Ana menatapku. Keinginannya sungguh mengejutkan. Dia mau aku memilikinya? Kenapa dia seperti ini? Sedangkan aku ingin sekali memilikinya. Apakah aku akan melakukannya?
Ana. Aku juga ingin memilikimu.
Tanpa sadar dan hasratku yang sudah tidak terbendung, aku melanjutkan apa yang sudah kami lakukan sebelumnya. Bibir kami bersatu dengan hangat. Saling bermain di dalam.
Ana semakin menekan tengkuk leherku. Dia terus melakukannya. Aku menerimanya dengan lebih darinya.
Sepertinya memang kami akan melakukannya. Tanpa sadar aku sudah menjamahnya. Bahkan, tubuh atasnya terlihat.
Kedua mataku melotot tajam. Baru kali ini aku melakukannya. Dan, memang sangat menakjubkan. Bahkan aku sudah menyentuhnya. Ana memejamkan kedua mata menikmatinya.
Jantungku berdetak hebat dari sebelumnya. Tapi, aku bergemetar. Kenikmatan tanpa batas aku rasakan. Tidak bisa berhenti. Hingga aku mengingat perkataan Harto.
"Midas, jangan lakukan. Tunggu sampai menikah."
Spontan aku melepaskan bibirku yang semula menikmati kulit mulus Ana. Senyuman aku berikan. Kening kami bersatu. Aku menatapnya dan membelai pipinya.
Aku akan menikahimu, Ana. Setelah dua tahun aku menyelsaikan kuliahku. Aku berjanji akan menjadi yang terbaik. Kau mau menungguku?
"Aku akan menunggumu, Midas."
Ana tersenyum saat aku merapikan bajunya. Memang, milikku menegang. Bahkan, hasratku meluap. Tapi, nasehat teman tidak akan aku lupakan. Melakukan sebelum nikah, sepertinya itu yang akan aku lakukan.
Kini kami berjejer saling berpandangan dan melempar senyum. Hingga kami akhirnya terlelap sampai pagi.
Matahari mulai menampakkan dirinya. Aku sepertinya bermimpi tadi malam. Bunga tidur itu tidak akan aku hiraukan. Mimpi aku kembali terusir dan menjadi petinju jalanan untuk mendapatkan uang. Hah, itu tidak mungkin.
Senyumanku kembali melebar. Saat aku menolehkan pandangan ke kiri.
Ana sangat cantik. Dia seperti ... bidadari. Sangat luar biasa.
Aku membangunkannya. Keningnya aku kecup mesra. Perlahan dia membuka kedua matanya. Senyuman secerah mentari spontan terlihat.
Sangat cantik. Aku terpana.
"Hmm, rayuan pagi hari. Sepertinya asik," jawab Ana. Aku kembali terkekeh.
Kita sebaiknya bersiap. Menuju kampus sepagi mungkin, itu baik untukku. Aku takut tunanganmubakan membuatku susah.
"Dia bukan tunanganku lagi. Baiklah, ayo kita pergi."
Kami bersiap, dan melakukan sarapan. Rey ternyata sudah menyiapkan semuanya.
Kami masih saja melempar senyuman. Kebahagiaan ini semoga saja tidak sirna.
Baiklah, kita sudah siap. Ayo kita pergi.
Ana menganggukkan kepala. Kita berjalan cepat sambil bergandengan tangan. Kami berjalan dengan tegang. Aku harus menuju kelas tanpa hambatan.
"Tidak aku sangka. Kau ... w************n. Hah, sok suci. Semalaman tidur dengan laki-laki di sini. Hmm, ini adalah hal yang sangat menarik. Bagaimana jika semua isi kampus mengetahuinya. Haha, dokter Ana berhubungan di luar nikah."
Sudah ku duga. Dia akan memergoki kita. Tunangan Ana adalah seseorang yang tidak menyerah begitu saja.
"Katakan saja kepada semua orang jika aku melakukannya kepada Midas. Nanti, pasti aku akan dihajar orang tuaku. Dan ... mereka menghajar Midas."
Jawaban Ana yang sangat mengejutkanku. Bahkan, tunangannya itu melotot tajam setelah mendengarnya.
"Kenapa diam saja? Segera umumkan apa yang kau katakan tadi karena itu akan sangat menguntungkanku. Aku nanti akan menangis tersedu-sedu di depan kedua orang tuaku dan mengatakan jika aku sudah hamil. Tentu saja Midas setelah mendapatkan pukulan dari ayahku, dia pasti memaksa Midas untuk bertanggung jawab apa yang sudah terjadi. Kau harus merelakanku. Bukankah itu sesuatu hal yang sangat baik? Baiklah, kabari aku jika sudah menggumumkan semuanya. Aku akan mengucapkan terima kasih untukmu. Selamat tinggal."
Ana menarikku dengan keras melewati tunangannya yang masih terpaku begitu saja.
Tidak aku pikir anda melakukan sesuatu hal yang sangat cerdas. Namun, aku sedikit ngeri dengan Ana saat dia mengatakan, aku akan dihajar dengan ayahnya. Tentu saja dia akan melakukan itu. Anak perempuan satu-satunya sudah aku nodai. Pastinya aku akan mendapatkan sesuatu hal yang sangat buruk.
Untung aku bisa menahan hasratku saat itu dan tidak melakukannya. Aku akan terbebas dari itu semua. Benar apa yang dikatakan Harto. Melakukan itu setelah menikah. Akan aku selalu ingat seumur hidupku.
Ana kenapa kita tidak menuju ke kelas dulu? Apakah aku tidak melakukan pelajaran?
"Kita akan menuju ke ruangan rapat dan akan dimulai 1 jam lagi. Kita akan datang mendahului. Bagi junior, datang pertama kali adalah suatu hal yang harus kita lakukan dan itu sangat penting."
Ana jika aku menemui mereka, aku harus bagaimana?
"Kau hanya perlu mengatakan apapun sesuka hatimu dan keinginanmu. Jawab pertanyaan mereka dengan hati. Hanya itu yang harus kau lakukan."
Aku sangat gugup. Tdak kupungkiri tubuhku bergetar dengan cepat. Ana memegang tanganku, kemudian memberikan senyuman agar aku bisa merasakan ketenangan.
Kau memang selalu menenangkan hatiku, Ana.
"Itulah tugas seorang kekasih. Dengan cinta, kita harus melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk pasangannya. Saling mendukung dan percaya."
Jawaban Ana yang selalu menyejukkan hatiku. Seketika aku bisa bernapas dengan tenang. Namun, semua yang hadir di dalam rapat sudah mulai berdatangan. Aku melihat dokter senior yang sudah cukup tua bergantian memasuki ruangan dan duduk di tempatnya masing-masing. Tapi, mereka mengernyit ketika saat melihat aku hadir di sini. Semoga ini bukan sesuatu hal yang sangat buruk, karena aku melihat ekspresi yang mengejutkan terpampang jelas di wajah mereka.
"Dokter Albert sudah datang. Dia duduk di sana. Kau sebaiknya bersiap. Dia tersenyum ke arah kita."
Aku mengepalkan kedua tangan dengan sangat erat untuk mengatasi hatiku yang sangat hebat ini karena gugup yang luar biasa. Aku harus mengatasinya. Aku tidak boleh mengecewakan apa yang sudah dipercayakan kepadaku.
Rapat dimulai. Aku masih tegang. Hingga Dokter Alberth memanggilku. Ana menganggukkan kepalanya. Aku berusaha bangkit dengan kuat.
Dengan cepat aku melangkah menuju ke depan. Aku mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Dokter membalasnya dengan sedikit senyuman.
"Dia adalah anak yang sudah aku undang. Dia cucu dari Leonidas. Sang legenda. Aku melihatnya sendiri, jika dia memiliki bakat seperti kakeknya."
"Tapi dia berbeda. Dia bisu!" teriak seseorang dengan keras. Aku sangat terpukul. Apalagi dia menunjukkan jari itu dengan kuat ke arahku.
"Ya, memang benar apa yang kau katakan. Dia tidak bisa berbicara dan itu adalah kelemahannya. Seorang dokter membutuhkan otak yang cerdas. Kalian bekerja dengan menggunakan masker untuk menutup mulut dan itu yang kalian lakukan. Bukan berbicara dengan sangat banyak."
"Lalu. Bagaimana jika dia menghadapi pasien dan menjelaskan semua penyakit yang diderita pasien? Bukankah itu membutuhkan mulut untuk berbicara?"
Aku hanya berdiri tegang menerima semua perkataan dokter yang sudah cukup tua dan sepertinya seumuran dengan Dokter Albert. Dia segera berdiri dari duduknya, lalu menghampiriku. Kedua matanya mengamatiku dari atas sampai bawah.
"Ini adalah sebuah kampus yang cukup terkenal. Dulu, memang ada sang legenda di sini dan aku sangat menghargai beliau yang sangat hebat. Bahkan kita saja tidak bisa melakukan apa yang dia lakukan. Namun, kali ini berbeda. Dia memiliki penerus yang tidak bisa berbicara. Leonidas sangat sempurna. Dia memiliki kekuatan kecerdasan, tidak ada kelemahan. Apakah patut dia menjadi penerus dari kakeknya? Aku rasa itu sangat mustahil."
"Bagaimana kalau kita mencoba. Berikan waktu dia 2 tahun untuk menyelesaikan kuliahnya. Apabila dia memiliki nilai sempurna, mungkin bisa apa yang sudah kakeknya lakukan dulu bisa dia lanjutkan."
Perkataan dokter Albert yang sangat berat. Tentu saja dia menantangku dengan sesuatu yang sangat mustahil. Apakah ada seorang dokter dengan prestasi luar biasa seperti itu?
Aku memang tidak bisa berbicara. Tapi, sepertinya aku akan mencoba untuk menjadi dokter muda dan mengambil spesialis dengan tahun yang sama. Aku bisa menyelesaikan selama 4 tahun dan itu akan aku lakukan. Kakek dan ayahku sangat luar biasa selalu mengatakan kepadaku jika kelemahan bukan akhir dari segalanya dan keajaiban pasti akan terjadi.
"Lihatlah dia berbicara dengan bahasa isyarat. Apakah kalian semua mengetahui apa yang dia katakan?"
Dokter itu mengarahkan tangan kepada semua peserta yang duduk saling menolehkan pandangan dan tidak menjawab apa yang dia tanyakan.
Aku akan melakukan sebuah cara untuk menjelaskan kepada mereka saat memeriksa.
"Aku akan mendampingi dia saat bersama pasien!" teriak Ana mengejutkan semua orang. Dia berdiri, lalu berjalan ke arahku.
"Aku akan menjadi pendamping Midas. Berikan kesempatan untuknya. Dia memiliki bakat yang tidak dimiliki orang lain. Dokter jenius, siapa tahu bisa kita dapatkan dari kampus ini, dan mengangkat nama kampus."
"Hah! Banyak sekali dokter hebat. Bahkan dokter jenius sudah meraja lela di kampus ini. Untuk apa kita mencarinya. Justru jika kita menerimanya, kita akan malah menurunkan kwalitas kampus ini. Apa kau mengerti?"
"Apakah kau takut tergeser?"
Perkataan Ana sangat mengejutkan. Dia berbicara menantang kepada dokter senior. Dan, itu dia lakukan untuk membelaku? Aku tidak bisa membiarkannya.
"Untuk apa aku memikirkan hal itu? Kau sudah sangat kurang ajar denganku. Jika aku tidak menganggap ayahmu, aku sudah mengeluarkanmu sekarang."
"Hanya karena bertanya sesuatu hal yang sepele kau mengeluarkanku? Hmm, itu sangat memalukan."
"Kau, hentikan!" bentaknya keras. Namun, ada tidak takut. Dia malah melotot tajam. Ini sangat tidak baik.
"Cukup!"
Dokter Alberth menyela. Dia berjalan ke arahku.
"Hanya 4 tahun. Kau harus membuat nama kampus ini melejit. Jika tidak, kau akan keluar. Bagaimana?"
Aku menerimanya.