“Dek, kamu kenapa?” Lagi-lagi hanyaisak tangis yang terdengar. “Istigfar, Dek.Ada apa?” “Dinda kangenemak, Mbak. Dinda di rumah. Dinda rindu.” “Dek, sabarya. Mbak kesana sekarang.” Aku mematikanpanggilan itu secara sepihak. Lalu pamit kepada Mas Ammar untuk pulang ke rumahemak. Mas Ammar mengijinkan.Ia juga turut serta menemani. Mungkin, lelaki yang dari tadi menguping pembicaraan kami pun khawatir dengan keadaan Dinda, samasepertiku. Aku harus memaklumi. Dengan kendaraanmatic milik Mas Ammar kita memecah jalanan kampung, dimana aktifitas pagi terlihatsangat sepi. Sebagian besar mengandalkan pendapatan dari sawah, hingga di jam seginijarang sekali para tetangga yang berada di depan rumah. Tak butuh waktulama untuk sampai di rumah masa kecilku. Rumah kecil penuh kenangan bersama bap

