IL. 8

1067 Kata
Setelah hujan rintik-rintik tadi sempat mengguyur sekitaran kawasan Jakarta kini Yudha dan Agas segera berjalan kembali menuju ke arah gedung futsal yanh kebetulan jaraknya tak begitu jauh dari universitas Negeri Jakarta. Agas yang sejak tadi terus saja mengabaikan panggilan telepon di ponselnya sontak membuat Yudha bertanya-tanya. "Agas, dari tadi ada yang menelpon mu kenapa tidak kau angkat?" Tanya Yudha cepat dengan wajah bingungnya itu tak mengerti menagapa Agas mengabaikan panggilan telepon di ponselnya itu. "Ohh ini, abaikan saja.. males banget! harus mengurusi dia." Ucap Agas cepat dengan wajah sedikit terlihat kesalnya itu. "Dia? Siapa?" Tanya Yudha cepat dengan wajah tak mengertinya itu bertambah bingung akan jawaban dari Agas yang tadi sempat ia dengar. "Wanita yang dulunya sempat aku cintai kini berakhir menjadi wanita yang aku benci," Ucap Agas gamblang dengan wajah tersenyum tipisnya itu. "Siapa wanita itu? Apakah orang terdekat mu, Agas?" Tanya Yudha cepat dengan wajah penasarannya itu. "Biasalah mantan! Kau pasti pernah merasakannya bukan? Dha." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu menatap lekat ke arah Yudha. "Menjadi orang yang tersakiti akan egonya! Menjadi boneka yang selalu menuruti semua kemaunnya! Aku merasakan itu semua dari mantan ku ini." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum tipisnya itu. "Bagaimana dengan mu? Apa kau pernah mengalami kisah cinta seperti kisah ku?" Tanya Agas kembali dengan wajah penuh tanda tanyanya itu. Yudha dengan cepat menggelengkan kepalanya lalu ia berkata "Aku sama sekali tak memiliki kisah cinta, selama ini tak ada satu pun wanita yang mau dengan ku yang latar belakang dari keluarga miskin ini." Ucap Yudha jujur dengan tersenyum kecut mengingat nasibnya selama ini. "Tak ada setatus si miskin dan si kaya dalam hubungan percintaan! Saat kedua orang saling bertemu dan memiliki rasa maka semua hal di dunia ini akan menjadi helaian benang kecil yang tak akan lagi berarti bagi mereka berdua! Mungkin kau belum menemukan wanita yang pas dan yang mau menjadi pendamping hidup mu, Dha." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu berusaha menghibur dirinya sendiri. "Dan bukanya pria berkulit putih itu amat sangat menjadi primadona saat ini? Aku saja yang sawo mateng sudah belasan wanita, yang aku kencani.. kau kurang berjuang, Dha." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu berusaha melempar kalimat ledekan pada Yudha. "Apa aku memang kurang berjuang? Sepertinya memang tak ada yang mau memiliki seorang pasangan miskin dan jelek seperti diri ku, Agas." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Mana ada? Aku akan mengenalkan mu ke berbagai wanita di kampus! Tentunya jika kau mau." Ucap Agas cepat dengan menaikan satu alisnya ke atas. Yudha sontak menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berkata "Tidak, tidak perlu! Aku takut tidak memiliki waktu untuk menjalin kasih dan hubungan, aku harus giat belajar agar bisa mempertahankan beasiswa yang sudah ku raih sejauh ini." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas yang kini sedang berjalan kaki di sampingnya. "Belajar dan beasiswa, kenapa kau selalu membebani dirimu sendiri.. Dha, ku beri tahu satu hal! Hidup cuma sekali jadi jalanilah hidup mu dengan baik dan menyenangkan! Sebab, mungkin bisa saja esok kau sudah tidak akan ada lagi di dunia ini.. siapa yang akan tahu takdir kita kedepannya, pasti semua itu bersifat ilahi bukan." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu mencoba menasehati Yudha agar tak terlalu memikirkan semua hal yang membosankan itu. "Aku tak membebani diri ku, Agas.. aku hanya ingin memiliki hari yang cerah saat aku tua nanti, aku ingin menyiapkan semua persiapan itu sejak hari ini dan detik ini.. agar nantinya aku tidak akan menyesali masa muda ku." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas. "Masa muda, ya? Aku sama sekali tak pernah kepikiran akan ucapan mu tadi, jika itu adalah alasan untuk mu karna tak mau memiliki sebuah hubungan maka aku akan setuju! Sebab, kau memang benar! Hanya membuang-buang waktu saja jika bermain cinta-cintaan dengan seseorang." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu. "So, semangat untuk terus berjuang dan terus maju agar menjadi pribadi yang sukses dan lebih baik lagi." Teriak Agas kencang dengan wajah tersenyum lebarnya itu menatap lekat ke arah Yudha yang juga ikut tersenyum ke arahnya. "Ya! Ayo, semangat!" Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu juga menatap balik ke arah Agas dengan penuh semangat yang membara. Sesampainya di dalam gedung futsal Agas dengan semangatnya segera memperkenalkan Yudha dnegan berbagai teman pria dan wanitanya yanh ada di dalam gedung futsal itu, Agas adalah orang yang supel dan asik untuk di ajak berkawan sebab itulah Agas memilki banyak teman baik dari kalangan biasa bahkan sampai artis yang sedang naik daun alis baru masuk ke dunia entertaint. "Dha, yakin nih ngga mau ikut gabung main futsal sama kita-kita?" Tanya Agas ke sekian kalinya lagi memastikan bahwa Yudha jadi atau tidaknya ikut bermain di timnya futsalnya itu. Yudha menggelengkan kepalanya dengan cepat lalu berkata "Tidak, Agas.. aku amatir sekali kalau main futsal! Tekniknya saja aku tidak tau, yang ada malah akan merepotkan mu dan tim mu." Ucap Yudha menolak dengan wajah tak enaknya itu atas ajakan Agas yang terus mengajaknya ikut bermain dan tim futsal milik Agas. "Halah, jangan mikirin itu.. ikut-ikut aja gabung langsung! Masalah itu nanti belakangan saja." Ucap Agas cepat masih berusaha mengajak Yudha untuk ikut bermain bersama dengannya. "Aku tetap tak enak, Agas.. lain kali aku akan coba untuk ikut, tapi untuk sekarang aku benar-benar tidak bisa." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kikuknya itu. "Ohh, oke.. baiklah, kalau begitu aku main dulu ya Dha.. kalau ada apa-apa langsung panggil aja! Aku ada di lapangan depan sana." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu segera berjalan menjauh dari Yudha dan mengarah ke lapangan indoor berukuran sedang tempatnya bermain. Yudha menghela napasnya dengan berat lalu ia sedikit bergumam "Sepertinya asik bermain futsal, tapi aku sama sekali tak mengusai tekniknya." Gumam Yudha lirih merasa jenuh di tempat penonton pertandingan futsal hanya dia seorang diri yang tampa ada teman yang mengobrol bersamanya. Tak berselang lama pandangan matanya tertuju pada pintu masuk gedung futsal yang mana disana ada sosok wanita yang amat Yudha kenal dan tau akan sosok wanita itu. "Sedang apa dia disini?" Gumam Yudha lirih dengan wajah terkejutnya itu. Yudha menatap lekat ke arahnya yang dimana sosok wanita itu terlihat seperti sedang mencari sesoerang di tengah-tengah kerumunan orang-orang itu. "Tetap cantik walau sedang terlihat bingung." Ucap Yudha lirih dengan wajah bersemu merahnya itu. "Tapi, dia sedang mencari siapa? Membuat aku penasaran saja." Ucap Yudha lirih dengan rasa penasaran itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN