Akan Melawan

1208 Kata
Dosen itu memandangku. Sangat ... memandangku. Bahkan dia mengamatiku dari atas sampai bawah. Ini benar-benar membuatku tidak nyaman. Aku baru sadar jika kakekku sangat terkenal di kampus ini. "Kau ... siapa?" tanya sang dokter membuatku menarik napas panjang. Ini sebuah keberuntungan atau tidak, aku hanya berharap ini adalah sesuatu yang cukup baik. Aku cucunya. Ayahku Mionel dia anak Leonidas kakekku. "Tidak aku percaya. Hahaha, kau anak sang legenda. Semuanya sangat kebetulan. Ada mahasiswa dari cucu Leonidas bersekolah di sini. Akan membuat kampus ini semakin terkenal. Walaupun ... maaf kau bisu. Tapi, tidak masalah. Seorang dokter tidak bisa berbicara, dan hebat. Bukankah itu mengalahkan sang legenda. Ini tidak pernah ada. Dan, kau ...," tunjuknya ke arahku sambil mengangkat salah satu alisnya. "Akan mewujudkan itu," sambungnya kemudian lalu tertawa keras di hadapan semua mahasiswa yang bertepuk tangan. Aku tidak mengerti dengan mereka. Semuanya menganggukkan kepala dan memperlihatkan senyuman ke arahku. Apalagi tepuk tangan itu masih saja aku dengar dengan sangat keras. Perlahan dosen itu menepuk-nepuk pundakku dan kemudian tersenyum. Ini pertanda baik atau buruk? Aku tidak mengerti. Sementara tunangan Ana terdiam sambil bersedekap menatapku penuh amarah. Tentu saja dia merasakan hal seperti itu. Dia akan menjebakku, ternyata dia terjebak sendiri. Mereka malah menyukaiku. Aku sedikit lega sebenarnya. "Baiklah, Midas. Terima kasih. Sekarang kembalilah ke tempat dudukmu," kata Dosen itu yang masih mengangguk-anggukkan kepala. Aku melewati begitu Ben yang masih dengan tajam menatapku aneh. Tapi, aku terjatuh dia tiba-tiba. Ben dengan cepat memajukan kaki kanannya dan membuatku tersungkur di lantai. Aku tergelundung hingga kepalaku terbentur pucuk meja dosen yang ada di hadapanku. Mereka semua sebenarnya tahu jika Bem dengan sengaja melakukannya. Bahkan sang dosen pun juga mengetahui. Namun dia melirik Ben dan hanya diam saja. "Midas!" Harto segera berdiri dan berlari menghampiriku, lalu membantuku untuk berdiri. Sebenarnya aku bisa melakukannya sendiri. Cuman aku terkejut saja melihat Ben melakukan itu dan ini tidak akan pernah aku lupakan sampai seumur hidupku. Dia sudah mempermalukanku seperti ini. Itu sangat kurang ajar "Ayo berdiri. Kamu itu berat. Tubuhmu besar tinggi. Di sini kita semua tahu kalau dia melakukannya," bisik Harto kepadaku kemudian membantuku untuk berdiri. Aku menepuk-nepuk kemejaku yang sedikit berdebu. Kemudian aku berkacak pinggang dan menatap ke arah Ben. Kali ini aku memberanikan diri untuk melakukan itu kepadanya. Aku akan mengingat kejadian ini. Tidak akan pernah aku lupakan "Kau berbicara apa? Aku tidak mengerti maksudmu. Mempelajari bahasa isyarat bukan salah satu tugasku. Jadi lebih baik berbicara dengan tembok saja," balas Ben lebih menyakitkan dari apapun. Tentu saja ini tidak bisa aku biarkan. Aku akan membalasnya hingga dia juga akan mengalami kejadian yang memalukan ini. Seorang dokter yang sangat cerdas tidak mungkin tidak mengetahui bahasa isyarat. Kau bukan calon dokter yang baik. Bagaimana kau akan menangani pasien yang memiliki kondisi sama sepertiku? Tentu saja itu akan terjadi. Bisa tuli, bisu, atau buta. Tidak mengetahui bahasa isyarat? Ternyata kau bukan dokter yang cerdas. Bukankah seperti itu? "Jangan pernah mengkritik apa yang aku lakukan. Kau tidak berhak seperti itu!" teriak Ben sambil menunjukkan telunjuk jemari kanannya tempat di wajahku dan tentu saja itu mengejutkan semua orang. Ternyata dia memang bisa mengerti dengan bahasa isyarat. "Sudahlah, apa yang kalian ributkan ini? Midas, duduklah. Dan, kau siapa namamu?" tanyanya kepada Harto yang seketika berdiri dengan keadaan hormat. Aku tertawa melihat dia melakukan itu. Begitu juga dengan mahasiswa yang berada di dalam. Mereka spontan membuat ruangan ini bergemuruh dengan tawaan mereka. "Siap grak! Harto nama saya, Dokter. Saya orang Yogya," ucapnya dengan sangat lantang. Aku semakin tertawa melihatnya. Dia sebenarnya sangat lucu. "Semuanya tenang, kita lanjutkan pelajaran ini." Dosen itu melanjutkan menyampaikan semua materi. Ben tidak melepaskan pandangannya sedikitpun. Aku pun sekarang melakukan hal yang sama dengan memandangnya tajam. Aku tidak peduli, yang terpenting aku tidak melakukan kesalahan. Waktu berjalan cukup singkat. Pelajaran selesai. Dosen itu mengarahkan tangan agar semua memahami catatannya. Para mahasiswa mengangguk, lalu dia keluar dari ruangan. Ben pun ikut melakukannya. Itu membuatku sangat lega. Akhirnya aku bisa bernapas. Begitu juga dengan Harto. Dia spontan segera menyandarkan punggungnya, lalu menepuk jidatnya berkali-kali. Entah kenapa dia melakukan itu. "Laki-laki apa bukan sih? Kaya perempuan gitu, main jegal-jegal. Weslah. Yang terpenting dia sudah keluar. Aku lega melihatnya. Kedua mataku ini rasanya perih jika melihat orang yang seperti itu. Kelas ini menjadi sangat membosankan. Midas, kau ini melamun saja. Kenapa dari tadi kuajak bicara diam saja," protes Harto. Kini aku menatapnya. Lebih baik aku meminta saran dengannya. Karena hanya dia temanku saat ini. Harto, aku memikirkan apa yang harus aku lakukan. Tiap hari di sini aku harus melanjutkan kuliah ini dengan benar, karena ini kesempatanku yang pertama dan mungkin yang terakhir. Tapi, Ben ... kehadirannya sangat membuatku resah. Apakah aku harus memutuskan Ana dan tidak bertemu dengannya sama sekali? Harto menggelengkan kepala dengan sangat keras. Telapak tangannya dipukulkan di atas meja dan mengeluarkan suara yang cukup keras. Brak! "Jangan lakukan itu! Perempuan itu bisa nangis sepanjang malam, selama 7 hari 7 malam. Lalu melakukan sesuatu yang sangat bodoh dan menghantui pikiranmu itu, hingga kamu itu tidak bisa belajar dengan baik. Kalian itu backstreet saja. Tahu maksudnya?" Backstreet? "Lupa kalau kamu polos. Jadi pacaran lari, diam-diam. Pura-pura putus, tapi tetep pacaran. Mengerti apa ndak kamu itu? Katanya cerdas. Pacaran diam-diam saja tidak mengerti." Aku semakin tidak mengerti dengan perkataan Harto. Dia ini membuatku kebingungan. Lebih baik aku mengakhirinya saja. Aku berdiri dan akan berjalan. "Loh, kok malah ditinggal. Midas!" teriaknya, kemudian berlari mendekatiku. Kita berjalan keluar kelas, tapi, byur ... Seseorang melempar kami dengan ember berisi air. Sekarang tubuhku bersama Harto sangat basah. "Hahaha." Semua mahasiswa tertawa melihat kami seperti ini. Tentu saja kami adalah para mahasiswa yang akan dibully dan dikucilkan. Pasti ini perintah Ben kepada mereka yang sangat penurut. Pasti mereka melakukannya karena Ben adalah anak pemilik dari universitas ini. "Gawat ini, Midas. Tubuhku basah semua. Aku tidak punya ganti baju. Untung saja pelajaran sudah selesai aku bisa pulang. Tapi di mobil aku punya baju dua. Apa kamu mau aku kasih satu?" Untung saja Harto dengan santai menanggapi hal ini. Aku menggelengkan kepala karena letak kamarku berada di kampus ini dan tentu saja aku bisa berganti pakaian di sana. Aku tinggal di sini Harto. Di kamar khusus untuk para mahasiswa beasiswa. Kau tak perlu memberikanku kaos. Lebih baik kamu yang pergi dan pulang dengan hati-hati. Jangan pernah membuka mobilmu. Segera lakukan saja. Kamu adalah korban sama seperti aku. Sebenarnya aku sangat tidak enak dengan Harto ikut andil dalam masalahku. Dia ikut menjadi mahasiswa yang dibully. Ini benar-benar membuatku semakin pusing. "Lihatlah dirimu, sangat menyedihkan. Bisu ... basah lagi. Kau adalah pencemaran universitas ini. Sangat mencemari semua mahasiswa. Sebaiknya kau menyerah dan pergi saja. Aku tidak akan pernah membuatmu nyaman berada di kampus ini." Perkataan Ben yang tidak aku takutkan. Aku akan tetap bertahan di sini sampai titik darah penghabisan. Plak! Ben melayangkan pukulan ke arahku dengan keras. Harto melotot melihatnya. Jangan pernah melakukan hal bodoh. Aku tidak takut dengamu. Jangan menyentuhku lagi! Ucapanku membuat Ben melotot. Aku menahan tangan yang akan dia layangkan ke wajahku lagi. Kami saling bertatapan tajam. "Oh, jadi kau di sini? Di mana Rey dan Putri? Haha, ternyata mudah menemukanmu, laki-laki bisu. Aku bergetar. Lelaki itu ... menemukanku? Bagaimana bisa? Padahal aku sudah bersembunyi dengan sangat baik. "Bisu! Kau!" Aku menghentakkan tangan Ben hingga membuatnya tersungkur. Aku menarik Harto dan mengajaknya berlari. Kabur! "Kejar dia!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN