Part 13

1512 Kata
Jika Alfian dan Stevi sedang menikmati kebersamaan mereka, berbeda dengan Bagas. Cowok itu malah, memilih menggantikan pekerjaan sang adik. Bukan tanpa alasan, Bagas melakukan itu karena dua alasan. Alasan yang pertama, karena ingin Alfian menikmati masa masa akhir SMA nya bersama Stevi. Bagas tahu, Alfian terpaksa melakukan itu semua untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri. Entah apa yang membuat Alfian pergi dari rumah. Bahkan, Alfian tidak pernah bercerita apapun padanya. Alasan yang kedua adalah, Bagas sedang ingin mendekati seseorang. Gadis yang sederhana, hampir seperti Stevi bedanya Stevi terlalu pendiam sementara gadis yang Bagas suka sangat berisik dan galak. "Gue mulai dari mana nih, masa iya langsung ke tempat dia kerja nanti ketahuan dong kalau gue suka dia." Gumam Bagas, pada dirinya sendiri. Bagas kembali membuka ponselnya, membuka aplikasi i********: tujuannya hanya satu menjadi stalker dengan akun palsu miliknya. Berulang kali, Bagas berdecak kagum gadis itu sangat sederhana dan pekerja keras. Apa mungkin, Bagas benar benar menyukai gadis itu atau hanya sekedar mengagumi. "Cantik sih, baik juga." Bagas berguling kesana kemari, di atas kasur milik Alfian. "Kayaknya gue harus cek out kasur deh, sakit semua nih badan gue ya Tuhan." Berbeda dengan Bagas, Alfian sibuk merapikan rambut Stevi yang menutupi wajah cantiknya. Saat ini, mereka sedang berada di pantai. Stevi sudah menolak, tapi Alfian tetap kekeh mengajak gadisnya ke pantai. Bukan karena ingin modus berlama-lama bersama Stevi, Alfian hanya ingin membuat beberapa kenangan di beberapa tempat bersama Stevi. Alfian pikir, jika suatu saat nanti mereka tidak di takdirkan bersama dalam waktu yang lama. Setidaknya, Alfian pernah memberikan Stevi sedikit kenangan manis. "Kamu sering ke pantai?" tanya Stevi. Alfian menggeleng, pantai memang indah tapi sejak dirinya pergi dari rumah tidak ada waktu untuk sering mengunjungi pantai. Karena Alfian sibuk, bekerja. "Enggak sering, cuma beberapa kali." Alfian menarik tangan Stevi pelan, mengajak gadis itu duduk di pasir pantai yang bersih. Mengabaikan penolakan Stevi, karena gadis itu tidak terbiasa duduk di atas pasir seperti ini. "Kamu, kalau kesini sama siapa? Pacar kamu ya?" "Sendiri, kan kamu pacar pertamaku." Hening, mereka sama sama menikmati hembusan angin yang begitu menenangkan. Stevi ingin bertanya, kenapa Alfian pergi dari rumah tapi apa Stevi punya hak untuk bertanya. "Alasan kamu ngajak, aku ke pantai apa Fian?" Alfian menoleh ke arah Stevi, gadis itu bertanya padanya tapi tangannya sibuk bermain pasir. "Enggak perlu alasan, buat ngajak pacar ke pantai. Selagi ada waktu, aku bakalan sering ajak kamu kesini kalau kamu suka." Jawab Alfian. "Aku suka, menurut aku pantai itu tempat terbaik untuk nenangin diri." Alfian meraih tangan Stevi, menggenggam erat tangan gadisnya seolah mengatakan semuanya akan baik baik saja. "Mulai sekarang, kalau kamu pengen ke pantai bilang ya. Aku bakalan ajak kamu kesini lagi," ucap Alfian tulus. "Aku, ngerepotin kamu banget kayaknya," Stevi merasa semakin hari, semakin merepotkan Alfian. Bahkan, cowok itu juga rela tidak bekerja hanya untuk membuat dirinya bahagia. "Aku kan yang maksa kamu ke pantai, selagi aku bisa aku bakal lakuin apa yang kamu mau, kecuali pergi dari kamu kayaknya aku enggak akan pernah bisa." Ya, Stevi juga berfikir seperti itu. Apa jadinya jika, Alfian tidak ada di sisinya saat ini. Mungkin, Stevi semakin terpuruk atau mungkin sudah bunuh diri karena patah hati. Stevi memang egois, belum bisa melupakan Arya sepenuhnya tetapi juga belum siap jika harus kehilangan Alfian. Gadis itu, menghembuskan nafas lelah. Terlalu rumit, kisah percintaan di usia belasan tahun. Padahal, belum tentu Arya dan Anya akan berjodoh. Sama seperti dirinya, belum tentu berjodoh dengan Alfian. "Makasih Fian, dan maaf kalau aku belum bisa balas perasaan kamu." Stevi menunduk, jika perasaan bisa di paksakan mungkin dirinya akan memilih mencintai Alfian. "Aku ngerti, apa yang enggak bisa buat kamu buka hati buat aku. Aku juga ikhlas kok nungguin kamu," Stevi membalas senyuman Alfian, ini belum terlambat. Masih banyak waktu, untuk belajar menerima sesuatu yang datang dan mengikhlaskan yang pergi. "Fian." Panggil Stevi. "Hm." "Aku mau..." "Mau apa?" tanya Alfian was was. Jangan sampai, Stevi mengatakan jika ingin mengakhiri hubungan mereka. Stevi terlihat gugup, membuat Alfian semakin panik. "Aku mau, mulai semuanya dari awal Fian." Alfian belum memahami ucapan Stevi. "Aku mau kita mulai hubungan ini, dari awal lagi. Di awal hubungan kita, kita cuma orang asing yang enggak sengaja ketemu." Stevi mencoba menjelaskan. Alfian tersenyum, apa ini artinya Stevi sudah mau membuka hati untuknya. Jika benar, Alfian sangat merasa bahagia karena usahanya selama ini tidak sia sia. "Kamu yakin?" Alfian tidak ingin, perempuan yang di cintainya merasa terpaksa sebisa mungkin Alfian tidak akan menyakiti Stevi. Sudah cukup, Arya menggoreskan luka di dalam hatinya sang gadis. Luka yang teramat dalam, dan karena luka itu Alfian harus rela menjadikan dirinya sendiri sebagai pelampiasan! Tanpa ragu, Stevi mengangguk. Jika Alfian bisa menerima semua kekurangan yang ada pada diri Stevi, begitu juga dengan Stevi yang akan berusaha menerima Alfian. Bukan sebagai pelampiasan, tapi sebagai laki laki yang di hargai sebagai kekasih. Hubungan yang awalnya, karena rasa kasihan kini berubah karena dua orang yang saling takut kehilangan. "Aku pernah seyakin ini sebelumnya, dan akhirnya aku kecewa." Stevi tertawa hambar. Nyatanya, luka yang Arya tinggalkan masih membekas. "Hey, jangan samain aku sama masa lalu kamu ya. Enggak semua orang itu sama, kita mulai semuanya dari awal lagi." Ucap Alfian. Alfian memeluk Stevi, gadis pendiam dan polos itu adalah kekasihnya. Gadis yang mulai sekarang, bersedia membuka hati untuknya. Gadis yang akan, Alfian perjuangkan kebahagiaannya. "Lihat aku," pinta Alfian, dan Stevi menuruti perintah Alfian. "Mulai sekarang, kamu punya aku dan begitu juga sebaliknya. Jangan pernah merasa sendiri, ada aku yang selalu ada buat kamu. Mungkin, ini terkesan aneh karena kita berawal dari dua orang asing yang bodohnya aku maksa kamu jadi pacar aku. Tapi kamu harus tau, aku enggak pernah main main sama sebuah hubungan." Stevi terharu mendengar ucapan Alfian, dulu Stevi sangat ingin laki laki itu menjauh darinya tapi sekarang berada jauh dari Alfian sangat membosankan. "Fian, apa kamu sayang sama aku?" Pertanyaan yang seharusnya Stevi sudah tahu jawabannya, bukankah selama ini Alfian sudah sering menunjukkan sikapnya pada Stevi sebagai bukti jika laki laki itu begitu menyayanginya. Alfian mengangguk, perasaan yang saat ini ia rasakan tidak lagi perlu di sembunyikan. Awalnya, memang Alfian sudah memiliki rasa pada Stevi tapi sadar akan keadaan yang tidak mungkin jika harus mengatakan yang sebenarnya. Alfian memilih diam, diam bukan berarti tidak pernah berusaha. Setiap hari, hal yang wajib di lakukan adalah mengikuti Stevi ke perpustakaan. "Aku sayang sama kamu, sebelum kita pacaran." "Hah?" Alfian terkekeh geli, terlihat jelas jika Stevi tidak mempercayai hal itu. "Iya dari kelas X mungkin, awal kita masuk sekolah. Kamu masih pakai, seragam SMP gemes banget aku waktu itu tapi kamu terlalu cuek. Aku jadi sungkan, mau deketin kamu." Ingatannya kembali pada saat mereka pertama kali masuk SMA, Alfian yang datang hampir terlambat tidak sengaja menabrak Stevi. Biasanya, gadis yang di tabrak akan marah padanya tapi hal itu tidak berlaku pada Stevi. Bukannya marah, Stevi malah meminta maaf karena sudah menghalangi jalan Alfian. "Maaf, gara gara aku kamu jadi terlambat. Aku minta maaf ya, permisi." Setelah meminta maaf, Stevi pergi dengan tergesa membuat Alfian terdiam beberapa saat. "Lah, kan gue yang nabrak kok dia yang minta maaf sih?" Tiba tiba Alfian tersenyum, remaja 15 tahun itu sempat memperhatikan ekspresi Stevi yang ketakutan karena di tabrak Alfian. "Cantik," ujar Alfian dengan sadar. Ya memang, Stevi gadis yang cantik dan manis. Point pentingnya, gadis itu tidak galak seperti gadis yang lain. Meskipun begitu, Stevi juga terlihat pendiam. Sejak saat itu, Alfian selalu mencari tahu tentang Stevi lewat teman temannya. Bisa saja, Alfian mencari sosial media gadis itu tapi tidak ketemu. Hal yang paling membuat Alfian ingin melindungi Stevi saat gadis itu selalu sendirian, tidak pernah terlihat berinteraksi dengan teman temannya. Namun, Alfian juga bangga dengan gadis cantik itu di balik sikap Stevi yang terlihat anti sosial ternyata gadis itu selalu mendapatkan peringkat pertama di kelas sejak SMP. "Aku enggak nyangka, kalau kamu pernah selama itu liatin aku terus." Ucap Stevi heran, pasalnya selama ini tidak ada yang mau berteman dengannya. Beruntungnya, Stevi memiliki otak yang cerdas jadi tidak perlu meminta contekan pada temannya saat ujian berlangsung. "Aku juga enggak nyangka, gadis yang selama ini aku perhatiin dari jauh hari ini ada di pantai bareng sama aku. Dan yang lebih spesial, hari ini dia mulai menerima aku jadi pacarnya." Di luar dugaan Alfian, Stevi malah memeluk dirinya. Ini adalah, kali pertama Alfian merasakan hangatnya sebuah pelukan setelah sekian lama pergi dari rumah. Alfian membalas pelukan Stevi dengan sayang, bukannya ingin modus Alfian tahu Stevi tidak sepenuhnya sadar dengan apa yang sedang ia lakukan. "Kenceng banget meluknya," goda Alfian. Seolah tersadar, Stevi dengan cepat melepaskan pelukannya tapi di tahan oleh Alfian. Cowok itu, sengaja menahan tubuh Stevi agar lebih lama memeluknya. "Buru buru banget, lama juga enggak apa apa." Alfian mengusap rambut Stevi. "Alfian," "Hm." "Aku malu!" Alfian tertawa puas, sepertinya setelah ini dirinya harus mengucapkan terima kasih pada Bagas. Ngomong ngomong soal Bagas, apa kabar jomblo akut itu sekarang? Bagas dengan berbagai segala candaannya, mampu membuat Alfian sedikit melupakan masalahnya. "Aku sayang kamu, Stevi Ileana. Aku enggak peduli, kalau kamu masih ada di masa lalu karena aku yakin suatu saat nanti kamu juga akan bilang. Aku sayang kamu Alfian."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN