Aku harus bagaimana? Ini tidak bisa terjadi. Aku menjadi yang pertama memperkenalkan diri? Lalu ... bagaimana jika mereka akan membuliku jika tahu aku bisu.
"Halo, mahasiswa di belakang sana. Apa kau tuli? Kemarilah, dan cepat. Aku tidak punya waktu."
Bagaimanapun juga aku harus ke sana dan melakukan perintahnya. Dokter Alberth yang merekomendasikan diriku. Aku bisa tenang sekarang. Apalagi rektor juga mengetahuinya. Aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun juga.
Tubuhku mulai berdiri. Aku mulai melangkah perlahan untuk keluar dari bangku ini. Semua mahasiswa memandangku dengan tatapan kaku. Lebih baik aku menundukkan kepala dan tidak memperhatikan hal itu.
Aku harus kuat. Lakukan dengan baik, Midas.
"Kenapa kau seperti orang yang menahan rasa sakit? Apakah kau ingin ke belakang? Jika ingin kau lakukan, kau bisa ke sana dulu, lalu kembali setelah itu," kata Dosen itu membuatku sedikit berpikir. Apakah aku memang harus melakukan itu untuk menghindar? Namun, sama saja. Saat aku melakukannya, aku pasti juga akan masuk ke sini kembali dan memperkenalkan diriku.
Aku menggeleng pelan. Dia mengarahkan tangannya ke semua mahasiswa agar aku menghadap mereka. Aku terdiam menarik napas panjang dan mulai akan berbicara menggunakan bahasa isyarat. Semoga saja mereka tidak mencibirku.
Namaku Midas. Aku tidak bisa berbicara. Tapi, aku bisa menjadi seorang dokter yang baik. Aku berada di sini karena bantuan seseorang. Saat itu aku menyelamatkannya. Dia sangat baik. Dia mengetahui aku tidak bisa berbicara. Yang kalian tahu ... memberikanku kesempatan dan ini akan aku gunakan sebaik mungkin. Kelemahan bukan segalanya. Itulah yang aku pikirkan saat ini. Terima kasih.
Semua melotot ke arahku. Aku menarik napas panjang, untuk bersiap menerima cibiran mereka. Biarkan saja mereka tidak mau berteman denganku. Yang terpenting, aku bisa melakukan kuliah ini dengan baik.
"Hmm, kau ... tidak bisa ... ber-ni-cara?" tanya Dosen itu menatapku sangat serius.
Iya, dan itulah yang sesungguhnya.
"Hmm, siapa yang membawamu ke sini?" tanyanya sekali lagi.
Dokter Alberth.
"Kau apanya pemilik universitas ini?" Dia bertanya menghakimi. Semua mata memandangku, dan mereka juga ingin mendengarnya.
Aku tidak ada hubungannya apapun dengan Dokter Alberth. Tapi, kami bertemu dengan kebetulan. Jika ingin lebih jelas, Anda bisa bertanya langsung dengan dia.
"Hah, jika kau bersama dia, aku tidak bisa berbuat apapun. Jadi ... baiklah. Kau bisa kembali duduk di sana. Untung saja aku bisa berbahasa isyarat."
Bolehkah aku duduk di depan?
"Duduklah di bangku sesukamu," jawabnya membuatku bersemangat. Aku berjalan cepat mengambil tasku, lalu kembali ke depan.
"Midas. Duduklah di sini. Aku akan menjadi temanmu."
Seorang laki-laki melambaikan tangan ke arahku. Dengan bersemangat aku menghampirinya. Aku tersenyum, lalu duduk di sebelahnya.
Semua mahasiswa bergantian untuk memperkenalkan diri mereka. Hingga waktu yang aku tunggu pelajaran yang harus aku terima.
"Midas. Aku Harto. Aku dari Jogja. Kamu, dari mana? Aku bisa bahasa isyarat. Tenang saja. Kau bebas mengatakan apapun."
Nama yang sangat bagus. Di sebelahku lelaki dengan dandanan sangat rapi. Rambutnya berbelah pinggir sebelah kanan. Kulitnya sawo matang dan bahasanya sangat medok. Sepertinya dia sangat baik. Aku senang sekali berteman dengannya.
Aku berasal dari Jakarta. Aku senang berkenalan denganmu. Tapi, sebaiknya kita memperhatikan dosen berbicara. Ini tidak bisa aku tinggalkan.
Harto menganggukkan kepala lalu kembali mengamati dosen dengan sangat serius. Hingga dosen itu menanyakan suatu hal yang sangat aku ketahui. Aku mengerti bagaimana biologis manusia itu. Ayah dan kakekku selalu menerangkannya ketika aku bersama mereka saat belajar di ruangan kerja Kakek yang cukup besar di dalam rumah.
Dengan cepat aku mengangkat tangan, lalu dosen itu terdiam mendadak.
"Kau mengetahui apa yang aku tanyakan?" tanyanya. Spontan aku menganggukkan kepala.
"Pelajaran ini baru saja aku sampaikan dan kalian baru saja membacanya. Namun kau sudah mengetahuinya?" tanya dosen itu sekali lagi. Secepatnya aku menganggukkan kepala kembali sambil tersenyum.
"Bagaimana kau akan menjawab dan menjelaskan kepada mereka? Maafkan aku. Kau tidak bisa berbicara. Aku harus menanyakan hal ini sebelum menunjukmu."
Aku bisa menuliskannya di papan tulis itu.
Dosen itu mengelus-elus dagunya masih berpikir untuk menunjukku atau tidak. Setelah beberapa menit, dia akhirnya mengarahkan tangannya agar aku segera ke depan dan melakukannya.
"Baiklah Kau bisa ke depan dan menjelaskan apa pertanyaanku tadi. Kalian semua perhatikan Midas dan mengelaklah jika ada yang salah dengan tulisannya. Jangan diam saja. Kalian ini semua calon dokter. Ayo bersemangat. Kalian adalah orang yang memiliki perkerjaan mulia. Jangan pernah mengabaikan hal itu."
Aku berdiri, menuliskan semua perkataan Ayah dan Kakek saat itu. Dosen itu berdiri di sebelahku. Kedua matanya mengernyit, dan menatap serius semua yang aku tuliskan.
"Luar biasa. Dari mana kau mengetahuinya? Bahkan ini adalah pelajaran yang belum aku sampaikan kepada kalian. Walaupun memang sebenarnya masih sangat berhubungan. Sudah cukup apa ya akan akan sampaikan, Midas. Semua mahasiswa bisa kebingungan saat membaca ini. Hapus saja di bagian tengah ini, karena materi ini cukup sampai di situ. Kau jangan membuat mereka akan stress keluar dari ruangan ini."
Aku menganggukkan kepala kemudian melakukan apa perintah sang dosen. Dari kejauhan Harto memberikanku jempol dengan senyuman yang sangat sumringah. Lesung pipi terlihat di wajahnya. Dia memang sangat tampan.
"Duduklah Midas. Biarkan aku menjelaskan ini semua kepada mereka. Kau sudah sangat mengejutkanku hari ini. Kau patut diperhitungkan," ucap sang dosen membuatku sangat tenang. Aku merasa sangat bersemangat. Ini adalah hari yang sangat membuatku bahagia.
"Midas memang benar. Dia sudah menuliskan semua, bahkan menggambarkan apa yang aku harus sampaikan kepada kalian. Semua yang Midas berikan itu bisa kalian catat."
Mahasiswa saling berbisik. Pasti mereka membicarakanku. Biarkan saja mereka melakukannya. Di sini aku menginginkan ilmu. Bukan apapun.
Jam pergantian jam telah terdengar. Dosen menutup pelajaran. Dia tersenyum ke arahku sebelum meninggalkan ruangan. Ini pertanda baik untukku.
"Weh, hebat banget kamu. Otakmu itu terbuat dari apa? Makananmu, opo? Pinter banget kaya Raja Midas. Memang sesuai namanya," ucap Harto memujiku. Bahasanya lucu dan medok. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
"Ayo ke kantin. Pelajaran akan dimulai dua jam lagi. Bosen kalau di sini. Setelah itu, ke perpustakaan, cari buku. Piye, friend?" katanya sembari mengulurkan telapak tangan kanannya dan tos kepadaku. Aku terkekeh dan sangat senang. Syukurlah, aku memiliki teman yang sangat baik.
Aku berjalan bersama Harto keluar ruangan. Kami dengan santai akan menuju ke kantin.
"Midas!" teriak Ana tiba-tiba mengejutkanku. Dia berjalan cepat ke arahku. Dengan cepat Ana memeluk lengan kekarku. Harto melotot melihatnya.
"Loh, ayu banget. Wes, kamu luar biasa Midas. Bener-bener beruntung." Harto tidak hentinya menggeleng kagum kepadaku. Aku sangat malu.
"Wajahmu itu merah, kaya tomat. Haha, malu kamu?" ejek Harto semakin membuatku menunduk. Ana hanya tersenyum semakin mengeratkan pelukannya.
Kami kembali berjalan. Tapi, lima orang mahasiswa laki-laki berdiri bersedekap di hadapanku.
Ana, dia tunanganmu. Dia sangat marah. Aku tidak mau ada keributan di sini. Ana, aku mohon. Aku adalah mahasiswa baru. Aku tidak mau dikeluarkan. Ijinkan aku menyelesaikan kuliahku dan akan menjemputmu.
Ana melotot tajam ke arahku. Tentu saja dia akan kecewa denganku.
"Ben, aku mencintai Midas. Aku akan memberi pengumuman kepada semua keluarga. Kita putus!"
"Ana!"