Bab.8 Di Rumah Ammar

1064 Kata
Ini adalah hari ngunduh mantu, hari yang seharusnya aku tersenyum senang, karena diambil oleh keluarga besar Ammar. Namun, diposisi sekarang, keluargaku tengah berduka. Tepat tiga hari emak meninggalkan kami dari dunia ini. Masih teringat jelas bagimana kenangan di setiap inci rumah ini, yang selalu menjadikan tangis kala mengingatnya. Mak yang bawel dan suka menjewer telingaku meskipun di usiaku sudah sedewasa ini. Aku rindu. “Mbak Dijah, kok melamun,” ucap dinda yang terlihat tersenyum dengan gamis yang dikenakannya. Ya, dia satu-satunya keluarga intiku yang mengantar aku pindah. Juga ada bude dan paklek saudara dari emak yang turut menemani acara sederhana ini. Tak ada perayaan yang semestinya, hanya sebatas mengantar, dijamu oleh keluarga Ammar, dan mereka pulang. Ya, sebatas itu. “Assalamualaikum,” ucap saudara besarku yang kini berada di depan pintu Ammar. “waalaikumsalam,” suara ramah dari dalam rumah tersebut. Hanya keluraga inti saja, kedua orang tua serta kakak-kakak mas ammar. Disitu kami tak lama, hingga keluarga besarku kembali pulange setelah usai dijamu. Berikut dengan Dinda yang turut masuk ke dalam rombongan mereka. Tinggallah aku, di keluarga baru. “Khadijah, Nak. Ibu lihat kamu belum makan sendiri. Sini! Makan sini bareng ibu,” ucap wanita dengan kulit keriput seperti emak. Ia melambaikan tangannya ke arahku. Aku menurut, ikut duduk di lembaran tikar yang masih terbentang di ruang tamunya. Kucium punggung tangan ibu mertuaku, layaknya beliau adalah emakku sendiri. Hingga sebuah sentuhan lembut kurasakan di punggungku, berikut dengan tepukan dua kali. “ibu tahu kamu masih berduka. Tapi, kamu juga harus makan. Emakmu sudah di surga, ia pasti sedih jika lihat anaknya seperti ini,” ucapnya. Aku tersenyum, menatap manik mata yang terlihat begitu teduh itu. “Dijah bisa ambil sendiri, Bu,” ucapku yang kini mengambil centong yang dipegang oleh ibu. Dilayani oleh beliau rasanya begitu malu. Harusnya akulah yang melayaninya. Kutuangkan sedikit nasi ke atas piring, lalu kutuangkan kuah opor beserta daging bagian sayap ke atas piringku. Sebenarnya aku belum lapar, semua aku lakukan untuk menghormati ajakan ibu. Kuletakkan piring tersebut di depanku, lalu kusuapkan sedikit ke mulutku. Pandanganku terus melaju, mencari sosok lelaki yang beberpa hari ini bermalam denganku. Meskipun bukan di ranjang yang sama. “Mencari Ammar? Dia ada di kamarnya,” ucap ibu yang kini tersenyum ke arahku. Jika pada umumnya acara ngunduh mantu, suami akan selalu setia di sisi istri dan terlihat begitu bahagia. Berbanding terbalik denganku. Amar langsung melenggang pergi ketika keluarga besarku pamit. “Habiskan dulu makanmu, Nak. Nanti aku antar di kamar kalian,” seru ibu yang sedikit menenangkan. Awalnya aku takut, jika keluarga Ammar juga tak menerima kehadiranku. Jika terjadi seperti itu, entah siapa yang akan menganggapku ada? Sedangkan suamiku saja tak pernah peduli. “Kamu suka sayap, Dijah?” Aku mengangguk. “Kata orang dulu, kalau suka sayap itu jodohnya akan jauh dari rumah. Ya mesti terbang dulu gitu,” ucapnya dengan penuh nada candaan. “Eh, ternyata menantunya ibu, tetangga sendiri,” ucapnya yang kini membelai jilbabku. Disini aku kembali berpikir, mungkinkah ammar sebenarnya bukan jodohku? Aku yang terlalu banyak memanjatkan doa atas namanya hingga ia tertikung olehku? “Dijah, aku tahu ammar seperti apa. Aku harap kamu sabar ya hadapi dia. Mungkin ia sudah menceritakan kepadamu tentang semuanya. Tapi, itu bukan salahmu, Nak.” Aku mencoba tersenyum di tengah porak porandanya hatiku, menahan beban yang rasanya semakin berat. Terbesit rasa ingin menyerah dari pernikahan ini. Tapi, dengan segala ucapan ibu? “Pernikahan bukanlah hal yang bisa dimainkan, Khadijah. Sekali seorang lelaki mengucapkan ijab di depan walinya. Maka seluruh tanggung jawab itu turun kepadanya. Ibu tahu kamu anak baik, Dinda adikmu juga. Ibu tak akan keberatan memiliki menantu sepertimu. Mungkin, ini cara Tuhan mempersatukan kalian. Ammar jodohmu.” ‘Benarkah?’ dalam hatiku terus dipenuhi oleh tanda tanya besar atas semua kalimat yang keluar dari bibir wanita yang telah melahirkan suamiku. ‘aku jodoh Mas Ammar?’ batinku dengan kebimbangan di dalamnya. Setelahnya, aku diajak ibu untuk berkeliling rumah ini. Rumahnya dua kali lebih luas dari rumah emak, berikut dengan dua lantai di dalamnya. Kamar ammar berada di lantai dua berada di dekat tangga. “Khadijah, ini kamar kalian. Masuklah!” Ibu mengetuk pintu dua kali, hingga benda tersebut terbuka, ibu langsung permisi. Ditepuknya punggungku sebelum benar-benar meninggalkanku bersama Mas ammar. Dengan ragu aku masuk di dalamnya, di tempat yang ukurannya jauh lebih luas dari kamarku. Sebuah kasur yang tinggi dengan sprei warna coklat, melebihi dipan punyaku. Juga jejeran buku di sisi dinding, layaknya sebuah mini perpustakaan. Tampak juga meja kecil dan laptop yang kini dalam keadaan membuka. Sepertinya Mas Ammar baru saja memainkan benda tersebut, terlihat dari cahaya yang masih menyala dari benda tersebut. “Masuklah!" Aku terus mengayunkah langkah. Namun, manik mata ini seakan tak puas untuk menjelajahi setiap inci ruangan ini. Benar-benar terlihat rapi dilihat dari sisi manapun, membuatku kagum. “Ini tempat tidurmu,” ucap Mas ammar sambil menunjuk bed tinggi miliknya, “Dan ini tempat pakaianmu,” ucapnya yang kini menunjuk bagian sisi lemari. Ya, almarinya lebar memliki 3 pintu dan aku diberi satu bagian diantaranya. “Pakaianmu sudah aku masukkan semuanya,” ucapnya yang kini membuka pintu lemari jatahku. “Kamar mandi ada di sana,” ucapnya sambil menunjuk sebuah ruang di dekat pintu kamar. “Tidurmu nanti dimana, Mas?' tanyaku bingung. Disini hanya ada satu kasur. Mungkinkah ia akan tidur beralaskan keramik lagi? “Tak usah khawatir. Aku akan tidur disini, tidak seranjang denganmu,” ucapnya yang kini menarik kasur yang berada di bawah kasur jatahku. Ya, spring bed tinggi ini, ternyata memiliki kasur lagi di bawahnya, yang bisa ditarik dan digabungkan menjadi satu. “Au tak akan bermalam lagi di atas lantai. Tulangku sakit semua,” keluhnya. “Oh ya ... ini batas kita.” lelaki itu menunjuk bagian kasur dan batas-batas lainnya. Hingga sisi kanan yang berisi perpusatkaan dan buku-buku beserta meja kecil layaknya kantor rumah itu menjadi bagiannya. Sedangkan aku mendapatkan sisi kiri, dimana hanya terdapat pintu yang menunjukkan dunia luar. Ya, kamar ini memiliki sebuah balkon, dengan 2kursi di sudut bagian itu. Aku mengangguk. Ammar layaknya seorang petugas hotel yang menjelaskan satu persatu fasilitas yang ada. “Kamu kenapa tertawa?” “Gak papa, Mas. Aku hanya ... sudahlah, tidak penting.” “Iya, kamu benar. Semua tentangmu tidak penting,” ucapnya yang benar-benar menyakitkan hatiku. Disini aku ada, tapi serasa tak ada. Ia terus menghadirkan benteng di rumah tangga kami. Mungkinkah aku bisa sabar menghadapi sikap Ammar yang semakin lama semakin keterlaluan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN