Bab 11

2460 Kata
Siapa Aku? Jari-jari lentik terus menari-nari di atas jajaran huruf dan angka dalam sebuah papan yang sering disebut keyboard. Tatapan matanya tetap fokus pada sebuah layar yang berada di hadapannya. Sebenarnya gadis ini tidak sedang fokus, melainkan berusaha memfokuskan pikiran terutama hatinya. Maka dari itu dia lebih memilih menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya yang lumayan banyak di akhir minggu. Kamar kos yang dihuni dua mahasiswi ini terlihat sangat berantakan. Bukan karena mereka malas untuk membereskan, akan tetapi keduanya memang sedang asyik bergelut dengan laptop mereka masing-masing. "Kak Sendi, ponselmu bergetar, tuh!" ucap Bila, seorang junior yang kebetulan satu kos dengan Sendi. "Biarkan saja." Sendi sama sekali tak melirik ke arah ponselnya. Dia sudah tahu siapa yang menghubunginya hari ini. "Kak Sabrin loh, Kak, yang menelepon," jelas Bila, dia takut Sendi tidak tahu jika Sabrin—yang juga merupakan senior bila juga—menghubungi Sendi. "Iya, aku tahu, Bil, biarkan saja." "Kakak lagi berantem sama Kak Sabrin?" Pertanyaan Bila sontak menghentikan kegiatan Sendi. Beberapa coding java script yang dia rancang untuk membuat sebuah WEB hancur berantakan. Pikirannya yang sejak awal sudah tidak konsen menjadi semakin tidak konsen. "Nggak kok," bohongnya, lalu kembali melanjutkan tugasnya. "Aduh, ini kok nggak nyambung-nyambung, sih," gerutu Sendi. "Ada apa sih, Kak?" "Ini aku lagi usaha menghubungi jquery sama server kok nggak bisa. Apa rumusnya yang salah, ya?" Ucap Sendi. "Kak, java itu kan menggunakan case sensitif, Kakak nulis namanya saja ada huruf besar huruf kecilnya gitu," jelas Bila, ia membantu Sendi memperbaiki apa yang menjadi kesalahan Sendi. Wajah Sendi menunduk malu, dia mulai sadar kesalahannya di mana. Memang seharusnya dia tidak mengerjakan tugasnya di saat pikiran dan hatinya tidak di sini. "Kak, kalau lagi nggak konsen jangan dipaksa. Selesaikan dulu apa yang buat Kakak nggak konsen, baru mengerjakan tugasnya lagi," nasihat Bila. Sendi menghela napas beratnya yang terasa seperti tercekat di paru-parunya. Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan, tapi Sendi tidak tahu harus bertanya pada siapa. "Kak, masalah yang terus dihindari bukan akan selesai melainkan akan terus menumpuk. Memang pada awalnya tumpukan itu kecil, namun lama kelamaan akan menjadi besar nantinya." "Iya, Bil, aku maunya sih selesaikan semua masalah yang kupikirkan. Tapi menyelesaikannya itu yang susah," ujar Sendi. "Tidak ada yang susah di dunia ini, kalau sudah niat. Ingat, Kak, nawaitu." Sendi tersenyum ke arah Bila, lalu dia bergegas mengambil ponselnya dan membalas pesan Sabrin yang memintanya untuk datang ke rumah mami. ꭃ Panas terik tidak menghentikan langkah kaki Sendi. Saat dia turun dari angkutan umum tadi, dia terus berjalan masuk ke dalam sebuah komplek perumahan yang cukup besar. Karena untuk masuk ke dalam sana saja harus meninggalkan KTP di depan pintu masuk utama. Walau beberapa security di sana sudah mengenal Sendi yang sering bolak balik ke sini, namun aturan tetap harus dijalankan. Langkah kaki Sendi terhenti saat sebuah motor sport berwarna hitam berhenti tepat di sampingnya. "Sen," Sendi berusaha mengenali suara pengendara motor itu yang menggunakan helm full face. "Mau ke rumah Mami? Ayo, naik," ucap pria itu. "Mas Imam?" tanya Sendi tak yakin. "Iya, siapa lagi? Ayolah, panas. Masih jauh kan. Daripada kamu jalan." "Maaf," ucapnya takut. "Kenapa? Takut bersentuhan sama Mas? Ya, Allah, Sen, kamu sudah kuanggap adikku sendiri," jelas Imam. Pikiran Sendi kembali berputar-putar mendengar kata-kata Imam. 'Adik sendiri'. Harusnya Sendi sadar memang seperti itulah Imam memandang dia. Tapi mengapa Sendi masih saja berharap hal yang mustahil. Tunggu, ini bukan sekadar berharap, buktinya mami pernah melamarnya untuk Imam. Dan waktu itu tidak ada penolakan dari Imam. Ia hanya mengingat akan sebuah janji dulu yang sempat terucap oleh laki-laki ini. "Nggak, Mas." "Ayolah." Ditariknya pergelangan tangan Sendi untuk segera naik ke motornya. "Menyamping saja. Kalau nggak mau pegangan Mas, bisa pegangan besi yang belakang," jelas Imam. Karena terpaksa Sendi mengikuti saran Imam. Motor sport yang cukup tinggi membuatnya kesulitan untuk naik ke atasnya. Dengan sangat terpaksa Sendi memegang bahu Imam sebagai tumpuan agar dia bisa dengan mudah duduk di atas motor itu. "Pegangan, ya," ucap Imam saat merasa Sendi sudah duduk dengan nyaman. Motor yang dikendarai Imam melaju dengan kecepatan sedang melewati jalanan perumahan yang cukup sepi siang itu. Sendi yang duduk di belakang Imam memandang punggung besar pria yang di depannya itu. Hatinya sedang memberontak agar terus dalam posisi seperti ini. Namun akal sehatnya masih berpikir jernih, bahwa semua yang dia pikirkan saat ini sudah menjadi sebuah dosa. Imam bukan pria halal untuknya. Tapi sekali lagi apa yang bisa dilakukan Sendi. Hatinya memang sedang merasakan jatuh cinta. Dan insya Allah jatuh cintanya pada Imam hanya lewat doa yang selalu dia panjatkan kepada Allah. Berdosakah dia? "Oke. Sampai." Dengan hati-hati Sendi turun dari motor itu. Dia takut gamis yang dia pakai tersangkut. "Loh, kok bisa barengan, Mas?" tanya mami yang menyambut kedatangan Imam. "Iya, tadi ketemu di jalan," jelas Imam. Helm yang tadi Imam pakai sudah terbuka, wajahnya yang putih sudah berubah menjadi merah karena panasnya udara siang ini. Rambut hitam Imam sudah basah oleh keringat yang mengalir melalui pipi putihnya. Sendi yang takut terlarut dengan pandangannya lebih memilih menunduk memperhatikan langkah kakinya untuk masuk ke dalam rumah mami. Pikirannya kembali fokus pada niatnya datang kemari tadi. Semua masalah yang membelenggu pikiran dan hatinya harus segera diselesaikan. "Sendi," panggil Sabrin yang sedang sibuk menggendong Syafiq. "Mi, titip Syafiq ya, aku mau curhat sama Sendi," sambungnya. "Sudah jadi ibu masih saja sifatnya begini," ucap mami yang tidak dihiraukan Sabrin. "Hayo, ada apa?" Sabrin mulai introgasinya pada Sendi. Saat ini mereka sedang duduk di atas sofa dalam kamar Sabrin. Kebetulan Fatah sedang berada di rumah sakit, sehingga Sabrin bisa bebas melakukan apa saja di rumah mami saat ini. "Nggak ada apa-apa." Sendi masih berusaha menutupi apa yang dia rasakan. "Sen, jangan bohong. Kenapa sebulan ini kamu menghindar dari aku? Bahkan seminggu terakhir ini kamu seperti nggak mau jawab panggilan telepon aku. SMS, BBM, WA, Line, nggak ada yang kamu bales. Ada apa, sih? Aku buat salah ya, Sen?" Sabrin begitu takut Sendi marah padanya. Namun sebaliknya, Sendi ingin sekali tertawa melihat wajah khawatir Sabrin untuknya. "Aku nggak papa, Rin. Kamu nggak percaya banget." "Gimana mau percaya, kamunya begitu," mata Sabrin menyipit melihat ke arah Sendi yang gugup menutupi perasaannya. "Jangan bilang kamu lagi jatuh cinta," tebak Sabrin tepat sasaran. "Aku?" tunjuknya pada diri sendiri. Sabrin tertawa puas dengan hasil tebakannya yang ternyata benar. Dia tidak menyangka, Sendi bisa juga menjadi seperti ini saat dimabuk cinta. "Kamu jatuh cinta sama siapa? Apa di kampus ada junior yang ganteng?" goda Sabrin sambil menaik-turunkan alisnya. "Kamu fitnah, Rin, aku memang jatuh cinta tapi sama Allah, bukan sama junior kita di kampus," Sendi sengaja membuang pandangannya, takut-takut Sabrin tahu jika dia memang jatuh cinta. Apalagi jika Sabrin tahu, pria yang dicintainya adalah Imam. "Sen, cerita sama aku daripada kamu pendam sendiri. Setidaknya aku bias—" "Nggak ada yang bias kamu lakukan, Rin, jika aku memang benar jatuh cinta, yang bisa mengaturnya adalah hatiku sendiri," potong Sendi. "Sen, cinta itu adalah kejujuran dan kepasrahan yang total. Cinta itu mengarus lembut, mesra, sangat dalam, dan juga intelek. Cinta ibarat mata air abadi yang senantiasa mengalirkan kesegaran bagi jiwa dahaga." Sendi membulatkan matanya menatap Sabrin yang bisa dengan bijak berkata seperti itu. "Dengar dari mana kamu?" "Mas Fatah," cengirnya. "Tapi kalau menurutku pribadi, cinta itu simpel. Dirasa sakit, nggak dirasa makin sakit," sambung Sabrin. "Kenapa jadi ngomongin cinta?" keluh Sendi. "Kan memang kamu lagi jatuh cinta. Lantas aku tanya, cinta menurutmu kayak apa?" "Cinta itu adalah saat kamu bisa selalu menyebut namanya di dalam setiap doamu. Cinta itu hanya sebuah perasaan abstrak. Tak ada bentuknya namun bisa dirasakan. Tak terlihat namun bisa menyentuh. Tak terdengar namun bisa terpanggil. Dan cinta yang benar itu cinta pada halalmu," jelas Sendi. "Wow." Sabrin menepuk kedua tangannya. "Nggak nyangka kamu bisa jatuh cinta juga." "Aku ini manusia, Rin, aku punya hati. Dan cinta itu nggak pandang bulu saat menyerang. Namun yang harus kita lakukan adalah sebisa mungkin menjaga perasaan itu agar tidak berlanjut. Wanita muslimah tetaplah manusia yang diciptakan oleh Tuhan. Sama seperti laki-laki. Tetapi tahukah kamu betapa berbedanya mereka—wanita muslimah—ketika cinta seorang lelaki menyapa hatinya? Tiada senyuman bahagia, tiada rona malu di wajah, tiada perasaan suka di d**a. Namun sebaliknya. Ketika wanita muslimah jatuh cinta, yang mereka rasakan adalah ketakutan yang begitu besar akan cinta yang tidak lagi suci. Yang ada adalah kegelisahan, karena rasa yang salah arah. Yang ada adalah penderitaan akan hati yang mulai sakit. Ketika wanita muslimah jatuh cinta, bukan harapan untuk bertemu yang mereka nantikan, tapi yang ada adalah rasa ingin menghindar dan menjauh dari orang tersebut. Tiada kata-kata cinta dan rayuan. Yang ada adalah kekhawatiran yang amat sangat, akan hati yang mulai merindukan lelaki yang belum halal ataupun mungkin yang tak akan pernah halal baginya," jelas Sendi. "Jadi ... kamu ...?" Sabrin mulai paham arah pembicaraan Sendi. Dia sudah mengerti mengapa Sendi menghilang dalam sebulan ini. Bukan menghilang, lebih tepatnya dia menghindar dari seseorang. Sendi hanya menutup matanya saat ucapan Sabrin mulai terputus-putus. "Ketika mereka jatuh cinta, maka perhatikanlah, kegelisahan di hatinya yang tidak mampu lagi memberikan ketenangan di wajahnya yang dulu teduh. Mereka akan terus berusaha mematikan rasa itu bagaimanapun caranya. Bahkan jika cinta dia harus menghilang, maka itu pun akan dilakukan," sambung Sendi. "Ya, Allah ... Ya Allah. Sen, jadi kamu cinta sama dia? Sejak kapan?" Sabrin menatap kasihan wajah Sendi. Dia tahu Sendi pasti mengalami hari yang berat. "Pertanyaanmu salah, Rin, seharusnya 'sampai kapan kamu harus mencintai yang bukan halalmu?'" lirih Sendi. "Untuk itu aku datang ke sini. Aku ingin menyelesaikan segalanya. Lari dalam menghadapi masalah bukan hal baik," keluh Sendi. "Selesaikanlah, Sen. Kamu mau aku membantumu?" "Tidak perlu, Rin. Insya Allah aku masih bias." Tok. Tok. Suara pintu yang diketuk dari luar menghentikan edisi curahan hati mereka. "Rin, makan dulu!" teriak Imam dari luar pintu. "Iya, Mas," sahut Sabrin. "Lakukan sekarang, Sen, karena Kak Ell sedang di gereja." Sendi tersenyum miris mendengar Ell sedang di gereja. Dia memikirkan perasaan pria itu, apa dia baik-baik saja melihat istrinya sedang beribadah di tempat yang berbeda dengan yang Imam yakini. Dalam acara makan siang mereka, semua nampak malas untuk berbicara. Mami tengah sibuk dengan cucu kesayangannya. Sabrin sibuk diam membisu setelah mengetahui masalah yang dihadapi sahabatnya. Sedangkan Imam dan Sendi lebih memilih terus menundukkan wajah mereka. "Sen," panggil Imam setelah mereka selesai makan. "Iya, Mas." Tanpa berkata apa-apa Imam melangkahkan kakinya ke taman belakang rumah mami. Dia mengambil duduk di salah satu kursi yang memberikan pemandangan taman buatan mami yang penuh dengan bunga-bunga mawar. Sendi yang tidak mendapatkan respon lain dari Imam, terus mengikuti langkah kaki Imam hingga ke taman belakang. Dia melihat Imam duduk di sebuah kursi, lalu yang Sendi lakukan adalah menjaga jaraknya dengan Imam. Sekitar dua meter dari kursi Imam. Pandangannya turut terlarut pada keindahan taman siang ini. "Mas ada salah padamu, Sen?" tanya Imam sarkatis. Kepala Sendi semakin menunduk, bibirnya bergetar hingga dia harus menggigitnya dengan kuat agar butiran kristal dari matanya tidak membanjiri pipinya. "Tidak," ucapnya begitu serak. "Lalu kenapa semenjak Mas mengantarkan kamu waktu itu. Kamu seperti menghindari Mas?" 'Aku tidak menghindarimu, aku menghindari rasa cintaku sendiri'! teriak batin Sendi. "Itu cuma perasaan Mas saja," ucap Sendi berusaha menutupi segala hal yang dia rasakan. "Kamu tahu, Sen, sebuah kejujuran akan membuat seseorang mendapatkan cinta kasih dan keridhoan Allah. Sedangkan kebohongan adalah kejahatan yang tiada tara, yang merupakan faktor terkuat yang dapat mendorong seseorang berbuat kemunkaran dan menjerumuskannya ke jurang api neraka," jelas Imam. Pandangannya masih menatap jauh ke bunga-bunga yang sedang bermekaran. Akan tetapi dia yakin Sendi terus mendengarkan ucapannya. "Iya, aku tahu, Mas. Dan aku juga tahu salah satu firman Allah dalam Al-Qur'an, "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah SWT dan ucapkanlah perkataan yang benar." (Q.S. al-Ahzāb/33:70). " sahut Sendi. "Kalau sudah tahu, mengapa masih berkata bohong? Jika Mas punya salah biar Mas bisa memperbaikinya." "Aku yang salah, Mas, aku yang telah lalai menjaga hatiku. Hingga perasaan ini bisa dengan lancangnya tumbuh dan bersemi seiring berjalannya waktu. Perasaan semula yang hanya terdapat di dunia yang fana ini. Yang seharusnya tak kurasakan karena semua ini dosa bagiku. Walau aku bersikeras untuk menghapusnya, namun kokohnya akar dari perasaan ini menjadi mendarah daging. Hati ini seperti terus mengharapkan sesuatu janji. Tapi harusnya aku mampu melarangnya. Karena sesungguhnya tiada janji yang seharusnya kutunggu," lirih Sendi. Tangannya sudah tak henti-hentinya menghapus butiran air mata yang mengalir disekiar pipinya. Imam memandang wajah Sendi dengan senyum di bibirnya. Dengan seperti ini saja, Imam sudah tahu apa yang dimaksud oleh Sendi. "Boleh Sendi lanjutkan, Mas?" Sendi bertanya pada Imam setelah menuntaskan air matanya. "Mungkin setelah berkata ini, Sendi bisa bernapas lega. Dan Sendi bisa menyelesaikan semua tugas akhir yang diberikan kampus. Dan perasaan ini, anggaplah tidak pernah ada. Hingga—" "Kau adikku, Sen. Sejak enam tahun lalu saat aku mengantarkan Sabrin ke sekolahnya, kau sudah menjadi adikku. Kau bisa mengeluh apa pun padaku, kau bisa berlindung di bawah lenganku. Dan kau bisa merajuk manja di dadaku. Karena kita adalah saudara," potong Imam. “Jujur saja, Sen, Mas menyayangimu, Mas ingin memberikan yang terbaik untukmu seperti Mas memberikan yang terbaik kepada Sabrin. Akan tetapi Mas sadar, Mas hanya seorang laki-laki biasa yang tidak sempurna. Yang pinangannya telah ditolak olehmu,” sambungnya begitu lirih. Bagai disambar petir, tangisan Sendi semakin menjadi. Dia sadar betul maksud dari perkataan Imam barusan. Dan dia tahu dia salah telah jujur dengan perasaan semunya ini. Menurut Sendi, lebih mudah memaafkan orang yang sudah melakukan kesalahan daripada memaafkan mereka yang berkata benar. Kadang kejujuran sangat menyakitkan. "Sudahlah, Sen, jangan menangis. Air matamu jauh lebih berharga untuk menangisi Allah, bukan menangis karena ...," Imam menggantung kata-katanya, sekilas dia menatap Sendi yang masih diam menangis. Sendi menghapus air matanya "Sekarang aku bisa tenang. Sekarang aku paham, memang seharusnya seperti ini jalan hidupku,”  jawabnya tanpa suara bergetar sedikit pun. Dia sudah sadar sekarang dengan perasaan semunya. Dan saat ini bagaimana dia mulai memohon ampun pada Allah karena telah melanggar perintahNya. Sebuah perintah menimbulkan sebuah dosa besar. Karena hatinya sudah berbelok pada seorang pria yang bukan halalnya. "Astagfirullah al'adzim," lirih Sendi sambil memegang hatinya yang terasa sakit. Tubuhnya berbalik dan jatuhlah kembali air matanya. Mungkin bibirnya bisa berbohong bahwa semua akan baik-baik saja. Namun bagian tubuh lainnya terus saja membelok untuk memberontak karena rasa sakit yang tengah dia rasakan. “Maafkan aku, Sen,” ucap Imam sebelum tubuh Sendi benar-benar pergi menjauh dari dirinya. Aku tak berhak untuk marah. Sekalipun ada sedikit alasan untukku marah. Aku bukan siapa-siapa. Dan tidak akan pernah menjadi siapa-siapa. Aku adalah sebuah jarum kecil. Tenggelam didalam tumpukkan jerami. Berusaha melindungi diri dengan ujung tajam. Menusuk ke dalam yang sulit ditembus. Aku bukan siapa-siapa yang tak pantas untukmu. Yang tak layak bagimu. Dan tak berhak mengenalmu. Karena aku tak punya kelebihan apa-apa. Saat ini .... Aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan. Tanpa harus memberikan ucapan salam untukmu. Tanpa ada lagi sebait doa untukmu. Karena aku tak berhak untuk itu. ----- Continue. Komen dulu dong
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN