Bab 12

2461 Kata
Mengulang Masa LaluTukk. Tukk. Tukk Bunyi ketukan pulpen di atas meja terdengar sangat nyaring. Di dalam ruangan kedap suara membuat penghuninya bebas melakukan apa saja tanpa resah akan terdengar hingga keluar. Walau jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi, raut wajahnya begitu serius memikirkan sesuatu. Kedua alisnya yang hitam tebal saling bertautan. Pandangan matanya kosong, bibirnya dimajukan beberapa senti dan digerakkan ke kiri dan ke kanan. Pria yang sedang serius berpikir ini adalah Imam. Sosok seorang atasan dengan segudang ilmu yang terdapat di dalam otak jeniusnya. Bahkan dari otaknya itu banyak ide-ide brillian yang dikeluarkan untuk memajukan perusahaan yang dia pimpin. Akan tetapi otaknya itu tidak mampu dia gunakan untuk urusan cinta, nafsu, dan sakit hati. "Waduh, si Bos pagi-pagi sudah melamun," ujar Adit yang tiba-tiba masuk ke ruangan Imam. "Ketok dulu kali pintunya!" ketus Imam. "Yaelah, Bos, biasanya juga ana ngeloyor saja." Adit mengambil duduk di kursi depan meja Imam. Dia menyerahkan beberapa berkas mengenai kontrak-kontrak kerja sama dengan beberapa perusahaan. "Loh, kok kontrak ini lagi? Bukannya sudah saya tolak?" "Bos, maklumlah. Mereka lagi usaha buat ngerayu kita. Dan ana sudah liat provit perusahaan mereka. Jujur saja nih, Bos, provitnya meningkat lebih baik. Kenapa nggak kasih kesempatan, Bos? Siapa tahu berdampak baik untuk kita," jelas Adit. "Dengar, Dit, mereka sudah saya tolak dari setahun yang lalu. Dan saya sudah tahu dasar perusahaan mereka seperti apa!" tegas Imam. "Ya, sudah, Bos, anggap saja Bos sedang mengulang seperti tahun lalu. Bos coba cari tahu dulu apa perusahaan mereka pantas bergabung dengan perusahaan kita. Ingat loh, Bos, nggak baik menolak begitu saja tanpa tahu semua kebenarannya," Adit menunggu reaksi Imam yang sedang mengusap-usap keningnya sambil membaca berkas-berkas itu. "Bahkan dalam urusan cinta pun, tidak ada salahnya kita mengulang masa lalu. Siapa tahu masa lalu yang kelam setelah kita ulang, bisa kita perbaiki untuk ke depannya. Nggak ada yang nggak mungkin, Bos," sindir Adit. Dia tahu Imam sedang banyak masalah dalam urusan percintaannya sejak seminggu ini. Bahkan dua hari yang lalu Imam pernah mengeluh padanya, jika Imam dan Ell tengah bertengkar hebat. "Ngomong sih gampang," cibir Imam. "Begini deh, Bos, ana kasih tahu, ya. Nggak ada salahnya mencoba untuk mengulang semuanya. Bos kan bilang perusahaan yang akan join ini begini begitu, tapi apa Bos sudah pernah mencoba untuk join dengan mereka? Bos itu belum usaha sudah komentar menjatuhkan. Ingat, Bos itu bukan Tuhan. Bahkan Tuhan pun mengajarkan untuk kita berusaha terlebih dahulu dalam mencapai sesuatu yang baik. Sedangkan hasil itu hanya bonus dari usaha kita, Bos," tutur Adit. "Ibarat seorang pelari maraton, Bos belum melangkah dari garis start saja sudah menyerah karena Bos tahu jarak larinya sangat panjang. Harusnya Bos sadar, mana ada lari maraton jarak pendek," sambung Adit. Imam menyandarkan punggungnya pada kursi tempat dia duduk. Kedua tangannya dilipat di d**a. Pandangannya fokus pada Adit yang sedang menjelaskan sambil memberikan komentar tentang dirinya. Hampir seratus persen yang Adit katakan adalah benar, tapi mengapa dia tidak mampu mengakuinya? "Gimana, Bos? Benar kan ana?" "Sarapan apaan tadi pagi?" tanya Imam spontan. "Ketupat sayur Mang Ujang, Bos." "Besok kayaknya aku harus ikut makan ketupat sayur itu. Biar bisa jadi bijak," sindir Imam sambil tertawa. Lalu dengan tangannya dia meng-approve semua pengajuan kontrak kerja sama dengan beberapa perusahan itu. "Widih, Bos. Kepelet sama kata-kata ana, nih?" cengir Adit. "Anggap saja aku sedang mengulang masa lalu. Agar aku tahu hasil sesungguhnya akan seperti apa." Adit menaikkan dua ibu jari ke udara mendengar ucapan dari Imam. Saat Adit ingin keluar dari ruangan Imam, "Dit, apa kamu yakin saat mengulang masa lalu akan mendapatkan hasil yang baik?" ucap Imam menghentikan langkah Adit. "Insya Allah, Bos. Apa pun yang dijalankan dengan optimis dan penuh keikhlasan semua pasti akan berhasil. Ingat, Bos, Allah lah yang menilai semua usaha kita. Allah tidak mungkin salah memberikan hasil pada usaha kita yang sudah bersungguh-sungguh." Imam tersenyum puas mendengar penjelasan Adit. Hatinya menjadi lebih tenang dari sebelumnya. Walau dia masih ragu untuk mengulang semuanya, tapi ada satu titik harapan itu. ꭃ Imam menunggu gelisah di sebuah tempat makan yang menjajakan steak hotel di daerah Pondok Indah. Walau waktu baru menunjukkan pukul enam sore, akan tetapi warung steak ini sudah penuh pengunjung. Rata-rata mereka yang datang merupakan semua pekerja kantor yang baru saja pulang. Saat matanya menatap sosok seorang gadis yang berjalan ke arahnya, dia langsung berdiri menyambut gadis itu. Siang tadi dia sudah membuat janji dengan gadis ini. Imam beralasan ada sesuatu yang penting sehingga harus dibicarakan. "Assalamu'alaikum, Mas," ucap gadis itu. "Wa'alaikumsalam, Sen, duduklah." Imam melirik ke arah raut wajah Sendi. Wajah putih bersih itu tidak menunjukkan tanda-tanda kesedihan. "Mas Imam mau ngomong apa, ya? Tadi katanya penting, apa soal Sabrin? Apa dia sakit, Mas?" ucap Sendi dengan banyak pertanyaan. "Nanti Mas ceritanya, kita makan dulu, ya." Sambil menunggu pesanan mereka datang, Imam memperhatikan gerak gerik Sendi. Gadis yang duduk di depannya hanya menunduk sambil membaca sebuah buku. "Baca buku apa, Sen?" "Oh ... ini." Sendi mengangkat bukunya ke atas hingga Imam mampu membacanya. Alis Imam bertautan, "Wanita berlisan Al-Qur'an," ejanya. "Iya, Mas. Ini kumpulan kisah-kisah inpiratif untuk perempuan Islami," jelasnya. "Oh, apa yang kamu dapat dari baca buku itu?" "Banyak, Mas. Salah satunya, ada seorang perempuan paruh baya yang menjawab pertanyaan dari Hadhrat Abdullah bin Mubarak dengan ayat-ayat Al-Qur'an," jelas Sendi. "Contohnya. Dengan ayat-ayat Al-Qur'an seperti apa?" Imam mulai larut dengan percakapan Sendi. Dia memajukan badannya dengan meletakkan kedua sikunya di atas meja. Tatapannya tidak berpindah dari wajah Sendi yang begitu tenang. "Dalam cerita di sini, ada seorang wanita tua duduk di atas sebatang kayu (pohon) dalam perjalanan menunaikan ibadah haji. Hadhrat Abdullah bin Mubarak rahimahullah kebetulan melewati jalan itu. Ia juga hendak menuju ke Baitullah untuk melaksanakan ibadah haji dan mengunjungi makam Nabi shallallahu alaihi wasallam. Melihat seorang wanita yang terlihat khawatir dan kesulitan, ia berkata kepadanya. Pembicaraan tersebut dikisahkan sebagai berikut ini, Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah): "Assalamu'alaikum warahma-tullah." Sang wanita: "(Kepada mereka dikatakan): "Salam", sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang." (QS Yasin *36+ : 58). Dia bermaksud bahwa jawaban salam adalah dari Allah Ta'ala, Kemudian dia berkata lagi: "Barangsiapa yang Allah sesatkan , maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk." (QS Al-A'raaf *7+ : 186). Maksudnya dia sedang tersesat. Hadhrat Abdullah bin Mubarak (rahimahullah): "Darimana asalmu?" Sang Wanita: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha." (QS al-Israa [17] : 1) Maksudnya dia berasal dari Masjidil Aqsa." "Masya Allah, jadi dia menjawabnya dengan potongan-pontongan ayat Al-Qur'an?" potong Imam tak percaya. "Ya, Mas." "Jadi kamu mau kayak dia, Sen?" "Mungkin akan aneh jika aku terapkan di Indonesia. Tetapi tidak ada salahnya mencoba," ucapnya. Kemudian dia kembali larut dalam bacaannya. Sedangkan pandangan Imam tak henti-hentinya menatap Sendi. Sudut bibirnya tertarik sekilas, dia senang berbicara tentang agama dengan Sendi. Menurut Imam, Sendi sudah sangat berubah. Jika dulu waktu Sendi masih duduk di bangku sekolah, sifatnya sama seperti Sabrin. Akan tetapi sekarang ini Sendi bagaikan bidadari surga. Begitu sejuk bila dipandang seperti ini. Subhanallah .... Imam kembali kepada kesadarannya bahwa dia telah memiliki istri. Tidak baik memikirkan wanita yang bukan halalnya. Karena menjadi dosa besar baginya. Saat makanannya datang, Sendi permisi ke toilet sebentar pada Imam. Sekembalinya Sendi, Imam masih asik dengan ponselnya. Dia nampak sibuk membalas email-email dari perusahaannya. "Ayo, Mas, makan." Sebelum memulai makan Sendi membaca basmallah, lalu mulai memotong-motong daging steak. "Mas tadi katanya ada sesuatu yang penting?" tanya Sendi setelah sebuah suapan daging steak masuk ke dalam mulutnya. "Nanti saja, Sen, makan sambil bicara nggak baik." Sendi mengerutkan dahinya, "Kata siapa Mas makan sambil bicara nggak boleh?" "Kata Mas barusan. Nanti kamu tersedak," jawabnya santai. "Mas, selama ini, di sebagian daerah bila ada orang makan sambil bicara dianggap tabu. Sudah saatnya anggapan demikian kita menghapusnya dari benak kita, Mas, sunnah Nabi menganjurkan makan sambil bicara. Hal ini bertujuan menyelisihi orang-orang kafir yang memiliki kebiasaan tidak mau berbicara sambil makan. Kita diperintahkan untuk menyelisihi mereka dan tidak menyerupai mereka dalam hal-hal yang merupakan ciri khusus mereka. Ibnul Muflih mengatakan bahwa Ishaq bin Ibrahim bercerita, ‘Suatu ketika aku makan malam bersama Abu Abdillah yaitu Imam Ahmad bin Hanbal ditambah satu kerabat beliau. Ketika makan kami sedikit pun tidak berbicara sedangkan Imam Ahmad makan sambil mengatakan alhamdulillah dan bismillah setelah itu beliau mengatakan, ‘Makan sambil memuji Allah itu lebih baik daripada makan sambil diam.’ Tidak aku dapatkan pendapat lain dari Imam Ahmad yang secara tegas menyelisihi nukilan ini. Demikian juga tidak aku temukan dalam pendapat mayoritas ulama pengikut Imam Ahmad yang menyelisihi pendapat beliau di atas. Kemungkinan besar Imam Ahmad berbuat demikian karena mengikuti dalil, sebab di antara kebiasaan beliau adalah berupaya semaksimal mungkin untuk sesuai dengan dalil.’ (Adab Syariyyah, 3/163) Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab al-Ihya mengatakan bahwa termasuk etika makan ialah membicarakan hal-hal yang baik sambil makan, membicarakan kisah orang-orang yang shalih dalam makanan.’ (al-Adzkarhal 602). Jadi mas masih mau bilang makan nggak boleh sambil bicara?” jelas Sendi. Dalam sekejap Sendi mampu membuat Imam bungkam dan tak berani berkata apa pun. Selain dengan mami ternyata hanya Sendi yang mampu membuat Imam seperti ini. "Semua yang dilakukan haruslah kita melihat dulu kejelasannya. Apa itu baik buat kita? Apa itu dikerjakan oleh nabi kita? Atau apa itu masih dijalan Allah? Jangan hanya mengikuti apa yang kita yakini benar. Karena ingat, Mas, kita ini bukan Sang Pencipta," ujar Sendi. Imam mendesah pasrah, dalam sehari ini sudah dua kali ada yang berkata padanya bahwa dia bukan Tuhan. Imam bertanya-tanya dalam hati, apa memang sifatnya salah selama ini? Apa dia terlihat arogan? "Kalau Mas nggak mau cerita, ya sudah." "Sen, maaf untuk waktu itu," ucap Imam hati-hati. "Maaf untuk apa?" tanya Sendi tak paham. Kedua matanya mengerjap menatap Imam bingung. "Karena telah membuatmu menangis." "Aku nggak papa, Mas. Mas masih memikirkan itu ternyata. Jujur saja, Mas, aku bukan berusaha melupakan. Karena sesuatu hal yang dipaksakan untuk dilupakan tidak akan berhasil terlupakan. Namun jika sesuatu hal itu dibiarkan saja tanpa harus dipaksa untuk dilupakan, insya Allah akan terlupa dengan sendirinya," jelas Sendi dengan senyuman. Ia kembali menyantap makanan yang tersaji di depannya. Tanpa ia tahu, Imam sudah ketakutan bila perkataannya membuat Sendi sakit lagi. "Sen, Mas ingin berdamai dengan masa lalu." Sendi menghentikan kegiatan makannya, ditatapnya wajah Imam sekilas. "Maksud Mas?" "Begini, Sen, setiap orang mempunyai masa lalu. Entah baik, buruk, atau biasa, masa lalu mungkin meninggalkan jejak di dalam diri kita. Khususnya masa lalu yang buruk, atau tidak ingin dikenang, menurut Mas, kalau kita mau bahagia, Mas pikir kita harus berdamai dengan masa lalu. Mas percaya teori Freud. Manusia masa kini adalah manusia yang dibangun dari masa kecilnya. Kalau masa kecilnya beres, niscaya alam bawah sadar manusia yang beranjak dewasa pun tidak ada masalah," jelas Imam. "Hmm. Bagaimana jika masa lalu yang tak terlupakan itu bukan masa kecil? Tetapi, mungkin, masa dewasa awal, masa remaja, atau masa dewasa menengah? Apakah masa lalu itu akan berbekas? Misalkan bagaimana jika masa yang tak terlupakan itu adalah saat kemarahan dalam diri Mas tengah memuncak namun Mas tidak bisa berbuat banyak? Bagaimana cara Mas benar-benar berdamai dengan masa lalu?" cecar Sendi. Dia tidak yakin Imam mampu melakukannya. Berdamai dengan masa lalu, pernyataan yang bulshit menurut Sendi. Apalagi yang melakukannya adalah Imam. "Menurut Mas, ‘Release your heart free’ inilah kunci tertinggi dari bentuk kesadaran dan cinta, yakni ikhlas. Ikhlas adalah bentuk energi yang paling membebaskan kita. Ikhlas ini berbeda dengan filsafat Barat tentang kebebasan. Bagi mereka yang percaya dengan konsep liberalisme Barat, maka kebebasan dan kehendak bebas menjadi dua kata kunci yang melekat dengan filosofi Barat ini. Mas belajar ilmu ikhlas dari agama, Islam. Dalam Islam, Mas menemukan harmoni dan kedamaian. Ketika terjadi konflik, dalam liberalisme kita mengenal 'dispute' atau sengketa. Ada pihak yang menuntut dan ada pihak yang dituntut. Menurut Mas, ini tepat jika dilakukan dalam ranah hukum. Tapi, dalam kehidupan sehari-hari, di mana kita menghadapi ranah yang lebih personal dan emosional, pendekatan semacam itu hanya akan membuat kemarahan-kemarahan dalam alam bawah sadar kita. Dalam konsep ikhlas, ketika terjadi konflik diri atau permasalahan yang menimpa kita, kita bersedia menerima permasalahan itu sebagai bagian dari diri kita. Jangan menganggap diri kita steril dan sempurna. Posisikan diri kita dalam titik nol kehidupan, dan setiap harinya kita harus mengembuskan energi positif agar titik nol tersebut bergerak ke kuadaran positif. Dalam ikhlas juga ada 'endurance'. Artinya, kita seperti diistirahatkan setiap hari di titik nol dan mampu untuk mengembuskan energi positif yang ringan namun konsisten. Ketika kita tidak mengistirahatkan diri kita di titik nol, setiap hari kita mengembuskan energi menuju ke kuadran yang lebih baik secara terus menerus. Ada kalanya kita menjadi capek, atau mentok. Atau bahkan tidak produktif karena harus menghirup energi negatif dalam perjalanan di tengah kuadran positif. Mungkin kita bertambah besar. Mungkin kita bertambah maju. Namun jiwa kita tidak bertambah maju—" "Lantas apa menurut Mas, Mas telah ikhlas dalam semuanya?" potong Sendi. "Insya Allah sudah." "Jika Mas sudah ikhlas, harusnya Mas tidak menggali masa lalu yang telah dikubur dengan rapi," Sendi mulai tersulut dengan emosinya, dia tidak menyangka Imam dengan mudah berkata demikian. "Sen, Mas bukannya menggali masa lalu. Tapi Mas mencoba untuk mengulang masa lalu. Mas ingin mencoba memperbaiki semuanya. Dalam setiap ujian, jika kita terjebak dalam kegagalan. Maka ada kesempatan untuk mengulanginya dan melakukan yang terbaik. Agar hasil yang kita dapatkan bisa mengikuti usaha yang telah dilakukan" "Tidak untuk masa lalu, Mas. Mengulang masa lalu sama saja Mas mengulang kebodohan yang telah Mas lakukan. Bahkan seekor keledai pun tidak mau jatuh ke lubang yang sama." "Mas tahu apa maksudmu berkata demikian," ucap Imam. Dia menunggu reaksi Sendi selanjutnya akan seperti apa. Namun Sendi hanya menautkan jemarinya tanda dia gugup. "Kamu hanya membentengi dirimu akan masa lalu yang hendak masuk kembali ke dalam dirimu. Kamu seperti seseorang yang phobia akan sesuatu. Apa kamu tahu, Sen, percayakan sesuatu di luar sana ada hal indah menantimu. Jika yang kamu lakukan hanya membentengi diri, kapan kamu akan melihat keindahan itu?" jelas Imam. "Tolong, Mas, semua yang di pikiranmu tidak ada yang benar. Kamu salah rasanya berdiskusi tentang masa lalu denganku." Setelah meminum air putih secukupnya, Sendi hendak pergi secepat mungkin dari Imam. "Sen." Imam menarik tangan Sendi cepat. "Kamu bisa bohongi Mas, tapi kamu tidak bisa membohongi hatimu sendiri. Terutama membohongi Allah." Mereka berdua saling berpandangan. "Temani aku, Sen, untuk mengulang masa lalu," lirih Imam. Kedua manik mata mereka saling menatap satu sama lain. Mencari-cari apa perasaan itu masih sama seperti enam tahun yang lalu. "Maaf, Mas, aku nggak bisa." Dihentakkannya cepat tangan Imam. Lalu dengan sedikit berlari Sendi pergi jauh dari Imam. Sudah cukup beberapa hari kemarin ini dia memperbaiki hatinya yang hancur berkeping-keping. Tapi lihatlah sekarang, Imam dengan mudahnya meminta Sendi untuk mengulang masa lalu. Sungguh tidak tahu malu. Dia indah? Tidak. Dia istimewa? Tidak. Dia berharga? Tidak. Dia segalanya? Tidak. Dia tidak ada apa-apanya, Akan tetapi hanya karena sebuah nama, Aku tidak bisa kabur dari masa lalu.. ----- continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN