Alfian mengabaikan suara Bagas, kakak laki lakinya itu entah mengapa menjadi lebih cerewet sekarang. Semua itu berawal dari, Alfian pulang kerja dengan wajah babak belur. Malas memperpanjang masalah dengan Arya, yang Alfian inginkan hanya hidup berjalan dengan semestinya dan tenang bersama Stevi. Ngomong ngomong soal Stevi, Alfian baru ingat sejak kemarin tidak menelvon sang gadis. Apa gadis itu baik baik saja? Apa gadis itu, khawatir padanya?
"Heh!" Bagas menarik tangan Alfian cukup keras.
"Ck! Apa lagi?" tanya Alfian sinis, sudah cukup berlama-lama bersama Bagas. Alfian, sudah sangat merindukan Stevi.
"Sarapan dulu," Bagas kembali menarik Alfian untuk duduk dan menghabiskan makanannya.
Bagas mulai jengah, kenapa Alfian sangat sulit untuk di ajak kompromi. Jika mereka sekarang hanya tinggal berdua, setidaknya mereka harus sehat.
"Gue, hampir telat." Ucap Alfian, dengan cepat melahap makanan yang sudah di sediakan oleh Bagas.
"Masih pagi, enggak mungkin lo telat. Hargain gue sedikitlah. Al, gue rela bangun pagi demi beliin sarapan buat lo. Biar kita, bisa sarapan bareng." Bagas membereskan, bungkus makanannya dan memasukannya ke dalam plastik.
Alfian memutar bola matanya malas, terlalu pagi untuk memulai drama bersama sang kakak. Setelah menghabiskan sarapannya, tidak perlu berpamitan Alfian langsung menyambar jaket dan kunci motornya. Bukan karena takut terlambat, Alfian hanya tidak ingin kalah cepat dari Arya.
"Salah apa gue, punya adek kayak Alfian. Beruntung lo Al, hari ini gue baik sama lo!" Teriak Bagas, padahal sang adik sudah berangkat ke rumah Stevi.
Alfian mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, beruntungnya jalanan masih sepi. Sesampainya di rumah Stevi, Alfian yang baru saja ingin turun dari motor mengurungkan niatnya karena Stevi sudah keluar rumah terlebih dahulu.
Dalam hati Alfian, ada rasa bersalah karena kemarin tidak memberikan kabar pada Stevi.
"Pagi, sayang." Sapa Alfian, gadis itu nampak cemberut sejak tadi. Alfian tersenyum, terlalu pagi untuk berdebat dengan Stevi.
"Pagi, Fian."
"Kamu udah sarapan, maaf ya tadi lama. Ini gara gara si Bagas nyuruh aku sarapan dulu, padahal aku pengen sarapan berdua sama kamu." Jelas Alfian.
"Hm, aku tau kok."
"Tau, dari mana kamu?" tanya Alfian heran.
Stevi membenarkan rambutnya, lalu menunjukkan isi chatnya dengan Bagas.
"Abang kamu."
Alfian sempat terkejut, tapi laki laki itu tetap bersikap tenang.
"Sejak kapan, punya nomor Bagas?" tanya Alfian lagi, terselip nada tidak suka saat tahu gadisnya menyimpan nomor Bagas.
"Semalam,"
"Dia main kesini?"
Stevi menggeleng, tidak ada laki laki lain yang pernah masuk kedalam rumah sederhana miliknya selain Alfian.
"Aku enggak sengaja ketemu Abang kamu, terus dia nganterin aku pulang."
Jika tidak ingat tujuannya kesini adalah untuk berangkat bersama Stevi, mungkin Alfian akan bertanya lebih banyak apa saja yang gadis itu lewati saat dirinya sibuk berkutat dengan soal soal ujian pemberian dari Bagas. Sempat terlintas sebuah pertanyaan untuk Bagas, apa sang kakak berniat menikung Stevi darinya?
Alfian menepis, segala kemungkinan besar yang bisa saja terjadi.
"Yaudah, sini aku pakein helm. Maaf, kemarin aku enggak ada kabar." Sesal Alfian, kenapa bisa sampai melupakan Stevi?
Stevi mengangguk, meskipun ada rasa khawatir tapi jika sekarang Alfian baik baik saja tidak perlu di permasalahkan.
"Besok jangan di ulangi, aku khawatir." Ucap Stevi menunduk, sejujurnya sangat malu harus mengakui perasaannya di depan Alfian.
Alfian tersenyum, apa itu tandanya Stevi mulai perhatian padanya?
"Enggak akan di ulangi,"
Setelah itu, mereka berdua berangkat ke sekolah bersama. Tidak ada percakapan apapun, keduanya sama sama diam. Bagi, Alfian tidak perlu banyak berbicara untuk mengungkapkan perasaannya. Cukup dengan pembuktian.
Stevi tersenyum puas saat berhasil menyusun buku yang ada di perpustakaan, gadis itu memilih menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan daripada ke kantin. Setelah selesai, Stevi duduk di kursi dekat jendela. Memperhatikan semua murid yang sedang bercanda bersama teman temannya, seketika gadis itu merasa miris. Stevi hanya mempunyai Viola, mereka juga jarang bersama. Semua itu karena Niko yang terlalu bucin, tidak mengizinkan gadis itu kemana-mana tanpa dirinya. Stevi menghembuskan nafas berat, sejak kecil hidupnya selalu kesepian.
"Lo, yang namanya Stevi?"
Stevi tersadar dari lamunannya, mengamati cowok jangkung di hadapannya itu. Namanya Satria, Stevi tentu mengenalnya, salah satu anggota osis yang terkenal cerdas. Tidak hanya cerdas, cowok itu juga sering di sebut kulkas berjalan. Karena sifatnya terlalu dingin pada semua teman temannya.
"Iya, aku Stevi."
"Lo kenal Arya?" tanya Satria.
Stevi mengangguk, kemudian menggeleng. Membuat Satria berdecak sebal.
"Dia, lagi sakit. Enggak mau minum obat, malah minta lo dateng ke UKS." Ucap Satria, membuat Stevi bingung memangnya dimana Anya?
"Aku lagi sibuk, kan dia punya pacar. Panggil, aja pacarnya."
"Anya lagi ke luar kota, udah cepet lo kesana. Apa lo enggak kasian, udah dari tadi dia nyariin lo."
Stevi mengangguk, meskipun sangat terpaksa tapi gadis itu tetap akan menemui Arya yang sedang sakit di UKS.
"Satria."
"Hm"
"Jangan bilang siapa siapa ya, kalau aku di UKS sama Arya."
Satria berdecih, memang siapa yang peduli pada gadis cupu seperti Stevi?
"Oke."
Stevi kembali tersenyum, lalu keluar UKS meninggalkan Satria. Sesampainya di depan UKS, gadis itu tidak langsung masuk. Memastikan bahwa, kondisi UKS sepi. Khawatir jika, Alfian tahu dirinya berada di UKS bersama Arya.
Setelah merasa aman, Stevi membuka pintu UKS pelan. Takut mengganggu Arya, yang sedang sakit. Sekuat apapun berusaha untuk tidak peduli, hati kecilnya berkata lain. Arya perlahan membuka matanya, saat mendengar pintu terbuka. Sebuah senyuman terbit dari wajah tampan itu, meskipun sedikit pucat tidak akan mengurangi ketampanannya.
"Akhirnya, lo dateng juga." Arya menatap Stevi sendu, ada kerinduan di sana jika Stevi memperhatikan sang mantan dengan jelas.
"Kenapa, minta aku kesini?"
"Gue sakit, Anya enggak berangkat. Lo tahu, kalau gue enggak bisa telat makan selain Anya."
Selain Anya, entah mengapa kata kata itu membuat Stevi kembali mengingat semua luka yang di berikan oleh Arya.
"To the point, kamu mau apa?"
Arya tersenyum canggung, sangat tahu jika gadis itu berusaha menjaga jarak.
"Suapin gue makan, gue enggak kuat duduk."
"Oke, tapi ini bantuan pertama dan terakhir dari aku. Besok lagi, jangan telat makan."
Keduanya sama sama diam, Arya menikmati kebersamaan mereka. Kalau di perhatikan, Stevi tidak kalah cantik dari Anya. Jika saja, saat itu tidak menuruti keinginan Anya mungkin saat ini mereka bisa berteman baik. Memang seperti itu, kita di pertemukan dengan beberapa orang hanya untuk di jadikan teman karena kita tidak akan pernah bisa memiliki dua orang sekaligus.
"Makasih, dan maaf udah ngerepotin lo." Arya menghela nafas pelan.
"Harusnya, gue udah enggak boleh nyusahin lagi. Tapi gimana, gue di sekolah ini enggak terlalu suka sama orang asing. Cuma Anya, sama lo. Hari ini Anya enggak berangkat, jadi gue minta tolong sama lo."
Dada Stevi terasa sesak, memang apa yang harus di harapkan? Laki laki di hadapannya itu hanya menjadikannya sebagai pemeran pengganti di saat pemeran utama tidak ada.
"Lain kali, jangan dateng di saat butuh aja. Aku sih udah terbiasa di jadiin pemeran pengganti, tapi enggak setiap orang siap di posisi kayak gini. Aku ngomong kayak gini, bukan karena aku masih berharap kamu kembali ataupun kita sama sama lagi. Aku cuma ngingetin,"
"Hm, bakalan gue usahain." Ucap Arya.
"Kamu istirahat, aku balik ke kelas dulu. Setelah ini, jangan pernah ganggu aku lagi ya." Pinta Stevi.
Arya mengangguk, jadi gadis itu merasa terganggu saat dirinya meminta pertolongan.
"Lo, ngerasa terganggu?" tanya Arya.
"Iya. Kalau gitu, aku duluan." Pamit Stevi, lalu keluar dari UKS.
Baru saja Stevi membuka pintu UKS, gadis itu terkejut melihat Alfian yang sudah menunggunya. Sejak kapan, sang kekasih ada disini? Apa Alfian juga melihatnya menyuapi makan Arya?
"Fian, kamu ada disini. Kok enggak masuk?" tanya Stevi khawatir, bagaimana jika Alfian marah padanya.
Alfian hanya diam, lalu meninggalkan Stevi yang menatap punggung tegap Alfian yang semakin menjauh. Gadis itu hanya terdiam, mencoba memahami situasi apakah Alfian cemburu?
Baru saja Stevi berniat menyusul Alfian, bel masuk sudah berbunyi. Sekarang saatnya belajar, urusan Alfian bisa nanti. Bukan karena tidak peduli, tapi Stevi harus bisa membagi waktunya untuk belajar.
"Dari mana lo?"
"Aku dari UKS La," jawab Stevi.
Viola mengecek suhu tubuh Stevi, khawatir jika teman polosnya itu sakit.
"Lo enggak panas kok, atau lo pusing. Izin lagi aja deh daripada nanti lo makin parah sakitnya."
Stevi menggeleng, kenapa Viola menjadi cerewet seperti ini?
"Bukan, aku." Jawab Stevi pelan, karena guru bahasa Inggris sudah masuk kedalam kelas. Jika ada muridnya yang tidak memperhatikan, akan mendapatkan hukuman spesial. Bernyanyi lagu Korea di depan kelas, aneh bukan? Kenapa tidak lagu bahasa Inggris? Karena guru tersebut salah satu pecinta Korea.
"Oh, pasti Alfian ya?" tanya Viola lagi.
Stevi menggeleng, membuat teman yang duduk di sampingnya geram.
"Terus."
"Arya, yang sakit."
Viola menghentikan kegiatannya menulis, merasa kesal dengan Stevi. Sudah di sakiti, kenapa masih mau di bodohi?
"Lo enggak capek, baik sama orang yang salah? Kalau gue sih males banget. Terus si Alfian tahu, kalau lo nungguin mantan lo di UKS?"
Stevi mengangguk, gadis itu kembali teringat Alfian yang mungkin marah padanya.
"Alfian tahu, tapi kayaknya dia marah deh La. Soalnya, tadi pas aku keluar UKS Alfian diem aja langsung pergi. Menurut kamu, dia marah enggak?"
Jika tidak mengingat ada guru di depan, sudah pasti Viola akan mengatakan Stevi benar benar bodoh. Gadis itu yakin, Alfian marah pada Stevi.
"Ck! Kurang kurangin deh bodohnya. Kesel banget gue sama lo, gini aja deh kalau lo ada di posisi Alfian lo marah enggak?"
"Enggak tahu, kan dia bisa jelasin dulu kenapa bisa sama perempuan lain. Tadi, aku mau jelasin tapi dia malah pergi."
Terlalu rumit untuk menjelaskan pada Stevi, bahwa tidak semua orang percaya dengan penjelasan. Terkadang, mereka selalu mempercayai apa yang mereka lihat secara langsung. Bagi sebagian orang, apa yang di lihat sudah cukup menjadi bukti apa yang di lakukan seseorang.
"Terserah deh, males gue sama lo. Lain kali, kalau ada masalah langsung di selesain."