Bab.10 Definisi Cinta

1315 Kata
“Dijah, Ammar mana?” tanya ibu ketika aku duduk di kursi makan . Baik ibu dan bapak tidak tahu kalau Mas Ammar sudah keluar seusai shalat duhur. Kebiasaannya memang mengurung diri di kamar, dengan laptop yang disimpannya di tempat pribadi itu. Ya, kata Ibu pekerjaan Mas Ammar memang menghabiskan banyak waktu di laptop dari pada di luar. “Mas Ammar ijin keluar, Bu.” “Nongkrong sama temannya?” “Bukan. Katanya ada urusan pekerjaan,” dustaku. Ya, aku harus melakukan ini untuk menutubi aib rumah tangga kami. Ibu tersenyum. “Ya seperti itulah pekerjaan suamimu, Dijah. Dibilang kerja ya tidak seperti orang kerja pada umumnya. Tapi dibilang nganggur, sebenarnya menghasilkan,” ucap ibu . “Mari makan, jangan ngobrol dulu,” ucap bapak yang memandang kami bergantian. Aku menyuapkan makanan ini sedikit demi sedikit, lebih terkesan memainkannya. Rasanya aku tak nafsu, karena melihat bangku sebelahku kosong. Ya, aku sudah terbiasa makan bersama Mas Ammar. Ia adalah alasan untuk nafsu makanku kembali naik. Meskipun kedatanganku untuknya bagai sebuah musibah. “Khadijah, kenapa gak dimakan?” Aku tersenyum, “Dimakan kok, bu,” ucapku sambil kembali menyuapkan secendok nasi ke mulutku. Pandanganku mengarah ke makanan di depanku, sedangkan pikiran terus melayang tentang Mas Ammar dan Dinda. Mungkin sekarang ia sedang makan bersama. Mungkin sekarang mereka sedang tertawa bersama. Mungkin ... hah, pikiranku terus dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan yang membuatku cemburu sendiri. Aku menghabiskan waktuku di dalam kamar setelah menghabiskan makan malamku. Aku tak tega jika harus kembali berdusta dengan ibu tentang kepergian Mas Ammar seharian ini. bahkan ketika jam telah menunjukkan pukul 9 malam, lelaki itu juga belum pulang. Mungkinkah ia begitu bahagia bersama dinda hingga tak sadar dengan waktu? Aku berjalan perlahan ke batas yang tak boleh kujamah, lebih tepatnya ke perpustakaan kecil milik Mas Ammar. Buku-bukunya terjejer rapi, hingga menampilkan samping buku yang terlihat judul dan nama penulisnya. Hingga aku tersadar dalam jejeran buku di rak itu tertuliskan nama yang sama dengan nama suamiku. “Mas Ammar? Penuliskah?” pikiranku dipenuhi dengan tanda tanya. Baru saja aku hendak mengambil buku tersebut, suara deheman terdengar, yang menghadirkan rasa takut di pikiranku. Aku seperti maling yang kepergok, meskipun sama sekali tak mengambil sesuatu darinya. “Untuk apa kamu disitu, Dijah?” tanya Mas Ammar yang terlihat murka. “Bukankan aku sudah pernah bilang, kamu tak boleh melewati batas itu?” ucapnya lagi yang membuat tubuh ini semakin mengerdil. Nyaliku benar-benar kecil, hanya mendengar gertakan seperti ini saja aku begitu takutan. “Ma-maaf, Mas Ammar. Khadijah tidak ...” “Segera tidur, aku tak ingin mendengar penjelasanmu.” Aku berlari, dan tengkurap di kasur. Disitu aku menenggelamkan tangisku, yang entah Mas Ammar menyadarinya atau tidak. Sebisa mungkin aku terus bertahan meskipun hati ini terus terluka. Apa salahku kepadanya? Jika ia tak menginginkan pernikahan ini, harusnya ia menolak permintaan Dinda untuk menikah denganku. Bukan menyanggupi, tapi terus mengurungku dalam pernikahan toxic. Air mata ini terus mengalir, tanpa sadar aku benar-benar terlelap. Hingga tiba-tiba aku merasakan sebuah sapuan lembut di rambutku. Benar-benar membuatku damai. Aku seperti mendapatkan sebuah kasih sayang, yang sama sekali tak pernah kudapatkan. Aku membuka mata, dan tak melihat siapapun. Selain Mas Ammar yang juga tertidur di sisiku, di kasur yang terpisah. Mungkinkah semua sebatas mimpi? Aku menatap wajahnya, memperhatikan parasnya. Sudah seminggu kita menikah, tapi kita tak pernah saling menyentuh satu sama lain kecuali bersalaman. Ya, sebatas itu. Aku beranjak dari tidurku, dan mengambir air wudhu. Dinginnya air yang mengalir seketika menghapus rasa kantuk. Lalu kubentangkan sajadah, dan kujalankan rakaat sunah. Jika dengan caraku tak mampu membuat Mas Ammar luluh, kutikung ia dalam sujudku. Namanya terus terpanggil dalam untaian doa. Menyerahkan semua kepada sang pemilik semesta. ** Pagi ini kami kembali berjamaah bersama, dimana aku akan membangunkan Mas Ammar terlebih dulu seperti biasa. Lalu, ia akan negdumel panjang, dan bilang aku seperti ibu yang suka mengusik tidurnya. Ia terlihat seperti anak kecil, tapi aku menyukainya. Entahlah, mungkin inilah definisi mencintai tanpa syarat. Diperlakukan seperti apa, rasa itu terus ada. “Mas, Dijah turun dulu ya, mau bantu ibu masak,” ucapku. Ya, aku selalu ijin ketika meninggalkannya. “hm. Ya... Masak yang enak lagi,” ucapnya yang kini kembali membaringkan tubuh di kasurnya. Aku tersenyum, mendengar kalimat yang barusan keluar dari bibirnya. Tanpa sengaja, ia memuji makananku yang enak, meskipun kemarin ia menyangkalnya. “Menantu ibu sudah ke dapur aja,” ucap Ibu yang kini baru datang. Ia masuk ke dalam dapur dan mengambil celemek yang menggantung. “Dari tadi senyum-senyum, seprtinya habis ... “ ibu mengkerjapkan matanya yang membuatku salah tingkah sendiri. Andai ibu tahu, kita bahkan tak tidur seranjang. “Bu, Mas Ammar suka makanan apa?” tanyaku sambil menatap persediaan bahan di kulkas. “Lo, kok tanya ibu? Kan kamu istrinya.” “Istri baru smeinggu, Bu. Khadijah belum mengenal Mas Ammar terlalu jauh.” Wanita paruh baya itu terseyum. “Ammar gak punya makanan favorit, orangnya moodyan. Kalau doyan ya di makan. Kalau gak doyan dia biasa bikin mi rebus atau jajan.” “Mie?” tanyaku kaget. Setahuku mie instan itu tidak boleh sering dikonsumsi, tidak bagus untuk kesehatan. “Ya, begitulah. Omongan ibu gak didengar, Dijah. Tahu sendirikan, dia itu orangnya keras kepala. Makanya, aku berharap kamu bisa sabar hadapi sifatnya itu.” “InsyaAllah, Bu.” Kuambil daging potong yang ada di frezer, lalu melihat stok sayuran yang tersisa. Hingga akhirnya aku memilih membikinkan Mas Ammar soto ayam. Tidak tahu ia suka atau tidak nantinya. Kurebus ayam yang sudah kuberi bumbu, sambil membuat kuah di tungu kompor satunya. Sedangkan di tungku yang lain, kugunakan untuk menggoreng irisan bawang untuk taburan nanti. Ya, menyalakan tiga nyala api dalam satu waktu bersmaan. Kebetulan kompor milik ibu ini memiliki empat tungku api. Ibu tersenyum, sambil terus membantuku. Sedangkan dari bibirnya terus saja keluar pujian demi pujian yang membuatku terbang. “Kalau gini, ibu gak bakal kerepotan ketika ngadain arisan keluarga nanti, Dijah. Ibu memiliki master chef hebat.” Aku tersenyum. “Master chef apa, Bu? Dijah gak pinter masak. Takut kalau pada gak suka makanan buatan Dijah.” “Kalau gak bisa masak, kenapa bisa secekatan ini masakmu? Manajemen waktumu juga bagus tahu, Nak.” “Ibu yang terlalu berlebihan memuji Dijah,” ucapku. Tak menunggu waktu lama hingga masakan ini benar-benar siap. Aku mengincip sedikit, berikut juga ibu yang sepertinya tak sabar untuk mencoba. Hingga kalimat “sempurna” keluar dari bibirnya yang indah. Aku meracik satu persatu soto ini di mangkuk kecil, lalu menuangkan kuahnya yang menguarkan aroma menggoda. Tak lupa kuberikan bawang goreng supaya rasanya lebih gurih. Setelahnya kuangkat 4 mangkok soto itu menuju meja makan. Ibu memanggil bapak untuk turun, berikut dengan Mas Ammar yang juga dipanggil olehnya. “Hm ... soto,” ucap bapak ketika masuk ke dalam ruang makan. Bahkan belum juga ia duduk dan melihat makanan yang kami siapkan beliau sudah mampu menebak dari aromanya. ‘Semoga bapak dan Mas Ammar menyukai sotonya,’ batinku. Satu persatu kami menempatkan diri di kursi masing-masing. Ibu langsung menyantap seusai doa bersama dipanjatkan. Lalu disusul bapak dan olehku. Sedangkan Mas Ammar dari tadi hanya diam dan memandang. ‘Apa ia gak doyan soto?’ batinku. “Mas, kenapa gak dimakan?” tanyaku yang kini menoleh ke arahnya. Cukup lama ia diam, sambil terus memperhatikan makanan di depannya. “Gak papa,” ucapnya yang ini mulai menyentuh sendok bebek di atas mangkok tersbut. Ia mulai menyuapkan makanan itu ke mulutnya, sedangkan aku terus memperhatikan. Hingga hanya beberpaa menit, makanan itu ludes tak bersisa, mendahului ibu dan bapak yang belum selesai makan. “Ammar pasti suka kan dengan soto buatan Dijah?” tanya ibu yang kini memandang anak lelakinya. “Biasa saja rasanya. Aku Cuma ada acara penting pagi ini,” ucapnya yang kini langsung pamit, menjabat tangan ibu dan bapak bergantian. Berikut dengan aku yang menemaninya sampai di depan pintu. “Mas Ammar mau kemana?” “Gak usah tahu, dari pada kamu sakit hati,” ucapnya yang membuatku bertanya-tanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN