“Sudah, jangan bahas, Din. Kita makan siang dulu.” “Tapi, Mbak…” Mas Ammar mendekatkan jarinya ke bibir, memberi tanda diam untuk wanita cantik yang duduk di depanku. kini, terlihat ia mengurungkan niatnya. Kami menikmati makanan ini dalam keheningan, tak ada lagi suara yang terdengar selain benturan sendok dan piring yang beradu. Aku hanya menunduk sambil mencoba menikmati, sedangkan pikiranku terus berkelana dengan apa yang terjadi. Bagaimanapun hidup dalam serumah dengan cinta segitiga seperti ini tidaklah nyaman. Lalu, bagaimana dengan istri rasullullah yang bisa berbagi hati untuk para istrilainnya? Nama Khadijah yang disematkan oleh almarhum bapak, nyatanya tak lantas membuat hatiku setegar dan seikhlas mereka. Hanya dengan melihat Mas Ammar dan Dinda dalam satu ruang saja, suda

