Tunangan Ana masih saja menggedor-gedor pintu gudang ini.
"Ada jalan rahasia. Ayo!"
Ana mengajakku keluar dari gudang ini melalui samping ruangan. Ternyata ada sebuah pintu kecil yang berada di sana. Dia mengeluarkan kunci yang berada di kantong baju dokter yang masih dipakainya. Kunci yang sangat kecil. Dia membukanya dan menarikku keluar. Harto mengikuti kami dari belakang. Ana kembali bergegas menutup pintu itu kembali dan menguncinya 2 kali tekanan.
"Midas, ambillah 2 tong sampah itu dan letakkan di belakang sini. Mereka tidak akan pernah bisa mendobraknya," pinta Ana dan aku segera melakukanny. Harto membantuku untuk segera menutup pintu itu dengan menghalanginya rapat.
"Ayo kita lari dan kembali ke kelas. Kita bisa melewati jalan itu dan segera masuk ke kelasmu. Kau akan aman, Midas. Jangan kawatir."
Aku menganggukan kepala. Harto mengawasiku dan menggelengkan kepala. Kemudian dia menepuk jidatnya. Aku sangat paham ini adalah pertama kalinya dia masuk ke kampus ini dan mendapatkan masalah gara-gara diriku. Aku benar-benar tidak enak dengannya.
Ana menarikku dengan keras. Kami berjalan sangat cepat. Di belakang Harto masih saja mengikuti kami. Hingga kami akhirnya sampai di tempat utama kampus setelah melewati beberapa lorong yang cukup sempit. Ana sepertinya sangat paham dengan isi kampus ini. Tentu saja dia adalah salah satu pemilik kampus ini.
"Kamu sudah sampai. Masuklah ke kelasmu dan ikuti pelajaran dengan baik. Mereka tidak akan pernah menemuimu jika kau memasuki kelas."
Ana tersenyum dan memandangku dengan sangat cantik. Entahlah aku harus bagaimana menyikapi semua masalah ini. Benar-benar sangat buruk dan tentu saja aku akan mengalami suatu hal yang bisa membuatku keluar dari universitas ini.
Terima kasih Ana. Kau juga harus menjaga dirimu. Jangan sampai tunanganmu itu menyakitimu atau melakukan hal apapun yang bisa membuat kau celaka. Ana, aku sangat kawatir kau tahu sendiri bagaimana perasaanku padamu. Tolong Jagalah dirimu dengan baik.
"Aku sangat senang kau mengatakan itu Midas. Kau ternyata perhatian denganku dan itu semakin membuatku sangat bersemangat," balas Ana memandangku lembut.
Aku semakin berbinar ketika melihat Ana melebarkan senyuman dengan sangat cantik. Namun, Harto sedikit menginjak kakiku. Aku menolehkan pandangannya ke arahnya. Dia menggeleng keras. Sepertinya dia memberi pesan agar aku tidak bertemu dengan Ana dalam waktu dekat ini. Sepertinya itu adalah saran yang cukup bagus yang harus aku lakukan.
Ana
Aku menepuk pundak Ana sangat dia akan membalikkan tubuh dan melangkah meninggalkanku. Dia kembali menatapku dengan sangat serius.
"Ada apa Midas?"
Ana sebaiknya kita tidak bertemu. Bagaimana untuk sementara ini ... yang harus kita lakukan ini .... yang terbaik buat kita. Jangan bertemu sama sekali. Setelah situasi reda kita bisa bertemu kembali.
Ana melotot dengan spontan. Kedua matanya kembali memerah. Sepertinya dia akan menangis dan ini satu hal yang akan membuatku panik. Sementara Harto memegang kepalanya.
"Jadi ... kau tidak mau menemuiku?" Ana memberikan pertanyaan tersusah yang harus aku jawab.
Bukan seperti itu. Kita akan bertemu, tapi nanti. Tunanganmu itu bisa membuatmu celaka, begitu juga dengan diriku. Aku tidak mau mengecewakan Dokter Alberth. Ini sesuatu yang sangat ajaib aku bisa bersekolah di sini. Ana, mengertilah.
"Aku mengerti," jawabnya singkat kemudian Ana membalikkan tubuhnya dan pergi begitu saja.
"Wes, Midas. Jangan panik gitu. Wanita itu sok jual mahal. Tapi, mereka itu sayang. Nanti kamu tak bantu nemui Mbak Ana diam-diam pas situasi aman. Nah, kamu intip dia, dekati, lalu ... cup."
Cup?
Harto tertawa keras saat aku menyatukam jariku seperti orang berciuman.
"Hahaha, kau itu lucu dan polos. Kamu cium pipinya, trus kabur. Nanti ... Mbak Ana akan kesengsem sama kamu. Wes, serahkan ama Harto. Aman."
Dia menarikku masuk ke dalam kelas. Kami duduk di belakang. Lebih baik seperti itu. Tubuhku berkeringat.
Sang dosen masuk dengan terburu-buru. Namun, aku spontan melotot. Dia bersama Ben?
"Mati kita. Alias mampus. Ono, tunangan Mbak Ana. Aku baru ingat. Dia itu adalah mahasiswa terpintar di sini. Pintar, kaya, ganteng, komplit. Ibaratnya, kalau beli nasi goreng itu, spesial pakai telor. Wes, gawat ini."
Semua ucapan Harto benar. Ini sangat gawat, dan aku pasrah. Apalagi dia mengamati semua arah, spontan menghentikan kedua bola matanya tepat saat menatapku. Harto terus menepuk jidatnya saat Ben tersenyum sinis ke arahku.
Harto. Kamu sebaiknya pindah saja. Jangan dekat-dekat aku. Nanti kamu akan kena imbasnya. Menjauhlah.
Harto menggelengkan kepala. Dia menarik kerahku. "Kamu pikir aku wedi? Eh, takut? Harto pangeran Raden Yogyakarta anak dari Sri Sultan, mana takut? Wes, jangan pernah mengatakan itu. Aku ini lebih hebat dari para pahlawan di televisi itu. Percaya ama aku."
Aku sedikit terkekeh mendengar perkataannya. Dia bisa saja bercanda saat kami mengalami situasi genting.
Baiklah, ayo kita hadapi.
Harto menganggukkan kepala ke arahku, sambil mengarahkan jempolnya tinggi-tinggi ke wajahku.
Dosen mulai menyalakan layar untuk menerangkan ilmu yang akan dia sampaikan.
Tepat sebuah pertanyaan melayang, Ben menatapku dengan senyuman sinis, lalu menunjukku.
"Kau, mahasiswa di belakang. Maju, dan terangkan semuanya."
Semua mahasiswa memandangku dengan serius. Untung saja mereka mengetahui aku bisu.
"Kenapa? Takut untuk maju? Karena bisu?" Tentu saja Ben akan terus menghinaku. Dosen itu mengernyit, dan mengamatiku. Dia dosen baru belum mengetahuinya.
"Bisu? Apa maksudmu, Ben?" tanyanya menepuk pundak Ben.
"Dia bisu, Pak. Apa Bapak tidak tahu, kita menerima mahasiswa tidak bisa berbicara untuk menjadi seorang dokter. Entahlah itu semua bisa membuat kita tercoreng apa tidak."
"Ben, kau jangan bercanda. Ini benar-benar akan membuatku, ter-ke-jut ..."
Aku merasa resah. Namun, aku akan membuat hal ini menjadi berubah. Kelemahanku bukan untuk di hina.
Aku berdiri, lalu melewati Harto yang menggelengkan kepalanya kepadaku.
"Midas, kau mau ke mana. Jangan bikin masalah," ucapnya tegas.
Jangan kawatir. Aku akan memperbaiki keadaan. Ini tidak bisa aku biarkan. Aku akan merubah semuanya sekarang juga.
Aku melewati Harto yang kembali memegang kepalanya. Wajahnya mengkerut ketakutan. Aku tidak peduli. Aku akan membuktikan jika aku bisa.
"Ternyata kau punya nyali juga, laki-laki bisu," ejek Ben tidak membuatku mengkerut. Aku tetap dengan tegak mengangkat wajahku. Aku menarik papan, menuliskan semua penjelasan dosen. Bahkan aku menggambar semua yang dia berikan dengan baik. Sebuah kalimat demi kalimat aku tuliskan sangat sempurna.
Dosen itu memandangku dengan terpaku. Dia menelusuri semua kalimatku. Aku tetap melanjutkannya.
"Kau mengerti semuanya. Aku belum menyampaikan materi inu. Namun, memang berhubungan. Dari mana kau tahu?"
Aku mengambil sebuah kertas, menuliskan sebuah nama.
Leonidas.
"Apa? Sang Legenda? Siapa kamu?"
"Tidak mungkin!"