bc

Ayah malaikat bukan iblis

book_age4+
18
IKUTI
1K
BACA
sensitive
drama
tragedy
detective
city
highschool
small town
school
multiple personality
athlete
like
intro-logo
Uraian

Cerita ini base on true story, Violin dibesarkan di keluarga yang kacau balau, dia memiliki bapak sambung yang sangat kejam, perlakuannya sampai membuat Violin mengalami gangguan mental, bapak sambungnya itu sering melakukan k*******n dan percobaan pembunuhan, hingga terjadi kejanggalan mengenai kematian ayah kandung Violin. Bagaimana Violin dan kakaknya mengungkapkan kematian ayahnya ?

Apakah mereka berhasil ?

chap-preview
Pratinjau gratis
Permulaan
Disclaimer : Cerita ini merupakan base on true story, tapi sudah di campur dengan bumbu-bumbu, jadi tidak benar-benar sama persis dengan kejadian, sudah ada tambahan dan pengurangan, karena pengirim sudah benar-benar lupa beberapa kejadian karena mengalami pukulan yang cukup pilu. Hai, aku Violin gadis kecil yang mungkin menjadi harapan untuk kedua orang tuaku, tapi rasanya hidup ini bagai ada di dalam neraka dunia bersama dengan kaka ku. Aku masih di bawah tujuh belas tahun saat itu, aku menulis hanya untuk memberi semangat kepada banyak orang melalui ceritaku. memang hidup kata orang tidak adil, tapi untukku hidup itu sangat adil. Terkadang kita dibiarkan sakit dan menderita hanya untuk melatih dan mempersiapkan kita jadi manusia yang luar biasa. Aku tidak pernah menyangka semua akan semengerikan itu, bahkan aku seberani itu bertindak. Semua dimulai di malam hari, ketika emosi di ruangan itu meledak. Kugenggam erat pisau mengarah ke urat nadi di tanganku. Air mata menetes perlahan mengenai lantai rumah, sepasang bola mata bergeliat menyusuri setiap sudut ruangan. Perasaan miris sekaligus benci bersatu, ruang tamu terlihat begitu berantakan, sofa jungkir balik, banyak buku berserakan, beberapa gelas dan piring tergeletak di sembarang tempat. “Ya Tuhan apa yang sedang aku lakukan ini ?” besit ku dalam hati, masih dengan posisi berdiri, melihat ke arah bapak tiri yang biasa ku panggil dengan sebutan imitasi. Dia pantas dengan sebutan imitasi, karena bagiku dia adalah seorang yang palsu. "Kau ingin dihormati, tetapi cara menghormat pun tak pernah kau ajarkan," pekikku di iringi tangis yang bermula hanya air keluar dari mata, menjadi emosi tidak terkendali. "Kau ingin dipanggil bapak, namun apa yang bisa kau berikan padaku ? Bukankah ibu ku yang mencari nafkah ? Bukankah ibu ku yang memberikan mulutku makan ? Bukankah ibu ku yang memberi semua ? Lalu apa gunamu sebagai bapak ?" tantangku kencang, dengan nada meninggi. "Aaahhhh..... Dasar anak kurang ajar !!!!!!!" balasanya dengan suara yang makin meninggi, sembari mengambil posisi duduk, sepertinya hendak melakukan sesuatu. Dan benar saja, ia mulai melakukan hal gila lagi. Kemudian bapak imitasi menjedotkan kepalanya ke tembok dengan keras. Dug, dug, dug... Bunyi nyaring yang terdengar dari tembok. "Bodoh!!! Bodoh!!! Bodoh!!! Kenapa Tuhan aku punya anak kurang ajar seperti dia," ujurnya dengan suara yang lantang, dia merasa teramat kesal dan hancur, sambil mengetuk kembali kepalanya ke tembok. Akupun mulai menggoreskan pisau ke pergelangan tangan, aku menatap besi tajam yang sebentar lagi melukai diriku sendiri. "Hentikan !!!!" teriak seorang perempuan berparas cantik, yang umurnya tidak begitu beda jauh dari ku. Postur badan yang tinggi sekitar seratus enam puluh lima sentimeter, matanya tidak secoklat ibu, kulit kaka agak gelap dan rambutnya terurai sampai ke pundak. "Bodoh sekali sih kamu, kau mau mati begitu saja ?" ucapnya dengan penuh keyakinan, bahwa belum saatnya untuk mati. "Hanya karena dia ? Sungguh bodoh kau !" perempuan itu membuatku tersadar, bahwa aku masih punya tujuan untuk hidup, kaka ku dan juga ibu. "VIOLIN !!!!!!" Teriak bapak imitasi dengan kencang. "Aku ini kan menyusahkan bapak, kenapa aku tidak mati saja agar tidak menyusahkan !!" Pekikku berteriak sekencang mungkin. "Aku tidak kuat, melihat ibu dan kaka ku menangis, karena hanya mereka yang aku punya di dunia ini,” teriak ku kencang, seakan memecahkan ruang tamu. Tempat dimana semua kejadian ini terjadi. "Kau hanyalah orang asing yang pernah ku lihat." Lanjutku, menatapnya serius. Aarrgghh...... Erangnya kuat, sambil membanting meja kayu di hadapannya sampai hancur berlebur. Sampai tidak berbentuk lagi. Aku masih berdiri sambil melihat miris bapak, ku kira dia akan diam, dan membujukku untuk meletakkan pisau ini, ternyata dia makin marah. Tiba-tiba sosok yang terasa begitu hangat mendekat, dia memeluk tubuhku perlahan, aku terdiam menerima energi positif tersebut, dia seperti menunjukkan rasa pedulinya. "Bodoh !!!! Jangan mati dulu," bisik kakak tepat di kupingku dengan suara yang sedikit bergetar, dia makin erat memelukku. Aku seperti bisa merasakan kasih sayangnya yang tulus, dia benar-benar ingin aku tetap hidup, tanpa melakukan hal konyol apapun, dia mengambil pisau di tanganku. "Aku masih membutuhkanmu, kalau tidak ada kau siapa yang nemenin aku ?" dia memang kakak yang baik dan manis, aku tersenyum tipis membalas pelukannya. Kemudian bapak imitasi berulah lagi, dia menendang sofa sampai hancur, menjungkir balikkan sofa, menendang vas bunga sampai hancur, intinya dia melampiaskan amarahnya di hadapan kami. Tidak hanya itu saja dia juga menarik gorden sampai lepas tak beraturan, lalu ia berjalan ke belakang rumah dan menjatuhkan motor, ia menghancurkan seisi rumah. Ia membawa kawat besi yang panjang, berjalan mendekat ke arah kami bersiap memukul ku dari belakang. "Hentikan !!!!!" teriakan terdengar penuh emosi, kaka ku mulai bersedih. Sembari melepaskan pelukan, berusaha menarikku agar tidak terkena libasan berikutnya. "Huaaaaaaa," teriakku kuat, serta air mata berlinang tanpa tahu bagaimana harus selesai. "Kau selalu membuat saksi dusta tentang ayahku yang telah meninggal bukan ?" aku menatapnya dengan sinis, aku hanya ingin menunjukkan perasaan muak. "Kau bilang dia itu pemain judi akut, suka main perempuan, suka mabuk, waktu dia hidup hanya memiliki satu televisi, itu pun sudah di sambar petir. Sekejam itukah kau membenci ayahku !!!" ucapku dengan terengah, dengan mata yang membelalak. "Mengapa kau menyembunyikan makam ayahku ?" bentakku dengan penuh kesal dan emosi. "sebenarnya kau itu siapa !" teriak ku kencang, kembali membelalak. "Ahhhh... mati aja anak kurang ajar seperti kau !" erang Bapak imitasi, ia pun membawa gergaji, dan pisau. Ini semua seperti mimpi buruk yang sedang terjadi, aku tidak bisa lagi memikirkan apa yang akan terjadi. Dia memegang gergaji besi manual, berjalan perlahan dari arah dapur, menuju ke ruang tamu. " Aaaaa...!!!!" teriak ku kencang mendalam, rasa takut dan buyar itulah yang bisa aku jelaskan, aku benar-benar buntu. "Ka apa yang mau dia lakukan ?" ucapku menahan getir, melihat kenyataan, bulu kuduk merinding, aku pun bersembunyi di belakang tubuh kaka. Bapa imitasi itu segera berjalan cepat menuju kami, tidak sadar ibu ku telah pulang dari perusahaan kecil yang dia jalani bersama keluarga yang lain, dia bekerja seharian, dia lelah banting tulang kesana kemari hanya untuk mencukupi kebutuhan kami. "Ada apa ini !!" teriak ibu kencang dengan urat di wajahnya yang mulai terlihat, hal ini dikarenakan wajah ibu yang putih dan mulus. Ibuku memang cantik dengan matanya yang coklat, rambutnya berwarna coklat, tubuhnya tinggi dan tidak gemuk. "Biar aku bunuh anakmu yg kurang ajar ini, dia seperti tidak punya otak, etika, dan sopan santun. Mereka seperti binatang. Anak seperti ini tidak usah dikasih makan. Lebih baik mati aja." Geramnya, memuncak sampai ke ubun-ubun. "Hentikan perkataan mu, apa dari maksud semua ini ? Rumah ini sudah seperti kapal pecah saja ?" nada suara ibu tambah meninggi. "Tanyakan saja kepada anakmu itu," wajah bapak imitasi ku masih memerah, dan berurat. Sebenarnya bukan merah kepiting rebus, tapi merah keunguan, karena kulitnya coklat pekat. Seram sekali tatapannya. "Lalu apa maksudmu, ingin membunuh anak ini ?" teriak kencang ibuku. "Sikapmu memang sudah keterlaluan, aku pusing dan stres melihat sikapmu." Teriaknya lagi dengan nada suara meninggi, di iringi air mata yang mulai perlahan jatuh. Kini pertengkaran makin terasa sengit, ibu menangis menahan perih di hati, ia menjadi tulang punggung keluarga, tetapi kenapa bapak tidak berdamai sedikitpun dengan kami. "Ka aku takut," bisikku sambil menangis, dari belakang baju kakak. "Ayoo, adik ku. Kita masuk ke kamar," seru kakak ku, sambil berjalan perlahan. Dia seperti mengerti betul dengan kondisi dan keadaanku. "Lalu bagaimana ? Dengan ibu," tanyaku karena melihat keadaan bapak imitasi masih melotot ke arah ibu, mereka beradu mulut. "Biar aku yang mengurusnya," ucapnya sambil memberi senyum lalu mengelus kepala ku perlahan dengan lembut. "Kau temani kedua adik kita, walaupun dia juga imitasi. Tapi jagalah, pasti mereka juga merasa ketakutan." Kakak ku tersenyum, lalu ia pergi meninggalkan ku di kamar, perlahan kaki melangkah mundur dengan wajah yang penuh air mata. Semua seperti akan berakhir tragis, gergaji dan pisau ? Aku berpikir bahwa bapak akan membunuh kami, aku menutup mata berdoa kepada Tuhan, jika memang ini adalah hari terakhirku, tolong ampuni segala dosa dan kelalaianku. Aku mendengar suara pelan anak kecil menangis ketakutan, aku tersenyum kecut, ternyata ada dua anak kecil yang menjadi korban, mereka bersembunyi di kolong tempat tidur. Tubuhnya bergetar hebat, aku melihat mata mereka yang sudah memerah, mereka menangis. "Angel... Leo... ? Sini keluar kakak akan melindungi kalian," panggil ku terbatah-batah. "Kakak, aku takut," ucap angel cemberut, lalu aku memeluk kedua adikku. "Jadi kamu nggak tahan liat sikap aku ? Maksudmu apa ?" pekik ibu dengan nada semakin tinggi, sepertinya bapak imitasi mulai kehilangan kendalinya. Dia menampar ibuku kencang, aku tidak tahu apa yang terjadi, kemudian aku mendengar teriakan kakak. "Hentikan, anda memang orang yang tidak punya etika ya ? Apa sih jenis kelamin anda ?" ucapnya kencang. "Sehingga beraninya sama cewek doang?" lanjutnya dengan tegas dan kuat, kaka ku mengucapkannya, walaupun dia wanita tetap saja dia kuat dan luar biasa menurutku. "Kamu juga ya. Sekarang semuanya jadi pintar melawan saya. Terutama buat kamu, kamu itu bukan istri yang baik, kamu ajarkan anak-anak melawan sama saya, lihatlah rumah tangga kita ini akan hancur. Saya pastikan itu, dan kalian semua tidak akan bahagia," erangnya kehilangan kendali. Ayah... Ayah... Siapa dia ? kok jahat sekali sama aku ? Kenapa dia memukulku Kaka ku, dan juga ibuku. Apa ayah tidak kasihan, melihat anak ayah menderita seperti ini ? Apa ayah tidak sedih melihat ibu menderita? Melihat ibu harus kerja kesana kemari, mengurus rumah juga. Belum lagi memikirkan anaknya yang susah dinasehati dan juga suaminya yang gila. Ayah... Aku takut.... Ayahhh... Tangis ku di dalam hati, aku berharap dia mendengarkan tangisku. Meski aku tahu ayahku telah tiada tapi sungguh aku merasa hidup ini sangat piluh.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
199.3K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.3K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
70.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook