IL. 26

2236 Kata
Selepas membersihkan dirinya dan mengganti bajunya Yudha segera berjalan ke arah kamar Agas. Yudha mengetuk pintu kamar Agas namun setelah beberapa menit berlalu barulah Agas membukakan pintu kamarnya namun tak melihat ke arah Yudha melainkan ke arah ponselnya yang kini sedang terputar siaran langsung pertandingan sepak bola. "Agas, tadi kata Ferry kamu cariin aku.. kenapa?" Tanya Yudha cepat to the point. "Stt," Hanya suara itu yang Agas keluarkan masih terfokus pada ponselnya. Yudha yang melihat hal itu pun sontak berjalan ke luar pintu kamar Agas secara diam-diam dan memelankan suara langkah kakinya, karna Yudha tau Agas sangat sulit untuk di ajak berbicara jika sedang menonton acara pertandingan sepak bola. Saat Yudha keluar dari kamar Agas ia berpapasan dengan Ferry yang mau berjalan ke arah kamarnya, di lantai dua ini hanya ada tiga kamar saja yaitu selepas dari tangga akan ada ruangan kecil untuk duduk-duduk santai setelah itu akan ada kamar Agas, Kamar Yudha dan yang terakhir dan paling pojok adalah kamar Ferry. "Udah ketemu, Agas?" Tanya Ferry cepat dengan menatap lekat ke arah Yudha. "Udah, tapi Agas lagi sibuk nonton bola.. jadi masih belum tau Agas nyari aku karna apa." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu berkata jujur apa adanya. "Ohh, emang susah ganggu dia kalo lagi nonton bola! Tapi, aku tau Agas nyari kamu itu untuk apa Yudha." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu. "Ehh, kenapa?" Tanya Yudha cepat dengan wajah penasarannya itu. "Ngobrolnya di kamar aku aja, soalnya aku masih harus ngetik sedikit proposal yang belum terselesaikan." Ucap Ferry cepat mengajak Yudha untuk mengobrol di kamarnya. Yudha yang penasaran sontak menganggukan kepalanya dengan cepat dan berkata "Oke," Ucap Yudha cepat segera berjalan mengikuti langkah kaki Ferry menuju ke kamar Ferry yang memang sejak awal Yudha datang di kosan Yudha sama sekali belum pernah melihat kamar Ferry berbeda dengan Agas yang malah menujukan kamarnya pada Yudha sesudah selesai berberes rumah di awal datang ke kosan. Cklek.. suara pintu kamar terbuka yang mana Yudha yang sedari dulu amat sangat penasaran akan kamar Ferry kini sudah bisa melihat dengan jelas isi kamar Ferry dengan kedua matanya itu. Satu kata "Wah," Ucap Yudha cepat dengan wajah terkagumnya itu saat melihat kamar Ferry yang ukuranya 2 kali lipat dari kamar Yudha. "Kamar mu besar sekali, Ferry." Ucapan itu sontak saja lolos dari mulut Yudha. "Iya, lantai atas ini harusnya ada 4 kamar tapi aku minta pada Ibu Agas untuk ngkos di dua kamar tapi di jadikan satu kamar saja.. dan benar terkabul." Ucap Ferry cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Tapi, gimana bayarannya?" Ucap Yudha cepat dengan wajah bingungnya itu. "Aku tetap bayar dua kamar, dan yang renovasi kamar ini adalah dengan uang ku sendiri." Jawab Ferry dengan cepat. "Jadi yang renovasi kamar ini justru pakai uang kamu?" Tanya Yudha cepat dengan wajah terkejutnya itu. "Yaps, kan aku yang minta dan lagi.. ada beberapa kamar yang dulu biasa saja seperti kamar mu aku ganti dengan gaya kamar yang aku inginkan." Ucap Ferry cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Ohh, begitu.. jadi anak orang kaya enak ya." Gumam Yudha lirih. Ferry sontak tertawa kecil mendengar ucapan Yudha itu lalu, Ferry pun berkata "Yudha, keluarga ku memang kaya namun kedua orang tua ku selalu keras dalam mendidik ku dengan selalu mandiri dan tak bergantung pada mereka." Ucap Ferry cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Aku kuliah bahkan sama sekali tak memakai uang mereka berdua, alasannya karna aku dapat beasiswa dan aku memiliki beberapa cabang usaha kecil-kecilan yang terus menjadi pemasukan uang untuk ku.. pada awal-awal aku ngkos disini aku merintis usaha ku itu, dan aku jarang sekali berbicara pada Agas baru beberapa bulan belakangan ini saja aku bisa ngobrol santai dengan mu dan Agas karna alhamdulillah usaha ku sudah ada beberapa orang kepercayaan ku yang menanganinya namun aku tetap sesekali datang dan mengawasi kinerja mereka semua." Ucap Ferry cepat menjelaskan semuanya pada Yudha tentang dari mana selama ini uang yang selalu Ferry gunakan untuk biaya hidup. "Maaf, aku sempat memandang mu sebelah mata Ferry.. tampa sadar aku sesaat sempat iri dengan takdir mu yang anak orang kaya." Ucap Yudha cepat dengan wajah tertunduk tak enaknya itu pada Ferry. "Santai saja, Yudha.. semua orang yang melihat ku selama ini pasti akan berfikir bahwa semua uang yang ku gunakan selama ini adalah fasilitas dari kedua orang tua ku, dan aku tak menyalakan mereka! Sebab meraka tidak tau, yang tau perjuangan ku selama ini adalah diriku sendiri, kedua orang tua ku dan saudara atau teman terdekat ku saja." Ucap Ferry cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. Yudha tersenyum kecil akan ucapan Ferry yang mengatakan bahwa Ferry tak marah padanya itu, Yudha pun segera berkata "Buka usaha ya? Sepertinya sulit sekali." Ucap Yudha cepat dengan wajah terlihat seriusnya itu. "Memang, pas awal aku sempat bangkrut dan kehilangan banyak uang atau modal ku.. namun satu tahun berjalan usaha ku mulai ramai di minati masyarakat, karna aku usaha di bidang kuliner.. seperti warung makan dan kue-kue yang manis." Ucap Ferry cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Kau pandai memasak, Ferry?" Tanya Yudha cepat dengan wajah penasaran dan kagumnya itu. "No! Aku memiliki teman yang pandai memasak, lebih tepatnya aku join denganya.. dan untuk usaha kue adik ku sendiri yang membuatnya dan mengembangkan, dia pandai membuat kue dan aku hanya bertugas menjadi bos dan tukang memerintah saja." Ucap Ferry cepat dengan tawa kecilnya itu. "Apa kau minat membuka peluang usaha, Yudha?" Tanya Ferry cepat dengan wajah penasarannya itu menatap lekat ke arah Yudha. "Entahlah, ku rasa aku belum memiliki modal untuk membuka bisnis apa pun." Ucap Yudha jujur dengan wajah seriusnya itu. "Modal? Kau hanya perlu bilang berapa nominalnya pada ku Yudha, aku akan meminjamkan uang modalnya untuk mu." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu mentap lekat ke arah Yudha. Yudha yang mendengar itu sontak tertawa kecil lalu ia berkata "Selain modal aku juga belum siap menanggung tanggung jawab yang besar itu, Ferry.. dan aku juga takut tak dapat mengembalikan modal yang ku pinjam dari mu." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Ferry. "Ahh, begitu ya? Jika kau sudah siap maka bicara saja pada ku, aku akan meminjamkan berapa pun angka yang kau minta.. dan kalau pun usaha mu mengalami pasang surut, maka aku tinggal mengambil dua ginjal mu saja sebagai gantinya bukan?" Ucap Ferry cepat dengan wajah tertawa terbahak-bahaknya itu. Yudha yang mendengar ucapan Ferry itu sontak merinding seketika dan berwajah pucat pasih. "Hahaha, kau mempercayainya? Yudha." Ucap Ferry cepat dengan wajah terbahak-bahaknya itu. "Memangnya itu bohongan?" Tanya Yudha cepat dengan wajah takutnya itu. "No! Sebelum meminjam uang kita berdua harus ikat kontrak dulu, walau kau teman ku.. tak ada ikatan seperti itu dalam dunia usaha dan uang." Ucap Ferry cepat setelah selesai tertawa itu. "Yang ada hanya akan saling menjatuhkan satu sama lainya! Tapi tidak untuk ku, karna aku percaya rezeki tak akan kemana-mana." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu dan tersenyum kecil ke arah Yudha. "Jadi apa kau tertarik pada bisnis dan peluang usaha? Yudha." Ucap Ferry kembali dengan wajah tersenyum lebarnya itu ke arah Yudha. "Belum pasti, Ferry.. sepertinya aku masih harus memikirkanya terlebih dahulu." Ucap Yudha cepat dengan wajah bingungnya itu. Cklek.. suara pintu terbuka yang mana Agas dengan cepat segera masuk begitu saja ke dalam kamar Ferry dan merebahkan dirinya dengan cepat di atas tempat tidur milik Ferry. Yudha dan Ferry yang melihat tingkah Agas seperti orang lemas yang tak makan satu minggu itu pun sontak saja membuat Yudha dan Ferry saling memandang satu sama lainya, Yudha pun berinisiatif untuk bertanya. "Agas, ada apa?" Tanya Yudha cepat dengan wajah penasarannya itu. "Tim bola yang ku dukung malah kalah," Ucap Agas cepat dengan wajah terlihat sedihnya itu. "Ohh," Sontak saja Yudha dan Ferry beroh ria karna Yudha dan Ferry tak begitu penggemar bola alias orang awam tentang dunia persepakbolaan. "Ck, kalian berdua mana mengerti perasaan ku." Ucap Agas cepat dengan berdecak sebal pada Yudha dan Ferry. "Dari pada terus mikirin itu terus, kenapa ngga buat skripsi saja? Kan lebih bermanfaat nantinya." Ucap Ferry yang memang dirinya adalah seorang pria yang tekun dalam dunia pelajar dan bisnis. "Ada benarnya juga ya? Tapi, argh! Aku masih terus merasa kesal akan pertandingan tadi." Ucap Agas cepat mengacak-acak rambutnya frustrasi itu. "Sabar, yang penting tim yang kamu dukung sudah melakukan yang terbaik." Ucap Yudha menyemangati Agas. "Iya! Seharusnya sebagai fensnya aku mendukung tim kebanggaan ku disaat seperti ini, ya! Aku harus memberikan komen dukungan." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu dan semangatnya yang membara segera berjalan kembali ke arah pintu kamar dan keluar begitu saja entah kemana. "Ehh?" Yudha sontak terkejut akan Agas yang tiba-tiba saja pergi dan datang tampa izin itu, sementara itu Ferry hanya mampu menggelengkan kepalanya dengan cepat akan sikap absurd satu temannya itu. "Abaikan saja Agas, Yudha.. dia memang suka begitu saat selesai nonton bola dan tim jagoannya kalah! Sampai mana perbincangan kita tadi?" Tanya Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. Yudha sontak memikirkan pertanyaan Ferry dengan cepat lalu menjawabnya "Ohh, sampai di aku belum siap merintis usaha.. kalau ngga salah si itu, Ferry." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya. "Ohh itu, sini aku kasih tau rahasia dan tipsnya." Ucap Ferry cepat dengan nada suara yang penuh dengan kerahasiaan yang mana membuat Yudha penasaran akan ucapan Ferry itu. Setelah mengobrol dan berbincang semalaman dengan Ferry tentang bisnis kini Yudha hampir saja telat bangun subuh jika saja Agas tak membangunkanya untuk sholat subuh berjamaah di musholla. Pagi hari terasa begitu berat dan mengantuk, Yudha yang memiliki jadwal jam mata kuliahnya di jam 10 siang pun akhirnya segera berangkat ke kampus pukul 09:30 WIB. "Yudha, tugas miis Nely sudah selesai?" Tanya seorang mahasiswa pria yang satu kelas dengan Yudha itu cepat. "Sudah," Jawab Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Ehh, liat dong.. gua belum nih." Ucap seseorang mahasiswa lainnya itu cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Mencontek hanya akan membuat mu semakin bodoh." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah teman sebangku kuliahnya itu. "Hilih, bilang saja kau pelit Yudha." Ucap mahasiswa itu merajuk dengan wajah terlihat sedikit kesalnya itu. "Yasudah kalau tidak percaya," Ucap Yudha cepat karna rasa kantuk sedari dari pagi membuat Yudha malah berinteraksi dengan siapa pun. "Ehh, lihat dong! Nanti gua ngga dapet nilai, Yudha.. plis." Ucap mahasiwa itu cepat masih mengikuti langkah kaki Yudha yang mencari tempat duduk. "Oke, tapi cepat dan jangan berisik." Ucap Yudha cepat segera menyerahkan tas kuliahnya pada mahasiswa itu dan tidur di bangku dalam posisi duduk sambil menjadikan kedua lenganya itu sebagai bantal kepala di atas meja. "Siip, tenang aja.. gua bakal selesai nirunya sebelum jam masuk." Ucap mahasiwa itu cepat dengan rasa percaya dirinya yang tinggi itu. Yudha tak menjawab ucapan teman sebangkunya itu ia hanya ingin menikmati waktu yang sesaat ini untuk tidur sebab semalaman ia bergadang bersama Ferry membicarakan tentang bisnis yang mana Yudha sedikit menaruh minat dalam dunia bisnis itu. Dan benar saja mahasiswa yang duduk sebangku dengan Yudha berhasil mencontek tugas bahasa Inggris Yudha sebelum sang dosen tiba di ruangan kelas dan mulai membuka materi baru. Yudha yang masih mengantuk itu kini harus memaksa dirinya untuk tetep fokus mengamati materi yang di berikan oleh sang dosen, alasanya karna Yudha ingin lulus dengan nilai terbaik di kampus ini dan dapat menjadi kebanggaan dari kedua orang tuanya itu. Setelah materi yang di berikan oleh sang dosen kini Yudha langsung tertidur kembali di mejanya dan mengabaikan ke sekeliling ruangan kelasnya itu yang satu persatu para mahasiswa dan mahasiswi lainya setelah jam pelajaran usai mereka semua keluar dan pergi meninggalkan ruangan kelas. "Sob, lu ngga ke kantin?" Tanya mahasiswa pria yang tadi pagi mencontek tugas bahasa Inggris milik Yudha. Yudha yang malas berbicara sontak hanya melambaikan satu tanganya tenda bilang tidak pada mahasiswa itu. "Ohh, oke.. gua ke kantin kalau gitu." Ucap mahasiswa itu cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu dengan cepat segera berjalan ke luar ruangan kelas meninggalkan Yudha di dalam kelas bersama beberapa mahasiswa dan mahasiswi lainya yang entah mengapa tak langsung pergi selepas kelas usai. "Ehh, lu tau ngga? Cowo gua itu sweet banget! Dia kasih gua kado, dan kadonya itu loh buat gua melayang-layang ke atas awan!" Terdengar suara dua orang mahasiswi yang penuh dengan semangat itu saling bercerita. Yudha yang sebenarnya tak mau mendengarkan obrolan mereka berdua sontak saja terpaksa mendengarkannya karna jarak ke due mahasiswi itu dengan Yudha cukup dekat yaitu berbeda 4 meja ke belakang saja. "Ihh, kepo! Kadonya apaan si?" Tanya mahasiswi yang lainya itu terdengar sangat ingin tahu. "Gua tau lu pasti bakalan kepo, dan kadonya adalah kalung liontin ini loh." Ucap mahasiswi itu cepat dengan nada suara yang terdengar bahagianya itu. "Wah, bagus bener.. ini pasti mahal." Ucap mahasiswi lainya itu cepat dengan suara yang memekik terkejut. Yudha yang sedari tadi mendengarkan obrolan mereka berdua sontak saja segera terbangun dari tidurnya dan bergumam seorang diri "Apa Alya seperti mereka? Suka dengan barang-barang mahal?" Gumam Yudha lirih dengan wajah bingungnya itu. Tak begitu lama Yudha segera berjalan ke luar kelas dengan membawa tas kuliahnya dan mencari keberadaan Alya di kelasnya mau pun di kantin kampus, Yudha masih belum bisa menemukan Alya. Yudha yang mau menyerah untuk mencari sontak saja pandangnya terkejut tak kala melihat Alya yang sedang duduk sendiri di taman dan sambil membaca sebuah majalah fashion wanita. "Hai," Ucap Yudha cepat setelah jarak ia dan Alya sudah cukup dekat. "Hai, juga Yudha." Ucap Alya cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu pada Yudha yang mana setiap kali Alya tersenyum membuat debaran jantung Yudha semakin kuat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN