Ini tidak baik. Benar-benar tidak baik. Pertama kali aku menjadi mahasiswa harus seperti ini. Namun, aku juga tidak bisa meninggalkan Ana. Apa yang harus aku lakukan?
"Ana, kau ternyata bersama dia, dan kau ternyata ... selingkuh!" teriak Ben sangat keras. Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Hah dia akan menampar Ana?
Zab!
Aku menahannya dengan sangat kuat. Dia tidak boleh melakukukan itu. Aku tidak akan membiarkannya. Laki-laki tidak tahu diri. Kenapa dia seperti itu kepada wanita?
"lepaskan aku dasar laki-laki tidak tahu diri!" teriak Ben membuat pengikutnya berjalan menghampirinya.
"Midas, dia itu keponakan pemilik universitas ini. Wes, ngalah saja. Dokter Ana adalah anak salah satu penanam saham juga di sini. Mereka berdua sangat kaya. Kamu jangan ikut campur, Midas."
Mereka semua mengernyit menatapku saat melihat Harto berbicara menggunakan bahasa isyarat kepadaku. Aku sangat resah. Mereka pasti akan mengatakan hal buruk kepadaku.
"Kau ... bisu? Bagaimana mungkin, bisa masuk ke sini? Ternyata kau bisu?" Ben menunjukkan jemarinya tepat di wajahku dengan heran. Dia kemudian tertawa keras.
"Hahaha. Kau sangat bodoh Midas. Kau ternyata ... bisu, dan aku heran kenapa pihak universitas ini memasukkanmu?"
Ini pertanda sangat buruk, dan aku akan mendapatkan masalah. Aku harus diam saja jika mereka melakukan sesuatu denganku. Jika aku melawan, pasti aku akan dikeluarkan. Atau ... aku menghindar. Tapi, bagaimana dengan Ana?
"Semua! Lihatlah, lelaki ini tidak bisa berbicara, tapi masuk ke dalam universitas ini. Bukankah ini sangat memalukan? Nama baik universitas ini akan tercoreng menerima mahasiswa seperti dia. Kalian semua harus mengerti dan menolak hal ini. Jika kita tepat melakukan, kalian akan mendapatkan sebuah nama yang sangat jelek ketika lulus dari universitas ini!"
Ben meneriakkan perkataannya kepada semua mahasiswa yang spontan saling menolehkan pandangan. Mereka akhirnya berdiri dan mengerumuniku. Lalu menatapku dari atas sampai bawah. Ini sangat membingungkan. Benar-benar sesuatu peristiwa yang sangat buruk.
"Midas memiliki kepintaran yang sangat luar biasa. Kalian saja tidak bisa menandinginya. Jadi jangan pernah mendengarkan perkataan lelaki yang tidak tahu diri ini. Apa kalian semua mengerti?"
Ana membelaku dengan cukup biasa.
Tapi, aku semakin resah dia seperti itu akan semakin membuat dan membenciku kemudian, menghancurkanku saat ini juga. Ini tidak bisa aku biarkan. Aku sebaiknya mengalah dan membiarkan Ben melakukan apa yang dia mau.
Sudah cukup Ana, jangan lakukan ini. Kau bisa memberatkanku kita lebih baik menghindar dan mengalah saja.
Saat aku menggunakan bahasa isyarat, semua kembali tercengang. Mereka menatapku dengan mengernyit dalam Aku sangat tahu dan paham mereka tidak mau aku di sini karena akan mempertaruhkan harga diri mereka. Lebih baik aku pergi saja.
Ana kita harus segera pergi. Tolong jangan mempersulit diriku.
Ana menarik napas panjang. Dia menganggukkan kepala. Aku melangkah menjauh menarik Harto. Dia tidak boleh ikut dalam masalah ini.
"Kau! Jangan pernah pergi, sebelum aku menyuruhmu pergi!" Ben berteriak keras. Aku melotot mendengarnya. Sekarang, aku harus kabur. Spontan aku menarik lengan Ana dan menepuk pundak Harto.
"Midas, kita lari?" tanya Harto.
Aku menganggukkan kepala dengan keras, lalu berlari kencang. Entahlah aku harus lari ke mana.
"Kejar, mereka!" teriak Ben yang sangat keras dan membuat telingaku panas. Dia mengejar kami.
"Kita ke halaman belakang, lalu masuk ke gudang di sana!" balas Ana keras. Aku tidak mengerti maksudnya. Yang penting aku ikut saja. Dia adalah mahasiswa di sini cukup lama, dan pasti mengetahui seluk-beluk universitas ini.
Kami berlari sangat kencang hingga kami akhirnya melihat sebuah bangunan tua yang berada tidak jauh dari posisi kami. Ana terus melaju lebih depan dari pada kami. Dia melepaskan genggaman tanganku. Dengan cepat dia merogoh sakunya ketika sudah sampai di depan pintu gudang itu, kemudian mengeluarkan sebuah kunci.
Apa yang dilakukan Ana? Ternyata dia membuka pintu itu dengan kuncinya. Aku mendekatinya sambil mengatur napasku. Begitu juga dengan Harto.
"Ayo, masuk!"
Ana menarikku masuk ke dalam, kemudian bergantian dengan Harto. Lalu dia menyusul kami masuk. Pintu gudang itu dengan sangat rapat Ana kunci.
Ana, ruangan apa ini?
Aku bersama Harto saling menolehkan pandangan. Kami tidak percaya setelah melihat isi di dalamnya, ternyata sangat luar biasa.
"Midas ini beneran ruangannya Mbak Ana, loh. Dia siswa terpintar di sini. Dia sekarang sedang melanjutkan kuliah spesialis. Kuliahnya hanya ditempuh dalam waktu singkat saja. Biasanya, orang itu 8 tahun. Da kurang dari itu. Pintar banget dan sangat terkenal
Ini pasti ruangan rahasianya," bisik Harto menolehkan pandangannya ke arahku.
Aku sedikit tersenyum dan masih terpana melihat apa yang ada di dalam ruangan ini. Sebuah buku yang sangat banyak dan tertata rapi ada di almari kaca. Kemudian meja kerja yang berisi dengan semua informasi tentang kedokteran, ditambah sebuah patung tengkorak juga berada di sini.
"Kalian sementara di sini saja, jangan keluar sampai jam pelajaran. Hmm, kira-kira satu jam lagi akan dilakukan. Nanti aku tunjukkan jalan rahasia menuju ke kelas kalian. Aku sangat paham dengan universitas ini sejak kecil. Aku selalu di sini. Jadi, tenang saja. Aku tahu di mana jalan rahasia."
Aku bersama Harto menarik napas lega Ana penyelamat kami. Namun, aku tetap resah. Bagaimana jika bertemu dengan Ben? Seluas dunia ini saja, aku bisa bertemu dengan teman-temanku yang sudah lama tidak aku temui. Dunia ini sempit. Apalagi Ben ada di kampus ini. Keberadaannya benar-benar sangat mengancamku setiap hari. Tapi, aku tidak bisa menyerah. Aku tidak boleh keluar dari universitas ini.
"Midas, maafkan aku. Semua ini gara-gara aku. Kau mendapatkan masalah dengan Ben. Aku akan membayarnya. Kau tidak bisa mendapatkan masalah dengannya, karena akan sangat rumit. Aku tidak akan membiarkannya. Kau jangan khawatir, Midas."
Harto menarikku dan melirik Ana. Dia kemudian menggeleng pelan. Aku tidak mengerti maksudnya.
Dia menepuk jidatnya, lalu berbisik, "Midas. Mbak Ana mau nangis itu lo. Dekati saja, dan katakan kalau kamu mau menerimanya. Wes aku ta merem."
Aku mengangkat kedua tangan, tidak paham dengan kalimat terakhir yang dia katakan. Merem?
Harto kembali menepuk jidatnya. "Lali aku pakai bahasa Jawa. Mejam, maksudnya. Aku tak memejamkan kedua mata. Wes, sana." Aku semakin melotot. Kedua tangannya memucuk, kemudian saling bersentuhan, dengan bibirnya yang maju kaya kerucut.
Maksud kamu, aku harus ...
"Iyo. Aku ta menghadap sana. Wes. dekati Mbak Ana."
Harto mendorongku dengan keras. Dia segera memalingkan wajahnya. Aku menatap Ana. Dia duduk, menundukkan kepalanya dengan wajah sendu. Aku paham dengan perasaannya. Aku juga merasakan hal itu.
Aku mendekatinya, menepuk pundaknya. Dia menolehkan pandangannya. Kedua matanya memerah. Sepertinya dia memendam sesuatu yang membuat dia sakit. Dia mau menangis. Aku tidak bisa melihatnya.
Ana, terima kasih sudah menyelamatkanku. Kau ... jangan menangis. Aku bisa lemah melihatnya. Aku sangat menyayangimu. Tolonglah ...
Ana berdiri, menatapku dengan sendu. Dia melingkarkan kedua tangan di pinggangku. Kami akhirnya berpelukan.
Harto sesekali melirik ke arah kami. Dia memberikan jempolnya sembari mengedipkan salah satu matanya. Hmm, pura-pura tidak melihat, tapi melihat juga. Dia semakin sumringah saat melihat Ana menenggelamkan wajah di dadaku. Aku kini memeluknya erat.
"Midas, jangan tinggalkan aku .... kita lari saja jika semua keluargaku tidak menyetujui hubungan kita. Aku mohon ..."
Ana? Kau ... benar-benar ingin bersama diriku?
"Midas, apa kau meragukan perasaanku? Aku baru pertama kali jatuh cinta. Dan, itu denganmu."
Brak!
Seseorang menggedor pintu dengan keras. Ini benar-benar gawat. Ternyata Ben menemukan kami. Aku sangat kenal dengan suara teriakan itu.
"Wadew, Midas! Piye iki? Dia, laki-laki itu. Tunangan Mbak Ana. Iyo, dia yang menggedor pintu ini," ucap Harto sangat panik.
"Buka! Atau aku dobrak, dan aku akan menghajar kalian!" Ancaman Ben semakin membuat kami panik.
"Kalian, benar-benar akan aku hancurkan. Terutama kau si bisu tidak tahu diri!"
Ana apa yang kau lakukan?