Bab.9 Mengantarkan Dinda

1080 Kata
Waktu terus berlalu, detikan jam terus berjalan. Aku hanya terus memandang Mas Ammar yang selalu asyik di depan laptopnya. Sesekali ia menengok ke arah ponsel, dan tersenyum. Kemudian, ia kembali memainkan jari jemarinya di atas keybord warna hitam itu. “Mas, Khadijah ke bawah dulu ya, mau nyiapin makan siang,” ucapku. Ia menoleh ke arahku. “Hm ... terserah.” Lalu balik fokus ke laptopnya. Sungguh, keberadaanku di kamar ini seperti tak dianggap. Aku mengayunkan langkah, sambil menyeka air mataku agar tak kedahuluan membasahi pipi. Aku tak ingin ibu ataupun bapak memergokiku bersedih. Aku harus terlihat tersenyum. Aku tak ingin aib keluarga menjadi sorotan mata orang lain, meskipun itu keluarga ammar sendiri. Ya, seperti itulah yang diucapkan emak sebelum meninggalkan kami. “Khadijah, mau bantu masak?” tanya ibu yang terlihat welcome ketika melihatku datang. Ia tersenyum dengan mata teduh yang ditujukan kearahku. Aku mengangguk. “Sini, sini, kamu bantu siangi ikannya ya,” ucap ibu yang tampak bersemangat. Akupun masuk ke dalam dapur, memakai celemek yang bergantung di sisi dinding dan mengenakannya. Kuambil ikan yang ditunjuk ibu, dan kini membersihkan ikan yang baru dikeluarkan dari pendingin itu. Ya, masih sangat dingin. “Sepertinya kamu pandai memasak, Dijah,” ucap ibu sambil memperhatikan apa yang kulakukan. “Gak pandai kok, bu. Cuman terkadang membantu emak di dapur.” Wanita bermata teduh itu terseyum, sambil mengiris bawang merah di depannya. “Mau masak apa, Bu?” “Gulai kepala ikan. Tapi dagingnya dimasak juga.” Ibu tersenyum. Disini, aku terus bercengkrama kepada ibu. Orangnya humbel, dan menerima kehadiranku disini. Dia baik, dia terlihat sayang kepadaku. Ya, seperti itulah penilaianku kepadanya. Tak membutuhkan waktu lama untuk kami menyiapkan makanan. Hingga sebelum adan duhur berkumandang, makanan telah siap di atas meja. Bapak yang baru pulang dari sawah, langsung melepas caping yang dikenakannya, cuci tangan dan ikut duduk bersama kami. Sedangkan Ammar, harus diteriaki ibu dulu hingga akhirnya mau turun dari tempat persinggahannya. Gulai kepala ikan masih mengepulkan asap, berikut dengan mendoan, dan juga wedang jeruk hangat. Semua sudah tersaji, menjadi peneman makan siang kami. “Mas segini,” ucapku sambil menunjukkan nasi yang sudah kutuang ke piring keramik berwarna putih. Sekilas ammar menatap. “Terserah.” Aku mencoba tersenyum mendapatkan perlakuan dingin seperti ini, lalu mengambilkan kuah gulai beserta ikan di dalamnya. Ibu dan bapak hanya memandang kami, tanpa berkomentar apapun. Kami makan hanya berempat, karena kakak-kakak mas ammar sudah tinggal di rumah meraka masing-masing. Hanya tinggallah ia yang nantinya di wariskan rumah ini untuk ditinggali. “Enak, Mar?” tanya ibu kepada anak bungsunya tersebut. “Yang masak ini Khadijah,” imbuhnya lagi. Beliau meletakkan sendok yang dipegangnya dalam keadaan menutup, dan kini memandangi anaknya. Berikut dengan bapak yang juga usai menghabiskan makanan di depannya. Sedangkan aku? Masih meninggalkan satu sampai dua sendok nasi dipiringku. “Biasa,” ucapnya sambil menelan suapan terakhirnya. “Hm ... yakin biasa? Nasi yang diambilkan Khadijah banyak lo, dua kali dari makanmu biasanya. Masih bilang biasa saja?” goda ibu yang membuat Mas Ammar salah tingkah. Ia menoleh keadaanku dengan gugup. “Lah, masa gak dihabiskan? Itu artinya mubadzirkan makanan,” sangkalnya. “Dengarkan, Dijah? Lain kali ambilkan dikit ... saja ya,” ucap ibu sambil mengulum senyum. “Diingat-ingat, dikit saja,” ucap beliau lagi sambil melirik ke arah anak lakinya. Aku tersenyum. Tak lama kemudian, adan berkumandang. Bapak langsung bersiap-siap untuk ke masjid. Sedangkan aku dan ibu terburu-buru membereskan alat makan yang telah kotor ini ke kembali ke dapur. “Khadijah, hari ini kamu sukses buat Ammar makan banyak. Satu bulan menikah denganmu pasti tubuh kurusnya bakal segemuk Nono.” “Nono siapa, Bu?” tanyaku dengan dahi yang mengernyit. “Kerbau yang dipelihara Bapakmu,” ucap Ibu dengan terkekeh. Selera humor ibu memang tiada duanya. Ia selalu punya cara agar aku tersenyum. Berbanding terbalik dengan sikap anaknya yang seperti frezer. ** “Mas, ayo cepetan!” ucapku dengan membawa mekena dan sajadah di tanganku. Sedangkan kulihat, Mas ammar masih di bibir ranjang sambil meminum air putih dengan botol yang dipegangnya. “Aku shalat di rumah saja. Kamu mau jamaah disini atau di masjid silahkan itu pilihan kamu,” ucapnya. “Aku ikut imamku,” ucapku yang kini membentangkan sajadah di belakang sajadah ia. Ia mengambil air wudu, dan menempatkan diri di tepatnya. Rakaat demi rakaat kami laksanakan bersama, berikut dengan ayat-ayat yang keluar dari bibir kami. Setiap sujud yang kami lakukan, rasanya menghadirkan suatu kebahagiaan yang tak mampu kuucapkan. Mas Ammar menoleh ke belakang, dan menggantungkan tangannya, hingga aku meraih telapak tangan itu dan mencium punggung tangannya. Tradisi ini laksana rukun dalam shalat yang tak pernah ketinggalan, dimana setiap bibirku menyentuh ke kulitnya, menghadirkan suatu kelegaan di batinku. “Hari ini Dinda mau balik ke kampus, boleh aku antar dia?” tanyanya. Sejenak aku terdiam. “Boleh, silahkan.” “Kamu gak marah?” tanyanya yang kini memadangku dengan heran. Aku tersenyum. “Untuk apa aku marah?” “Kamu tahu kan kalau aku dan Dinda ...” Mas Ammar menggantungkan kalimatnya. “Dinda adikku, dan kamu suamiku. Aku percaya dengan kalian.” Lelaki itu tersenyum miring, seakan mengejek jawabanku. “Bapak dan ibu membekalimu banyak ilmu agama, Mas. Untuk apa aku harus takut membiarkan kalian berdua?” Aku melepas mekena yang aku pakai, lalu melipatnya dan memasukkan ke dalam almari. “Salam untuk Dinda. Kalau di jalan hati-hati ya,” ucapku setenang mungkin. Tak ingin ketahuan jika hati ini memendam rasa cemburu. Ya, bisa dibilang aku munafik. Sangat munafik. Antara bibir dan hati, tidaklah sama. Lelaki itu mengangguk. Mas Ammar melepas pakaiannya, dan menggantinya dengan kaos berkerah. Tidak lupa jaket yang kini ia sampirkan ke punggung kanannya. Lalu mendekat ke arah rak, memilah sepatu yang berjejer rapi. “Khadijah, mungkin nanti ...” “Mas Ammar pulang telat?” tanyaku yang mendahului kalimatnya. Ia tercengang. “ya.” “Gak papa. Nanti aku bilang sama ibu kalau kamu ada urusan.” “Bagus,” ucapnya yang kini berdiri, dan menatap dirinya dalam pantulan cermin. Seakan memastikan penampilan itu sempurna ketika berada di depan kekasihnya. Tak lupa, ia menyemprotkan parfum di seluruh bagian tubuh, hingga wangi itu menguar ke seluruh penjuru ruangan. “Dijah, aku berangkat dulu.” Mas ammar mengayunkan langkah ke dekat pintu, meninggalkan jejak ara di hatiku. “Mas Ammar tunggu,” ucapku. Ia menoleh. “Ada apa?” Tanpa menjawab. Aku langsung mendekat ke arahnya, dan meraih tangannya. Kucium punggung tangan itu dengan penuh khidmat. “Mas Ammar hati-hati di jalan. Pastikan Dinda selamat sampai tujuan,” ucapku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN