Sentuhan Ajaib

1607 Kata
Roy, dia menyelamatkanku. Aku merasa tenang. Sempat terlintas di pikiranku, dia celaka saat itu, dan tidak selamat. Aku tersenyum lega melihatnya. Kau selamat, Roy. Aku lega. Ke mana kau saat itu? "Hmm, saat genting ini kau menanyakan itu? Midas, kita akan pergi ke sebuah tempat yang jauh. Dan, kau ...," ucap Roy menunjukkan jemarinya tepat di wajahku. "Akan menjelaskan semuanya. Hah, ini sangat buruk. Dia ... yang mengejarmu adalah mafia. Apa kau tahu itu?" Aku tidak tahu, Roy. Aku akan menceritakan nanti. Tapi, kita mau ke mana? "Ke hatimu!" Apa? "Jelas kabur, Midas!" Aku menganggukkan kepala. Roy sangat marah denganku atas keterlibatanku ini. Tentu saja aku terlibat. Aku sendiri juga tidak menyangkanya. Lebih parahnya, sekarang Roy ikut terlibat. Kami melesat menuju sebuah hotel. Aku tidak mau. Ini sangat buruk. Roy, kenapa harus hotel? Dia akan mudah menemukan kita. "Tidak dengan hotel ini. Temanku yang juga mafia pemiliknya." Aku melotot mendengar perkataan Roy. Jadi dia juga memiliki teman dengan profesi seperti itu? Sangat buruk. Benar-benar sangat buruk. Aku tidak menyangka sama sekali. Aku menepuk pundaknya hingga dia menolehkan pandangan ke arahku saat kami sudah memasuki tempat parkir di hotel yang memang termahal di kota ini. Roy, kenapa kau memiliki teman seperti itu? Akan sangat membahayakan dirimu. Apalagi kita meminta bantuannya. Bagaimana jika dia meminta hutang budi pada kita. Pikirkan hal itu. Kiita pergi saja dari sini. Aku harus pulang ke rumah dan aku akan membawa Rey dan Putri pergi dari kampus. Itu yang terbaik. Roy tidak memberikan respon apapun. Dia hanya menggeleng, lalu tetap memutar kemudinya untuk berbelok dan parkir di sebuah tempat yang cukup rahasia. Sepertinya dia masuk ke sebuah ruangan, kemudian mobil ini tidak bisa ditemukan. Aku mengamati semua arah dan perasaanku sangat tidak enak. "Kau akan menjelaskan siapa itu Rey dan Putri. Saat kita di dalam, katakan semuanya Midas. Kau tahu dia itu sangat berbahaya. Dia adalah keponakan dari pemilik kampus yang kamu tinggalli sekarang. Dia juga pemilik kampus sebelumnya. Hei, kau tahu, pengaruhnya sangat banyak. Kekayaannya luar biasa. Kau dalam bahaya yang cukup besar, Midas. Kau harus mengerti itu. Hanya aku yang bisa membantumu. Jadi, berhentilah bicara dan segera keluar dari Mobil, lalu ikuti aku." Baiklah. Sebenarnya aku tidak mau Roy terlibat dalam masalah ini. Tapi, sepertinya dia sudah terlibat dan aku harus mengikutinya. Memang benar apa yang dikatakan, Roy. Hanya dia yang bisa membantuku untuk menyelesaikan masalah ini. Aku tidak punya apapun, tidak punya kuasa, hanya dia yang bisa melakukannya. "Tolonglah, ada seseorang yang akan meninggal. Dia sesak napas!" teriak pelayan hotel mengejutkanku dan Roy saat kami akan sampai di lobby. Dia mengamati semua arah dan sangat kebingungan. Aku melihat ke depan, ada seorang wanita sesak napas. Tidak ada yang membantunya. Aku mengetahui apa yang harus dilakukan. Semoga saja aku bisa membantu. Tanpa banyak berpikir, aku menghampirinya dan menepuk pundak pelayan itu. Dia sontak menatapku dengan sangat kebingungan. "Kenapa Mas? Kenapa menepuk pundakku? Apa ada perlu? Maaf saya tidak bisa membantu apapun. Carilah pelayan lain di resepsionis. Karena saat ini aku mencari seorang dokter. Di lobi ada orang sesak napas. Dia tertelan sesuatu. Sepertinya makanan laut. Dia tidak bernapas." "Midas! Apa yang kau lakukan? Sudah, biar saja dia akan ditangani seorang dokter. Kau, bukan dokter dan jangan ikut campur setiap masalah orang," ucapnya kesal menunjukku tegas. Penegasan yang Roy berikan kepadaku sangat masuk akal. Aku sebaiknya melakukan itu. Perlahan aku melepaskan jemariku yang masih menempel di pundak pelayan itu. Lalu mengangguk perlahan. Dia kembali berlari dengan sangat kebingungan mencari seorang dokter. Apakah di hotel ini tidak bisa mendatangkan seorang dokter dengan sangat cepat? Kenapa harus seperti itu? Bukankah ini hotel berbintang? Seharusnya ada dokter yang bisa bertugas di sini sewaktu-waktu. Aku terus berjalan. Perasaanku berkecamuk saat aku melihat kerumunan semua orang. Ternyata dia seorang wanita yang terbaring lemah sambil memegang dadanya. Kepalanya terus menunduk dan berusaha mengeluarkan apa yang sudah ditelannya. Itu sangat tidak baik. Malah bisa membuat dia tersendat di tengah kerongkongannya dan dia akan kehilangan nyawa dalam sekejap. "Midas! Kenapa kau mengawasi semuanya. Sudah, ayo kita sekarang masuk dan ceritakan semua kepadaku. Seorang dokter pasti akan datang dengan cepat. Kau tidak perlu khawatir." "Tolong siapa saja! Panggil dokter! Dia tidak dapat datang tepat waktu. Dokter itu sedang pergi, dan jalanan macet. Aku tidak mau terlambat. Aku tidak mau istriku kehilangan nyawa. Siapa saja tolonglah aku!" teriak salah satu pria yang terus berjuang membuat wanita yang di sebelahnya sadar. Sepertinya dia suami wanita itu. Aku kembali mengamati semua arah dan memang benar. Tidak ada dokter sama sekali di sini. Aku menghentikan langkah, kemudian menolehkan pandanganku ke arah Roy. Roy aku harus membantunya. Kau tahu sendiri aku bisa melakukan itu dan kakekku sudah mengajarkannya. Ini sangat mudah. Aku harus membantunya. Selamat tinggal. Aku berlari mendadak meninggalkan Roy begitu saja yang memegang kepalanya sangat kebingungan melihatku. "Midas! Apa yang kau lakukan ini benar-benar sangat buruk!" teriak Roy yang sangat kencang dan aku mengabaikannya. Aku terus berlari dan mendekati laki-laki yang sepertinya suami dari wanita itu. Dia terkejut dan menatapku dengan sangat tegang. "Apakah kau seorang dokter?" tanyanya dengan sangat serius. Roy menghampiriku dan berdiri tepat di sebelahku dengan napasnya yang terengah-engah. Aku kemudian menatapnya dan memberitahukan dia jika dia harus mengatakan kepadanya aku bisa mengobati istrinya. Roy katakan kepadanya aku bisa mengobati istrinya. "Midas kau berhutang budi banyak kepadaku dan aku sangat marah. Apa kau mengerti?" ucap Roy kembali menunjukkan telunjuknya tepat di wajahku dengan cepat aku menganggukkan kepala lalu tersenyum kepadanya. Hukumlah aku sesuai dengan keinginanmu. Tapi sekarang, bantulah aku untuk menjelaskan kepada lelaki ini. "Dia bisa menyembuhkan istrimu. Percayalah. Dia calon dokter," kata Roy membuat lelaki itu mengangguk, namun masih tidak mengerti. Aku tahu dia terkejut karena aku tidak bisa berbicara dan mengaku sebagai seorang dokter. Itu sebenarnya sangat tidak masuk akal. Roy katakan kepadanya. Aku membutuhkan minuman setengah hangat, tidak terlalu panas dan berikan sedikit garam di sana.bApa kau mengerti Roy? "Apa yang dia katakan? Aku tidak mengetahui bahasa isyarat dengan baik. Tapi aku mengerti jika dia meminta air hangat. Apakah begitu?" tanya lelaki itu kepada Roy. "Ya, air hangat dan berikan sedikit garam. Cepat carilah, dan sebaiknya jangan terlalu lama membawanya." Roy bilang kepadanya. Aku meminta izin untuk menyentuh istrinya. Ini tidak baik Roy. Aku tidak bisa melakukan, tanpa izinnya. Spontan Roy menarik lelaki itu yang ingin terus melangkah meninggalkan kami. Dia kembali menolehkan pandangannya dan mengatakan, "Aku mengizinkanmu menyentuhnya. Apakah itu yang dia katakan?" tanyanya kembali sambil menatap Roy. "Iya dia mengatakan itu. Lalu, kamu ijinkan dia. Ok, baiklah segera lakukan yang akan kamu cari," kata Roy membuat lelaki itu kembali berlari. "Dia mengijinkanmu," lanjut Roy kemudian aku segera bertindak. Aku segera membantunya untuk membuat dia bernapas dengan baik. Dia sebaiknya tidak bisa bersandar karena apa yang ditelan akan semakin masuk ke dalam kerongkongannya dan membuat dia semakin tidak bisa bernapas. Dia masih saja tidak bisa mengatur napasnya dengan baik. Aku mengarahkan tangannya agar perlahan menekan dadanya. Dia semakin menekannya dan aku sangat bersyukur dia melakukan apa yang aku arahkan. Hingga suaminya kembali dan membawa 1 botol minuman air bercampur garam ditemani pelayan yang sangat kebingungan. Katakan kepadanya Roy. dia harus memegang punggung istrinya, kemudian aku akan membantu wanita ini menelan air itu, kemudian berkumur. "Apa kau mengerti dengan perkataannya?" tanya Roy dan aku bersyukur kepada lelaki itu yang menganggukkan kepala. Aku sangat lega akhirnya bisa mengetahui apa yang aku maksudkan. Aku resah menatap wanita itu yang sudah sangat pucat. Katakan kepadanya, Roy. Dia harus berkumur. Namun hanya di tenggorokannya , Roy. Air ini tidak boleh ditelan. Dia harus berkumur seperti itu dan memuntahkan saat itu juga. Dia harus mengulanginya terus hingga apa yang ditelan akan keluar bersama air garam itu. Air itu membantunya melicinkan apa yang ada di dalam. Roy menganggukkan kepala segera mengatakan apa yang aku katakan. "Kumurlah dengan benar. Tapi jangan menelan. Hanya di sini," kata Roy menunjukkan tengah kerongkongannya itu. Wanita itu mengangguk sambil terus mengatur napasnya yang semakin sesak. Dia melakukan apa yang aku katakan dengan sangat cepat dan berkali-kali hingga akhirnya apa yang aku duga terjadi. Dia memuntahkan semua isi yang ada di kerongkongannya. Untung saja pelayan itu membawa kresek hitam hingga dia bisa memuntahkan semua makanan di dalamnya dan tidak mengotori hotel ini. "Hah ... syukurlah aku bisa bernapas dengan baik. Seuamiku ... seumur hidupku aku tidak akan pernah memakan makanan laut. Kau ... terima kasih kau sudah membantuku," kata wanita itu sambil terus mengelus-elus dadanya. Dia tetap mengatur napasnya dengan baik dan aku membantunya melakukan itu. Roy katakan padanya dia harus mengikuti gerakan tanganku untuk mengatur napasnya. Dia masih belum membaik. Kemungkinan di dalam tenggorokannya ada infeksi dan dia harus segera ke dokter. Sebelum Roy mengatakan kepada suaminya, laki-laki itu mengatakan, "Aku sangat tahu apa yang kau sampaikan. Istriku, ikuti gerakan tangannya. Kau harus bernapas mengikuti gerakan tangan itu." Istrinya mengangguk dan segera melakukan apa perintahku. Selang beberapa menit, dia semakin segar. Wajahnya yang pucat kembali memerah dan hangat. "Dia di sana!" teriak pelayan datang bersama dokter yang sudah terbebas dari kemacetan. Aku mengernyit dalam dan ternyata aku sangat mengenal dokter itu. Rahman? "Midas, kau di sini?" Rahman menepuk pundakku. Aku tersenyum. Sementara Roy semakin tidak mengerti denganku. "Kau mengenal semua orang. Tapi ... oh kau adalah dokter yang saat itu bersama Midas dan dokter wanita itu. Apakah aku tidak salah?" Roy hanya mendapatkan balasan senyuman karena dia memeriksa wanita itu. "Midas, kau menyembuhkan orang sekali lagi. Hmm ... dia baik-baik saja. Kau ... hah, haha aku tidak bisa berbicara lagi. Kau hebat, Bro," kata Rahman memberikan jempol ke arahku. Semua orang bertepuk tangan kepadaki. Aku sebenarnya sangat malu. Membantu dia bukan untuk dipuji. Memang itulah tujuanku. Menyelamatkan semua penyakit itu dengan sentuhanku. "Midas, aku melihat seseorang dan kau sangat mengenalnya," bisik Roy memegang kepalanya. "Gawat," lanjutnya. Aku tidak percaya. Rey?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN