"Ayo! Aku sudah tak sabar." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu merasa bahagia karna kini kedua kakinya telah memasuki halaman universitas yang selama ini ia impi-impikan itu.
Universitas Negeri Jakarta, atau singkatan UNJ. Disanalah impian serta cita-cita Yudha selama ini, menjadi salah satu mahasiswa disana adalah hal yang ajaib yang pernah terjadi di hidup Yudha.
"Benar-benar, luar biasa." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu saat menatap sekeliling bangunan yang sudah ia lewati itu.
"Apa kau se-senang itu, Dha?" Tanya Agas cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu ikut merasa bahagia saat melihat Agas bahagia.
"Tentu saja, Agas! Ini benar-benar seperti mimpi, aku benar-benar merasa bahagia dan bersyukur." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu menatap takjub ke sekelilingnya.
"Hahaha, kau ini.. yasudah ayo kita mendaftarkan mu." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu.
Setelah semua keributan akan kertas-kertas pendaftaran baru lewat jalur beasiswa kini Yudha dan Agas segera melangkah berjalan menuju ke arah kantin kampus karna merasa lapar setelah menyelesaikan pendaftaran itu.
"Dha, pesan menu apa?" Tanya Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha yang kini sudah duduk di bangku mejanya di dalam kantin itu.
"Mie goreng rendang, ada kan? Agas." Tanya Yudha balik dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas.
"Sip, pasti ada kok.. mie goreng emang langganannya disini, Dha." Sahut Agas dengan cepat dan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Oke, minumnya es teh aja." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Mie rendang and Es teh! Siap meluncur." Ucap Agas cepat segera melangkah pergi menuju ke arah Ibu kantin yang sedang melayani beberapa mahasiswa serta mahasiswi lainya itu.
Yudha tertawa kecil saat melihat Agas yang dengan cepat segera memesankan makanan pesanannya itu, secara tak sengaja pandangan Yudha kini mengarah tertuju pada sosok seorang wanita muda yang sedang tersenyum lebar bersama dengan gerombolan teman-temanya itu.
Sedikit demi sedikit senyuman Yudha merekah saat melihat sosok wanita yang Yudha anggap sebagai malaikat itu.
"Benar-benar manis dan cantik." Puji Yudha lirih saat melihat sosok wanita yang ia baru pertama kali lihat itu sedang tersenyum dengan lebar sembari berjalan ke arah kantin.
"Siapa wanita itu," Gumam Yudha lirih menatap lekat ke arah sosok wanita yang tiba-tiba mencuri pengheliatanya itu.
"Mie goreng rendang dan es tehnya sudah siap mendarat." Teriak Agas cepat namun sosok Yudha masih belum sadar kalau Agas kini sudah duduk di bangku tepat berhadapan dengan Yudha.
"Dha, gimana rasanya? Enakkan?" Tanya Agas kembali dengan wajah tersenyum lebarnya itu menatap lekat ke arah Yudha namun sosok yang sedari tadi ia ajak bicara itu malah sama sekali tak bergeming atau pun bersuara.
"Dha? Hey, jangan bengong nanti kesambet loh." Ucap Agas cepat segera memukul pelan bahu Yudha agar membuat Yudha tersadarkan dari lamunannya itu.
"Ehh, Agas? Ada apa ya." Ucap Yudha cepat masih merasa linglung saat pengheliatanya telah kembali menatap ke arah Agas.
"Ett, tadi kamu mikirin apa si? Dha, sampai-sampai bengong dan linglung seperti itu." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap intens ke arah Yudha.
"Mm, ngga! Mana mungkin aku bengong, Agas." Ucap Yudha cepat menyangkal ucapan Agas.
"Loh, jelas-jelas tadi kamu tuh bengong dan melihat ke arah sana terus.. Dha! Atau jangan-jangan kamu tadi sempat kemasukan sesuatu ya? Tuh, kan di bilang juga apa, kantin ini tuh memang angker kata anak-anak mahasiswa terdahulu." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap kasihan ke arah Yudha karna berpikiran kalau Yudha telah kerasukan oleh sesuatu.
Yudha dengan cepat menggelengkan kepalanya dan berkata "Agas, itu semua tidaklah benar.. aku tadi ngga kerusakan, tapi tadi hanya sempat melihat sesuatu yang mana membuat ku tak bisa berpaling dari dirinya." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas berusaha menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi padanya.
"Ehh, melihat sesuatu dan tak bisa berpaling? Apa itu, Dha? Aku jadi kepo nih." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu menatap intens ke arah Yudha.
Yudha menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berkata "Ngga ada, cuma.. hanya sedang memandangi bangunan kantin ini saja." Ucap Yudha lirih karna baru saja ia berkata bohong pada seseorang yang mana membuat Yudha merasakan hal yang sangat aneh di dalam dirinya.
"Masa? Bangunan kantin ini? Yang benar saja, Dha.. itu tidak mungkin! Atau kau secara diam-diam telah memandangi seseorang wanita yang tiba-tiba saja membuat hati mu kepincut? Benar bukan?" Ucap Agas asal dengan wajah tersenyum jahilnya itu.
Setelah mendengar ucapan Agas itu sontak saja Yudha segera menggelengkan kepalanya dengan cepat tanda menyangkal ucapan Agas lalu Yudha pun berkata "Tidak, itu tidak benar." Ucap Yudha cepat dengan nada suara gugupnya seolah-olah menyangkal ucapan Agas dengan ragu-ragu.
Agas yang paham betul kalau tebakannya tadi tepat sasaran sontak saja tertawa lebar dan tersenyum penuh makna ke arah Yudha, ia pun berkata "Dha, siapa orang yang sudah mencuri pandangan mata mu itu? Cepat katakan pada ku, aku juga ingin tahu siapa wanita yang telah membuat mu merasakan indahnya berbunga-bunga itu." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu menatap lekat ke arah Yudha yang kini semakin berwajah merah dan tertunduk gugup akan pertanyaan dari dirinya itu.
"Hentikan! ku bilang itu semua tidaklah benar bukan? Agas, aku sama sekali tak tau apa maksud mu." Ucap Yudha cepat masih menyangkal ucapan Agas tentang sosok wanita itu.
"Yang benar? Tapi wajah mu memerah loh, mirip orang-orang yang sedang menyimpan perasaan pada lawan jenisnya." Ucap Agas cepat dengan nada suara menjahili Yudha itu.
"Hentikan, Agas.. lebih baik kita makan saja! Keburu mienya bengkak." Ucap Yudha cepat segera menyuapi dirinya sendiri dengan makanan yang telah ia pesan tadi.
"Wah, mie ku bengkak!" Pekik Agas cepat dengan wajah terkejutnya itu setelah mengetahui bahwa mie yang tadi ia bawa kini telah membengkak sendiri yang mana membuat porsi mangkok mienya terlihat banyak.
"Hahaha, kan sudah ku katakan! Selamat makan, Aga." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Selamat menikmati." Ucap Agas lirih dengan nada tak bersemangatnya itu yang mana membuat Yudha sontak tersenyum kecil.
Setelah memberikan uang untuk biaya makanan yang sudah ia makan di kantin pada Agas kini Yudha sedang menunggu kedatangan Agas di luar pintu masuk kantin, sambil menunggu kedatangan Agas pandangan Yudha sesekali tertuju pada sosok wanita yang sudah mencuri perhatiannya itu.
"Cantik, dan pintar berbicara." Ucap Yudha lirih saat memperhatikan sosok wanita yang sedari tadi mencuri perhatiannya itu.
"Lucu, dan baik." Ucap Yudha kembali saat melihat sosok wanita itu sedang memberikan bekas tulang ayam sisa ia makan pada seekor kucing liar.
"Benar-benar sempurna." Ucap Yudha kembali saat memperhatikan dari jauh sosok wanita yang sedari tadi menjadi pusat perhatiannya itu.
Langkah kaki Agas sontak membuat Yudha segera mengalihkan pandangannya ke arah Agas yang kini sedang berjalan ke arahnya itu.
"Sudah selesai?" Tanya Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas.
"Sudah, tadi lumayan rame orang yang beli makanya lama bayarnya." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha.
"Yuk, langsung meluncur ke tempat futsal saja." Ajak Agas cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu ke arah Yudha.
"Oke," Ucap Yudha cepat menanggapi ajakan Agas itu.
Ini adalah awal pertemuan kami, dia adalah sosok yang sempurna di mata ku. Aku mengagguminya! Wanita itu benar-benar telah masuk dan mencuri hati dan pikiran ku, andai aku adalah sosok pria yang jantan dan pemberani maka aku akan langsung menghampirinya dan menanyakan namanya dengan cepat! Namun aku hanyalah Yudha Ananda, seorang pria pemalu yang baru saja datang ke kota Jakarta ini untuk mengubah nasib ku serta mencari ilmu di kota ini. Aku benar-benar tak bisa melupakan wajah tersenyum manisnya itu, senyuman serta tawanya terus saja menghiasi dan terekam jelas di benak ku.
Aneh dan menyenangkan! Itulah yang ku rasakan kali ini, aku belum pernah jatuh cinta! Ya, apakah ini perasaan orang ketika sedang jatuh cinta terasa mendesir aneh! Aku benar-benar baru merasakannya, sungguh aneh namun indah dan terasa berbunga-bunga. Jika ini memang takdir? Aku benar-benar mengucap syukur pada-Nya.