Sesampainya di rumah Yudha segera menyibukan dirinya dengan berbagai macam pelajaran hingga larut malam, Yudha melakukan semua itu agar pikirannya tak terus memikirkan Alya dengan Vino. Sekitar jam 2 pagi dini hari Yudha baru bisa memejamkan kedua matanya dan terlelap tampa sadar menuju ke dalam mimpinya.
Plash.. Yudha segera membuka kedua matanya saat mendengar suara seseorang yang memanggil dirinya dengan suara lembut itu.
"Yudha, bangun sayang." Ucap seseorang yang Yudha tidak ketahui siapa dirinya.
"Hari sudah siang loh, masa mau tidur terus? Yuk, kita jalan-jalan berduaan." Ucap sesosok wanita itu cepat dengan wajah yang masih tertutupi oleh kilauan cahaya yang mana membuat Yudha belum bisa mengenalinya.
"Maaf anda siapa ya?" Tanya Yudha cepat dengan wajah bingungnya itu pada sosok wanita yang kini sedang berdiri membelakangi Yudha.
"Aku? Aku istri mu, Yudha." Ucap sosok wanita itu cepat segea memalingkan wajahnya ke arah Yudha dan tersenyum lebar.
"Alya, istri ku? Maksudnya, kita berdua sudah menikah?" Tanya Yudha cepat dengan wajah bingunh dan syoknya itu.
"Iyalah, sayang.. masa kamu lupain pernikahan kita sih! Jahat." Ucap Alya cepat dengan wajah cemberut merajuknya itu.
"Ehh, bukan! Bukan seperti itu, Alya." Ucap Yudha cepat merasa tak enak hati saat melihat Alya yang ingin menangis di hadapanya itu.
"Panggil aku istri!" Rajuk Alya cepat dengan wajah menangisnya itu.
"Ehh? Iya, istriku tersayang." Ucap Yudha cepat dengan penuh percaya diri.
"Istri? Kamu mimpi apa si, Dha? Geli banget deh." Kini terdengar suara Agas yang Yudha paham dan tau betul kalau itu adalah suara Agas.
Deg.. Yudha seketika terbangun dari mimpinya saat ia mendapatkan satu pukulan di lengan tanganya oleh Agas dengan cukup terbilang keras.
"Hahaha, Dha.. Yudha, kamu mimpi apa sih tadi? Manggil-manggil aku istri mu tersayang!" Ucap Agas cepat dengan tawa besarnya itu mengejek Yudha karena mimpi itu.
Deg.. ternyata tadi hanya mimpi? Jadi semua itu hanta mimpi? Ah, tentu saja! Mana mungkin Alya mau menikah denganya? Jelas ia akan memilih Vino yang lebih segalanya darinya.
Agas yang melihat Yudha murung dan terbengong itu sontak segera berkata "Eh, maaf.. bukan maksud ku untuk mempermalukan dan menertawakan mu Dha, kamu ngga suka ya? Aku minta maaf tadi sempat mengejek mu." Ucap Agas cepat dengan wajah tak enak hatinya itu saat melihat Yudha yang terlihat murung.
"Bukan karna mu, Agas.. bukan juga karna ejekan mu, aku hanya sedang ada masalah saja." Ucap Yudha cepat dengan menghela napasnya berat.
Agas yang paham sontak saja berbicara "Mau sholat subuh di musholla ngga? Dha, aku sama Ferry mau sholat berjamaah makanya tadi aku niatnya kesini buat bangunin kamu biar sholat subuh berjamaah." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha.
"Iya, Agas.. aku siap-siap dulu." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu segera berjalan ke arah luar pintu kamarnya dan mengarah ke kamar mandi yang ada di lantai dua untuk membersihkan dirinya.
Selepas membersihkan dirinya kini Yudha, Agas, dan Farry segera pergi melangkah ke musholla untuk sholat berjamaah bersama disana.
Yudha, Agas dan Ferry yang sudah bersiap di shaf terdepan ke tiga dari belakang imam kini mereka bertiga merasa terkejut akan kedatangan bapak-bapak penjaga musholla itu.
"Permisi," Ucap Bapak-bapak itu cepat dengan wajah tersenyum ramahnya itu pada Yudha, Agas dan Ferry.
"Ah, Iya Pak." Ucap Agas cepat memang dia lah orang yang mudah berbicara dengan orang lain yang baru ia kenal.
"Bapak, kesini cuma ingin mengecek apa dari kalian mau menjadi imam di musholla ini untuk subuh ini saja? Soalnya bapak-bapak yang biasanya menjadi imam sedang sakit dan tak ada yang mau menggantikannya menjadi imam di musholla ini." Ucap Bapak-bapak itu cepat terdengar serius.
"Eh, saya masih belum bisa jadi imam Pak.. saya belum sanggup." Ucap Agas cepat dengan wajah pucatnya pasihnya itu, karna memang Agas merasa dirinya belum mampu untuk menjadi imam.
"Bagaimana dengan adek dua lainya? Apa siap jadi imam di musholla ini untuk sholat subuh berjamaah yang akan segera kita laksanakan?" Tanya Bapak-bapak itu cepat segera melihat ke arah Yudha dan Ferry.
"Insyaallah, saya bisa Pak." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu.
"Alhamdulilah, kalau begitu mari.. kita akan segera mengkumandangkan azan untuk subuh hari ini." Ucap Bapak-bapak itu cepat segera mengajak Yudha untuk pergi berjalan ke tempat imam yang biasanya sholat ditempat itu.
Bapak-bapak itu menoleh seketika ke arah Yudha dan berbicara "Nak, sudah siap?" Tanya Bapak-bapak itu cepat segera menyalakan micnya yang akan Yudha gunakan untuk mengumandangkan azan subuh.
Yudha menganggukan kepalanya dengan cepat dan berkata "Sudah saya siap, Pak." Ucap Yudha cepat dengan perlahan Yudha memejamkan kedua matanya dan menarik napasnya dengan panjang sebelum ia mulai mengkumandangkan azan subuh untuk wilayah sekitar kosanya.
Selepas sholat subuh Agas mengajak Yudha dan Ferry untuk berjalan-jalan keliling kampung yang dekat di tempat rumah kosan mereka bertiga berniat sambil olahraga pagi Agas, Yudha dan Ferry malah terlihat seperti tukang ronda yang baru saja mau pulang selepas menjaga kampung semalaman karna baju koko, sarung dan peci yang mereka bertiga gunakan itu.
"Abis ngroda, Dek." Ucap seorang Ibu-Ibu mengajak ngobrol Agas sambil menyapu halaman depan rumahnya itu.
"Hehehe, ngga Bu.. abis dari musholla mau pulang ke rumah ini." Ucap Agas menyahuti dengan wajah tersenyum ramahnya itu.
"Ohh, hati-hati di jalan ya." Ucap Ibu-Ibu itu cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu pada Agas, Yudha dan juga Ferry.
"Iya, Bu." Sahut Agas untuk terakhir kalinya sebelum mereka bertiga pulang ke rumah kosannya.
Cklek.. Ferry yang membuka pertama kali pintu kosan rumah baru selepas Ferry masuk Yudha dan Agas bergantian masuk ke dalam rumah.
"Huh, haus banget." Ucap Ferry cepat segera berjalan ke arah dapur untuk mengambil air minum dan menghilangkan dahaganya itu.
Sementara Ferry ke dapur kini Yudha dan Agas tengah duduk di sofa dan mulai menyalakan televisi untuk mereka tonton bersama-sama.
"Dha, gimana perkembangan mu dengan Alya? Sudah masuk ke tahab baru dan timbul benih-benih cinta ngga?" Tanya Agas spontan yang mana membuat Yudha tersedak savilahnya sendiri saat mendengar pertanyaan Agas itu.
"Benih-benih apa? Memangnya kami berdua sudah menikah?" Tanya Yudha cepat dengan wajah syoknya itu.
"Loh, bukanya udah? di mimpi tapi." Ledek Agas kembali dengan tawa super jahilnya itu.
Yudha hanya mampu menghela napasnya dan menggelengkan kepalanya saja tak kuasa menghadapi sikap jahil Agas sang temanyanya itu.
"Maksudnya apa kau dan Alya sudah berpacaran?" Tanya Agas cepat dengan wajah penasarannya itu.
Yudha menggelengkan kepalanya tanda bilang tidak pada Agas yang mana membut Agas menatap dengan pandangan terkejutnya itu.
"Jadi masih teman? Kenapa kau lama sekali menembaknya, Dha! Bisa saja kau nanti bakal keduluan sama orang lain untuk mendaptkan Alya." Ucap Agas cepat dengan wajah bingungnya itu.
"Alya, memiliki teman yang lebih terlihat sempurna di bandingkan dengan aku.. pasti Alya akan lebih memilih dia di bandingkan dengan memilih ku." Ucap Yudha cepat dengan wajah terduduk sendunya itu.
Agas menggelengkan kepalanya dengan cepat lalu berkata "Dha, dalam hubungan cinta ngga ada yang namanya harus setara drajatnya! Kalau memang Alya suka pada mu suatu saat nanti itu bisa saja terjadi loh, sebab katamu tadi teman pria Alya terlihat sempurna.. dan Dha, apa yang kita lihat itu belum tentu benar atau ngga! So, jangan menyerah terlalu cepat.. dan segeralah menaklukan hati sang kekasih pujaan hati mu itu." Ucap Agas cepat memberi motivasi untuk Yudha agar terus berjuang tentang cinta dan perasaannya itu.
"Betul tuh! Kita ini cowo, Dha! Jangan mudah menyerah dan ngga mau mencoba lagi, karna bisa saja semua itu berbalik dan kau yang malah akan di pilih oleh Alya." Timpal Ferry cepat masuk ke dalam obrolan Agas dan jug Yudha.
"Ya kan, nah sekarang aku tanya.. kamu beneran suka, ehh ralat! Kamu ini sebenernya ada rasa dan cinta ngga si sama Alya? Dha." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha.
Yudha terdiam sesaat memastikan perasaanya yang sebenarnya baru menjawab pertanyaan dari Agas itu "Aku tidak tau, aku bingung." Jawab Yudha jujur dengan wajah terlihat seriusnya itu.
Terdengar helaan napas dari Ferry dan Agas, kemudian tak lama Ferry pun berbicara "Dha, coba kamu penjamin kedua mata terus lihat di dalam hati dan pikiran mu saat ini kau sedang memikirkan siapa." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha selepas memberikan sarannya pada Yudha.
Yudha segera melakukan saran yang Ferry katakan itu dan benar saja muncul bayangan Alya dan suara bisikan Alya yang menggema di telinga Yudha, Yudha pun segera menatap lekat ke arah Ferry dengan tatapan terkejutnya itu "Alya, aku melihat dan mendengar suara Alya." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Ferry.
"Yaps, itulah yang namanya kau mencintai Alya! Yudha, sudah 98 persen kalau kau memang benar-benar mencintai Alya! jadi semangat dan terus lakukan yang terbaik agar bisa mendapatkan hati Alya." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha.
"Begitukah?" Gumam Yudha lirih masih belum paham akan hubungan percintaan karna selama ini ia sama sekali tak pernah memikirkanya dan selalu berkerja dan belajar saja.
"Nah, betul tuh! Jangan mau kalah, menurut aku Alya pasti akan lebih memilih mu di bandingkan teman pria yang kau bilang sempurna itu." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap intens ke arah Yudha.
"Bagaimana kau tau, Ferry?" Tanya Yudha polos dengan wajah bingungnya itu.
"Tau saja, sebab yang wanita cari dari seorang pria adalah kesetiaan, kerja keras, dan mampu bertanggung jawab! Jadi, menurut ku kau pasti bisa memenuhi tiga kriteria itu Yudha." Ucap Ferry cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
Tit.. tit.. tit.. terdengar suara alaram jam kerja di jam tangan Yudha yang mana membuat Yudha segera bangkit dari duduknya di sofa lalu langsung berjalan cepat menuju ke lantai atas bersiap-siap untuk berangkat kerja sesudah menyelesaikan pembicaraan dengan Agas dan Ferry.
"Yudha, ternyata mudah di bohongi ya?" Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum dan tawa kecilnya itu.
"Aku setuju kalau memang Yudha itu mudah untuk di tipu! Tapi kalau kita ngga begini, Yudha pasti akan selalu minder kalau ketemu sama Alya.. aku ingin Yudha dan Alya bersatu." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu.
"Sama, semoga saja mereka berdua dapat menjadi pasangan kekasih." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
Sementara itu kini Yudha tengah sibuk berpakain yang rapi untuk masuk kerja, hari ini Yudha tak begitu terburu-buru pasalnya hari ini Yudha tak memiliki jam kuliah yang mana membuat Yudha lebih leluasa untuk menggunakan waktunya.
Beberapa menit kemudian Yudha segefa turun dari lantai atas dan berjalan menuju ke pintu keluar kosan "Agas, Ferry, aku berangkat dulu." Ucap Yudha cepat segera melangkah kakinya ke luar rumah dan mengendarai sepedah motornya untuk menuju ke arah restoran.
Memakan waktu sekitar 20 menit agar Yudha dapat tiba di restoran tempatnya berkerja, Yudha masuk lewat pintu belakang restoran yang mana memang pintu masuk pegawai dan pengunjung sengaja di bedakan oleh pemilik restoran itu.
"Cie, abang kasir udah dateng aja lebih awal banget dari biasanya yang selalu mau masuk jam kerja." Ucap salah seorang wanita yang bertugas mencuci piring selama menggantikan Yudha selama Yudha beralih menjadi penjaga kasir.
"Iya nih, lagi kosong mata kuliahnya.. jadi berangkat lebih awal deh." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Duh, jangan senyum dong abang! Nanti neng jadi semakin suka." Ucap seorang wanita yang sedari tadi berbicara dengan Yudha itu mulai merayu Yudha.
"Ah, maaf.. saya sudah memiliki seseorang yang saya cintai." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu berkata jujur apa adanya.
"Ehh, gitu.. siapa orangnya?" Tanya seorang wanita itu cepat dengan nada suara yang terdengar kecewanya itu.
"Rahasia," Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Ish, abang ini.. bikin penasaran neng aja." Ucap tukang pencuci piring pengganti Yudha itu cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
Sementara itu Yudha hanya mampu tersenyum kecil dan berjalan ke arah depan restoran yaitu tempat di bagian kasir itu, dan bunyi pintu restoran yang terbuka sontak saja membuat Yudha berkata "Selamat datang di resto Akayama." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu sebelum melihat siapakah pengujung yang baru sjaa datang itu.
"Selamat pagi, Yudha." Ucap Alya cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Alya," Gumam Yudha cepat merasa terkejut saat melihat pengujung pertama di restorannya itu adalah Alya sang wanita pujaan hati Yudha.