Hari-hari berlalu dengan cepat kini Yudha sudah menjadi mahasiswa di salah satu kampus ternama di kota Jakarta. Yudha terbangun di siang hari karna semalaman ia bergadang untuk belajar sekaligus mencari-cari info perkerjaan di sekitaran wilayah tempat kosannya itu.
"Dha, bangun! Udah hampir jam 10 loh." Ucap Agas dengan cepat membangunkan Yudha yang baru kali ini tak bisa bangun pagi seorang diri.
"Hah? Yang benar, Agas?" Ucap Yudha panik dengan segera ia membuang selimut tebal nan hangatnya dari tubuhnya itu merasa panik dan terkejut sekaligus.
Agas yang melihat itu sontak tertawa geli lalu berkata "Hahaha, sorry! Masih jam 9 kok, Dha." Ucap Agas cepat dengan tertawa geli melihat wajah dan tingkah Yudha yang terkejut seperti itu.
"Ehh, apa? Jam 9 pagi? Ini baru jam sembilan." Ucap Yudha cepat dengan wajah yang mulai tenangnya itu.
Agas dengan cepat menganggukan kepalanya lalu berkata "Yaps! Lebih baik kamu siap-siap dulu abis itu turun ke dapur untuk sarapan bareng.. kebetulan Ibu ku tadi pagi bawa nasi dan lauk buat sarapan kita-kita." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu ke arah Yudha.
"Ohh, oke.. ngga harus buru-buru nih." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
Agas menggelengkan kepalanya dengan cepat melihat tingkah dan mendengar ucapan Yudha itu ia pun segera berkata "Dha, insyaallah.. bakalan aku dan Ferry bantu kamu untuk mencari perkerjaan di sekitaran rumah atau kawasan kampus biar bisa kuliah sambil kerja dan ngga keteteran." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu lalu tersenyum kecil ke arah Yudha sebelum ia keluar dari kamar Yudha.
Yudha tersenyum kecil lalu berkata "Kalian memang orang-orang yang baik! Aku sangat beruntung bisa berteman dan bertemu dengan kalian berdua, Agas dan Ferry." Ucap Yudha lirih dengan wajah bahagianya itu.
Yudha kemudian segera berjalan ke arah kamar mandi yang terpisah dengan kamar tidur namun berada di lantai dua, membutuhkan waktu sekitar 20 menit agar Yudha sudah selesai semuanya dan telah siap untuk pergi ke kampus.
Langkah kaki Yudha sontak segera menuruni satu persatu anak tangga dan menuju ke arah dapur yang di mana ruang makan dan dapur di jadikan satu ruangan di kosan milik Agas itu.
"Sob, sini langsung gabung sarapan." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu saat melihat Yudha sedang melangkah ke arahnya.
Yudha tersenyum kecil lalu berkata "Ferry, ngga ikut sarapan?" Tanya Yudha cepat dengan wajah penasarannya itu pasalnya Ferry sama sekali tak terlihat di ruangan itu dan ruangan lainya yang sudah Yudha lewati sebelum ke arah ruangan dapur ini.
Agas menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berkata "Ngga sempat! Kayanya dia punya jam kuliah pagi, soalnya tadi berangkat buru-buru." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu sambil sesekali menyuapi dirinya dengan satu sendok nasi dan lauk pauknya.
"Ini Ibu ku tadi masak nasi kuning pesanan acara arisan Ibu-Ibu, tapi kelebihan makanya Ibu ku antarkan ke sini deh." Ucap Agas kembali dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Wah, sepertinya enak! Aromanya saja sudah menggoda." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Tentu saja, masakan nasi kuning buatan Ibu ku selalu enak dan lezat tiada taranya!" Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Baiklah, biar aku coba dulu." Ucap Yudha cepat segera mengambil piring dan sendok untuk peralatannya makan nasi kuning buatan Ibu Agas.
"Wah! Benar-benar wuu..enak tenan! Agas, nasi kuning buatan Ibu mu enak banget." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya dan terkagetnya itu.
"Nah kan, Ibu ku memang jago masak.. Dha," Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu mengangguki ucapan Yudha tentang betapa lezatnya masakan Ibu Agas itu.
"Top! Banget," Timpal Yudha cepat saat sudah berulang kali menyuapi dirinya dengan makan nasi kuning buatan Ibu Agas itu.
"Hahaha, tentu saja Ibu ku memang hebat." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
Setelah sarapan pagi yang penuh dengan kelezatan dari nasi kuning buatan Ibu Agas, kini Yudha tengah bersiap-siap membawa beberapa buku serta peralatan kuliah lainya yang mungkin saja ia perlukan nanti di kampus.
Yudha segera berjalan ke arah lantai bawah dan menuju ke arah pintu utama rumah, di luar rumah sudah ada Agas yang sedang memanasi motornya.
"Dha, pakai saja motor ku dulu yang metic untuk ke kampus.. sayang jika kau terus naik angkutan! Itung-itung lebih baik buat beli jajan ongkos angkutan itu." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu sembari melemparkan kunci motor meticnya pada Yudha.
Secara otomatis Yudha dengan cepat segera menangkap kunci motor metic milik Agas, lalu berkata "Ehh, ngga deh Agas.. aku sudah sangat merepotkan mu dari awal ke Jakarta ini, aku ngga mau lagi jadi orang yang merepotkan dirimu terus menerus." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas ingin kembali menyerahkan kunci motor metic milik Agas.
Dengan cepat Agas segera memundurkan satu langkah ke belakang lalu ia berkata "Dha, kamu ngga ngerepotin sama sekali.. kau sudah ku anggap sebagai teman dan sodara laki-laki ku! Jadi stop merasa tak enak, karna aku ikhlas membantu mu dari awal Dha." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat balik ke arah Yudha.
"Gini saja, jika kau masih tetap merasa tak enak maka kau pakai saja motor metic ini selama kau ngkos di sini dengan catatan bensin dan jika ada sesuatu dengan motor metic ini itu menjadi tanggung jawab mu Dha.. bagaimana? Kau mau kan, lagi pula jika menunggu angkutan maka mungkin bisa saja kau akan terlambat masuk ke kelas Dha." Ucap Agas cepat dengan wajah sedikit terlihat khawatirnya itu.
Yudha menganggukan kepalanya dengan cepat lalu berkata "Biaklah Agas, aku akan meminjam motor mu selama aku ngkos disini.. aku janji pasti akan selalu merawat motor mu ini dengan baik." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Nah gitu, Dha.. selamat masuk kuliah di hari pertama ya." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Hahaha, terimakasih Agas." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu segera menaiki motor metic milik Agas dengan cepat.
"Hati-hati di jalan, dan semangat kuliah." Teriak Agas kencang padahal Yudha belum menjalankan motornya dari halaman depan kosan itu.
Yudha menganggukan kepalanya dengan cepat lalu berkata "Tentu saja, Agas.. kalau begitu sampai jumpa lagi." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu segera menjalankannya motor metic dengan cepat meninggalkan halaman depan kosan itu.
Semilir angin di jalanan terasa begitu sejuk bagi Yudha, karna cuaca di siang hari ini terasa cerah dan sedikit panas. Di sepanjang perjalanan Yudha selalu tersenyum dengan lebarnya itu merasa bahagia saat hari ini ia mulai kuliah di hari pertamanya, sesekali Yudha menengok ke sisi kanan dan juga kiri jalan banyak sekali toko-toko ada yang mulai membuka jualannya dan ada pula yang baru saja menutup jualannya benar-benar suasana yang amat beda dengan suasana desa. Gedung-gedung pencakar langit yang berjejeran tinggi ke langit membuat Yudha terpukau akan suasana kota Jakarta yang penuh dengan kesan ke modern.
"Jika aku memiliki uang lebih, aku akan mengajak Ibu dan Ayah ku untuk datang kesini." Ucap Yudha dalam benaknya tersenyum dengan lebar sembari menjalankan motor meticnya itu.