Bagas berkacak pinggang melihat Alfian yang masih terlelap dalam tidurnya, rasa takut melihat sang adik kesakitan semalam membuat Bagas semakin ingin menjaga Alfian. Semalam, sempat terjadi perdebatan di antara adik dan kakak itu karena Alfian tetap tidak mau bercerita apa yang sebenarnya sudah terjadi. Bagas merasa tidak berguna menjadi kakak untuk Alfian, sampai tidak bisa menjaga sang adik dalam keadaan apapun.
"Al, maafin Abang. Gue, ngerasa lo terlalu mandiri jadi adik gara gara masalah keluarga kita."
Bagas memilih keluar dari kost an Alfian, berniat mencari sarapan untuk mereka berdua. Rencananya, setelah memastikan keadaan Alfian baik baik saja. Bagas, akan menggantikan pekerjaan Alfian hari ini. Mungkin, dengan cara itu Bagas bisa mencari tahu apa yang sudah terjadi semalam. Bagas memilih mencari sarapan di warung makan terdekat, takut jika sang adik bangun dan Bagas belum kembali membawa makanan.
"Mbak, nasi uduk dua porsi. Teh hangat dua, gorengan secukupnya!" Bagas, berteriak seperti orang yang tidak tahu apa arti sopan santun.
Seorang gadis menghampiri Bagas dengan tatapan tidak suka. Membuat Bagas, menatap gadis itu penuh selidik. Bagas tahu siapa gadis yang sedang berjalan kearahnya, dia adalah adik dari pemilik warung. Bella.
Bella mempunyai senyum yang begitu manis, tapi sifatnya terlalu galak pada laki laki yang ingin berkenalan padanya. Membuat Bagas, menjadi ragu untuk tebar pesona dengan gadis itu.
"Lo, orang gila kemarin kan?"
"Hah?"
Bella menghela nafas.
"Selain gila, lo juga gagap ya?" tanya Bella, dengan sifat sombongnya.
"Heh boneka Annabelle, lo cantik sih tapi sayang gue belum suka enggak tahu kalau nanti." Ucap Bagas, membuat Bella menggeleng. Gadis secantik Bella, di panggil Annabelle?
"Nama gue, Bella Anastasia. Lo seenaknya panggil gue Annabelle!"
"Emang kenapa sih, mau nama lo Bella ataupun Annabelle ujung ujungnya tetep gue panggil sayang."
"Mimpi lo ketinggian!"
Lelah menghadapi Bagas, Bella memilih pergi dan menyiapkan pesanan laki laki itu. Hanya butuh waktu sepuluh menit, semua pesanan Bagas sudah siap. Bella, terlalu malas berurusan dengan Bagas.
"Berapa?" tanya Bagas.
"50 ribu."
Bagas mengeluarkan uang dari sakunya, Bagas menyesal karena hanya membawa uang pas. Jika tadi, Bagas membawa pasukan berwarna merah mungkin dirinya bisa lebih lama bersama Bella.
"Makasih, dan kalau bisa enggak usah kesini lagi. Bosen, gue liat muka lo!"
Bagas mengangkat bahu acuh, jika saja Alfian tidak sakit. Mungkin Bagas akan senang berdebat dengan Bella, tapi Alfian lebih penting dari Bella.
"Cakep doang, akhlak kurang."
Bagas mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, jalanan masih sepi karena masih pukul enam pagi. Apalagi, hari ini hari minggu. Setelah sampai, Bagas langsung masuk berniat membangunkan sang adik. Namun, Alfian sudah bangun dan baru saja selesai mandi.
"Udah bangun lo?"
Alfian menoleh, lalu mengangguk.
"Nih, sarapan. Biar gue aja yang gantiin kerjaan lo hari ini. Lo, istirahat aja."
Alfian hanya mengangguk, jika Bagas mau menggantikan pekerjaannya bukankah itu lebih baik agar dirinya bisa belajar dan istirahat seharian.
Mereka berdua sarapan, Bagas menatap wajah Alfian yang babak belur. Rasa kepo, yang sudah mendarah daging semakin meronta-ronta.
"Ngapain lo liatin gue kayak gitu?" tanya Alfian curiga.
Bagas menggeleng, tidak mungkin mengatakan kalau dirinya ingin tahu apa yang terjadi semalam. Alfian, pasti tidak mau bercerita.
"Lo udah gede ternyata, terlalu mandiri." Ujar Bagas.
Alfian diam, sama sekali tidak mengerti. Baru kali ini, sang kakak menganggapnya dewasa. Biasanya, laki laki itu selalu memanggilnya bocil.
"Hari ini, enggak usah kemana mana. Gue khawatir, orang yang semalem begal lo masih penasaran. Lo tau, lo itu jelek Al. Apa enggak kasihan tuh muka kalau jadi tambah jelek?"
"Bang, semoga lo selalu sehat ya." Ucap Alfian, lalu menandaskan teh hangat yang tadi Bagas beli.
"Kenapa emang? tumben banget lo, doain gue kayak gitu?"
"Biar nanti pas hari raya qurban, lo bisa gue kurbanin bareng buaya yang lain!"
"Durhaka lo jadi adik, gue sumpahin lo tambah sayang sama gue."
Alfian melempar Bagas dengan bungkus nasi uduk yang sudah kosong, sumpah macam apa yang di inginkan Bagas.
"Abang gila!"
"Makasih." Sinis Bagas.
Bagas, mengambilnya jaket yang biasa Alfian gunakan lalu memakainya di depan cermin.
"Mana ada, Abang ojol yang cakepnya kebangetan selain gue?"
"Ck! banyak kok yang cakep. Kalau, yang jelek ya cuma lu doang." Bantah Alfian.
"Terus, lo ngerasa cakep?"
Alfian menggeleng, karena sejak tadi dirinya juga tidak mengatakan bahwa dirinya tampan.
"Enggak, gue kan emang cakep dari lahir jadi siapapun pasti mengakui kalau gue cakep." Jawab Alfian percaya diri. Terkadang, dalam diri seseorang sangat di butuhkan rasa percaya diri agar terhindar dari sifat insecure.
"Anjir, adek gue ternyata suka halu." Bagas menertawakan rasa percaya diri Alfian, meskipun benar adiknya itu memang tampan. Namun, Bagas juga tidak mau mengakui kalau Alfian lebih tampan darinya. Bagi Bagas, yang terlahir lebih dulu dia yang lebih tampan.
Alfian berdecak, sangat tahu tabiat sang kakak. Bagas Herlambang, tidak akan pernah mengakui ketampanan orang lain.
"Bang, gue jadi ragu. Sebenarnya, gue ini adek lo apa bukan?"
"Adek gue lah, tenang aja Al. Meskipun, ketampanan lo belum setara sama ketampanan gue. Tapi emang, lo itu adek gue."
"Tapi gue berharap, semoga bukan."
Bagas menghela nafas pelan, menjadi adik dari Bagas bukan suatu hal yang buruk. Seandainya, saat wisuda Alfian datang. Bisa Bagas pastikan, Alfian akan mempunyai banyak fans seperti dirinya.
"Gue berangkat." Pamit Bagas pada Alfian, sang adik menatap Bagas yang mengulurkan tangannya.
"Ngapain?" tanya Alfian tidak mengerti.
"Salim," ucap Bagas.
"Alhamdulillah, Abang gue mulai waras."
Alfian melakukan apa yang Bagas minta, jika kedua orang tuanya tidak lagi peduli. Setidaknya, masih ada Bagas yang selalu ada untuknya. Bagas adalah kakak terbaik ya Alfian punya, meskipun sifatnya sering membuat sang adik marah dan terganggu tapi Alfian sangat bersyukur.
Setelah Bagas berangkat, Alfian kembali ke kamar. Niatnya, ingin mengirimkan pesan pada Stevi. Namun, sayang ponselnya malah mati.
"Sabar, orang sabar di sayang pacar."
Alfian mengurungkan niatnya untuk mengirimkan pesan pada Stevi, mungkin pagi hari adalah waktu yang tepat untuk belajar. Mengingat, dua bulan lagi ujian kelulusan. Jika bukan karena Stevi, cowok itu tidak mungkin mau repot repot belajar. Apalagi, Bagas memintanya untuk melanjutkan pendidikannya setelah lulus SMA. Masalah biaya, itu akan menjadi urusan Bagas yang jelas Alfian tidak akan mau kuliah jika biaya itu berasal dari orang tuanya.
"Kalau kamu keluar dari rumah ini, jangan harap kamu bisa kembali!"
Ucapan sang ayah, beberapa bulan yang lalu membuat Alfian tidak pernah kembali. Alfian berusaha mengabaikan rasa sakit hatinya, selama ini Alfian hidup tidak punya tujuan. Sering bolos sekolah, hanya karena bekerja sampai malam. Setiap berangkat sekolah, selalu terlambat dan berakhir dengan hukuman.
Alfian, mulai sibuk dengan soal soal ujian yang di berikan Bagas. Alfian, yang memang pandai matematika dalam waktu singkat bisa menyelesaikan semua soal soal tersebut tanpa mengeluh. Sangat berbeda dengan Bagas, sang kakak sangat lemah dalam pelajaran matematika tapi sangat fasih berbahasa Inggris. Keduanya memiliki kemampuan yang berbeda.
Empat jam berlalu, Alfian menyelesaikan semua soal yang di berikan Bagas dengan cepat. Padahal, Bagas memberikan waktu satu minggu bagi Alfian untuk menyelesaikan semua soal itu.
"Capek banget gue," ucap Alfian, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Perlahan, kedua mata Alfian terpejam.
Sementara itu, Stevi kebingungan dari kemarin karena Alfian tidak mengirimkan pesan apapun padanya. Biasanya, laki laki itu akan terus mengirimkan pesan walaupun hanya mengingatkan makan atau melarang Stevi untuk tidak begadang.
Stevi memilih keluar dari rumahnya, niatnya ingin mencari Alfian. Tapi gadis itu, tidak tahu dimana tempat tinggal Alfian.
"Aku, kayak kenal sama motor matic ini?"
Stevi sangat ingat, motor matic milik Alfian. Dengan langkah ragu, Stevi mendekati seseorang yang duduk di bangku taman. Stevi, tidak bisa melihat dengan jelas siapa laki laki itu karena pemilik motor menunduk sibuk bermain game.
"Ini motor Alfian, tapi Alfian enggak suka main game." Gumam Stevi.
Setelah meyakinkan diri, akhirnya Stevi memberanikan diri untuk menghampiri laki laki itu.
"Fian." Panggil Stevi pelan.
Deg
Laki laki yang di panggil Stevi menoleh. Namun, sayang itu bukan Alfian melainkan Bagas. Bagas menatap Stevi heran, ini sudah jam tujuh malam. Kenapa, calon adik iparnya berada luar rumah.
"Eh, dede gemes. Ngapain disini?"
Jika gadis lain, mungkin Bagas tidak perlu bertanya. Tapi ini Stevi, anak rumahan yang keluar rumah hanya untuk bersekolah bukan bermain seperti remaja seusianya.
Stevi berdehem pelan, rasanya sangat memalukan kalau Bagas sampai tahu jika dirinya mencari Alfian yang tidak ada kabar dari semalam.
"Aku, bosen di rumah. Bang Bagas, ngapain disini. Pakai motor Fian lagi, emang mobil Abang kemana? Udah di jual?"
Bagas hanya tersenyum, tahu betul apa maksud dari pernyataan Stevi. Seharusnya, Stevi tidak bertanya seperti itu pada Bagas.
"Alfian di rumah, lagi belajar dia. Jadi, sorry kalau dia enggak ngabarin lo dari semalem. Salahin gue aja, soalnya gue yang maksa dia buat belajar." Bagas terpaksa berbohong, sebagai seorang kakak kebahagiaan adiknya adalah hal utama.
Stevi mengangguk, bersyukur karena ternyata sang kekasih baik baik saja di rumah.
"Yaudah, aku pulang duluan bang. Nitip salam buat Alfian," setelah berpamitan, Stevi pergi dari hadapan Bagas. Baru beberapa langkah, suara Bagas menghentikan langkahnya.
"Stevi tunggu."
Stevi menoleh, menunggu apa yang akan Bagas katakan selanjutnya. Di luar dugaan Stevi, laki laki itu malah menjalankan motornya dan berhenti tepat di sebelah Stevi.
"Ayo gue anterin pulang, sebagai permintaan maaf gue karena udah nyuruh Alfian belajar."
"Abang enggak perlu minta maaf, yang bang Bagas lakuin itu udah paling bener. Alfian, kalau enggak di suruh belajar mana pernah di belajar. Udah, enggak apa apa aku pulang sendiri aja."
Selain merasa merepotkan, Stevi juga masih merasa canggung pada Bagas. Sifat tertutup dan sulit bersosialisasi, membuat Stevi tidak nyaman berada di dekat orang baru.
"Cepetan naik, gue sekalian mau pulang. Gue, terlalu ganteng kalau jadi penculik."
Akhirnya gadis itu mau di antarkan Bagas pulang, dalam hati Bagas bersyukur karena sang adik mendapatkan gadis yang baik.