuku. Kemarilah dan perkenalkan dirimu."
Apa yang harus aku lakukan? Apakah mereka akan menerimaku jika tahu aku bisu?