Sesion 2 bab.12

1148 Kata

Tanpa jawaban, aku hanya menampakkan telapak tanganku. Tak ingin seseorang mendekat. Baik Mas Adam dan anak-anak hanya terdiam. Sedangkan aku menahan rasa mual yang terus menggelayut dalam perutku. Seakan organ dalam itu diremas-remas begitu kuat. Keringat sebiji jagung mulai bermunculan di dahiku, termasuk tubuh yang mulai terhuyung dengan pandangan yang semakin meredup. “Dijah, ini air hangat,” ucap Mas Adam yang ternyata sudah berada di sisiku. Sayup-sayup kulihat gelas kaca berisi air hingga penuh. “Terimakasih, Mas.” Kupaksakan kuat, dengan tubuh yang gemetaran. Hampir kuraih benda itu hingga tiba-tiba pandanganku kembali mengabur. Gelas kaca terlihat menjadi 2, lima, dan kemudian banyak. Hingga semua tertutup oleh pekatnya kegelapan. “Dijah, Nak Dijah.” Suara ibu nan lembut terd

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN