Setelah mengantarkan Stevi pulang, Alfian mampir sebentar ke warung makan langganannya. Ini semua karena Bagas, kakak laki lakinya itu mengeluh kelaparan dan hampir pingsan di kamar Alfian. Hal yang sangat tidak mungkin, pikir Alfian.
Setelah mendapatkan pesanan Bagas, Alfian membayarnya dengan uang milik Bagas yang di ambil dari ATM tadi pagi. Terlalu sayang, uang sebanyak itu hanya untuk membayar makanan yang belum tentu di habiskan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Bagas membuka pintu kontrakan Alfian dengan semangat, bukannya menyuruh sang adik masuk terlebih dahulu Bagas malah meraih plastik yang berisi makanan itu dari Alfian.
"Lo, kalau mau pergi lagi pergi aja. Gue, udah enggak butuh bantuan lo." Ucap Bagas, seenaknya.
Tanpa menghiraukan ucapan Bagas, Alfian masuk dan duduk di sebelah Bagas. Memperhatikan sang kakak, yang begitu lahap menyantap Nasi goreng pesanannya. Detik berikutnya, Bagas tersedak Alfian juga tidak berinisiatif memberikan Bagas minum.
"Al, minum." Pinta Bagas.
Alfian hanya menggeleng, rasanya sangat tidak pantas jika Bagas sudah menjadi sarjana karena kelakuannya sangat miris.
"Muka doang yang tua," cibir Alfian.
Mungkin, karena sudah lapar tidak ada waktu untuk membalas cibiran sang adik. Bagi Bagas, utamakan makan karena makan adalah hal yang paling penting.
Alfian bangkit dari duduknya, rasanya hari ini sangat melelahkan dan menyenangkan. Saat hendak masuk ke dalam kamar, Alfian merasa ada yang aneh. Tunggu, sejak kapan kasur Alfian baru?
"Bang, lo beli kasur dimana?" tanya Alfian dari dalam kamar.
"Twoko Wedya." Jawab Bagas, sambil mengunyah makanannya.
"Hah, toko Widia?"
Alfian kembali keluar kamar, karena yang Alfian tahu Widia dekat kontrakannya adalah penjual sate bukan kasur.
"Kenyang gue."
Bagas menepuk pelan perutnya, satu porsi nasi goreng dan 2 porsi sate di habiskan sendiri tanpa mau repot-repot memikirkan sang adik.
"Bang, emang sejak kapan mbak widia jualan kasur?" tanya Alfian penasaran.
Bagas menatap Alfian bingung, dirinya baru beberapa hari tinggal disini. Tidak mengenal, siapa itu Widia.
"Widia, siapa?" tanya Bagas pada Alfian.
Alfian berdecak.
"Tadi gue nanya, lo beli kasur di mana lo jawab di toko mbak widia." Jawab Alfian, membuat Bagas melongo.
"Lah, si g****k. Yang bilang mbak widia siapa anjir!" Seru Bagas.
"Lo, sendiri yang bilang."
Bagas menghela nafas berat, kenapa Alfian sangat bodoh!
"Gue beli kasur, di toko pedia."
"Si k*****t, makanya kalau ngomong jangan sambil makan."
Karena kesal, Alfian meninggalkan Bagas yang tersenyum bodoh.
"Tapi, dari namanya aja udah cantik. Dia, ada rencana nambah suami enggak ya."
Bagas bangkit, menyusul sang adik. Niatnya hanya untuk menjahili Alfian. Bagi Bagas, sehari saja tidak menggangu sang adik rasanya ada yang kurang. Itulah, alasan mengapa Bagas lebih memilih tinggal bersama Alfian selain itu Bagas juga bisa menjaga sang adik dari pergaulan bebas.
"Al." Panggil Bagas, saat Alfian baru keluar dari kamar mandi.
Alfian menoleh, aura buruk muncul saat Bagas tiba tiba tersenyum.
"Perlu, gue bacain ayat kursi nih kayaknya!"
Bagas terkekeh, lalu merebahkan dirinya di kasur baru yang di beli tadi siang. Bagas, tidak pernah main main dengan ucapannya apalagi kondisi kasur Alfian tidak cukup untuk mereka berdua.
"Si Mbak Widia, udah nikah ya Al?" tanya Bagas, sambil tersenyum tipis.
Alfian menoleh, sedikit heran dengan pertanyaan sang kakak.
"Ya, menurut lo aja gimana. Anak udah empat,"
"Buset, udah empat aja anaknya. Padahal, gue mau daftar jadi suami kedua." Bagas semakin ngawur, apa laki laki itu ada niatan merebut istri orang?
"Katanya, suka cewek yang wangi. Ini malah, nyari istri orang."
"Ya, kayaknya parfumnya alami dari asap sate."
Alfian, melemparkan handuk basah yang tadi di gunakan untuk mengeringkan rambutnya.
"Suka banget, sama mbak widia?" tanya Alfian, sambil bermain ponsel.
Bagas menggeleng.
"Enggaklah, masa gue yang ganteng ini suka sama istri orang. Gue, lagi suka sih sama cewek tapi kayaknya yang ini modal tampang sama mobil enggak bisa di dapetin deh." Ujar Bagas.
Alfian masih bertahan, menjadi pendengar setia. Karena, jika sudah sedikit pesimis berarti Bagas tidak main main dengan perasaannya.
"Dia, orangnya galak banget. Masa nih, gue minta nomornya enggak di kasih." Keluh, Bagas.
Alfian tersenyum, jadi begini saat Bagas sedang dalam mode galau.
"Di mana mana, orang kenalan dulu. Kalau, langsung minta nomornya ya enggak bakalan di kasih lah. Katanya senior, kok gini aja enggak paham." Cibir Alfian.
"Gue udah tau namanya, jadi buat apa harus kenalan dulu?"
Alfian menggeleng pelan, mungkin karena Bagas terlalu lama menyandang status jomblonya membuat kakak satu satunya menjadi lupa cara mendekati wanita.
"Lo, beneran udah tahu namanya?" tanya Alfian.
Bagas mengangguk, perempuan yang di sukai Bagas adalah perempuan yang tidak sengaja di temui di sebuah warung makan. Di saat Bagas hendak memesan makanan, pemilik warung memanggil nama sang gadis.
"Udah," jawab Bagas lesu.
"Sekarang, gue tanya lagi. Dia, tahu nama lo enggak?"
Bagas nampak berfikir, kemudian menggeleng membuat Alfian gemas sendiri. Katanya, sudah kenal tapi kenapa perempuan itu tidak tahu namanya.
"Jangan bilang, kalau lo tahu nama dia tapi dia enggak tahu nama lo?"
Lagi lagi, Bagas mengangguk membuat sang adik mengusap wajahnya kasar. Apa itu bisa disebut kenal?
"Iya, gue kenal dia. Tapi dia enggak kenal gue. Seandainya, di tahu kalau gue ada di dunia ini aja gue udah seneng banget Al." Lirih Bagas.
"Sejak kapan, lo suka dia?"
Bagas memeluk guling yang ada di sebelahnya, rasanya sangat aneh padahal mereka belum lam bertemu dan Bagas sudah galau seperti ini.
"Dari kemarin,"
"Lo bisa suka secepat itu sama orang baru?"
Alfian benar benar tidak habis pikir, kenapa kakaknya bisa galau hanya karena gadis yang baru saja di temui. Bagaimana, jika Bagas menjadi Alfian yang harus memendam perasaannya untuk Stevi hampir tiga tahun lamanya. Mungkin, Bagas bisa gila karena melihat sang gadis pujaan bersama laki laki lain.
Ngomong ngomong soal Stevi, sedang apa gadis itu sekarang. Sejak Stevi mengatakan, ingin memulai semuanya dari awal. Alfian, semakin yakin jika masih ada peluang untuknya membuat Stevi membalas perasaannya.
"Al, menurut lo dia suka gue juga enggak ya? soalnya gue kemarin pas minta nomornya dia malah marah marah." Ujar Bagas.
"Positif thinking aja, mungkin lagi pms." Jawab Alfian asal, mana mau Alfian memikirkan hal yang tidak penting. Bisa jadi, perempuan yang di sukai Bagas sudah memiliki pacar.
"Emang sih, cewek kalau lagi pms galak banget heran gue."
Alfian memilih mengerjakan tugas sekolahnya, karena besok siang dirinya harus bekerja. Sepertinya, Stevi memang sangat berpengaruh dalam kehidupan Alfian yang sekarang. Terbukti bahwa, saat ini Alfian mengikuti apa yang gadis itu katakan. Meskipun, Alfian harus bekerja tugas sekolah harus tetap di kerjakan.
"Belajar yang rajin, jangan cuma pacaran aja yang rajin. Bucin sama belajar, harus seimbang!"
"Hm." Gumam Alfian.
"Kalau lo ada masalah sama adik ipar, cerita aja ke gue. Masalah kayak gitu, gue udah khatam."
Apa Bagas mengatakan itu dalam keadaan tidak sadar, padahal baru beberapa menit yang lalu sang kakak mengeluh sangat sulit mendekati gadis yang ia sukai. Tapi sekarang, Bagas mengatakan seolah-olah semuanya tidak terjadi. Alfian curiga, jika sang kakak sudah pikun.
Kasian, mana masih muda. Batin Alfian.
"Lo yakin, mau ngasih solusi ke gue?" tanya Alfian ragu.
Bagas mengubah posisinya menjadi duduk.
"Yakin, gue." Jawab Bagas mantap, membuat sang adik tersenyum sinis.
"Lo sadar enggak sih bang, lo itu jomblo akut. Gaya banget, mau ngasih gue solusi. Urusin aja sana, gebetan lo!"
"Al." Panggil Bagas.
"Hm,"
"Lo mau tahu, kenapa gue yang jomblo ini mau bantu lo di saat lo ada masalah sama adik ipar?"
"Kenapa?"
Bagas berdiri, menghampiri sang adik yang sedang belajar.
"Karena pelatih, enggak ikutan main."
Stevi baru saja menyelesaikan tugas sekolah yang harus di kumpulkan besok, gadis yang sudah biasa mendapatkan peringkat pertama itu tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar. Bagi Stevi, jika keluarganya tidak bangga memiliki anak seperti dirinya setidaknya ada yang bisa di banggakan dari Stevi yaitu sebuah prestasi. Meskipun, Stevi tahu jika dirinya pintar tidak akan bisa merubah apapun. Menjadi Stevi tidaklah mudah, di sekolah tidak memiliki teman. Di keluarganya seperti orang asing, gadis yang malang.
"Aku, kangen banget sama mereka. Tapi kayaknya, mereka selalu baik baik aja tanpa aku."
Tanpa sadar, Stevi meneteskan air matanya. Sangat sulit untuk menjadi gadis yang kuat, di usia belasan. Orang tuanya, hanya memberi uang bulanan yang cukup untuk makan dan biaya sekolah. Tidak ada uang lebih, itulah alasan mengapa Stevi tidak pernah pergi ke kantin dan memilih membawa bekal dari rumah.
"Aku sebenarnya, makin enggak enak sama Alfian. Kasihan, dia setiap hari harus antar jemput aku ke sekolah. Tapi aku, lebih kasihan liat senyum Alfian redup."
Yang Stevi tahu, kehidupannya dan Alfian tidaklah berbeda. Hanya saja, Alfian yang memutuskan pergi dari rumah sementara Stevi di paksa pergi dari rumah karena alasan pendidikan. Alfian beruntung, masih memiliki Bagas yang mau menerima laki laki itu. Sementara Stevi, tidak ada yang pernah menjenguknya selama hampir tiga tahun terakhir.
Dulu, pernah Stevi memutuskan untuk menabung selama satu semester. Hanya untuk, biaya transportasi pulang karena jika meminta pada orang tuanya tidak akan di izinkan jadilah gadis itu bertekad untuk menabung. Saat liburan kelas XI, Stevi merasa uangnya cukup untuk pulang. Gadis itu merasa senang, karena bisa pulang dan bertemu orang tuanya. Tapi semuanya tidak sesuai dengan harapannya, orang tuanya malah mengusir Stevi karena tidak ingin melihat sang anak pulang. Miris, Stevi ada tapi kehadirannya seperti tidak di inginkan. Sejak saat itu, Stevi memilih tidak pernah pulang meskipun hatinya ingin. Terkadang, luka tercipta dari orang yang paling kita cintai. Setelah orang tuanya, Stevi kembali tersakiti karena Arya menjadikan dirinya sebagai selingkuhan.