Aku berlari menghampirinya. Rey, ada di sini? Kenapa?
Dalam otakku kembali berputar. Sebelum aku bersama Roy melesatkan mobil, seorang wanita menghadangku, namun seseorang menariknya.
Midas, ayolah. Kau harus mengingatnya. Jangan sampai kau tidak mengingatnya.
"Midas. Kita akhiri saja," kata Rey menatapku sambil memeluk Putri. Dia mengatur napasnya yang terengah-engah.
Jangan berbicara apapun, Rey. Kita akan mencari tempat aman. Kita akan berbicara setelah itu.
"Rey, mantan istriku menemukanku. Dia menemukan kita. Kau harus tetap kuliah di sana. Tapi ... tidak denganku. Aku mau pamit dan pergi. Kau ... akan bahagia jika berpisah denganku, Rey."
Aku menggeleng cepat. Tanganku spontan menarik Putri yang masih berada di pelukan ayahnya.
Jangan pisahkan aku dengan Putri. Aku sudah terlibat. Walaupun aku berpisah denganmu, aku masih akan dikejar mereka. Kai harus tahu itu, Rey. Jangan lakukan ini.
"Tapi Midas, aku benar-benar tidak bisa. Kau ... akan gagal meraih cita-citamu. Jangan sampai kau mengalami hal itu."
"Sudah, lebih baik kita masuk ke dalam. Kau bisa menceritakan semuanya di sana."
Roy menyela kami. Dia menarik lengan Rey untuk mengikutinya. Aku menggendong Putri berjalan di belakang mereka.
"Midas!" teriak seseorang tiba-tiba. Aku spontan membalikkan tubuh. Dan ... Rahman? Dia berlari ke arahku. Jika dia mengikutiku, pasti akan mendapatkan masalah juga. Cukup Harto dan Ana saja yang mengalaminya. Jangan mereka.
"Kalian kok ninggal aku. Kenapa?" tanyanya melirik Rey dan Roy yanh sudah berjalan akan memasuki lift.
Jangan pernah megikutiku. Kau tahu aku diikuti para mafia. Sangat membahayakan dirimu. Lebih baik kamu pergi saja. Nanti aku akan menghubungimu.
"Pergi apa?" Rahman melotot ke arahku. "Ayo, kita masuk. Temanmu sudah mendahului kamu itu."
"Midas. Ayo!" teriak Rey melambai ke arahku agar aku segera masuk ke dalam lift.
Rahman menarikku kuat. Dia memang sangat gendut. Aku semakin resah. Apalagi Putri masih menangis dalam gendonganku. Ini sangat rumit. Kasihan Putri. Aku akan mencoba sekuat tenaga untuk melindunginya.
Dalam langkah, perasaanku masih saja tidak karuan. Hingga kami memasuki kamar di lantai sepuluh.
Rey, kenapa kau ke sini?
Rey menutup mulut dengan jemarinya. Dia menunjukkan jemarinya agar aku merebahkan Putri yang ternyata tertidur. Aku perlahan melakukannya.
"Kita ke ruangan sebelah," ucapnya pelan.
Kamar yang disewa Roy cukup besar. Aku segera menuju ruang tamu. Rahman dan Roy menunggu kami.
"Baiklah Tuan ...," ucap Roy menatap Rey menunggunya untuk menjawab.
"Reynard. Panggil saja Rey. Itu namaku," jawab Rey cepat sambil menganggukkan kepala.
"Yah, Tuan Rey. Sebaiknya kau menjelaskan kepada kami, apa yang sebenarnya terjadi."
Rey, aku pun tidak pernah tahu. Bagaimana sebenarnya dirimu. Ceritakan agar kami tahu.
Rey mulai berbicara waktu itu dia mengatakan beberapa tahun lalu saat dirinya menikah dengan wanita yang memang dicintainya bernama Amelia. Seperti ini kisahnya.
Rey anak angkat orang kaya. Ayahnya memiliki perusahaan sangat besar. Namun, dia sakit. Ayah Rey ingin dia menikah. Pilihan Rey membuatnya bahagia, karena selama ini Amelia sangat baik.
"Kau sangat beruntung jika mendapatkan istri yang baik. Ayah menyukai Amelia. Dia luar biasa. Segeralah menikah."
Rey semakin bersemangat. Ayahnya menyetujuinya. Mereka segera menikah. Awal pernikahan sangat bahagia. Hingga Amelia mengandung Putri dan melahirkannya setelah sembilan bulan. Kebahagiaan semakin lengkap di antara mereka.
Namun, mereka harus bersedih. Ayah Rey semakin parah. Hingga, dia akhirnya meninggal. Rey terpukul. Amelia mulai berubah. Istri Rey itu tidak pernah di rumah. Bahkan tidak pernah mengurusi Putri.
"Amelia. Kau mau ke mana?" cegah Rey saat istrinya berdandan menor ingin pergi.
"Aku butuh hiburan. Aku sangat bosan di rumah. Apalagi kau yang tidak bisa memuaskanku. Hah, aku ingin pergi saja. Kau sama sekali tidak bisa membuatku berhasrat. Aku selama ini menahan. Hahah. Akhirnya tua bangka itu meninggal."
Ucapan Amelia yang sangat mengejutkan Rey. Dia lemas tidak berdaya. Istri yang selama ini dipercayainya dan terlihat sempurna, ternyata seperti ini.
Hati Rey bagai disambar petir. Perasaannya kacau seketika. Dia mencengkeram dadanya dengan spontan.
"Amelia, kau ...," ucapnya lirih. Kedua bola matanya tampak membesar tak percaya. Amelia tersenyum sinis pergi dari hadapannya.
"Amelia!" teriak Rey keras. Dia berlari cepat menghampiri Amelia dan menariknya.
Plak!
Tamparan keras Rey layangkan. Amelia memegang pipi kanannya dengan kedua mata melebar.
"Kau ... benar- benar! Apa yang kau lakukan, laki-laki rendahan?!" balas Amelia lebih keras. Bahkan dia mendorong tubuh Rey dengan keras.
"Kau selama ini menipuku. Apa maumu, Amelia?" tanya Rey masih diselimuti kekecewaan bercampur amarah yang dia tahan. Dia tidak akan melayangkan pukulannya lagi. Amelia bisa benar-benar berdarah jika hal itu terjadi.
Rey masih melotot memandang Amelia. Dia menginginkan sebuah jawaban yang pasti benar-benar akan membuatnya sangat terkejut. Dia masih tidak menduga istrinya yang terlihat sempurna, melakukan hal terburuk dalam hidupnya. Bahkan, ketika dia baru saja mengantarkan Ayah angkatnya menuju peti dan terkubur di dalam pasir hitam.
"Kau benar. Aku mendekatimu karena uangmu dan tentu saja aku akan mendapatkan bagian karena aku adalah istrimu Ibu dari Putri ahli warismu. Putri akan bersamaku karena aku mendengar dia yang mendapatkan warisan utuh. Putri ... dia adalah ahli waris yang sah dari keluarga ini. Sedangkan kau ... bukan. Kau hanya anak angkat yang dibuatnya menjadi sangat kaya."
Rey kembali tidak percaya dengan perkataan Amelia. Ternyata selama ini Amelia hanya mengincar hartanya saja.
"Aku yang membuat warisan itu, Amelia. Aku menyerahkan semuanya kepada Putri karena dia berhak untuk masa depannya. Sedangkan aku, akan cukup dengan pekerjaanku saja sebagai psikiater. Kenapa kau melakukan ini? Aku sangat mempercayaimu. Kau adalah wanita yang sangat baik. Kenapa Amelia? Katakan!"
"Hahaha. Kenapa? Karena aku tidak mencintaimu. Aku mencintai lelaki lain dan dia sangat kaya. Aku tidak bisa hidup tanpanya dengan keadaanku yang seperti ini. Aku harus memiliki uang dan berstatus yang sama dengannya. Yang harus aku lakukan untuk bersamanya. Bukan denganmu. Sekarang sebaiknya kita urus perceraian kita. Aku akan pergi bersama Putri. Kau, nikmati hidupmu dan jangan pernah menggangguku."
"Tidak bisa. Putri bersamaku dan selamanya akan seperti itu. Kau sebaiknya pergi dari sini karena kau tidak akan mendapatkan apapun. Kau tidak mendapatkan warisan sepeserpun, Amelia. Karena semuanya milik Putri dan dia yang berhak dengan kekuasaan ini Sebaiknya kau pergi sendiri atau aku memanggil semua pengawal agar mereka mengusirmu!"
"Sialan Rey! Kau jangan pernah mengancamku. Aku tetap akan pergi mengambil Putri dan tetap akan seperti itu!"
Rey berlari menuju ke halaman rumahnya memanggil semua pengawal untuk mengusir Amelia secepatnya. Istrinya itu terus meronta saat beberapa pengawal memeganginya dengan sangat erat. Bahkan Amelia berteriak sangat kencang. Rey resah dan dia sedikit ketakutan karena melihat perubahan Amelia yang begitu cepat dan tidak diduganya sama sekali.
"Aku akan membunuhmu Rey! Laki-laki sialan! Kau, lihat saja nanti. Aku akan tetap memburu Putri dan dia akan bersamaku. Kita adalah sepasang ibu dan anak. Dia berhak berada di sebelahku, Rey. Kau tidak berhak! Dia anakku! Aku akan tetap memburumu! Argh!"
Amelia semakin berteriak histeris. Rey berlari mengemasi semua barang dengan cepat. Dia membawa Putri yang masih bayi untuk melarikan diri. Rey membayar semua pengawal ayahnya dan memecat mereka. Rey tidak butuh lagi kekayaan. Dia hanya ingin hidup bahagia dengan Putri.
Rey selalu berpindah tempat hingga sepuluh tahun lamanya. Dan akhirnya bertemu denganku sampai sekarang.
Rey, kau harus menyelesaikan ini. Kau tidak bisa melarikan diri seumur hidupmu. Aku akan membantumu.