“Aku ... e ....” “Bagaimana aku bisa tidak mencintaimu, Jah? Sedangkan sejauh ini namaku selalu kau sebut dalam doamu. Kau serahkan hatimu dengan sang maha pembolak balik hati manusia.” “Mas ammar ....” “Hm, apalagi?” tanyanya. “Jangan marah-marah.” “Bagaimana aku tidak marah sedangkan kamu membuatku kesal.” “Dijah minta maaf, Mas.” “Tidak gratis.” “Maksudnya?” “Ya bayar.” “Bayar pakai apa? selama ini Mas Ammar gak pernah beri Dijah uang belanja.” Lelaki itu menatapku untuk sesaat, lalu mengambil dompet dari saku celananya. Dibukanya benda tersebut, hingga menampilkan beberapa lembaran uang seratus ribuan. Namun, yang diambilnya bukanlah uang yang itu, ia mengambil bagian yang terselip, dimana lembaran uang itu kini berbentuk gulungan layaknya rokok, yang sudah pipih. “Ini jat

