Setelah mengantarkan Stevi pulang, seperti biasa sepulang sekolah Alfian langsung bekerja. Sudah menjadi resiko Alfian, jika saat bekerja akan kepanasan atau kehujanan. Semua itu, Alfian lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Alfian, dulu sangat manja pada orang tuanya apapun yang di inginkan akan di dapat dalam waktu yang cepat. Namun, sekarang semua berbeda Alfian si anak manja sudah menjadi anak yang mandiri.
"Kok bisa sih, Stevi milih lo daripada gue?"
Alfian terkejut, mendapati Arya berdiri di sebelahnya. Mereka, sedang berada di halte karena hujan turun begitu deras. Untung saja, Alfian sudah mengantarkan penumpangnya selamat sampai tujuan. Entah apa, yang Arya pikirkan padahal cowok itu membawa mobil lalu kenapa ada disini? Alfian tahu, tujuannya pasti hanya satu apalagi kalau bukan pamer harta milik orang tuanya.
"Bisalah, emang lo siapa harus di pilih sama Stevi?"
"Santai aja kali, kalau gue mau Stevi bakalan jadi pacar gue dalam waktu dekat." Ucap Arya percaya diri.
Alfian masih bersikap tenang, dalam keadaan seperti ini dirinya tidak boleh gegabah. Arya benar, jika Arya mau Stevi bisa kembali padanya kapanpun.
"Diem kan lo, mendingan lo tinggalin Stevi kasian gue sama dia kalau harus tiap hari naik motor butut lo itu."
Setahu Arya, Alfian hanyalah orang biasa yang hidupnya serba kekurangan. Apalagi, Alfian yang selalu membawa motor maticnya ke sekolah terkadang motornya juga sering mogok jadilah Alfian mendorong motornya sendirian. Selain Niko dan Stevi, tidak ada yang tahu siapa Alfian sebenarnya.
"Habis maling ya lo, sampai bisa beli hape baru? Bermerk pula. Maling, di mana lo?"
Alfian menghela nafas berat, susah sekali membuat Arya diam. Cowok itu, berisik seperti perempuan. Padahal, Stevi tidak berisik seperti ini. Ponsel Alfian memang baru, semalam sebagai imbalan karena sudah membelikan Bagas makan Alfian di belikan ponsel baru. Itu semua, keinginan kakak laki lakinya.
"Bisa diem, kayak cewek lo banyak omong. Atau jangan jangan, ketularan sifat ghibahnya si Anya?" Tanya Alfian, semua orang tahu jika Anya adalah ratu ghibah di sekolahnya. Yang lebih aneh, gadis itu menyebarkan gosip kalau Stevi pernah menjadi orang ketiga di hubungannya dengan Arya. Gadis gila, padahal Anya sendiri yang meminta Arya agar menjadikan Stevi sebagai selingkuhan.
"Jaga mulut s****n lo itu,"
"Ck! lo tahu kenapa Anya enggak mau lo sama dia putus? Karena lo itu bodoh jadi laki laki, cuma laki laki bodoh yang mau di manfaatin sama perempuan. Tapi, kalian emang cocok sih. Lo, di manfaatin Anya karena lo kaya sementara Anya lo manfaatin karena dia cewek gampangan yang bisa lo suruh nginep di rumah lo kapan aja." Sindir Alfian.
Arya mengepalkan tangannya, sejauh ini bersama Anya adalah sebuah ketenangan meskipun mereka pernah melewati batas.
"Sama sama impas lah ya kalau gitu, enggak ada yang merasa di manfaatin kan sama sama butuh. Anya butuh duit, dan lo butuh tubuh Anya."
Bugh
Bugh
Bugh
Telinga Arya terasa panas, tidak terima mendengar ucapan Alfian. Entah dari mana Alfian tahu hal itu, karena Anya tidak mungkin membongkar apapun yang mereka lakukan selama ini.
"Marah kan lo, berarti bener dong kalau Anya udah pernah lo pakai. Ck! Udah tahu kok gue, mana ada laki laki nurut sama ceweknya kalau enggak di kasih jatah. Itu namanya, bukan cinta. Tapi, nafsu."
Bugh
Bugh
Bugh
Arya, menghajar Alfian tanpa ampun.
"JANGAN BANYAK BACOT, BANGUN LO LAWAN GUE!"
Alfian tersenyum tipis, orang seperti Arya tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah tanpa k*******n. Menjadi orang yang selalu berkecukupan, membuat Arya mengandalkan uang untuk menutup semua kasusnya.
"Gue, enggak mau buang buang tenaga buat hajar lo disini. Kan, gue bukan lo yang setiap ada masalah langsung lapor ke bokap minta uang buat selesaiin masalah."
"Orang tua aja di manfaatin, apalagi Anya. Semoga lo cepet sadar,"
Malas memperpanjang masalah, Alfian memilih pulang. Cowok itu pulang, dengan beberapa luka di wajahnya. Menerjang hujan yang semakin deras, Alfian hanya berharap Stevi tidak akan pernah menjadi korban selanjutnya.
"Lo tenang aja, jangan khawatir. Selama gue hidup, gue pasti jagain lo dari si b******k Arya."
Alfian tersenyum tipis, mencoba mengabaikan rasa sakit pada wajahnya. Arya memang jago dalam hal beda diri, semua orang tahu itu.
Bagas, menarik jaket Alfian. Memperhatikan dengan seksama, luka yang ada di wajah sang adik tentu saja bukan luka karena terjatuh dari motor.
"Al, lo habis di begal?" Bagas begitu khawatir pada Alfian, apakah pekerjaan Alfian terlalu berbahaya untuk anak SMA?
"Enggak," ucap Alfian malas.
"Terus, muka lo yang enggak seberapa ganteng itu kok bisa tambah jelek?"
"Bang, gue capek."
"Heh, enggak sopan lo ninggalin gue." Bagas berkacak pinggang, melihat Alfian yang mengabaikan dirinya. Banyak hal yang harus Bagas ketahui, apa kehidupan sang adik begitu keras sampai harus memiliki musuh. Tapi jika di perhatikan, Alfian terlalu acuh dengan kehidupan orang lain. Ingat makan saja, sudah suatu hal yang Bagus. Alfian, memang seperti itu sangat tidak peduli pada dirinya sendiri.
Sementara itu, Stevi gelisah karena Alfian tidak memberinya kabar apapun sejak pulang sekolah. Tak biasanya Alfian seperti ini, bahkan tanpa di minta Alfian selalu menghubunginya setiap saat tanpa di minta.
"Kamu, kemana sih?" Stevi berdiri di depan pintu rumahnya, berharap jika Alfian tiba tiba mengetuk pintu rumahnya.
Hampir satu jam, tidak ada tanda tanda Alfian akan datang. Stevi menghembuskan nafas berat, ponsel kekasihnya juga masih sama belum bisa di hubungi. Stevi menyesal, karena tidak memiliki nomor Bagas ataupun Niko. Gadis itu, baru merasakan betapa pentingnya memiliki teman saat ini. Mencoba mencari solusi, akhirnya Stevi kembali ke kamar.
Tanpa sengaja, Stevi membuka aplikasi f*******:. Siapa tahu, Bagas dan Niko memiliki f*******:. Usaha pertama, tidak berhasil. Stevi membuka aplikasi i********:, mengetikkan nama Alfian. Berharap, jika ada seseorang yang bisa memberikan kabar tentang Alfian.
Stevi menatap ponselnya tidak percaya, bagaimana mungkin Alfian hanya mengikuti satu akun di Instagramnya. Dan lebih parahnya lagi, akun tersebut adalah milik Stevi.
"Bahkan, aku enggak tahu kalau kamu follow aku. Kamu, kemana Fian?"
Hujan semakin deras, membuat Stevi enggan berlama lama bermain ponsel. Akhirnya, Stevi memutuskan untuk tidur saja. Gadis itu berharap, jika Alfian baik baik saja dan besok akan menjemput dirinya. Tiba tiba, air mata Stevi menetes saat mengingat besok adalah hari Minggu. Apakah, Alfian baik baik saja? Itulah yang ada di pikiran Stevi.
"Semoga, kamu baik baik aja Fian." Gumam Stevi, lalu berusaha memejamkan matanya.
Di sisi lain, Arya menatap foto Stevi dan dirinya beberapa bulan yang lalu. Saat itu, Arya meminta Stevi menemuinya di perpustakaan. Awalnya, Arya mendekati Stevi hanya karena paksaan dari Anya. Namun, setelah mengenal gadis itu lebih jauh Arya tahu bahwa Stevi adalah gadis yang sangat mandiri. Tidak, seperti Anya apapun keinginannya harus di turuti. Tapi bodohnya, Arya selalu menuruti perintah sang gadis.
"Tumben, kamu minta aku kesini. Kenapa?" tanya Stevi, karena tidak biasanya Arya mau menemuinya saat jam sekolah.
Arya tersenyum, laki laki itu sadar jika saat ini dirinya tidak hanya mencintai Anya tapi juga Stevi. Ini salah, tapi biarkan ini menjadi kesalahan yang tidak akan pernah Arya sesali karena pernah mencintai gadis sepolos Stevi.
"Kangen." Arya menggenggam tangan Stevi, saat itu Anya sedang pergi ke luar kota bersama orang tuanya selama satu minggu. Hal yang sangat menguntungkan bagi Arya, agar bisa bersama Stevi.
Mendengar jawaban Arya, membuat Stevi tersenyum. Selama bersekolah di sini, gadis itu tidak memiliki teman. Hanya Arya, teman sekaligus kekasihnya. Meskipun, Stevi harus merahasiakan hubungannya.
"Sayang, kangen."
"Kamu sibuk sama Anya terus, katanya cuma teman. Tapi waktu kamu, lebih banyak sama Anya daripada sama aku."
Arya tersenyum hambar, sampai kapan gadis ini akan bertahan dengan kepolosannya. Sampai, tidak bisa membedakan mana pacar mana teman.
"Maaf deh, tapi kan kamu tahu. Aku sama Anya, berteman dari kecil. Enggak mungkin, kalau setelah aku punya kamu aku jauhin Anya."
"Kenapa enggak mungkin, Anya cantik. Pasti, yang suka sama dia banyak."
"Dia emang banyak yang suka, makanya aku enggak mau dia salah pilih. Udah jadi tugasku buat jagain dia,"
Stevi menatap Arya tidak percaya, apa seperti itu layak di sebut teman. Sifat posesif Arya lebih pantas di sebut pacar dari pada teman.
"Kalau gitu, kenapa enggak kamu aja yang jadi pacar Anya?" tanya Stevi.
"Hm, karena aku sukanya sama kamu." Jawab Arya.
Stevi mengangguk, gadis itu mulai memahami jika Arya hanya menyukainya tidak ada rasa sayang ataupun cinta. Apa mungkin, disini hanya Stevi yang mencintai Arya sementara laki laki itu tidak memiliki rasa apapun padanya?
"Oh, cuma suka ya." Lirih Stevi.
Arya mengambil ponselnya, membuka kamera dan mengarahkannya pada Stevi. Gadis itu terlalu fokus belajar, membuat suasana semakin tenang. Arya sadar, Stevi ingin di perlakukan seperti gadis lain bukan hubungan backstreet seperti ini.
"Maaf, untuk sekarang kamu harus ngerasain kecewa karena kebohongan. Tapi suatu saat, kamu akan bahagia karena ada seseorang yang mau menerima semua kekurangan kamu. Kamu terlalu sempurna, untuk aku yang b******k. Apa aku bisa, liat kamu nangis kalau seandainya kamu tahu keadaan yang sebenarnya?" tanya Arya, pada dirinya sendiri.
Arya kembali memasukkan foto Stevi ke dalam laci meja belajarnya, Stevi dan Anya mempunyai tempat yang sama di hatinya. Namun, Arya terlalu pengecut untuk mengakui perasaannya pada Stevi. Rasa takut kehilangan Anya begitu besar, sampai Arya tidak bisa mengartikan perasaannya sendiri. Mana yang sebenarnya ia sayangi, dan mana yang sebenarnya obsesi. Arya mengusap wajahnya kasar, sempat ada rasa bahagia saat melihat Anya begitu puas saat melihat Stevi menangis. Tapi Arya juga merasakan sakit hati, saat melihat Stevi tertawa karena laki laki lain. Apakah Arya terlalu egois?
"Sebenarnya, gue ini suka sama siapa sih? Kenapa gue lemah banget jadi laki laki!"