Part 10

1517 Kata
"Gue suka nih, ternyata lo cepet belajar. Lain kali, kita harus sering ketemu. Biar lo makin lancar bobroknya." Bagas tertawa puas, sementara Alfian hanya diam. "Em, btw gue mau balik duluan." Bagas menatap Alfian, memberikan isyarat pada sang adik. Alfian yang mengerti kode dari Bagas, langsung memberikan kunci pintu kost nya pada Bagas. Setelah mendapatkan kunci kost Alfian, Bagas lalu pamit pada Stevi. "Gue duluan, nitip adek gue. Liat tuh mukanya, udah kayak cacing kepanasan dari tadi." Stevi tersenyum tipis, dalam hati bersyukur karena Bagas segera pulang. "Iya bang, hati hati." Ujar Stevi. "Yang di jalan hati hati, yang di hati kapan ngajak jalan." Sindir Bagas pada adiknya. Alfian tidak menanggapi sindiran Bagas, tidak ada gunanya. Sekarang, hanya ada Stevi dan Alfian. Keduanya sama sama diam, Alfian masih merasa kesal dengan jawaban Stevi. Apa maksudnya? "Fian, kamu nggak ikut pulang?" Tanya Stevi akhirnya, sejak tadi Alfian hanya diam. Alfian menggeleng, kembali fokus pada ponselnya. "Kalau gitu, aku aja yang pulang." Detik berikutnya, Alfian langsung meletakkan ponselnya lalu menatap Stevi. Ternyata, sangat sulit membuat Stevi peka walaupun hanya sedikit saja. "Tadi kesini sama siapa? tumben banget kamu keluar rumah." Stevi terlihat gugup, Alfian tahu ada yang di sembunyikan oleh gadisnya. "Nggak apa-apa nggak mau jujur," Alfian memilih untuk tidak memaksa Stevi jujur. Bisa saja, kejujuran Stevi bisa menyakitkan. "A- aku tadi, bosen terus pengin keluar. Pas udah di luar, aku laper." Jawab Stevi, berharap Alfian akan mempercayainya. Alfian mengangguk, tidak ada salahnya berusaha mempercayai Stevi. Dalam sebuah hubungan, kepercayaan terhadap pasangan sangatlah penting. Namun, Alfian juga manusia biasa. Rasa curiga sudah pasti ada, apalagi Stevi yang belum bisa menerima kehadirannya sebagai kekasihnya. Alfian tersenyum hambar, ternyata cukup melelahkan saat memutuskan untuk menjadi pemeran pengganti. "Habis ini, mau kemana?" mencoba bersikap seperti biasanya, berusaha membuat Stevi merasa nyaman dan tidak terlalu di kekang. "Mau pulang aja, kamu mau kerja atau pulang?" "Libur dulu, ada yang harus di urus." Stevi hanya mengangguk, tidak ingin tahu apapun urusan Alfian. "Kamu, nggak mau tau apa yang lagi aku urusin?" tanya Alfian. Stevi menggeleng, menurutnya tidak perlu ikut campur dalam urusan orang lain. Ya, sampai saat ini Alfian hanyalah orang lain yang menawarkan diri untuk menjadi pengobat lukanya. Egois memang, Stevi tahu itu. "Enggak, lagian aku percaya kamu bisa selesain urusan kamu kok." Alfian mengangguk pelan, Stevi tetaplah Stevi. Si gadis polos dan cuek. Padahal, dulu saat bersama Arya Alfian pernah beberapa kali melihat Stevi manja pada laki laki b******k itu. Andaikan, saja Alfian lebih dulu mengenal Stevi mungkin ceritanya akan berbeda. Semua itu hanyalah, angan dari laki laki yang berusaha membuat Stevi nyaman. Berbeda, dengan Stevi yang masih saja terus terjebak dalam lingkaran masa lalu. Sementara, masa lalunya sudah bahagia bersama wanita lain. "Kalau, aku nggak bisa seperti yang kamu bilang. Apa aku boleh ngeluh ke kamu?" Stevi mengernyit bingung, apa maksud ucapan Alfian? Memangnya apa yang sedang Alfian urus? Tanpa mau berfikir panjang, Stevi memilih diam. Bukankah diam, selalu di artikan sebagai persetujuan? meskipun kenyataannya tidak selalu seperti itu. "Boleh, setiap orang punya titik lelahnya masing-masing Fian. Dan setiap orang, punya rumah untuk pulang." Sahut Stevi. Alfian, mencoba memahami arti rumah dari ucapan Stevi. "Setiap orang, memiliki rumah untuk kembali. Rumah nggak selalu berbentuk bangunan yang beratap, tapi juga berupa seseorang. Seseorang yang, mungkin kamu anggap penting. Bisa keluarga, teman." Stevi tidak menyebutkan namanya, karena dirinya juga belum bisa menganggap Alfian sebagai rumah untuk pulang jika suatu saat dirinya lelah pada kerasnya hidup. Entahlah, Stevi masih berharap suatu saat nanti seseorang yang pernah pergi akan secepatnya kembali. "Apa boleh, aku anggap kamu rumah?" tanya Alfian. Stevi mengangguk, jika bisa menyenangkan hati Alfian mungkin Stevi bisa sedikit berbalas budi pada laki laki itu. Laki laki, yang bersedia menjadi pengobat lukanya. Tanpa Stevi tahu, ada banyak luka yang laki laki itu rasakan untuk membuatnya bertahan bersamanya. "Aku seneng, kamu anggap aku rumah. Tapi Alfian, nggak semua orang bisa masuk ke dalam rumah. Tanpa, seizin pemilik rumahnya. Kamu ngerti kan, maksudku?" Alfian kembali tertampar kenyataan, sesakit ini ternyata mencintai Stevi. "Tau kok, gue tau banget malah." Alfian kembali menggunakan, elo gue saat berbicara pada Stevi. "Mau balik sekarang? Stevi mengangguk, biarlah urusannya tertunda terlebih dahulu. Stevi tidak ingin, Alfian berfikir macam macam tentangnya. Keduanya, keluar dari cafe. Stevi menatap Alfian heran saat Alfian menggandengnya, ke arah parkiran mobil. Karena, setahu Stevi Alfian tidak memiliki mobil selama ini. "Masuk." Stevi kembali di buat bingung saat Alfian membuka pintu mobilnya. Tanpa menunggu lama, Stevi masuk sesuai perintah Alfian. Alfian mulai menjalankan mobilnya, keduanya sama sama diam. Alfian yang berusaha untuk terus bersabar menghadapi sikap Stevi. Dan Stevi, yang masih bimbang dengan perasaannya. Dulu, prinsip Stevi adalah apapun bisa di maafkan kecuali perselingkuhan. Lalu sekarang, dirinya sendiri yang di jadikan selingkuhan. Kenapa harus serumit ini? "Suka gue yang selalu bawa motor, apa gue yang bawa mobil gini?" tanya Alfian. Stevi menatap Alfian sekilas, lalu memperhatikan lampu merah yang tak kunjung berganti warna. Gadis itu, berfikir sebentar. "Yang biasanya," "Kenapa?" Alfian kembali fokus ke jalanan, membiarkan gadis di sebelahnya ini berfikir untuk mengungkapkan apa yang selama ini ia rasakan. Karena menurut Alfian, selama ini Stevi terlalu tertutup pada semua orang. Termasuk, dirinya. "Karena, aku udah terbiasa liat kamu naik motor." Jawab Stevi cepat. Alfian menggeleng, bukan itu yang Alfian tunggu. Yang ingin di dengar adalah, sejauh mana tanggapan gadisnya itu. Jika hanya sebatas, terbiasa melihatnya naik motor. Semua orang juga tahu. "Ck! Maksudnya, alasan lo suka liat gue naik motor apaan? Bukan karena terbiasa," Alfian gemas sendiri dengan Stevi. Sebenarnya, gadis itu benar-benar polos. Atau, hanya pura pura? Stevi menghela nafas pelan, kenapa Alfian bertanya hal yang sangat tidak penting seperti ini? "Aku lebih nyaman, di bonceng naik motor." Jujur Stevi pada Alfian. Kenyataannya memang seperti itu, Alfian dan motor maticnya adalah perpaduan yang pas. Tanpa Stevi tahu, Alfian tengah menahan senyumnya agar tidak begitu terlihat. "Kalau naik mobil, nggak bisa meluk ya?" Stevi memalingkan wajahnya, karena apa yang di katakan Alfian itu benar. Meskipun, Stevi belum mengerti perasaannya pada Alfian. Tapi Stevi, suka memeluk laki laki itu saat berada di motor. "Diem, berarti iya." Stevi memilih mengalah, untuk apa berbohong akan rasa nyaman yang selama ini ia rasakan. Namun, jika di tanya apa Stevi sudah memiliki rasa pada Alfian jawaban adalah belum. Menerima orang baru, bukanlah hal yang mudah. Apalagi, untuk hati yang baru saja patah. "Iya." Alfian merasakan rasa bahagia saat ini, padahal tadi Alfian sangat kesal pada Stevi. Tapi lihatlah, hanya dengan satu kata. Gadis itu bisa mengembalikan moodnya yang rusak. "Sebenernya, ini mobil Bagas. Gue, di paksa bawa alasannya simple. Tadi dia ketemu cewek, terus si cewek itu mabok kalo naik mobil. Lucu kan?" "Tau gini, mendingan tadi gue bawa motor aja biar lo bisa meluk gue sepuasnya. Iya kan?" Stevi menatap Alfian heran, kenapa cowok itu terlihat sangat senang? Ada ada saja, apa dulu saat dirinya bersama Arya juga seperti itu? s**l, di saat seperti ini ingatannya tentang Arya kembali begitu saja. "Kamu baik baik aja kan?" "Kenapa emang? Keliatan aneh banget ya gue kalo lagi sama lo?" bukannya menjawab, Alfian malah bertanya pada Stevi. "Nggak kok," Alfian menghentikan mobilnya di depan rumah Stevi, setiap hari rumah ini selalu terlihat sepi. Seperti tidak ada orang lain, atau keluarga yang berkunjung ke rumah ini. Ada rasa khawatir saat melihat gadisnya di rumah sendirian. "Lo, udah terbiasa di rumah sendirian?" Alfian belum mengizinkan Stevi turun, ada rasa tidak rela saat melihat suasana rumah yang sangat sepi. Apalagi, lingkungan yang tidak terlihat ramai. Jarang sekali ada orang lewat sekitar sini. "Udah biasa Fian, kenapa?" Alfian menghembuskan nafas kasar, jika mengungkapkan perasaannya yang sedang khawatir mungkin tidak akan di anggap serius oleh Stevi. "Nggak tau, tiba tiba gue kepikiran lo. Gue takut, pas lo butuh gue tengah malem gue nggak bisa dateng." Alfian menggenggam tangan Stevi, berusaha menguatkan gadisnya. Meskipun selalu terlihat baik baik saja, kita nggak akan pernah tau apa yang di rasakan seseorang. Apakah seseorang sedang mengalami ketakutan, atau hal lain. "Kalau ada apa apa, jangan sungkan buat telvon gue. Gue usahain selalu ada buat lo, jangan ngerasa nggak enak apalagi punya pikiran kalo lo ngerepotin gue. Karena gue, nggak pernah ngerasa di repotin sama lo. Justru, dengan lo kasih tau gue apa aja yang lo rasain. Gue malah seneng banget, Lo ngertikan?" "Aku, nggak mau jadi beban siapapun Fian. Aku, udah terbiasa sendiri." Alfian mengangguk, apa yang di katakan Stevi tidak salah. Saat seseorang, sudah terbiasa melakukan apapun sendiri. Mereka merasa tidak butuh bantuan orang lain, bukan tidak butuh. Hanya saja, mereka selalu mempunyai pemikiran tidak suka merepotkan orang lain padahal tidak semua orang merasa di repotkan. "Lo bukan beban, tapi tanggung jawab gue. Ini kedengarannya egois, tapi gue yang minta. Jadi, kalo ada apa apa sama lo, hubungin gue." "Ngertikan?" Stevi tersenyum, baru kali ini ada yang begitu peduli padanya. Bahkan, orang tuanya juga tidak pernah menanyakan kabarnya, tidak pernah bertanya apakah Stevi sehat atau sakit. Dalam keluarganya, hanya Stevi yang tidak di anggap kehadirannya. Seringkali merasa dijauhi, hal itu membuatnya semakin tidak merasa nyaman jika berada di dekat keluarganya. Itulah, alasan mengapa Stevi tidak masalah jika tidak memiliki teman. Namun, Alfian datang merubah dunianya meskipun Stevi belum bisa menerima kehadiran Alfian sepenuhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN