Seperti biasa, setiap hari senin semua murid melaksanakan kegiatan upacara bendera. Tidak terkecuali Arya, bukannya segera pergi ke lapangan cowok itu malah berdiri di depan kelas Stevi. Banyak pasang mata yang mengagumi ciptaan Tuhan yang satu ini, tapi Arya tidak peduli karena tujuannya saat ini untuk bertemu Stevi. Arya tersenyum saat Stevi, keluar kelas sambil memakai dasi abu abu miliknya. Dulu, sewaktu mereka masih berpacaran Stevi hampir di hukum saat upacara karena gadis itu lupa tidak memakai dasi. Akhirnya, Arya meminjamkan dasinya untuk sang gadis dan berakhir dengan dirinya yang mendapatkan hukuman.
"Gue duluan, lo udah di tungguin kayaknya." Ucap Lala, saat gadis itu tahu Arya menunggu Stevi sejak tadi.
Stevi hanya mengangguk, dirinya dan Arya memang sudah mantan seharusnya Arya menjaga jarak bukan malah datang dan menunggu dirinya seperti ini. Stevi menatap sekeliling, memastikan jika Alfian tidak melihat Arya menunggu dirinya. Walaupun, belum ada rasa apapun tapi Stevi berusaha menjaga perasaan Alfian.
"Lama banget," ujar Arya tidak tahu diri. Memangnya siapa, yang menyuruhnya untuk datang dan mau menunggu terlalu lama.
"Kamu, ngomong sama aku?" tanya Stevi.
Arya mengangguk, hari ini Anya tidak berangkat jadilah Stevi yang akan menjadi pasangannya hari ini. Seolah cowok itu lupa jika dulu pernah menyakiti hati Stevi. Jangan lupakan Alfian, yang saat ini tengah mengawasi mereka dari jauh. Meskipun Alfian, selalu mengatakan ingin menunggu sampai Stevi benar benar mencintainya. Tetapi Alfian, sering kali harus merasakan cemburu.
"Mau upacara kan?"
"Iya, aku duluan ya Fian."
Alfian menahan dirinya, untuk tidak menghajar Arya di sekolah. Apa tidak cukup, hanya dengan satu perempuan? Bahkan, saat ini dengan wajah tanpa dosa Arya menggenggam erat tangan Stevi. Meskipun, Stevi terlihat berusaha melepaskan genggaman Arya. Tapi tetap saja, tenaga Stevi tidak terlalu kuat untuk melepaskan diri dengan mudah. Stevi terlihat, sangat tidak nyaman karena banyak murid yang memperhatikan mereka. Alfian, hanya bisa memperhatikan mereka dari jauh.
Rasanya, terlalu buruk jika membuat keributan di sekolah hanya karena Stevi. Alfian, tidak ingin jika semua orang semakin menjauhi gadisnya. Sebisa mungkin, Alfian akan menjaga Stevi dari Arya.
"Muka lo, bisa nggak biasa aja?" Niko yang sejak tadi, memperhatikan Alfian seperti hilang semangat.
Seperti tidak ada yang, mengajaknya berbicara. Alfian sama sekali, tidak menjawab pertanyaan Niko. Bukan, saat yang tepat untuk berdebat saat hati dan pikirannya hanya tertuju pada Stevi.
Niko mengusap dadanya dengan sabar. Sudah terbiasa, di abaikan oleh Alfian. Untung saja, Viola tidak seperti ini. Bisa mati, di usia muda jika memiliki pacar dan sahabat yang sikapnya sama.
"Nggak di kasih, jatah lo sama si culun?"
Alfian langsung memberikan tatapan tajam pada Niko, Alfian sangat menjaga Stevi. Tidak ada, sedikit keinginan untuk merusak gadisnya. Karena Alfian tau, mana yang mencintai karena rasa sayang dan mana yang mencintai karena nafsu. Bohong, jika Alfian tidak pernah menahan diri saat bersama Stevi. Tapi Alfian, juga tidak akan melakukan itu. Bukan haknya, untuk meminta apapun yang ada pada diri Stevi. Alfian akan, menjaga gadisnya. Stevi ileana.
"Coba ngomong lagi," suruh Alfian.
Niko menggeleng, sangat tahu tabiat sahabatnya itu. Jika sudah menyayangi seseorang tidak akan pernah menyakiti. Jika bukan, karena Viola yang kini menjadi teman Stevi. Niko, mungkin tidak akan tahu jika Alfian dan Stevi berpacaran.
"Gue masih, sayang nyawa."
Alfian hanya mengangguk, tidak perlu berucap apapun lagi. Cowok itu merasa, upacara hari ini sangat lambat. Kenapa tidak cepat selesai, di tambah pembina upacara begitu santai berbicara di depan. Padahal, muridnya sudah seperti cacing kepanasan.
"Kalau gue pingsan, lo kuat nggak Al gendong gue?" tanya Niko.
Alfian menghembuskan nafas lelah, kenapa manusia seperti Niko tidak bisa diam?
"Walaupun lo pingsan, gue ogah gendong lo." Jawab Alfian dengan kejam.
"Berakhlak sekali ya, anda ini. Coba aja kalau, Stevi yang pingsan tanpa di suruh lo pasti udah maksa buat gendong dia kan."
"Lo udah, tau jawabannya. Diem deh, gue pengen duduk sekarang pegel banget nih badan."
Niko paham, Alfian sudah pasti merasa kelelahan karena setiap hari bekerja sampai pulanga malam. Kadang, ada rasa iri saat melihat sahabatnya begitu keras dalam bekerja. Sementara dirinya, hanya menjadi kaum rebahan. Namun, niko sendiri juga bingung kenapa Alfian sampai mau seperti ini. Padahal, harta keluarga Alfian tidak akan habis jika untuk menghidupi seluruh keluarganya.
"Dari tadi pembina upacara, nggak capek apa ya ngomong terus?"
Alfian menggeleng, dirinya sendiri juga heran apa di sampaikan oleh pembina upacara tidak di mengerti sama sekali. Karena bosan, Alfian merogoh kantong celananya. Mengambil ponsel, berniat ingin mengirim pesan pada Stevi. Tapi Alfian segera memasukkan ponselnya kembali, ternyata di belakangnya ada anggota osis yang berjaga.
"Ngapain main ponsel?" tanya Clara, meskipun adik tingkat tapi keberanian cewek itu patut di acungi jempol.
Alfian menghela nafas berat.
"Cuma, liat jam doang."
"Kan di tangan kakak, ada jam ngapain liat di ponsel?"
Seketika Alfian merasa bodoh, karena tidak bisa mencari alasan yang tepat. Beginilah, resiko menjadi anak baik.
"Lo tau fashion nggak sih, ya biar keren aja. Udah sana, gue sama Alfian lagi upacara malah di ajak ngobrol." Sinis Niko pada Clara.
"Contoh beban keluarga, sekaligus beban sekolah!"
Setelah memberikan kata kata pedas pada kakak kelasnya, Clara kembali mengawasi murid lainnya. Akhirnya Alfian dan Niko bisa bernafas lega, berada di dekat Clara sudah seperti berada di dekat guru BK.
"Adik kelas, minim akhlak. Nggak ada sopan santun."
"Kalau lo lupa, Clara itu masih saudaranya Viola kan?"
Niko hampir lupa, jika memang Clara adalah saudara dari kekasih. Bahkan, mereka tinggal satu rumah. Menyebalkan, di antara banyaknya manusia kenapa harus Clara yang menjadi saudara Viola. Cantik sih, tapi Sifat cuek dari gadis itu sangat berbeda dengan kekasihnya. Ya, Niko wajib bersyukur.
"Lah iya, forget."
Alfian menggeleng pelan, Niko dengan sikap pelupanya memang sangat menyusahkan. Selesai upacara, Alfian langsung menghampiri Stevi. Kali ini, tidak akan di biarkan Arya mendekati pacarnya lagi.
"Capek ya?" Alfian merapikan rambut Stevi, gadis itu mengangguk sambil tersenyum.
"Mau ke kantin, apa ke kelas langsung. Hari ini, jam kosong kan?"
"Kantin aja," jawab Stevi.
Alfian berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Stevi. Dengan senang hati, Stevi menyambut uluran tangan Alfian. Keduanya, berjalan beriringan Alfian tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menggandeng tangan gadisnya. Sebenarnya, Stevi tidak begitu nyaman apalagi sejak tadi Arya selalu mengawasi dirinya. Gadis itu menghela nafas berat, di saat seperti ini kenapa Arya datang kembali.
"Duduk sini, gue pesen makan." Titah Alfian.
"Alfian."
"Ya?"
"Jangan cuma pesen makan, tapi minum juga."
Alfian terkekeh, benar juga apa kata Stevi.
"Siap, tuan putri."
Sambil menunggu Alfian, Stevi memainkan ponselnya. Tidak ada yang menarik, selain satu pesan dari seseorang. Nomornya tidak asing, gadis itu tidak berniat untuk membalas pesan tersebut. Bukannya membalas, Stevi malah mengarsipkannya. Tidak butuh waktu lama, Alfian sudah kembali. Karena memang ini jam belajar, wajar jika kantin tidak begitu ramai.
"Nih makan,"
Stevi menatap Alfian heran, kenapa hanya satu porsi nasi goreng dan dua es teh?
"Kamu, enggak makan?" tanya Stevi.
Alfian menoleh, lalu menggeleng. Alfian memang jarang sekali sarapan pagi.
"Belum lapar, nanti aja."
"Kalau kamu nggak makan, aku juga nggak jadi makan." Ucap Stevi.
Alfian mengernyit bingung, apa hubungannya.
"Makan, nanti sakit."
"Kamu ngomongin, diri kamu sendiri ya? Kan kamu juga belum makan?"
Alfian menggeleng, kenapa Stevi sangat sulit untuk mengerti kebiasaannya. Sarapan memang penting, dan Alfian juga tahu itu. Tapi bagaimana, jika rasa malas yang sudah menjadi kebiasaan setiap hari?
Alfian terkejut, saat Stevi mengarahkan sendok yang berisi nasi goreng ke mulutnya. Namun, dengan senang hati Alfian membuka mulutnya untuk menerima suapan pertama dari Stevi. Rasa bahagia, kini tengah Alfian rasakan. Masih terlalu pagi untuk mendapatkan keuuwuan dari sang pacar. Bukan masih pagi, karena sekarang sudah pukul sembilan.
"Belajar yang bener, kalau Arya deketin kamu cuekin aja ya."
Ah s**l, bahkan Alfian tidak bisa menahan rasa cemburunya di hadapan Stevi.
"Kamu tau?" tanya Stevi tidak enak. Jadi seperti ini, rasanya di cemburui?
Alfian mengangguk, sedikit memaksakan senyumnya.
"Maaf," lirih Stevi.
"Kenapa minta maaf, sebenarnya itu hak kamu mau berteman sama siapa aja. Tapi aku takut, dengan kamu berteman baik dengan mantan. Kamu, bakal ninggalin aku."
Stevi tertegun, meskipun di dalam hatinya belum bisa menerima Alfian sepenuhnya tapi entah mengapa hatinya menghangat saat Alfian mengatakan takut kehilangan dirinya. Stevi, si gadis lugu yang tidak memiliki teman bahkan di jauhkan dari keluarganya sendiri. Kini, mulai merasakan apa artinya di cintai.
"Aku enggak tahu, gimana kita ke depannya. Tapi aku, cuma berusaha enggak nyakitin siapapun. Karena aku tahu, gimana rasanya di sakitin sama orang yang aku anggap baik."
Alfian tersenyum, dirinya tahu apa yang Stevi katakan. Seseorang yang pernah, di khianati akan berpikir seribu kali untuk menyakiti orang lain. Meskipun tidak selalu begitu, sebagian orang memilih untuk menjadi orang yang tidak perduli dengan keadaan sekitar dengan satu tujuan. Menyelamatkan hatinya, dari orang yang salah.
Keduanya masuk ke dalam kelas masing-masing, mencoba untuk selalu berfikiran baik meskipun tidak tahu pasti bagaimana semua itu akan berjalan dengan baik setidaknya mereka akan berusaha.
"Dari mana lo?" suara Niko sudah menggema di dalam kelas, padahal Alfian baru saja ingin duduk di bangku kesayangannya.
Karena suara Niko, kini semua murid memperhatikan dirinya. Alfian menghela nafas panjang, beginilah resiko berteman dengan Niko. Si kepo yang, pelupa. Jangan lupa, kalau niko juga badboy. Poin plusnya, cowok tengil itu setia pada Viola.
"Kurang kurangin, kepo. Banyakin istighfar."
Niko mendengus, padahal dirinya hanya bertanya apa itu salah?
"Punya temen kayak gini, di jual laku berapa?" Niko semakin ngawur.