Part 12

1509 Kata
Stevi berjalan malas menuju perpustakaan, hari ini sangat membosankan. Apalagi, sejak tadi pagi Arya terus saja mengirimkan pesan padanya. Andai saja, Arya tahu jika Stevi belum bisa melupakan laki laki itu apa Arya akan mengajaknya kembali? Stevi memang egois, padahal sudah ada Alfian yang mau menerimanya dengan tulus. Meskipun, belum ada cinta di hatinya tapi Alfian mau menunggunya. "Lo, ke perpustakaan cuma mau diem aja?" Stevi menoleh, baru menyadari jika Viola mengikuti dirinya. Jika dulu, Stevi selalu sendiri sekarang berbeda. Ada Viola, yang selalu mengikuti dirinya. "Kamu ngapain di sini?" tanya Stevi. Seperti biasa, Viola memutar bola matanya malas. "Kebiasaan nih anak, kalau ada yang nanya di jawab." Sinis Viola. Stevi meringis. "Aku enggak tau, mau ngapain." Jawab Stevi lesu, entah hilang kemana semangatnya hari ini. "Lo sakit?" tangan Viola, menyentuh kening Stevi. Stevi menggeleng, secara fisik dirinya memang sehat tapi sangat berbeda dengan hatinya. "Aku baik baik aja kok, cuma lagi enggak mood aja." Viola duduk di sebelah Stevi, jika di perhatikan Stevi memang tidak semangat hari ini. Apa gadis itu sakit? Mereka berdua hanya diam, selain adanya peraturan jika berada di dalam perpustakaan tidak boleh berisik Stevi dan Viola tidak tahu harus bicara apa. Hampir lima belas menit, Stevi mendengar pintu perpustakaan terbuka. Hal tersebut, tidak menggangu ketenangan Stevi lagipula bukankah semua murid di Sekolah ini bisa keluar masuk perpustakaan? "La, bisa pergi?" Stevi menatap Alfian heran, kenapa laki laki itu bisa ada di perpustakaan? "Karena gue lagi baik, gue pergi dulu." Alfian tersenyum. "Makasih, jagain temen gue lagi di godain dede gemes." Ucap Alfian. Yang di maksud teman Alfian adalah Niko, kekasih Viola yang terkenal punya pesona luar biasa. Namun, hal itu tetap tidak bisa membuat Viola berpaling. Niko dengan segala kekurangan dan kelebihannya tetaplah laki laki yang baik di mata Viola. "Kamu, ngapain sih minta Viola pergi?" tanya Stevi kesal. Alfian menoleh, tadi Niko mengatakan padanya jika Viola mengirimkan pesan jika Stevi terlihat tidak bersemangat hari ini. Tanpa menunggu lama, Alfian bergegas berlari menuju perpustakaan. "Tadi Viola chat Niko, dia bilang kamu lemas. Kamu sakit ya?" Stevi menggeleng. "Enggak, aku cuma lagi bad mood aja Fian." Jawab Stevi, apa adanya. Alfian menghembuskan nafas lega, bersyukur jika gadisnya baik baik saja. "Hari ini, semua guru rapat. Kita boleh pulang cepat, mau aku beliin es krim?" Tidak ingin membuat Alfian kecewa, Stevi mengangguk. Menurut Stevi, Alfian terlalu baik untuk di sakiti berkali kali. "Ayo cantik, kita beli es krim." Stevi dan Alfian keluar dari perpustakaan, keduanya berjalan ke kelas Stevi untuk mengambil tas. Dari kejauhan, bisa Alfian lihat jika Niko sedang berusaha membujuk Viola yang sedang merajuk. Dalam hati, Alfian bersorak kegirangan kapan lagi bisa melihat sahabatnya tersiksa seperti itu? Niko yang malang, sebenernya Niko itu setia hanya saja Niko di berikan kelebihan meluluhkan hati perempuan dengan mudah. Hampir semua, orang tau jika Niko adalah pacar Viola. Tapi hal itu, tidak membuat para gadis mundur untuk mendapatkan hati Niko. "Makanya La, punya pacar di jagain. Mana yang deketin dede gemes lagi," Niko melayangkan tatapan tajamnya pada Alfian, sepertinya Alfian sudah bosan mendapat gelar Sahabat terbaik Niko. "Udah berapa adik kelas yang kamu baperin?" tanya Viola pada Niko. "Aku enggak pernah baperin mereka yang, tapi mereka sendiri yang baper sama aku." Sedikit berbohong, mungkin tidak apa menurut Niko. Alfian menggeleng, tahu persis apa yang Niko rencanakan. Setelah ini, pasti akan ada drama baru. "Jangan percaya La, pacar lo itu udah saatnya di ruqyah biar sehat otaknya." "Diem, b*****t!" umpat Niko. Viola menatap Niko sekilas, hal seperti ini bukan hal baru di hubungan mereka. Meskipun, Viola tahu Niko begitu setia padanya tapi tetap saja gadis itu tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya. "Yang..." Alfian merinding, sepertinya Niko lupa jika mereka masih ada di sekolah. Beruntungnya, Stevi sudah keluar dari kelas jadi Alfian tidak perlu berlama-lama untuk melihat drama rumah tangga Niko dan Viola. "Viola, kenapa Fian?" tanya Stevi pelan. Alfian langsung menggandeng tangan Stevi, jangan sampai Stevi mendapatkan kesialan gara gara terlalu banyak bertanya pada Viola. "Jangan banyak tanya sama Viola dulu, dia lagi mode senggol bacok." Alfian memakaikan helm untuk Stevi. Stevi mengangguk, lagipula Stevi bukan si gadis kepo yang suka ikut campur urusan orang lain. Alfian melajukan motornya, tujuannya saat ini ada kedai es krim. Kata orang, es krim dan cokelat bisa membuat mood menjadi lebih baik. Karena jarak kedai es krim lebih dekat dari sekolah, Alfian memilih mengajak gadisnya ke kedai es krim saja. "Mau rasa apa?" tanya Alfian. "Vanila." Alfian mengangguk, lalu memesan es krim sesuai pesanan gadisnya. Hari ini, Alfian tidak bekerja kata Bagas khusus hari ini Alfian harus menghabiskan waktunya bersama Stevi. Sementara itu, pekerjaan Alfian di gantikan oleh Bagas. Berulang kali, Alfian mengucapkan rasa bersyukurnya meskipun hubungannya dengan orang tuanya jauh dari kata baik baik saja tapi masih ada Bagas yang mau membimbingnya selama ini. "Selamat menikmati," ucap Alfian, dengan senyum yang masih sama. Untuk sesaat, Stevi terpesona melihat senyum Alfian. Apa mungkin, Alfian banyak menyembunyikan luka di balik senyumannya? "Kamu, enggak suka es krim ya Fian?" "Aku enggak suka yang terlalu manis apalagi dingin, tapi kalau kamu aku suka kok." Lagi lagi, Alfian tertawa. Stevi hanya tersenyum, jujur saja seiring berjalannya waktu Stevi bisa menerima kehadiran Alfian di sampingnya. Namun, untuk memberikan Alfian tempat di hatinya tidak akan semudah itu. "Habis ini, jalan yuk aku libur kerja. Enggak libur sih, tapi di gantiin sama bang Bagas." Stevi hampir lupa, jika Alfian memiliki saudara kandung. Bagas Herlambang, laki laki dengan paras menawan yang sayangnya masih jomblo. "Abang kamu, masih disini?" tanya Stevi, sambil menikmati es krimnya. Alfian mengangguk, dirinya belum tahu pasti apa yang membuat Bagas betah tinggal bersamanya di kamar yang kecil seperti itu. Kalau Alfian, dengan senang hati membiarkan Bagas tinggal bersamanya. Selain semakin berhemat, Bagas juga dengan ikhlas memberikan ATM nya untuk sang adik. "Masih, mau cari kerja di sini katanya. Aku juga libur kerja karena di suruh bang Bagas," jawab Alfian. "Kenapa?" Alfian tersenyum, ada rasa senang jika Stevi mulai sering bertanya. "Katanya, aku di suruh full time sama kamu. Dia mau gantiin aku hari ini." Jawab Alfian. "Aku, jadi enggak enak sama Bang Bagas Fian," lirih Stevi. "Di enakin aja, percaya sama aku. Kalau Bagas lagi baik, berarti ada misi rahasia yang dia jalanin." "Contohnya?" Alfian mencubit pipi Stevi, jika banyak bertanya Stevi terlihat semakin menggemaskan. "Lagi suka sama seseorang biasanya, Bagas tipe laki laki yang enggak bisa langsung to the point orangnya. Dia harus, cari tau sendiri apa yang dia pengen tahu." Stevi mengangguk, mungkin di dalam keluarga Alfian dan Bagas menjadi seorang yang pekerja keras adalah sebuah keharusan. Jika tidak, mana mungkin Bagas mau menggantikan pekerjaan Alfian hanya demi seorang gadis? "Ternyata Abang kamu, bucin juga ya Fian." "Iya, aku juga bucin sama kamu kalau kamu lupa." Keduanya tertawa, entah apa yang mereka tertawakan. Mungkin mereka saling menertawakan, diri mereka sendiri. Sejauh ini, Alfian masih menjadi laki laki terbaik yang pernah Stevi temui. Mengingat bagaimana pertemuan mereka, tidak ada pernah tahu jika Alfian selalu memperhatikan Stevi dari kejauhan. "Alfian," panggil Stevi. "Kenapa? masih bad mood ya?" Stevi menggeleng, moodnya sudah jauh lebih baik. "Makasih ya, kamu udah baik banget sama aku dan maaf kalau selama kita kenal aku belum bisa bales kebaikan kamu." Alfian menggenggam tangan Stevi, melihat gadis itu tersenyum sudah lebih dari cukup. "Jangan minta maaf, aku selalu berusaha ada buat kamu. Jangan pernah merasa hutang budi sama aku," ujar Alfian. Sudah seharusnya Stevi merasa bersyukur, sejak awal pertemuan Alfian selalu ada untuknya sementara Stevi tidak pernah menganggap laki laki itu lebih dari teman. Katakan saja Stevi jahat, tapi semua orang tahu jika hati tidak bisa di paksakan. "Mikirin apa hm?" "Enggak kok, aku cuma lagi belajar bersyukur aja. Aku bersyukur, karena aku bisa kenal kamu Fian." Ucap Stevi pada Alfian. Alfian tersenyum, mungkinkah ini awal yang baik untuk hubungan mereka. Dulu, Alfian tidak cukup berani untuk mengungkapkan perasaannya pada Stevi sampai akhirnya Alfian harus menerima kenyataan jika Stevi menerima Arya sebagai kekasihnya. Alfian tahu, jika Arya hanya menjadikan Stevi pelampiasan saat laki laki itu bosan pada Anya. Dan hal yang lebih bodoh lagi adalah, Anya setuju jika Arya menjadikan Stevi sebagai selingkuhan. Stevi terlalu polos, sampai tidak menyadari bahwa kebaikan Arya hanyalah sebuah kebohongan. "Aku yang lebih bersyukur, karena kamu aku jadi tahu apa tujuan hidup yang sebenarnya. Karena kamu aku tau, apa alasanku untuk bertahan selama ini." Ucap Alfian dengan tulus. "Habis ini kita mau kemana Fian?" tanya Stevi, gadis itu terlalu canggung untuk mendengarkan ungkapan hati Alfian. "Aku anterin kamu pulang dulu, enggak nyaman juga kalau jalan pakai seragam sekolah gini." "Emang enggak apa apa?" "Enggaklah, kita udah kelas XII harus jadi contoh yang baik buat adik kelas dan anak anak kita nanti." Stevi menggeleng, Alfian yang dulu terlihat pendiam dan galak. Ternyata mempunyai sifat penyayang, apa mungkin ini semua karena Alfian adalah adik dari Bagas? "Mau nambah lagi, atau pulang sekarang?" "Sekarang aja," Alfian dan Stevi keluar dari kedai es krim, tanpa ragu Alfian menggandeng tangan Stevi. Seolah mengatakan pada dunia, jika Stevi adalah miliknya. Dan Stevi juga adalah dunianya. Alfian tidak tahu, apa yang akan terjadi di hari esok yang Alfian tahu jika dirinya akan selalu membuat gadisnya tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN