Aku terus berlari tanpa arah. Asalkan berlari saja dan menghindar dari penjahat itu. Aku tidak akan bersembunyi di kamarku. Dia malah akan menemukan Rey dan Putri. Ini benar-benar tidak aku sangka. Dia ada di mana-mana?
"Midas, wes. Jantungku mau copot. Aku ndak bisa bernapas. Cukup! Duh, rasane sesak napas. Tapi seru. Kaya film-film action kita."
Harto masih saja bisa bercanda dalam situasi genting seperti ini. Dia memang benar-benar teman yang sangat menarik buatku. Untung saja aku mengenalnya. Tapi, dia harus memisahkan diri denganku. Bagaimanapun juga dia tidak bisa ikut campur dalam masalah ini. Bisa sangat mempengaruhi kuliahnya nanti.
Harto kamu jangan ikut denganku. Sudah, kamu sekarang pergi ke mobil, lalu jangan sampai terlihat lagi. Mereka itu penjahat. Sangat bahaya kalau terus bersamaku. Nanti akan ada masalah.
"Midas, aku mengerti. Kamu itu maksudnya baik. Tapi, nanti kalau ada apa-apa hubungi aku, ya. Ini nomor teleponku."
Dia menyodorkan secarik kertas yang bertuliskan berapa angka yang bisa dihubungi jika ingin bertemu dengannya. Aku menganggukan kepala dan segera mengarahkan telunjuk tanganku ke arah timur. Dia harus melewati ke arah sana dan pergi. Aku mengetahui jalan itu saat berjalan bersama Ana ketika meninggalkan gudang pribadi miliknya. Aku sangat hafal dengan semua arah hanya dengan melihat dan mengamatinya. Memang otakku memiliki sesuatu hal yang tidak dimiliki orang lain dan itu sangat membuatku beruntung.
"Kamu hati-hati Midas. Jangan lupa ama yang aku bilang. Jangan putus sama Mbak Ana. Nanti kamu bisa menyiksa diri kamu sendiri dan membuat perempuan itu menangis. Backstreet saja. Mengerti Midas?"
Aku mengerti. Sudah sekarang pergi saja, jangan sampai terlihat. Aku khawatir sama kamu Harto. Nanti jika kamu ikut dalam masalahku, kamu tidak bisa sekolah di sini. Selamat tinggal. Aku juga mau pergi. Hati-hati, ya. Menyetir dengan pelan, jangan ngebut.
"Persis ibuku kalau ngasih nasehat. Tapi bener juga, ya. Ya wes da, Midas. Sampai ketemu besok."
Dia pergi, segera berjalan, lalu berlari meninggalkanku dengan cepat. Aku harus mengalihkan perhatian mereka dengan keluar dari kamus ini agar penjahat itu tidak mengetahui di mana Putri dan Rey tinggal. Ini akan sangat membahayakan nyawa mereka.
Aku terus berjalan menelusuri semua arah untuk keluar dari kampus ini. Namun, di saat aku ingin belok ke pertigaan, seseorang menarik kerahku dengan sangat cepat. Mereka memukulku secara mendadak, lalu menempelkan tubuhku di tembok.
Ternyata Ben dan lelaki itu saling berhubungan. Mereka bersama beberapa mahasiswa yang mengikuti mereka berkumpul mengerumuniku. Sangat banyak, kira-kira lebih dari 10 orang. Apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku bisa melawan mereka sebanyak ini. Aku juga sudah sangat lemah. Aku sepertinya akan mati hari ini.
"Lihatlah mahasiswa bisu ini. Kau sudah berada di tanganku. Hmm, mau melarikan diri lagi? Aku sudah bilang kau tidak akan pernah lepas denganku. Sekarang katakan di mana mereka. Kau, aku jamin akan aman. Aku tidak akan pernah memburumu lagi. Kau bisa bebas dan menikmati hari-harimu dengan tenang. Atau kau bisa menjadi mahasiswa di universitas ini samapi lulus. Entahlah kenapa semua dosen itu sangat bodoh menerimamu. Tapi aku akan mengesampingkannya."
Laki-laki itu sudah menghinaku dengan sangat menyakitkan. Namun, aku tidak peduli. Terserah dia mau mengatakan apa, yang terpenting sekarang aku harus benar-benar kabur dan keluar dari kampus ini. Tapi, bagaimana caranya melewati mereka semua? Ini sangat gawat.
"Katakan di mana mereka!" bentak lelaki itu sangat keras. Jemarinya terus menepuk-nepuk ke pipiku sebelah kanan. Aku tetap diam dan menundukkan kepala. Aku membiarkan mereka menyiksaku. Mulutku tetap akan terkunci rapat. Tidak akan pernah aku mengatakan di mana putri dan Rey tinggal. Biarkan saja aku mati. Yang terpenting mereka selamat.
"Kau sudah gila berteriak kepada orang bisu. Dia tidak akan pernah bisa bicara. Bagaimana kau bisa melakukan itu?" Ben membuat sang lelaki menepuk jidatnya. Dia baru sadar jika apa yang dikatakan Ben itu adalah benar.
"Aku lupa dia seorang yang bisu. Bagaimana dia bisa dengan cepat menjawab pertanyaanku. Kecuali dia menggunakan bahasa isyarat."
Lelaki itu mengamatiku. Dia mengarahkan tangannya agar mereka yang memegang tanganku dengan sangat erat, segera melepaskannya.
"Lepaskan tangannya. Biarkan dia berbicara dengan menggunakan tangan itu karena aku tidak akan bisa mengerti apa yang dia katakan jika dia tidak melakukannya. Lepaskan!"
Pengikut itu melepaskan tanganku. Hatiku sangat lega. Kini aku bisa memikirkan cara untuk menghantam mereka satu persatu. Lebih baik aku memulai dari yang terlemah yaitu Ben. Dia sepertinya sangat kurus di antara semua walaupun dia pun terlihat tinggi.
" Hmmm, ayo laki-laki bisu. Katakan di mana kau menyembunyikan mereka? Aku sama sekali tidak memiliki banyak waktu. Ini benar-benar sudah membuatku membuang waktu yang sangat berharga. Aku harus bertemu dengan mantan istri Rey. Kau tahu, aku harus menemuinya karena kami sudah melakukan hubungan sangat ... dekat. Kami harus menemukan Putri karena ... Putri akan menandatangani semua pembatalan warisan yang ditujukan untuknya. Sekarang cepat katakan di mana Putri?!"
Dia berteriak sangat kencang. Dua kali lebih keras dari sebelumnya. Semuanya terdiam saat dia melakukan itu. Bahkan dia merogoh saku jasnya dan aku merasa itu adalah senjata yang bisa menembus jantungku saat ini juga. Apa yang harus aku lakukan? Dan, ini tidak bisa ditunda. Aku harus segera kabur dari sini.
Tanganku mulai mengepal dengan sangat keras. Lalu aku mendadak menghantam Ben yang kebetulan melangkah mendekatiku. Dia tumbang seketika.
Plak!
"Argh!" teriak Ben. Aku segera mundur dan bersiap kembali menghadapi mereka. Paling tidak aku bisa menumbangkan Ben.
"Apa yang kau lakukan?! Dasar kurang ajar! Aku sudah memperingatkanmu, namun, kau malah melakukan hal bodoh! Serang dia!" teriak lelaki itu dengan sangat keras. Dia membuat semua pengikutnya menyerangku dari berbagai arah.
Dengan sigap aku cepat menghindar. Kemampuanku untuk membela diri sangat bagus. Bahkan aku sudah menjuarai beberapa perlombaan. Dengan mudah aku mengalahkan mereka dan kini mereka tergeletak di tanah sambil merintih kesakitan.
Namun, ada beberapa yang masih terjaga. Mereka segera mengambil kayu yang berada di sebelah mereka, tidak jauh dari posisi mereka. Kayu kuat itu akan mereka arahkan tepat ke wajahku. Aku spontan berlari menaiki sebuah kursi tapi patah. Ah, sial kursi ini reyot. Pandanganku dengan cepat mengedar, hingga melihat beberapa batu di dekat pagar. Kakiku berjalan cepat, lalu aku mengambil batu yang ada itu di saat yang tepat saat mereka mendekat.
Prak!
"Argh!" teriak mereka satu per satu saat batu itu bergantian aku arahkan tepat di tulang tengkorak belakang. Darah seketika mengalir. Aku bergemetar. Apa yang akan terjadi setelah ini? Aku tidak sadar melakukannya.
Dengan cepat aku terus melempar mereka yang masih berdiri dengan batu. Mereka menghindar, bahkan terus mendekatiku. Lelaki itu semakin kesal melihatku dan memberikan tatapan yang sangat tajam. Benar apa seperti dugaanku. Dia mengambil senjata api yang berada di saku jasnya dan mengarahkan tepat ke arahku. Kali ini aku benar-benar mati!
Aku terdiam mendadak. Menyerah, itulah yang harus aku lakukan. Perlahan aku mengangkat kedua tanganku. Sudahlah, aku sangat pasrah. Jika aku memang akan mati hari ini, memang ini adalah jalan takdirku.
Tin! Tin!
Sebuah mobil dengan sangat kencang datang dari arah depan. Aku sangat mengenal mobil itu. Sangat tidak asing bagiku.
Mobil terus melaju dengan sangat kencang, dan sengaja akan menabrak lelaki itu yang cepat menghindar.
"Midas, masuk!"
Ternyata dia Roy.
Dia melesat kencang. Namun seorang wanita menghadang di depan dan mengarahkan pistol.
Dor!