Bel pulang sekolah sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu, tapi Stevi masih belum menemukan Alfian. Gadis itu mencari Alfian, bukan karena ingin di antarkan pulang tapi Stevi ingin menjelaskan apa yang sudah terjadi di UKS tadi pagi. Stevi, sudah mencari ke semua tempat yang yang ada di sekolah. Bahkan, sudah lebih dari sepuluh kali Stevi kembali ke parkiran hanya untuk memastikan kalau motor matic milik Alfian masih ada disana.
Karena sudah kelelahan, dan sekolah mulai sepi. Gadis itu memilih untuk istirahat sejenak di depan perpustakaan, pesan yang di kirimkan ke Alfian juga belum di balas. Stevi menunduk, memperhatikan tali sepatunya yang terlepas.
"Kenapa, belum pulang?"
Stevi mendongak ke atas, ada Alfian yang menatapnya curiga. Tidak ada senyuman disana, membuat Stevi sedikit canggung pada laki laki itu.
"Kamu dari mana Fian?"
"Tidur di perpustakaan," jawab Alfian enteng. Membuat Stevi menggeleng tidak mengerti, gadis itu sudah mencari kemana mana ternyata Alfian asik tidur di perpustakaan.
"Kamu, bolos jam terakhir?" tanya Stevi lagi, mereka sudah kelas XII sudah saatnya memanfaatkan waktu dengan baik.
Alfian mengangguk, moodnya sedang buruk. Akan menjadi masalah jika ikut pelajaran terakhir, apalagi jam terakhir adalah bahasa Inggris.
"Kenapa harus bolos sih, kan kamu udah kelas XII harus rajin masuk kelas persiapan ujian kelulusan." Stevi mengikuti Alfian yang berjalan menuju kelasnya, membuat gadis itu berdecak sebal. Merasa, terabaikan.
"Bukan, urusan lo!" Tegas, Alfian.
Stevi tersentak saat Alfian berbicara padanya seperti itu, apa Alfian masih marah?
"Fian, aku mau ngomong." Stevi menahan lengan Alfian, saat laki laki itu hendak keluar kelas.
"Ck! dari tadi lo udah ngomong."
"Aku minta maaf, maafin aku ya Fian." Gadis itu, memohon pada Alfian. Tapi Alfian, pura pura tidak peduli.
"Enggak usah di bahas lagi, ayo gue anterin pulang." Jujur, rasa cemburunya begitu besar tapi Alfian sadar mendapatkan hati Stevi tidak mudah.
"Aku, enggak mau pulang kalau kamu masih marah. Biar aku jelasin dulu," ujar Stevi, yang masih kekeh akan memberikan penjelasan pada Alfian.
"Gue udah liat sendiri, buat apa di jelasin?"
Benar, Alfian memang sudah tahu apa yang terjadi di UKS. Tapi semua yang Alfian lihat, tidak sama seperti apa yang terjadi. Jika Alfian tahu apa yang sebenarnya terjadi, tidak mungkin cowok itu marah padanya. Alfian berjalan keluar kelas meninggalkan Stevi sendirian, memberikan jeda dalam hubungan mereka. Agar Stevi, mampu berfikir apakah yang di lakukannya sudah benar.
"Kenapa sih Fian enggak mau dengerin aku, kalau kayak gini kan malah salah paham." Gerutu Stevi, mau tidak mau gadis itu mengikuti Alfian keluar dari kelas.
Stevi terdiam, tubuhnya mendadak kaku untuk bergerak. Disana, Alfian tertawa bersama seorang gadis. Tentu saja, Stevi tidak mengenal siapa gadis itu. Kalau di perhatikan, gadis itu bukan murid yang bersekolah disini. Lalu, untuk apa ada disini? Untuk menemui Alfian?
"Harusnya, lo nunggu gue aja. Biar, gue yang kesana kayak biasanya."
Samar samar, Stevi mendengar ucapan Alfian. Stevi berusaha mencerna apa yang baru saja di dengar, jadi Alfian sering mengunjungi gadis itu? Mereka terlihat sangat akrab, masih ingat beberapa menit yang lalu Alfian begitu marah padanya. Namun, saat berbicara dengan gadis lain kenapa Alfian menjadi hangat.
"Lo, enggak sibuk kan?" Tanya gadis itu, Alfian langsung menggeleng.
"Udah jadi kewajiban gue nganterin lo kemana-mana, santai aja."
"Yaudah, ayo sekarang aja."
Perlahan, punggung Alfian dan gadis cantik itu mulai menjauh. Apa Alfian lupa, jika Stevi masih ada disini. Gadis itu tersenyum getir, ternyata Alfian sama saja seperti Arya.
"Dia cantik, lebih pantas sama Alfian." Gumam Stevi.
--
Stevi melangkahkan kakinya dengan malas, seperti kehilangan semangat untuk pulang. Jalan yang biasanya di lewati, kenapa terasa begitu jauh? Gadis itu menghembuskan nafas kasar, hatinya merasakan kecewa tapi Stevi tidak boleh marah. Jika nanti, Alfian berusaha memberikan penjelasan maka Stevi harus mengerti keadaan laki laki itu.
Sebuah motor berhenti tepat di sebelah Stevi, membuat gadis itu terkejut karena Arya menghentikan motornya mendadak. Ya, itu adalah motor Arya.
"Tumben, lo pulang sendiri. Pawang lo yang sok jagoan mana?" Arya, menoleh kearah kanan dan kiri memastikan bahwa Alfian tidak ada disini.
"Aku, enggak punya pawang." Jawab Stevi, lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan Arya.
"Maksudnya, Alfian. Kan, biasanya dia selalu jadi pacar siaga." Sindir Arya, setengah mati laki laki yang berstatus mantan Stevi itu menahan cemburu.
Stevi menghadap Arya, kenapa laki laki itu suka mencari masalah dengannya?
"Dia, sibuk." Jawab Stevi Ragu.
"Yakin sibuk? Lo bukan prioritas kali."
Apa yang dikatakan Arya, tidak sepenuhnya salah. Bahkan, Alfian meninggalkannya begitu saja saat laki laki itu bersama seorang gadis.
Melihat perubahan wajah Stevi, membuat Arya tersenyum senang. Langkah selanjutnya, adalah bagaimana cara membuat Stevi semakin jauh dari Alfian.
"Gue, kasih tau ya. Sibuk itu bohong, yang bener lo prioritas dia apa bukan?"
"Bukan urusan kamu," sela Stevi cepat.
Dalam hubungannya, tidak ada seorangpun yang boleh ikut campur.
"Oke, gue minta maaf. Gimana, kalau gue anterin lo pulang." Tawar Arya, berharap Stevi mau di antarkan pulang.
Stevi menggeleng, meskipun rasanya sudah tidak sanggup berjalan tapi gadis itu tidak akan menambah masalah. Bagaimana, jika Anya tahu?
"Makasih tawarannya, aku duluan."
Arya kecewa saat Stevi menolak ajakannya, tapi sebisa mungkin laki laki itu tidak akan menganggu Stevi secara langsung.
---
"Kok jalan, tadi kan sama mantan."
Stevi terkejut mendengar suara Alfian, kebiasaan sejak lama jika berjalan pasti menunduk. Entah sejak kapan, Alfian ada disini.
"Tau, dari mana?" tanya Stevi heran, pasalnya tadi Alfian pulang terlebih dahulu.
"Gue tadi balik ke sekolah buat jemput lo, dan apa yang gue liat? lo berduaan sama Arya di pinggir jalan." Ucap Alfian.
"Fian, aku bisa jelasin."
Alfian mengangguk, sudah cukup hari ini mendiamkan gadisnya. Bisa gila, jika selalu jauh dari Stevi.
Stevi tersenyum, karena Alfian mau mendengarkan penjelasannya.
"Yang di UKS," Stevi menghela nafas berat, memberanikan diri untuk menjelaskan apa yang terjadi sampai gadis itu bisa sampai bersama Arya di UKS bahkan juga menyuapi sang mantan.
"Aku tadi lagi beresin buku di perpustakaan, terus Satria dateng nyariin aku. Awalnya, aku enggak mau ke UKS. Tapi Satria, maksa aku buat kesana. Aku takut kamu marah, tapi aku juga bingung Fian." Ujar Stevi.
"Terus."
"Aku terpaksa kesana, kamu tau kan kalau aku enggak tega sama orang lain?"
"Iya, lo emang enggak tega sama orang lain. Tapi lo tega sama gue,"
Stevi meraih tangan Alfian, menggenggam erat tangan kekasihnya. Berharap, Alfian mau mengerti dirinya. Sedikitpun Stevi tidak berniat mengkhianati Alfian, meskipun gadis itu masih mencintai Arya.
"Kamu salah paham Fian, tadi Arya badannya panas banget. Dia, enggak kuat makan sendiri. Aku, udah coba nolak karena aku bukan siapa siapa lagi. Tapi, dia bilang. Ini, yang terakhir kali dia gangguin aku makanya aku mau. Aku, ngelakuin itu semua karena aku terpaksa Fian."
Alfian tahu, karena Alfian mengawasi Stevi sejak gadis itu berada di perpustakaan. Jika ditanya mengapa Alfian tidak mencegah gadis itu menghambat Arya, karena bagi Alfian sebuah hubungan harus ada rasa percaya satu sama lain. Alfian sangat mempercayai Stevi, tapi tidak dengan Arya.
"Gue marah sih, sebenarnya. Tapi gue bisa apa?"
Alfian turun dari motornya, mengeluarkan plastik berisi makanan. Dan langsung memberikannya, pada Stevi.
"Aku, belum laper." Ucap Stevi.
Alfian mendengus kesal, kenapa Stevi tidak peka!
"Emang tadi, pas lo nyuapin Arya nunggu dia laper hm?"
Stevi menggeleng, gadis itu menyuapi sang mantan karena laki laki itu harus segera minum obat. Detik berikutnya, Stevi baru menyadari jika Alfian cemburu padanya.
"Kamu, cemburu?" Stevi, berusaha menahan diri agar tidak tersenyum. Jadi seperti ini, rasanya di cemburui?
"Iyalah, lo pikir aja sendiri!" Ketus Alfian kesal, lalu menarik tangan Stevi untuk masuk ke dalam rumah sang gadis.
Gadis itu mengikuti langkah Alfian, lalu teringat sesuatu.
"Tadi, aku juga cemburu loh liat kamu jalan sama mbak cantik."
"Hah?"
Alfian tiba tiba menghentikan langkahnya, membuat Stevi menabrak punggung tegap Alfian yang ada di hadapannya. Sudah tahukan, kalau gadis polos itu selalu menunduk saat berjalan.
"Kenapa berhenti sih, sakit nih." Gerutu Stevi, membuat Alfian tersenyum manis.
Ada rasa bahagia, saat Stevi mengatakan cemburu jika Alfian bersama perempuan lain. Tapi sayang, Stevi cemburu bukan pada orang yang tepat.
"Mbak cantik," ulang Alfian.
"Iya, yang tadi ke sekolah. Terus, kamu bilang harusnya kamu yang kerumah dia kayak biasanya. Hm, Fian. Dia siapa?"
"Oh." Ucap Alfian, membuat Stevi kesal.
"Ayo masuk, mana kunci rumah kamu. Enggak sopan loh, ada tamu tapi enggak suruh masuk." Lanjut Alfian.
Bukannya membuka pintu dengan cepat, gadis itu malah menatap Alfian curiga. Kenapa, hari ini Alfian sangat pantas di curigai? Apa jangan-jangan, gadis yang bersama laki laki itu adalah selingkuhannya. Atau mungkin, malah Stevi yang kembali di jadikan selingkuhan.
Kepala Stevi terasa pening, membayangkan kembali di jadikan selingkuhan terasa sangat menyakitkan.
"Hey, kok diem. Mikirin apa hm?" Alfian bertanya seolah tidak pernah melakukan kesalahan apapun.
"Dia, siapa?"
Dalam hati, Stevi berdoa semoga perempuan yang tadi menghampiri kekasihnya bukan selingkuhan Alfian.
"Emang, penting banget hm?"
"Dia selingkuhan kamu, atau aku yang kamu jadiin selingkuhan. Jawab, aku Fian."
Alfian mengacak rambut Stevi gemas, rasanya senang sekali membuat gadis polos itu cemburu.
"Kamu, masih trauma sampai mikir di jadiin selingkuhan."
"Jawab aku Fian!"
Alfian terkejut, mendengar suara Stevi yang begitu tegas. Kedua mata gadis itu juga seperti menahan tangis.
"Dia, bukan siapa siapa." Alfian, mengusap air mata Stevi yang membasahi pipi gadis itu. Ada, perasaan menyesal sudah membuat gadisnya menangis.
"Kamu, bohong. Bahkan, kamu rela ninggalin aku demi dia kan? Kalau bukan selingkuhan kamu, mana mungkin kamu kerumah dia setiap hari."