Sesion 2 Bab.3

1110 Kata

Seketika aku kehilangan kekuatan untuk berdiri. Tubuhku ambruk. Lemas. Mbak Sri yang baru saja datang terlihat keheranan menatap kami. Ia membantuku untuk duduk dan bertopang ke dinding warna putih. Air mata turut runtuh, yang terus membasahi pipi dan mulai terjatuh ke tikar yang aku duduki. Masih teringat jelas senyuman Mas Ammar kala menatapku tadi. Pelukannya saja masih bisa kurasakan meskipun sudah bermenit-menit yang lalu ia pergi. Aku menggeleng, serasa tak menerima kenyataan ini. “Bu, ini hanya kabar burung. Mas Ammar baik-baik saja. Ia berjanji dengan Dijah akan pulang lebih cepat.” Aku tersenyum, mencoba menguatkan diri. Berharap semua ini hanya kabar yang salah. Keluarga Mas Ammar pernah salah melamar, bisa jadikan ini salah kabar berita juga? “Mas mu Adi sudah nyusul ke lokas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN