Part 20

1509 Kata
Sejak tadi, Stevi mendiamkan Alfian. Bahkan gadis itu membiarkannya, makan sendiri. Niat hati ingin dimanja, tapi sang gadis malah salah paham. Alfian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa bingung harus bagaimana sekarang? Jika salah berbicara, bukannya selesai masalahnya yang ada hanya bertambah masalah. Merasakan kegelisahan Alfian, membuat Stevi risih. "Bisa diem enggak?" bagaimana tidak kesal, sejak masuk kedalam rumah Alfian hanya berjalan kesana kemari tidak tahu arah. "Kamu marah? Kan, harusnya aku yang marah." Ucap Alfian, laki laki itu memilih duduk di sebelah Stevi. "Aku enggak bakal marah kalau kamu mau jelasin, siapa cewek yang tadi siang." Alfian mengangguk, mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Itu namanya Bella," lirih Alfian, sungguh dirinya dan Bella tidak ada hubungan apapun. Awalnya, Alfian hanya ingin tahu apa gadisnya cemburu atau tidak. Ternyata, Stevi cemburu dan Alfian kebingungan harus bagaimana agar Stevi tidak marah padanya. Stevi menatap Alfian geram, kenapa hanya menyebutkan nama. Apa laki laki itu tidak tahu, kalau Stevi juga ingin tahu ada hubungan apa Alfian dengan gadis bernama Bella itu? "Jelasin!" Alfian menghembuskan nafas berat, terlalu malas membalas membahas perempuan lain di hubungan mereka. "Mau, makan dulu." "Yaudah, makan aja sendiri." "Sayang, suapin aku dong." Pinta Alfian dengan raut wajah sendu, membuat Stevi tidak tega. Akhirnya, gadis polos itu luluh dalam waktu singkat. "Jelasin dulu Fian, kalau aku udah tau dia siapa. Aku suapin, kamu makan." Ucap Stevi. Alfian mengangguk. "Namanya Bella, dia bukan siapa siapa aku. Dia, cuma pelanggan gojek yang biasanya minta di anter jemput pas warungnya rame orderan. Biasanya, aku yang kesana. Tapi tadi aku enggak sempet, karena aku lagi marahan sama kamu. Maaf banget, tadi aku ninggalin kamu di sekolah." Alfian menjelaskan apa yang terjadi tanpa adanya kebohongan sedikitpun, baginya sekali berbohong akan ada kebohongan selanjutnya. "Kenapa akrab banget?" Alfian menggaruk hidungnya yang tidak gatal, sepertinya perlu berguru pada sang kakak tentang bagaimana cara menghadapi pacar yang posesif. "Tiap hari ketemu, mungkin itu yang buat aku sama dia akrab. Masa iya sih, sama pelanggan jutek. Nanti, kabur dong dia." "Kamu, ngertiin aku kan? tanya Alfian khawatir jika Stevi tidak mau mempercayai dirinya lagi. Stevi mengangkat bahu acuh, dalam hati gadis itu begitu percaya pada Alfian. Hanya saja, rasa trauma dalam sebuah hubungan memaksa gadis itu untuk bersikap tegas. Stevi berjalan ke dapur untuk mengambil piring dan air minum, bukannya diam menunggu Alfian malah mengikuti gadisnya kemanapun. "Ngapain sih, aku cuma mau ambil piring aja kok." "Laper banget yang, dari tadi di marahin terus ya Allah." Keluh Alfian, membuat Stevi merasa gemas. Akhirnya Alfian memilih diam duduk di kursi dapur Stevi, di sana hanya ada satu meja dan dua kursi. Alfian, benar benar merasa lapar. "Sini deketan, kamu manja banget sih kan biasanya makan sendiri." Alfian tidak berniat menjawab, perutnya sudah meronta ronta ingin segera di isi. Dengan telaten, Stevi menyuapi Alfian. Seolah sadar, jika Alfian tidak kalah tampan dari Arya. Kenapa, di saat bersama Alfian bayang bayang masa lalu bersama Arya terus menghantui gadis itu. "Kok ngelamun sih," Alfian menyadari, jika Stevi sedang memikirkan sesuatu. "Kamu, kenapa manja banget sama aku?" tanya Stevi, mengalihkan pembicaraan. Tidak mungkin, akan mengatakan bahwa sejak tadi gadis itu memikirkan Arya. Rasa cintanya, memang masih ada. Namun, bukan berarti Stevi ingin kembali pada laki laki yang sudah membuatnya merasakan sakit hati. "Manja cuma sama kamu aja, salah ya aku pengen di manja sama kamu?" "Enggak." Jawab Stevi singkat, lalu kembali melanjutkan kegiatannya menyuapi Alfian. Keduanya sama sama diam, larut dalam pikiran masing masing. Sampai, Stevi selesai menyuapi Alfian makan. Mereka, kembali ke ruang tamu. Ada banyak pertanyaan, dalam benak Alfian tapi merasa tidak tepat waktu untuk mengatakan semuanya sekarang. "Udah sore, kamu enggak pulang?" "Kenapa nyuruh pulang? Enggak suka aku ada disini? Lebih nyaman deketan sama Arya?" tanya Alfian. Stevi menggeleng, bukan karena tidak nyaman. Hanya saja, ini sudah terlalu sore jika Alfian masih berada di rumahnya. Apa kata tetangga yang tau jika Alfian berada di rumah gadis itu? "Bukan gitu Fian, aku nyaman kamu ada disini." "Terus, kenapa nyuruh aku pulang?" Stevi meraih tangan Alfian, tangan laki laki itu sedikit kasar. Mungkin, karena sering mengendarai motor setiap hari. "Ini udah sore Fian, enggak enak sama tetangga. Kamu mau, kalau aku jadi omongan orang sini?" "Enggaklah, aku enggak setega itu biarin kamu jadi bahan ghibah orang orang." "Makanya, kamu pulang dulu gih. Besok, kesini lagi enggak apa apa. Setiap hari kita juga ketemu di sekolah," ujar Stevi, berusaha memberikan pengertian pada Alfian. Butuh waktu yang cukup lama untuk Alfian mengangguk, ada rasa malas untuk pulang. Apalagi, bayang bayang Arya selalu mengikuti Stevi. Sepertinya, Arya berusaha keras untuk merebut Stevi darinya. "Oke, aku mau pulang." Alfian menghela nafas pelan, sebelum melanjutkan ucapannya. "Tapi ada syaratnya," lanjut Alfian. "Hm, apa syaratnya?" tanya Stevi gemas, ada ada saja tingkah Alfian mau pulang tapi mengajukan syarat. "Mau peluk." Mendengar syarat dari Alfian, membuat Stevi tertawa. "Kok, ketawa sih yang." Kesal Alfian. "Udah buruan pulang, udah hampir Maghrib." "Ck! peluk dulu ya." Pinta Alfian, membuat Stevi mengangguk. "Hm, sini peluk." Tanpa membuang waktu, Alfian menarik Stevi ke dalam pelukannya. Ada rasa nyaman yang sulit untuk di jelaskan, Alfian tahu saat ini dirinya benar benar menyayangi Stevi dan juga ingin melindungi gadis itu. "Jangan pernah tinggalin aku ya," lirih Alfian. Stevi tidak menjawab apapun, gadis itu juga masih merasa ragu. Bukan meragukan ketulusan laki laki ini, di lihat bagaimana sikap Alfian kepadanya. Membuat Stevi tahu, kalau Alfian sangat berbeda dari Arya. Sumpah demi apapun, Stevi ingin sekali melupakan Arya. Kejadian tadi di UKS, benar benar di luar dugaan gadis itu. Susah payah untuk move on, tapi dengan begitu mudah mereka di pertemukan. "Kok diem sih?" Alfian melepaskan pelukannya, menatap kekasihnya yang sejak tadi tidak berkutik. "Eh, gimana?" Alfian berdecak sebal, merasa jika Stevi sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Bukan Stevi namanya, jika tidak membuat Alfian penasaran. "Tadi, aku bilang. Jangan pernah, tinggalin aku. Tapi kamu diem aja," rajuk Alfian, membuat Stevi merasa tidak enak. "Iya, aku enggak akan ninggalin kamu. Udah ya, pulang dulu. Udah sore nih, nanti di cariin Abang kamu loh." Alfian mengangguk, baru ingat jika sekarang dirinya tidak tinggal sendiri. Namun, apa peduli Bagas jika Alfian pulang malam? Sepertinya, kejadian kemarin malam sudah Alfian lupakan. Disaat dirinya pulang dalam keadaan yang kacau, Bagas begitu khawatir padanya. Sampai menggantikan pekerjaan sang adik, dan berakhir dengan mengantarkan Stevi pulang. "Tunggu dulu Fian," cegah Stevi, gadis itu merasa ada yang aneh dengan wajah Alfian. Merasa Stevi tidak ingin di tinggal pulang, membuat senyum Alfian mengembang. "Tadi kamu loh yang nyuruh aku pulang, masih kangen ya?" Sepertinya, sikap percaya diri Bagas mulai menular pada sang adik. "Ada bekas lebam di wajah kamu, kamu berantem?" Diam. Laki laki yang sejak tadi mengembangkan senyumnya kini tidak tahu harus menjawab apa. Bahkan, tidak pernah terfikir jika Stevi akan bertanya seperti itu. Luka di bagian wajahnya memang tidak banyak, tapi bekasnya belum hilang padahal sudah dua hari ini. "Bener, kamu berantem?" Stevi mengulangi pertanyaannya. "Oh, ini." "Berantem?" Alfian menggeleng, mana mungkin mengaku jika bekas luka ini karena Arya. "Aku jatuh dari motor, anak baik kayak aku mana pernah berantem yang. Ada ada, aja." Tidak siap mendapatkan pertanyaan lagi, Alfian kembali memakai jaketnya dan berniat untuk pulang. Baru saja Alfian ingin mengambil kunci motor yang ada di atas meja, ucapan Stevi menghentikan pergerakan tangannya. "Mau jujur, atau aku enggak mau ketemu sama kamu lagi!" Jika Alfian mau mengatakan yang sejujurnya, mungkin Stevi tidak sampai mengatakan hal tersebut. Bagi Stevi, dalam suatu hubungan tidak boleh ada kebohongan apapun. "Kok gitu sih, kan aku udah jujur. Mana berani, aku bohong sama kamu." Kebohongan pertama Alfian pada Stevi baru saja dimulai, jika bukan karena ancaman Arya yang akan menyakiti gadisnya kebohongan ini tidak akan pernah ada. "Terlalu privasi ya, sampai orang asing kayak aku enggak boleh tau." Stevi tertawa hambar, baru saja ingin membuka hati tapi Alfian sudah berulah. "Aku pulang." Bukannya berusaha memberikan penjelasan, laki laki itu malah memilih pergi. Entah apa yang sudah terjadi, sampai Alfian memilih diam dan berbohong. "Di saat, aku mulai berani dan mulai terbiasa ada kamu di hidupku. Tapi kamu malah kayak gini," Setelah memastikan Alfian sudah pulang, Stevi menutup pintu rumahnya. Terlalu malas untuk menanyakan apa yang sudah terjadi pada Bagas, Bagas adalah satu satunya harapan untuk tahu apa yang sudah terjadi pada Alfian. Bukannya gengsi, tapi memang setiap orang mempunyai privasi dalam hidupnya. Terkadang, seseorang yang sudah di anggap penting malah menganggap kita sebagai orang lain. Orang yang awalnya begitu kekeh memperjuangkan kita di awal, ternyata begitu mudah mengabaikan di saat seseorang sudah luluh. Sedekat apapun, yang namanya privasi tetaplah privasi. Terlalu lama melamun, akhirnya gadis itu tersadar. Tidak terasa, jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Sebentar lagi Maghrib, gadis itu bergegas untuk mandi. Mencoba bersikap bodo amat, dengan sikap Alfian yang mudah berubah. Mungkin memang benar, kita tidak boleh terlalu percaya pada orang baru. Jika orang yang sudah lama bisa kapanpun mengkhianati kita, apalagi Alfian yang notabene nya orang baru di kehidupan Stevi. Sekarang Stevi bingung, harus bertahan dengan Alfian atau lebih baik mundur secara perlahan. Baru saja gadis itu mau membuka hati, tapi Alfian begitu mudah membuat Stevi kembali ragu. "Apa, aku enggak pantas untuk merasakan cinta dan bahagia?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN