"Ehh, wanita itu berjalan kesini?" Ucap Yudha lirih dengan wajah kikuknya itu.
Tap.. tap.. tap.. langkah kaki seseorang semakin mendekat ke arah Yudha, dari banyak orang yang berlalu lalang di sekitar Yudha cuma seorang wanita bertubuh ramping dan berwajah cantik itulah yang dapat membuat detak jantung Yudha berdetak dengan kencang tak menentu.
"Maaf, boleh saya bertanya?" Tanya sosok wanita itu cepat dengan wajah terlihat bingungnya itu.
"Ya, silahkan saja." Ucap Yudha cepat dengan gugupnya ia segera menjawab ucapan sosok wanita itu.
Wanita itu sesaat sempat terkejut akan ucapan Yudha namun kemudian ia pun berkata "Yang mana lapangan no 3 ya? Dari tadi saya sudah berjalan dan mencari muter-muter gedung ini tapi tetap saja tidak ketemu, bisa tolong tunjukan dimana letaknya?" Ucap sosok wanita itu cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke Yudha.
Sontak saja Yudha menundukan pandangan ke bawah dengan cepat lalu berkata "Maaf, saya.. tidak tau dimana letaknya, karna saya juga baru pertama kali datang ke tempat ini." Ucap Yudha dengan cepat dan nada tegasnya itu bahkan hampir terdengar seperti berteriak dengan sedikit kencang.
"Ohh, begitu ya.. kalau begitu maaf karna sudah mengganggu waktunya." Ucap sosok wanita itu cepat dengan wajah tak enaknya itu.
Deg.. Yudha segera bangkit dari duduknya di area bangku penonton lalu berdiri menjulang tepat di hadapan sosok wanita itu, Yudha pun menatap lekat ke arah sosok wanita yang tingginya hanya tinggi sedad4nya itu.
"Bu.. kan! Bukan, itu maksud ku." Ucap Yudha cepat dengan wajah kikuknya itu menatap intens ke arah sosok wanita yang tadi bertanya kepadanya.
"Ohh, tidak apa-apa.. aku ngerti, maaf sudah mengganggu waktunya." Ucap sosok wanita itu cepat dengan wajah terlihat tak nyamanya segera pergi berlalu begitu saja dari hadapan Yudha.
"Tu.. tunggu." Gumam Yudha lirih lidahnya terasa terkaku untuk memanggil sosok wanita yang masih hingga akhir ini membuat jantungnya berdebar dengan kencang.
"Dha," Terdengar suara panggilan Agas yang mana membuat Yudha segera berpaling menatap lekat ke arah Agas yang kini sedang berjalan ke arahnya.
"Tadi, ngomong sama siapa? Kenalan? Kok, kaya cewe." Ucap Agas cepat dengan nada suara mengintrogasinya itu.
"Bu.. kan! Bukan, siapa-siapa." Ucap Yudha gugup dengan wajah tertunduk malunya sendiri.
"Yakin, nih? Wajah mu kok merah gitu, suka ya sama cewe tadi? Tapi, kok kayanya aku kenal sama sosok wanita tadi.. s**t! Mana tadi ngga sempet lihat wajahnya lagi." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu.
Yudha sontak mengedipkan kedua kelopak matanya berulang kali lalu berkata "Apa.. apa, kau mengenal wanita tadi Agas?" Tanya Yudha cepat dengan terkejutnya itu menatap lekat ke arah Agas.
"Mungkin saja, kalau saja aku sempat melihat jelas wajahnya mungkin aku akan tau siapa dia.. tapi, sayangnya aku tak sempat melihatnya." Ucap Agas cepat dengan menggelengkan kepalanya pelan tanda tak mengenal sosok wanita tadi yang sempat berbicara dengan Yudha.
"Ohh, begitu ya." Ucapan Yudha terdengar pelan dan terasa sedih.
Agas yang melihat dan mendengar ekspresi sedih Yudha sontak segera berkata "Kau terdengar sedih karna aku tak tau siapa wanita tadi, Dha? Ada apa dengan mu dan wanita itu sebenarnya." Ucap Agas cepat dengan nada penuh tanda tanya.
Yudha menggelengkan kepalanya dengan cepat lalu berkata "Tidak ada apa-apa, Agas.. aku hanya sedikit penasaran tentang wanita itu." Ucap Yudha cepat berucap dengan sedikit jujur tentang perasaannya.
"Kau pasti menyukainya bukan? Atau jangan-jangan kau memiliki suatu hal yang tidak ku ketahui, tentang mu dan wanita itu, Dha." Ucap Agas cepat dengan nada menyelidikinya menatap lekat ke arah Yudha.
Yudha menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berkata "Aku tidak mengenalnya sama sekali." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menjawab pertanyaan Agas.
"Begitu ya, kalau begitu ayok pulang ke kosan.. aku sudah selesai bermainnya." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Ayo," Ucap Yudha cepat dengan segera menganggukan kepalanya dengan cepat ajakan Agas itu.
Setelah beberapa jam terlewati kini Yudha tengah terduduk dengan serius di bangku meja kerja yang berada di dalam kamarnya itu, barang-barang belajar serta berbagai keperluan lainnya kini sudah tersusun rapi di atas meja.
"Siapa wanita tadi? Kenapa sampai sekarang aku masih memikirkanya." Ucap Yudha lirih dengan wajah bingungnya itu.
Tak berapa lama sebuah telepon masuk ke dalam ponselnya yang bertulisan huruf adek Fuji, Yudha pun segera mengangkat sambungan telepon itu.
"Halo," Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu sesudah mengakat sambungan telepon.
"Assalamualaikum," Ucap seseorang wanita di seberang telepon sana.
"Waalaikumsalam," Jawab Yudha dengan cepat.
"Mas Yudha, ini Budeh mau ngomong sesuatu sama.. Mas katanya." Ucap sosok wanita bernama Fuji itu dengan cepat.
"Ibu ku? Tolong berikan ponsel mu pada Ibu ku, Fuji." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu.
"Oke, Mas Yudha." Ucap Fuji cepat terdengar sigap menjawab ucapan Yudha.
"Assalamualaikum, Yudha." Ucap seseorang di sebrang telepon sana terdengar seperti berteriak gembira saat teleponnya tersambung dengan sang putra satu-satunya itu.
"Waalaikumsalam, Bu.. gimana kabarnya? Baik kan." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya sedikit tersenyum kecil merasa bahagia saat mendengar ucapan sang Ibu.
"Alhamdullilah, Ibu baik nak.. gimana kabar mu disana? Apakah sudah mendaftarkan dirimu ke universitas itu?" Tanya Sang Ibu Yudha dengan penuh nada khawatir sekaligus rindu.
"Yudha, juga baik Bu.. dan Yudha juga sudah mendaftarkan diri ke universitas itu, Ibu ngga usah khawatirkan Yudha lagi." Ucap Yudha cepat dengan wajah tertunduk sendunya itu merasa merindukan sang Ibu.
"Alhamdullilah, kalau begitu nak.. Ibu jadi senang mendengarnya." Ucap Bu Yuni dengan cepat terdengar gembira di seberang telepon sana.
"Yudha, Ibu merindukan mu nak." Ucap Bu Yuni kembali dengan nada suara bergemetarnya.
"Yudha, juga merindukan Ibu sama Ayah.. tapi, Ibu tenang saja Yudha disini bersama dengan orang-orang baik, Yudha akan segera pulang jika memiliki waktu luang saat libur kuliah nanti." Ucap Yudha cepat dengan wajah tertunduk sendunya itu.
"Nak, Ibu akan selalu menantikan kepulangan mu kesini.. jaga dirimu dengan baik ya disana, pastikan makan yang teratur dan.. dan," Ucapan Bu Yuni terhenti sesaat.
"Maaf, Ibu harus melakukan sesuatu.. Ibu tutup dulu ya teleponnya." Ucap Bu Yuni kembali terdengar suara isakkan tangis dari seberang telepon sana.
"Baik, Bu." Ucap Yudha lirih tak berapa lama sambungan telepon pun segera terputus.
Yudha segera menaruh ponselnya di atas meja lalu tak terasa air matanya mengalir keluar dari kedua kelopak matanya itu, langkah kaki seseorang segera masuk ke dalam kamar Yudha lalu seseorang itu segera menyentuh pelan bahu Yudha.
"Dha, yang sabar ya.. semua ini pasti akan cepat berlalu, kau pasti akan berkumpul lagi dengan Ayah dan Ibu mu." Ucap Agas cepat dengan wajah tertunduknya itu berusaha menenangkan Yudha.
"Maaf, tadi aku sempat mendengar percakapan kalian." Ucap Agas kembali dengan pelan.
Yudha dengan cepat menggelengkan kepalanya lalu berkata "Tidak apa-apa, Agas.. terimakasih banyak sudah mau bersimpati untuk ku." Ucap Yudha cepat dengan wajah tertunduk sendunya itu.
"Hey, kita ini kan teman.. aku mengerti perasaan mu, Dha.. kau pasti berat meninggalkan rumah untuk membangun masa depan mu yang lebih cerah lagi." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha.
"Tapi, kau harus tetap semangat! Sebab, kau sudah berjuang sampai sekarang ini.. jadilah kuat, Dha." Ucap Agas kembali dengan wajah tersenyum kecilnya itu.
Yudha menganggukan kepalanya dengan cepat lalu berkata "Ya! Aku harus semangat dan kuat! Aku pasti akan bisa lulus dengan nilai yang baik dari kampus." Ucap Yudha cepat dengan nada penuh semangatnya itu.