Yudha segera berlari ke arah pakiran motornya dengan cepat dan wajah pucat yang mana membuat orang-orang yang berada di sekitaran Yudha sontak menatapnya dengan lekat dan menjadi pusat perhatian.
"Wanita itu memiliki teman yang sadis dan berbahaya." Ucap Yudha lirih dengan wajah takut bercampur kagetnya itu.
Deg.. satu tepukan mendarat tepat di bahu Yudha dengan takut-takut Yudha perlahan segera menoleh ke arah sebelah kanan dan betapa terkagetnya saat Yudha mengetahui bahwa yang tadi menepuk pundaknya adalah Ferry.
"Ferry?" Ucap Yudha lirih dengan wajah terkejutnya itu.
"Kamu kenapa, Yudha? Kok, terlihat takut dan wajah mu pucat seperti itu." Tanya Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha.
Yudha terdiam sesaat lalu ia pun berkata "Tidak kenapa-kenapa, Ferry.. aku hanya sedikit merasa pusing saja." Ucap Yudha lirih terpaksa berbohong karna tak mau membuat Ferry tau alasan sebenarnya Yudha merasa takut seperti saat ini.
"Pusing? Apa kau sudah minum obat, Yudha?" Tanya Ferry kembali dengan wajah khawatirnya itu.
Yudha dengan cepat menggelengkan kepalanya lalu berkata "Nanti saja jika aku sempat mampir ke warung saat sudah sampai di kosan." Ucap Yudha cepat dengan wajah masih terlihat takutnya itu.
"Jaga kesehatan mu, Yudha.. kalau begitu aku pamit masuk kelas dulu, sampai jumpa lagi di kosan." Ucap Ferry cepat tersenyum kecil ke arah Yudha sebelum ia melangkah masuk ke dalam bangunan kampus.
Yudha menghela napasnya dengan berat lalu ia berkata "Huhf, lebih baik aku menghindar dari wanita bernama Alya itu dari pada mencari masalah dengan temannya." Ucap Yudha lirih dengan wajah tertunduk ke bawah menatap helm yang kini sedang ia pegang itu.
Sesaat kemudian Yudha segera mengendarai sepeda motornya untuk berjalan ke arah yang memang ingin ia tuju, selama di perjalan Yudha berulang kali menatap ke kanan dan juga ke kiri jalan untuk mencari tempat yang membuka lowongan perkerjaan.
Sudah sekitar 30 menit Yudha memutari kota Jakarta ini untuk mencari tempat yang membuka lowongan perkerjaan namun hasilnya tetap nihil alias tak ada satu pun warung atau ruko makanan serta tempat jualan lainnya yang membuka lowongan perkerjaan.
Yudha memikirkan motor metic di pinggiran jalan ibu kota lalu ia mencari tempat duduk untuk berhenti sejenak di area pejalan kaki itu. Yudha menghela napasnya dengan berat lalu ia pun berkata "Sudah mencari begitu banyak tempat tapi kenapa belum juga bisa menemukan lowongan perkerjaan, memang benar kata orang nyari kerjaan di kota itu sulit." Ucap Yudha cepat dengan wajah wajah tertunduk frustrasinya itu.
Hembusan angin di siang hari terasa bagitu sejuk bagi Yudha karna hari ini cuaca sedang cerah dan terasa panas, seorang penjual kaki lima pun berjalan ke arah Yudha sembari membawa sekotak jualan makanannya itu.
"Kacang, permen, air mineral!" Teriak penjual kaki lima itu cepat dengan wajah terlihat lelahnya itu.
Yudha yang melihat penjual kaki lima itu pun dengan cepat segera menghentikan langkahnya "Pak, beli." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu.
"Ohh, silahkan Mas.. mau beli apa? Saya jual, kacang, permen berbagai macam rasa, air mineral, snack ringan juga ada." Ucap Bapak-bapak penjual kaki lima itu cepat dengan wajah tersenyum ramahnya itu.
"Saya mau beli, air mineralnya aja sama snacknya satu." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu segera mengambil langsung barang yang ingin ia beli.
"Jadinya berapa, Pak?" Tanya Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu segera membuka dompetnya dengan cepat.
"Jadinya 5 ribu saja, Mas." Ucap Bapak penjual kaki lima itu cepat dengan wajah tersenyum ramahnya pada Yudha.
"Ini, Pak uangnya." Ucap Yudha cepat segera menyerahkan uang selembaran sepuluh ribu rupiah pada Bapak penjual kaki lima itu.
"Oh, oke.. kembaliannya 5 ribu ya Mas." Ucap Pak penjual kaki lima itu cepat ingin memberikan kembalian uang pada Yudha namun segera Yudha tolak.
"Tidak usah, Pak.. kembaliannya buat Bapak saja.. saya iklhas memberinya." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Yaallah, terima kasih banyak! Terimaksih Mas, Masnya orang baik.. saya doakan semoga rejekinya selalu lancar ya, Mas." Ucap Pak penjual kaki lima itu cepat dengan rasa bersyukurnya itu.
"Aamiin," Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
Bapak penjual kaki lima itu sontak segera berjalan dan berjualan kembali sementara itu Yudha segera menaiki motor metic dan ingin menjalankan motornya untuk kembali ke rumah kosannya.
Belum lama dari Yudha menjalankan motornya di pinggir jalan kini sebuah mobil berwarna putih tengah mogok, Yudha yang memiliki rasa empati yang tinggi sontak segera memberhentikan motornya tepat di depan mobil itu lalu turun dengan cepat.
"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah sosok wanita yang kini tengah berdiri membelakanginya.
"Ah, iya.. tolong ini di periksa ya, mobil saya mogok." Ucap Alya cepat tampa melihat ke arah Yudha.
Yudha yang paham betul suara Alya sontak saja wajahnya berubah dan terkejut seketika, Alya yang sedari tadi tak mendapat tanggapan dari ucapannya itu sontak segera mentap lekat ke arah Yudha. Deg.. Alya pun merasa terkejut seketika saat melihat Yudha tengah berdiri tepat di belakangnya.
"Kau? Pria yang tadi di kampuskan." Tanya Alya cepat dengan to the point.
Yudha dengan pelan menganggukan kepalanya dan berkata "Ya, itu saya." Ucap Yudha cepat dengan wajah terlihat seriusnya itu.
"Maaf, tadi saya kira kamu itu tukang bengkel yang saya pesan dari setengah jam yang lalu." Ucap Alya kembali dengan wajah tertunduk bingungnya itu.
"Tidak apa-apa, saya mengerti.. tapi, saya ingin membantu.. bolehkah saya cek mesinya? Kali saja saya bisa membenarkanya." Ucap Yudha cepat dengan wajah kikuknya itu tak mengerti mengapa ia malah ingin membantu sosok wanita yang awalnya ingin Yudha jauhi itu.
Alya pun terdiam sesaat lalu segera mengaggukan kepalanya dengan cepat tanda membolehkan Yudha untuk menecek mesin mobilnya yang tengah mogok itu, Yudha dengan telaten sontak segera mengecek kondisi mesin mobil Alya setelah mendapatkan persetujuan dari si yang punya mobil. Membutuhkan waktu sekitar 20 menit saat Yudha benar-benar sudah memperbaiki mobilnya Alya.
"Sudah, bisa tolong kau nyalakan mobilnya sekarang?" Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu masih tak berani menatap wajah Alya.
"Ohh, baiklah." Ucap Alya cepat segera menyalakan mobilnya dengan cepat dan benar saja mobio Alya yang semula tak nyala dan mogok kini telah nyala kembali dan bisa untuk Alya kemudikan.
"Sudah nyala! Wah, kau hebat sekali bisa membuat mobil ku hidup kembali." Ucap Alya cepat dengan nada suara girangnya itu.
Yudha tersenyum kecil lalu tampa sadar ia mulai menggaruk tengkuk kepalanya yang tak gatal merasa malu bercampur rasa bahagia saat melihat wajah Alya yang tersenyum dengan lebar tanda ia merasa bahagia itu.
"Ini untuk mu," Ucap Alya cepat dengan segera menyerahkan uang pecahan tiga ratus ribu untuk Yudha.
"Tidak! Tidak perlu, saya iklhas membantu." Ucap Yudha cepat dengan segera menolak uang yang ingij Alya berikan kepadanya itu.
"Tidak apa terima saja, lagi pula waktu di kampus teman saya sudah sangat bersikap tak baik pada mu.. tolong maafkan kelakuan teman saya ya." Ucap Alya cepat dengan wajah tertunduk bersalahnya itu.
"Ah, iya.. sudah saya maafkan, tapi benar saya tak menginginkan imbalan apa pun! Saya iklhas ingin membantu." Ucap Yudha kembali dengan wajah tersenyum kecilnya itu.
"Ohh, begitu ya.. kalau begitu boleh saya tau siapa nama mu? Dan kenapa di kantin kamu selalu menatap ke arah saya?" Tanya Alya cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha yang mana membuat Yudha segera memalingkan wajahnya merasa malu di tatap secara terang-terangan oleh Alya sang wanita yang membuat hatinya bergetar aneh itu.
"Nama pendek atau nama panjang saya?" Tanya Yudha balik dengan wajah tertunduk malunya itu.
Alya mengerutkan kedua alisnya merasa bingung lalu ia pun kembali berkata "Nama panggilan saja, aku ingin mengenal mu dan berterimakasih." Ucap Alya cepat dengan wajah seriusnya itu.
"Yudha, panggil saja saya Yudha.. itu nama panggilan saya." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecil menahan rasa aneh yang kini menjalar ke seluruh tubuhnya itu, Yudha sendiri tak tau mengapa rasa aneh ini hadir di dalam dirinya.
"Yudha, nama yang bagus! Nama ku Alya, terimakasih banyak atas bantuan mu ini.. aku benar-benar merasa terbantu." Ucap Alya cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Ah, iya.. sama-sama." Ucap Yudha cepat dengan wajah kikuk dan malunya itu.
"Kalau begitu Yudha jawablah pertanyaan ku yang kedua tadi, mengapa di kantin kau menatap ku dengan pandangan seperti itu?" Tanya Alya kembali dengan nada suara tegasnya dan tatapan kedua matanya yang intens melihat ke arah Yudha.
Yudha terdiam sesaat lalu ia berkata "Aku ingin mengenal mu, aku ingin mengajak mu berbicara, aku ingin kita menjadi teman, entahlah, aku juga bingung dengan hal yang ku rasakan ini." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu berkata dengan jujur dan apa adanya.
"Hah? Maksud mu," Ucap Alya cepat namun tiba-tiba saja panggilan telepon masuk ke dalam ponsel milik Alya yang berdering dengan keras dari dalam mobil.
Alya dengan cepat segera mengambil ponselnya yang berdering itu dan mengakat teleponnya dengan cepat tak berselang lama Alya segera masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobilnya pergi begitu saja dari pinggir jalan meninggalkan Yudha seorang diri dengan perasaan yang membingungkan itu.
"Alya, nama mu juga terdengar indah." Ucap Yudha lirih dengan wajah tersenyum kecilnya itu.
"Tapi, apa aku tadi salah berucap ya? Kenapa dia terlihat terkejut dan bingung seperti itu?" Gumam Yudha lirih dengan menatap lekat ke arah badan mobil Alya yang belum lama berjalan jauh dari tempatnya semula yang kini Yudha tengah berdiri seorang diri di tepi jalan raya dengan sepedah motornya itu.