"Yudha," Panggil Alya kesekian kalinya lagi saat melihat Yudha yang malah terdiam dalam lamunannya dan tak bergerak selama beberapa detik itu.
Yudha yang sempat terdiam dalam lamunannya sontak kembali lagi tersadarkan akan panggilan Alya yang berada tepat di hadapanya saat ini.
"Eh, iya Alya.. mau pesan apa?" Tanya Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Menu terbaik di restoran ini." Ucap Alya cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Ah, baik.. akan segera kami siapkan." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum ramahnya itu pada Alya.
Alya segera berjalan menuju ke arah tempat duduk yang paling dekat dengan kasir yang mana memang Alya sengaja memilih temoat itu agar bisa melihat Yudha dari jarak yang dekat. Alya tersenyum kecil kala ia melihat Yudha sedang berbicara pada chef tentang menu yang baru saja ia pesan itu.
"Aku baru pertama kali mengenal seseorang yang perkerja keras dan semanis kamu, Yudha." Ucap Alya lirih dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
Alya adalah orang dan pengunjung paling pertama di restoran itu karna itu pesanan makanan yang Alya inginkan segera cepat tersaji di mejanya dan Yudha sudah kembali ke tempatnya di kasir.
Alya makan semua hidangan khas negeri sakura itu dengan lahap yang mana membuat kedua pipi Alya terlihat membulat oleh makan-makan itu membuat Yudha tersenyum dan tertawa kecil merasa lucu akan cara makan Alya yang begitu lahab.
Alya yang merasakan ada seseorang yang memperhatikan sontak saja menatap ke arah Yudha dan mengacungkan kedua ibu jarinya pada Yudha tanda kalau makan yang telah ia nikmati kini benar-benar enak. Sementara itu Yudha hanya bisa menganggukan kepalanya dengan cepat tanda setuju akan penilaian Alya tentang makanannya itu.
15 menit pun terlewati kini waktunya Alya pergi ke kasir untuk membayar semua makanya yang telah ia makan tadi.
"Berapa totalnya, Yudha?" Tanya Alya cepat segera memberikan kartu atmnya pada Yudha.
"Tidak usah, Alya.. makanan tadi itu aku yang mentraktir untuk mu." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Ehh, mana bisa begitu Yudha? Kan makanannya aku makan sendiri, biar aku yang bayar dan buat yang lain waktu kalo kita jadi makan bersama kita akan bayar masing-masing sesuai makanan kita." Ucap Alya cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu segera meletakkan kartu atmnya di atas meja kasir agar Yudha mau mengambilnya.
"Baiklah," Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu.
"Terimakasih sudah datang, jika suka dengan hidangan makanan kami tolong jadikan Restoran ini menjadi tempat terfavorit anda." Ucap Yudha cepat seperti biasa yang susah menjadi ketentuan kalau ia harus mengatakan kalimat itu pada setiap tamu yang akan pergi dari restoran itu.
"Oke, sampai jumpa besok di kampus Yudha." Ucap Alya cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu sambil melambaikan satu tanganya sebagai tanda perpisahan pada Yudha.
"Iya, sampai jumpa Alya." Ucap Yudha cepat dengan wajah yang tak bisa berhenti tersenyum itu.
"Besok? Ketemu di kampus? Aku sangat menantikanya." Gumam Yudha lirih masih belum terlepas dari bayang-bayang wajah Alya yang tersenyum sangat manis di ingatanya.
Sampai beberapa pengunjung pun berdatangan kembali dan membuat Yudha tersibukkan oleh pekerjaannya itu barulah Yudha bisa kembali terfokus dan tak terbayang-bayang lagi akan Alya di benaknya.
Hari berlalu dengan cukup terasa lama di karenakan pengunjung restoran yang tak ada henti-hentinya berdatangan membuat Yudha tersibukan sedari tadi pagi. Kini Yudha sedang mengendarai motornya untuk berjalan pulang ke arah rumah kosanya namun di tengah jalan Yudha sempat melihat anak-anak kecil yang sedang di usir karna mengamen di salah satu ruko toko sembako milik orang itu.
Yudha segera memberhentikan laju motornya di dekat ruko dan berbicara "Ada apa ini, Pak?" Tanya Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu mencoba menghentikan Bapak-bapak tua itu mengusir pengamen anak-anak kecil itu.
"Begini, anak-anak ini selalu saja mengamen di depan ruko saya berjualan dan saya banyak menerima laporan dari pembeli toko kalau mereka bertiga selalu saja datang dan mengamen yang mana para pembeli toko saya merasa kurang nyaman dengan hadirnya mereka bertiga setiap hari mengamen di dekat toko sembako saya." Ucap Bapak-bapak itu cepat menjelaskan semuanya pada Yudha.
"Tapi, menurut saya mengusir mereka yang masih anak-anak ini tidaklah begitu pantas untuk di lakukan Bapak.. bukanya lebih baik memberi nasihat dan berbicara kepada mereka bertiga untuk tidak lagi mengamen di dekat toko sembako milik, Bapak?" Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah sang Bapak-bapak pemilik sembako itu.
"Cih, saya sudah bilang berulang kali.. hanya saja mereka bertiga tidak mau mendengarkannya! Dasar anak-anak tidak tau diri." Ucap Bapak-bapak itu ketus dan langsung pergi begitu saja meninggalkan ketiga anak pengamen itu di dekat jalan raya.
Setelah melihat Bapak-bapak itu pergi kini Yudah kembali menatap ke arah ketiga anak-anak itu, Yudha pun segera berkata "Lain kali jika sudah mendapatkan ucapan seperti yang Bapak-bapak tadi bilang maka kalian harus pergi, karna tingkat kesabaran masing-masing orang itu berbeda-beda." Ucap Yudha cepat memberi nasihat pada ketiga anak kecil pengamen itu.
"Tapi, kita lapar kak.. kalo ngga cari uang yang banyak kita semua bakalan kelaparan." Ucap salah satu pengamen itu cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha.
Yudha menghela napasnya dengan berat ia segera menatap lekat ke arah ketika anak-anak pengamen itu.
"Kalian tau? Harga diri kalian lebih tinggi dari pada selembaran uang di dunia ini! Jadilah orang-orang yang pandai," Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu.
"Kalian semua tinggal dimana?" Tanya Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah ketiga anak kecil itu silih berganti.
"Kami tinggal di dekat jalan perempatan sana." Ucap ketiga anak kecil itu cepat sembari menujuk ke sisi jalan raya sana.
"Oke, ayo kakak antar kalian pulang." Ucap Yudha cepat segera mengajak anak-anak itu untuk mengantar mereka pulang ke rumah naik motor meticnya.
Beberapa menit berlalu kini Yudha dan ketiga anak itu sudah sampai di tempat yang mereka tuju, sosok bangunan rumah yang tua serta paling pendek di antara rumah-rumah yang lainnya membuat hati Yudha tersentuh saat melihat ketika anak kecil itu berjalan masuk begitu saja ke dalam rumah mereka.
"Ayo, Kak.. masuk." Ucap salah seorang anak pengamen itu cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu pada Yudha.
Sesampainya Yudha masuk ke dalam rumah tua itu, keadaan di dalamnya cukup luas yang mana hanya ada beberapa barang-barang penting saja di dalam rumah itu seperti kasur, meja tv, dan peralatan makan serta kompor.
"Kalian disini hanya tinggal bertiga saja?" Tanya Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke ketiga anak-anak itu.
Sontak saja ketiga anak-anak itu menganggukan kepalanya dengan cepat dan salah satunya yang terlihat paling besar berkata "Iya, Kak.. Ayah kami telah tiada, dan Ibu kami pergi ngga tau kemana meninggalkan kami bertiga di rumah ini." Ucap anak itu cepat terlihat sekali di kedua mata anak itu kalau ia berkata jujur dan tidak berbohong.
"Ibu, pergi sama lelaki kaya itu." Timpal anak yang satunya lagi dengan wajah yang terlihat ingin menangisnya itu.
"Ngga, Ibu pasti kembali lagi sama kita." Ucap anak yang terliht paling besar kedua.
"Jadi, kalian bertiga ini adik dan kakak?" Tanya Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu.
Ketiga anak itu sontak segera menganggukan kepalanya dengan cepat dan berkata "Iya, aku anak pertama, Yasril." Ucap anak yang paling besar itu cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Aku anak kedua, Dendy." Ucap anak kedua itu cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu.
"Aku, Tirta.. anak terakhir." Ucap anak yang paling kecil dengan wajah tersenyumnya itu yang tak kalah manis dari saudara-saudaranya.
Melihat senyuman tulus dan jujur mereka membuat hati Yudha tersentuh dan berkata "Apa kalian masih sekolah?" Tanya Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah mereka bertiga.
Yasril dan Dendy menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berkata "Hanya Tirta yang masih sekolah Sd." Ucap Yasril anak tertua di rumah itu.
"Lalu kalian berdua?" Tanya Yudha cepat dengan wajah menatap intens ke arah Yasril dan Dendy.
"Kami berdua putus sekolah saat setahun yang lalu dimana Ibu meninggalkan kami bertiga di rumah ini." Ucap Yasril kembali dengan wajah tertunduknya itu.
"Kenapa? Seharunya kamu kelas berapa sekarang?" Tanya Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu.
"Yasril, kelas 6 dan Dendy kelas 4." Ucap Yasril cepat menjawab pertanyaan Yudha.
"Tirta, kelas 2." Ucap Titra spontan dan dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
Yudha segera memeluk ketiga anak itu dengan erat tak terasa air mata Yudha keluar begitu saja setelah memeluk tubuh ketiga anak kecil itu.
Setelah beberapa menit berlalu kini Yudha tengah duduk di samping Tirta yang selalu saja menggenggam satu tangan Yudha dengan erat seolah-olah tak mau melepaskannya.
Semantara itu kini Yasril dan Dendy sedang menyiapkan makan malam untuk mereka berempat yaitu berupa hidangan mie kuah yang kedua anak itu jadi satukan di tempat baskom berukuran sedang itu.
"Selamat makan." Ucap Yasril, Dendy, dan Tirta cepat dengan wajah kebahagiaannya itu saat hidangan sebaskom mie dan sepiring nasi sudah siap santap oleh mereka bertiga.
Yudha hanya mampu tersenyum dan tertawa kecil melihat mereka bertiga yang penuh kebahagiaan di tengah-tengah ketidak adilan yang mereka terima. Tak begitu lama suara ponsel milik Yudha berbunyi sontak saja Yudha segera mengangkat panggilan teleponnya itu.
"Halo," Ucap Yudha cepat setelah sambunganya teleponnya terhubung itu.
"Dha, kamu dimana?" Suara Agas cepat terdengar begitu penasaran.
"Aku lagi di rumah anak-anak pengamen, mungkin sebentar lagi aku akan pulang Agas." Ucap Yudha cepat menjawab pertanyaan dari Agas itu.
"Apa? Anak-anak pengamen? Apa maksudnya kau sedang di rumah anak-anak pengamen itu." Ucap Agas cepat dengan nada suara terdengar terkejutnya itu.
"Agas, aku tutup dulu ya.. aku ingin makan bareng bersama dengan mereka." Ucap Yudha cepat segera menutup teleponnya secara sepihak.
"Ehh, tunggu! Yudha, Dha." Ucap Agas cepat terdengar begitu penasaran itu.
Ferry yang baru saja turun dari lantai dua ke lantai satu sontak melihat Agas dengan tatapan bingungnya.
"Yudha, dimana?" Tanya Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas.
"Entahlah, dia bilang sedang makan bersama dengan anak-anak pengamen." Ucap Agas cepat dengan wajah terlihat bingungnya itu.
"Wah, dimana itu? Jadi penasaran pengen ikut juga." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu segera berjalan ke arah sofa dan duduk di sana sambil menyalakan televisi.
"Kita tanyakan saja pada orangnya nanti setelah Yudha pulang." Ucap Agas cepat ikut duduk di sofa bareng dengan Ferry.
"Piala dunia sebentar lagi bakal tayangkan?" Tanya Agas cepat dengan wajah seriusnya itu.
"Loh, kan sudah kemarin tanyangnya!" Ucap Ferry cepat dengan wajah terkejutnya itu.
"Apa? Kemarin? Berarti saat aku tidur lebih awal?" Tanya Agas cepat dengan wajah yang terlihat syoknya itu.
Ferry menganggukan kepalanya dengan cepat dan berkata "Mungkin, soalnya aku pun melewatkannya karna ada kisi-kisi tanya jawab kemarin di kampus otomatis belajar semalaman di kamar." Ucap Ferry cepat dengan wajah datarnya itu.
"Astaga! Aku harus streaming ulang di Youtube sekarang." Ucap Agas cepat seketika berjalan naik ke anak tangga yang menuju ke lantai dua sana.
Sementara itu kini Yudha telah selesai makan, dan Yudha yang merasa sudah malam pun memutuskan untuk pulang setelah memberikan dua lembar uang seratus ribu pada Yasril anak pertama dan kakak dari kedua anak itu.
"Jaga uang ini baik-baik dan mungkin besok Kakak akan kesini lagi." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Iya, terimakasih banyak Kak Yudha.. kami bertiga benar-benar merasa sangat berterimakasih dan bersyukur." Ucap Yesril cepat dengan wajah sendu yang ingin menangisnya itu.
"Dengan uang ini kita bisa makan tiga minggu, ehh tidak! Sebulan kali ya." Ucap Tirta anak ketiga yang masih polos dan sering berkata-kata spontan yang jujur dari pemikirannya sandiri itu.
"Sstt, Tirta! Jangan ngomong kaya gitu di depan Kak Yudha." Ucap Dendy cepat mulai mengomeli sang adik yang selalu berkata apa adanya itu.
"Hehehe, maaf Kak Yudha." Ucap Tirta cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
Yudha tersenyum kecil lalu ia berkata "Tidak apa-apa, Tirta.. kalau begitu Kakak pamit pulang dulu ya." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu segera berjalan ke luar rumah dan langsung menghidupkan motornya itu untuk segera berjalan pulang ke rumah kosannya.
"Hati-hati, Kak Yudha." Teriakkan ketiga anak-anak itu membuat Yudha tersenyum kecil dan melambaikan satu tangannya kepada mereka bertiga sebelum motornya Yudha berada jauh dari rumah ketiga anak-anak itu.
Di perjalanan pulang Yudha merasa sangat bersyukur karna dapat memiliki kedua orang tua yang sedari ia kecil selalu menjaga dan merawatnya.
"Aku, merindukan Ibu dan Ayah di kampung." Ucap Yudha lirih sesekali menatap ke arah langit yang mana kini telah gelap itu.
"Sesampainya di rumah aku akan menelepon, Ibu." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
Beberapa menit berlalu setelah Yudha sampai di depan rumah kosannya dengan cepat Yudha memarkirkan motornya di halaman depan rumah dan berjalan masuk ke dalam. Di ruang tamu hanya ada Ferry yang mana membuat Yudha segera menyapa Ferry.
"Baru pulang, Yudha." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap ke arah Yudha.
"Iya, ada sesuatu yang aku lakukan dulu setelah pulang dari kerja." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Kalau begitu aku naik ke lantai atas dulu ya, Ferry." Ucap Yudha kembali.
"Ok, tapi kayanya tadi Agas nyariin kamu deh Yudha." Ucap Ferry cepat dengan wajah datarnya itu.
"Oh iya, makasih infonya." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.