IL. 11

1361 Kata
Yudha segera memarkirkan motornya dengan cepat di salah satu pakiran motor di sekitaran wilayah kampus itu. Setelah memakirkan motornya Yudha segera berjalan masuk ke dalam kampus yang mana disana banyak sekali mahasiswa berlalu lalang di sekitar Yudha. Yudha yang sudah tau mata pelajaran dan ruangan tempatnya nanti belajar ia pun segera berjalan ke ruangan itu yang mana disana sudah ada banyak sekali mahasiswa dan mahasiswi lainya yang telah duduk di bangku pilihan mereka masing-masing. "Assalamualaikum," Ucap Yudha memberi salam sebelum masuk ke dalam ruangan. Suara Yudha yang pelan serta banyak sekali mahasiswa dan mahasiswi lainya yang sibuk dengan urusan mereka lain-lain membuat ucapan salam Yudha tak terdengar oleh mereka semua yang mana membuat Yudha segera mencari tempat duduk untuk menunggu dosen yang sebentar lagi akan mengajarinya. Tak berapa lama setelah Yudha masuk ke dalam ruangan sang Dosen pengajar pun tiba dimana Yudha dengan cepat segera mendengarkan dan menulis semua perkataan dan materi yang Dosen itu sampaikan ke dalam bukunya. Sekitar 1 jam telah berlalu kini Yudha sudah keluar dari kelas, Yudha pun segera mengarah ke kantin saat merasakan perutnya yang sudah bergemuruh minta untuk di isi itu. "Bu, pesan mie goreng cabe ijo satu sama es jeruknya ya." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu memesan makanan pada seorang Ibu kantin yang ada di hadapannya saat ini. "Oke-oke siap Mas, tunggu sebentar ya akan segera di buatkan." Ucap Ibu-Ibu penjaga kantin itu ramah dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Iya, Bu." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. Membutuhkan waktu sekitar 10 menit pesanan Yudha sudah siap untuk di sajikan, Yudha pun segera mengambil nampan pesanannya lalu berjalan mencari bangku kosong yang ada di sekitaran kantin itu. "Disini saja," Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu setelah menemukan bangku kosong yang pas dan nyaman untuk ia duduki. Deg.. baru beberapa kali Yudha menyuapi dirinya dengan mie goreng cabe ijo pesannya itu namun suara seseorang yang sudah ia kenal membuat Yudha segera menghentikan acara makanannya. "Alya, lebih baik kita duduk di sini saja." Ucap seseorang wanita lainya yang kini sedang memilih tempat duduk tepat di depan bangku Yudha hanya berjarak satu meter saja. "Ohh, oke." Ucap seseorang wanita yang Yudha kenal itu tersenyum ramah pada temannya. "Biar aku yang pesan ya, kamu mau pesan apa Alya?" Tanya seorang wanita lainya itu cepat yaitu temannya Alya. "Bubur ayam saja, sama es jeruk." Ucap Alya cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Oke, siap! Akan segera aku pesankan." Ucap teman Alya cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Terimakasih, Citra teman ku yang terbaik." Ucap Alya cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. Teman Alya yang bernama Citra itu sontak segera mengacungkan kedua ibu jarinya dengan cepat sebelum melangkah pergi ke arah Ibu kantin untuk memesankan makanan. Kini pandangan Yudha tak terhalang lagi untuk melihat ke arah Alya, sosok wanita tinggi, putih dan berhidung mancung itu terlihat sedang sibuk dengan ponselnya yang mana ia tak sadar jika sedari tadi Yudha tengah memperhatikan dan menatapnya dengan lekat. "Diam saja wanita itu tetap terlihat cantik, dan tadi namanya adalah Alya? Sungguh cocok dengan wajah nya, lalu bagaimana dengan sifatnya ya? Apakah wanita itu baik atau malah berbeda jauh dengan tampilan fisiknya." Gumam Yudha lirih dengan tatapan sayu menatap lekat ke arah Alya. Karna Yudha sudah lama memperhatikan sosok Alya pun mulai merasakan hal yang aneh yang mana membuatnya dengan cepat segera menatap balik ke arah Yudha, Yudha yang terkejut saat tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Alya sontak saja salah tingkah yang mana membuat Alya menatap aneh ke arah Yudha. "Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kenapa anda terus melihat ke arah saya?" Tanya Alya cepat dengan to the point pada Yudha. Yudha seketika terdiam sesaat, apakah Alya sudah lupa kalau mereka berdua pernah saling mengobrol? Ya walau hanya sekedar menanyakan tempat lapangan futsal si, walau begitu Yudha saja masih ingat betul moment itu dimana moment itu menjadi salah satu moment terbaik di hidupnya. "Maaf? Kenapa anda terdiam seperti itu?" Tanya Alya kembali dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. Yudha yang sudah kembali sadar sontak langsung menggelekangkan kepalanya dengan cepat dan berkata "Tidak! Tidak pernah," Ucap Yudha cepat dengan wajah kikuknya itu merasa bingung ingin menjawab apa atas pertanyaan Alya karna tentu di hari itu moment itu tak terasa begitu baik untuk Alya ingat tentang dirinya. "Ohh, begitu ya.. kalau begitu tolong jangan terus melihat ke arah saya! Karna jujur saja saya merasa risih." Ucap Alya tegas dengan wajah seriusnya itu menatap tajam ke arah Yudha. "Ahh, baiklah.. maaf," Ucap Yudha cepat segera menundukan pandangan ke bawah lebih tepatnya ke arah mie goreng cabe ijo yang telah ia pesan tadi namun baru beberapa suap ia baru mencicipinya. Tak berselang lama suasana antara Yudha dan Alya menjadi dingin dan tak nyaman! Sosok teman Alya pun segera datang menghampiri Alya dengan satu nampan penuh berisi pesanan makanya untuk mereka berdua. "Sudah siap! Yuk, makan siang." Ucap teman Alya bernama Citra itu dengan cepat dan wajah tersenyum lebarnya itu. "Citra, lebih baik kita pindah tempat duduk saja ya? Aku sungguh tak nyaman untuk duduk disini." Ucap Alya cepat dengan wajah seriusnya itu menatap intens ke arah Citra sang temanya agar mengerti apa yang ia maksudkan itu. "Kenapa? Disini tempat duduk yang enak loh.. dekat taman dan pintu samping, udara disini juga sejuk enak buat kita yang lagi mau makan sambil menenangkan diri." Ucap Citra cepat dengan wajah bingungnya itu merasa tak mengerti mengapa sang sahabat ingin pindah kursi saat sudah menemukan tempat kursi terbaik di dalam kantin itu. Alya kemudian menatap sekilas ke arah Yudha yang sedang menikmati makan siangnya lalu segera menatap lekat ke arah Citra sang sahabatnya itu dan berkata "Pria di depan ku, sedari tadi terus menatap ke arah ku! Aku benar-benar merasa risih! Lebih baik kita pindah tempat duduk saja ya?" Pinta Alya merengek dengan wajah takutnya itu menatap intens ke arah Citra. "Apa? Siapa yang sedari tadi menatap mu, Alya? Sini, biar aku berikan pelajaran padanya!" Ucap Citra kencang dengan tegas yang mana membuat Yudha mendengarkan ucapannya dan membuat nyali Yudha seketika meredup dengan cepat. "Stt, Citra! Jangan teriak-teriak seperti itu.. nanti orang itu mendengar pembicaraan kita." Ucap Alya cepat dengan wajah paniknya itu segera menutup mulut sang sahabatnya dengan satu tangan kecilnya itu. Citra sontak melepaskan tangan Alya dengan cepat lalu ia berkata "Memangnya kenapa jika orang itu mendengarnya! Akan ku buat dia gepeng dan akan ku masak dia hidup-hidup jika berani sekali lagi menatap terus ke arah mu! Alya." Ancam Citra kencang dengan nada suara tegasnya itu dan wajah yang terlihat marah. Yudha seketika langsung bergemetara dengan hebatnya! Ucapan Citra tiba-tiba menjadi potongan vidio di dalam benak Yudha yang mana membuat Yudha memikirkan dan menempatkan dirinya jika di posisi seperti yang di ucapkan Citra itu benar-benar menjadi kenyataan maka seketika Yudha merasa mual dan ingin muntah! Tak berselang lama Yudha segera bangkit dari kursinya membawa tasnya langsung berlari pergi begitu saja dari area kantin kampus itu. Alya sontak memperhatikan gelagat ketakutan dari Yudha saat sang sahabatnya Citra itu berucap hanya omong kosong dan sudah mampu untuk membuat Yudha ketakutan seperti itu. Alya sedikit merasa kasihan pada Yudha yang langsung berlari dengan cepat meninggalkan area kantin kampus itu dengan wajah yang terlihat ketakutan itu namun apa yang bisa ia perbuat jujur saja pandangan Yudha tadi sempat membuatnya risih dan tak nyaman sebab ia sama sekali tak mengenal Yudha. "Pria itu sudah pergi dengan terburu-buru sepertinya ketakutan akan ucapan ku tadi." Ucap Citra cepat dengan wajah tersenyum dan tertawa jahilnya itu. "Kau seharusnya tidak perlu mengerjainya seperti itu, Citra! Sepertinya dia pria yang baik, cuma." Ucap Alya cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Citra. "Cuma, apa? Jelas-jelas dia memandangi mu secara diam-diam seperti itu! Jelas kalau itu bukan perbuatan baik, Alya." Ucap Citra cepat dengan wajah marah sekaligus kesalnya itu saat tau snag sahabatnya di tatap aneh oleh pria asing yang tak ia kenal. "Tapi," Ucap Alya lirih seolah-olah ia merasa bahwa Yudha tak memiliki aura jahat padanya. "Sudah, tidak ada tapi-tapian! Lebih baik kita lanjut makan sebelum jam pelajaran ke dua di mulai." Ucap Citra cepat dengan wajah seriusnya itu, yang mana mau tidak mau Alya pun terpaksa menuruti ucapan sang sahabatnya itu yang memang benar apa adanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN