Part 15

1530 Kata
Jam masih menunjukkan pukul enam, tapi di depan rumah Stevi sudah ada mobil yang terparkir. Jika awalnya, Stevi berfikir itu adalah mobil Bagas yang pernah di pakai Alfian ternyata tebakannya salah. Itu adalah mobil Arya, datang sepagi ini kerumah Stevi hanya untuk menjemput sang mantan. Satu hal yang Stevi pikirkan, kemana Anya? Apa gadis itu tidak berangkat sekolah hari ini? "Pagi, mantan." Sapa Arya. Stevi menatap Arya heran, apa yang sebenarnya sedang Arya rencanakan. Tidak mungkin, jika laki laki itu berubah menjadi baik dalam waktu dekat. Bukannya Stevi selalu berprasangka buruk pada Arya, tapi semenjak Stevi tahu bahwa laki laki itu tidak sebaik yang di fikirkan sangat sulit untuk mengartikan setiap perlakuan Arya padanya. "Kamu, ngapain?" "Jemput lo, biar bisa berangkat bareng." Arya membuka pintu mobilnya, berharap Stevi mau berangkat bersamanya. Stevi menghembuskan nafas kasar, merasa tidak enak jika menolak ajakan Arya tapi disisi lain gadis itu takut Alfian datang menjemputnya. Stevi bingung, apa yang harus di lakukan pilihan mana yang harus di pilih? "Aku, enggak bisa." "Kenapa? lo masih marah sama gue gara gara gue cuma jadiin lo selingkuhan?" Stevi menggeleng, bukan itu alasannya. Mulai sekarang, Stevi ingin menjaga perasaan Alfian. Kekasihnya. "Aku udah janji, mau berangkat bareng Alfian." Arya mengangguk, ada rasa sedikit kesal saat Stevi benar benar mengabaikannya. Dulu, sewaktu mereka masih berpacaran Stevi pernah meminta Arya untuk menjemputnya karena gadis itu hampir terlambat ke sekolah. Tapi sesuai perjanjiannya dengan Anya, Arya tidak boleh memperlakukan Stevi layaknya ratu yang harus di jemput ke sekolah hubungannya harus di rahasiakan. Dan bodohnya, Arya menyetujui semua syarat dari Anya. "Kamu boleh selingkuh, tapi harus aku yang milih siapa yang jadi selingkuhan kamu." Ucap Anya. Arya sedikit heran, biasanya perempuan akan marah saat pacarnya bersama wanita lain tapi kenapa Anya berbeda. "Mana ada, selingkuh harus diskusi dulu. Di mana mana, orang selingkuh diem diem lah ini malah mau di cariin selingkuhan." Arya mengacak rambut kekasihnya gemas. Anya adalah cinta pertamanya, perempuan yang selalu ada untuknya saat dirinya terpuruk. Baik dan buruknya Anya, selalu Arya terima. Meskipun permintaan gadis itu sering tidak masuk di akal. "Ya, aku mau selalu jadi rumah buat kamu. Sejauh apapun kamu pergi, cuma aku tempat kamu pulang!" tegas Anya. Arya mengangguk patuh, sebenarnya laki laki itu tidak berniat untuk selingkuh hanya saja rasa bosan tanpa tahu diri hadir begitu saja. "Udah ada kandidat, buat jadi selingkuhan aku?" tanya Arya malas. Anya menarik tangan Arya, mereka berjalan menuju perpustakaan. Saat sudah sampai, mereka berdua berdiri di depan pintu. "Ngapain sih, kita ke perpustakaan. Bukan kamu banget deh, jadi kutu buku!" "Ck! aku lagi nyariin calon selingkuhan yang pas buat kamu." "Hah?" Arya tidak mengerti, apa Anya akan mencarikan selingkuhan seorang gadis kutu buku? "Nah, itu dia." Ucap Anya sambil menunjuk Stevi yang sedang mengerjakan tugasnya. Cantik, batin Arya. "Gimana, cantikan mana dia sama aku? kalau hitsnya jelas lebih hits aku di sekolah ini dia cuma sama putihnya sama aku," Arya mengangguk, Stevi memang putih alami bahkan tidak terlihat ada polesan make up disana. "Cantik kamu." Mendengar jawaban sang kekasih, membuat Anya semakin terbang ke atas awan. Arya, memang tidak pernah memuji gadis lain di depannya. "Oke, mulai besok kamu bisa deketin dia. Buat dia baper sama kamu, tapi kamu enggak boleh cinta sama dia. Cinta kamu, cuma buat aku." Seolah sadar dari lamunannya, Arya kini melihat Alfian yang entah sejak kapan sudah datang. Arya tahu, Stevi belum bisa sepenuhnya melupakan dirinya. Itulah yang membuatnya semakin berani datang sepagi ini untuk menjemput sang mantan, tapi sepertinya hari Arya belum beruntung. "Kamu bisa berangkat duluan, aku mau bareng Alfian." Arya memperhatikan motor matic milik Alfian, apa lebihnya Alfian jika di bandingkan dirinya. "Lo bareng gue aja deh, nggak liat apa motor dia jelek gitu?" Alfian tidak tersinggung, karena jika Alfian mau cowok itu bisa membeli mobil yang lebih mahal dari mobil Arya. Hanya saja, Alfian belum siap untuk kembali ke rumah. "Arya, kamu enggak boleh ngomong kayak gitu sama pacar aku. Aku, enggak suka ya kamu seenaknya aja sama Alfian!" Ketus Stevi, gadis itu langsung menarik tangan kekasihnya untuk segera pergi dari hadapan sang mantan. Diam diam, Alfian mengembangkan senyumnya. Ternyata benar, saat seseorang sudah memilihmu harta bukanlah hal yang utama. Bahkan, meskipun Stevi belum bisa melupakan Arya sepenuhnya gadis itu sudah berani mengakuinya sebagai pacar. "Ayo sayang, kita berangkat." "Najis!" Umpat Arya, lalu menutup kasar pintu mobilnya. Jujur saja, Arya tidak suka melihat pipi Stevi bersemu. Ada rasa, tidak rela saat sang mantan bersama laki laki lain. Bagi Arya, Stevi tidak pantas bersama Alfian. Namun, Arya juga tidak mungkin bersama Stevi kembali karena Anya pasti akan marah padanya. Setelah mobil Arya meninggalkan pekarangan rumah Stevi, keduanya sama-sama bernafas lega. "Makasih," "Untuk?" "Udah belain aku di depan Arya, aku tahu kamu belum sepenuhnya move on tapi aku seneng kamu mau berusaha." Bisa Stevi lihat, betapa bahagianya Alfian saat Stevi terang terangan mengakui laki laki itu di depan Arya. Padahal, Stevi tidak tahu kenapa dirinya mengatakan hal itu. "Udah siang, aku enggak mau ya terlambat bareng kamu!" Alfian mengangguk, lalu memakaikan helm untuk Stevi. "Maaf ya, cuma bawa motor kan kamu sendiri yang bilang. Kalau nanti aku jadi imam, itu di depan bukan di samping." Ucap Alfian. Gadis itu hanya tersenyum, bersyukur karena Alfian tidak terpengaruh perkataan Arya. Mulai sekarang, Stevi akan lebih berusaha menghargai kehadiran Alfian. Keduanya, tidak lagi banyak bicara karena takut terlambat ke sekolah. Alfian dengan senyum yang masih sama, dan Stevi yang sibuk dengan pemikirannya sendiri. "Mau, aku anterin ke kelas?" tanya Alfian, setelah sampai di parkiran motor sekolahnya. Stevi menggeleng. "Aku, bisa sendiri." Jawab Stevi lalu menyerahkan helm pada Alfian. "Hm, nanti ke kantin bareng ya aku pengen di suapin kamu lagi." "Aku ada janji sama Viola, ngerjain tugas bareng di perpustakaan. Gimana, kalau kamu bareng Niko aja ke kantinnya." "Enggaklah, ngapain sama Niko enakan sama kamu suap suapan." Tolak Alfian. Stevi mencoba bersabar, beginilah sifat asli Alfian. Jika orang lain, menganggap laki laki itu dingin tapi berbeda saat bersama Stevi. Alfian, akan menjadi cerewet sangat berbanding terbalik dengan Sifat Stevi yang pendiam. Mungkin memang benar, mereka berdua di takdirkan bersama untuk saling melengkapi. "Jangan manja, kamu udah besar!" "Manja cuma sama kamu doang," Stevi meninggalkan Alfian, membuat cowok itu semakin kesal. Bisa bisanya, Stevi mengabaikannya di saat dirinya tengah merajuk. "Wah wah, sodara Alfian sudah menjadi bucin." Sindir Niko. Alfian menoleh, apa Niko tidak sadar diri? Setiap hari Niko sangat bucin pada Viola. "Ngaca!" "Duh, gue lupa enggak bawa kaca." "Lo, kok enggak putus putus sih sama Viola?" tanya Alfian. Niko menghela nafas pelan, bukannya tidak pernah putus tapi setiap Viola meminta putus Niko tidak pernah mau. Meskipun, masih banyak gadis yang lebih cantik dan pintar dari Viola. Niko, tidak akan pernah melepaskan gadis itu apapun yang terjadi. "Udah tobat gue, udah sayang banget sama Viola. Galak sih, tapi gue cinta." "Definisi, bucin yang sesungguhnya enggak sih?" "Lo belum pernah ngerasain ya, bucin sama orang yang tepat. Rasanya, lo pengen selalu sama dia walaupun banyak yang lebih baik dari dia. Kalau, kata orang cinta itu enggak mandang fisik dan enggak liat duit." Ingin sekali Alfian memakai Niko saat ini, apa katanya cinta tidak memandang fisik dan materi. Semua orang tahu, jika Niko dan Viola adalah pasangan yang serasi. Mereka, sama sama dari keluarga berada. Viola itu cantik, hampir sempurna hanya saja gadis itu sedikit galak jika tahu Niko bersama adik kelas yang genit. "Hal yang paling lo suka dari Viola?" Niko terdiam, mencari jawaban yang pas untuk pertanyaan Alfian. "Semua, yang ada di diri Viola gue suka. Tapi gue, lebih suka liat Viola marah marah karena cemburu. Kesannya, dia cinta banget sama gue dan enggak rela berbagi sama cewek lain. Ya, walaupun gue harus rela di amuk setiap pulang sekolah." "Lo tau, enggak Al. Sebelumnya gue sering ganti pacar, pacaran paling lama seminggu. Semenjak, gue kenal Viola gue tau artinya bertahan dan di pertahankan. Kalau sama Viola, gue ngerasa semuanya baik baik aja. Beda banget, kalau sama mantan mantan gue dulu. Mereka, enggak mau liat kekurangan gue yang mereka mau cuma gue yang selalu terlihat sempurna. Padahal, mereka juga banyak kekurangan." Lanjut Niko. Alfian tersenyum tipis, jadi ini alasan kenapa sahabatnya terlalu bucin pada Viola. Perlu, diakui jika gadis itu membawa pengaruh positif untuk Niko. "Katanya, bucin tapi kalau ada adik kelas yang bening tetep di godain." Cibir Alfian. "Ck! Susah emang Al kalau terlahir good looking. Mau nolak, enggak enak. Kalau di terima, bisa gagal gue perjuangin Viola." "Udahlah capek bahas percintaan lo, saran gue selagi Viola mau bertahan jangan buat di kecewa. Ya, mungkin dia udah terbiasa lihat lo di godain adik kelas. Tapi satu hal, yang harus lo inget Viola bisa kapan aja mutusin lo kalau kebiasaan lo enggak pernah berubah. Sesayang apapun dia ke lo, dia pasti punya rasa pengen nyerah kalau lo enggak tahu artinya di perjuangin." "Hm, saran lo bakal gue pertimbangkan." Bel sekolah berbunyi, Alfian dan Niko meninggalkan parkiran. Jam pertama, adalah matematika mereka tidak boleh terlambat masuk kelas. Jika sampai terlambat, hukuman sudah menanti. Terkadang, sangat sulit menempatkan diri sebagai anak sekolah. Jika mereka yang terlambat, sudah pasti di hukum tapi jika guru yang terlambat pasti beralasan ada hal yang membuat mereka terlambat. Bukan tidak adil, hanya saja semua itu mengajarkan semua muridnya apa itu arti kedisiplinan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN