Bab.16 Kekhawatiran Mas Ammar

1255 Kata

Sampai fajar menyongsong, pelupuk mataku belum mampu tertutup. Aku masih asyik bergerilya menatap setiap inci wajah lelaki di sebelahku yang tengah mendengkur. Bersamaan dengan irama jantungku yang berirama tak karuan. Tak ada sedikitpun waktu terlewat untuk terus menikmati paras tampannya. Hingga sayup-sayup azan terdengar, mata ini justru memberat. Aku dikagetkan dengan sentuhan di tanganku secara berulang. “MasAmmar,” ucapku yang kini menatap muka lelakiku. Wajahnya sudah cerah laksana matahari terbit, dan meninggalkan jejak hangat. Apalagi ketika lengkungan senyum itu diterbitkan, membuat hati ini semakin lumer karenanya. “Dijah, sudah subuh. Ayo bangun.” Suara azan saling saut menyaut, memaksa tubuh ini untuk bangkit, tak berlarut dengan kantuk. Biasanya aku yang terbangun terlebi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN