Part 9

1442 Kata
Keduanya sama sama diam, saat seorang gadis yang sejak tadi di perhatikan oleh Bagas tidak sengaja menoleh ke arah mereka berdua. Bisa Alfian lihat, Stevi sempat terkejut saat melihat keberadaannya. "Ya ampun, pacar gue gumush banget. Mo meninggoy rasanya," ucap Alfian asal, tanpa basa-basi Alfian menghampiri Stevi dan meninggalkan Bagas. "Ya Allah, hamba salah apa? Kenapa laki laki tampan seperti hamba di takdirkan menjomblo." Ucap Bagas dramatis, padahal yang sebenarnya banyak gadis yang suka pada Bagas. Tapi cowok itu tidak mau berpacaran. Di sisi lain, Stevi tidak menyangka jika akan bertemu Alfian. Dan sekarang, cowok itu sedang berjalan menghampiri Stevi. "Sama siapa?" tanya Alfian, setelah duduk di sebelah Stevi. "Sendiri, kamu?" Alfian melirik Bagas yang sok sibuk bermain ponsel, Alfian yakin. Jika sang kakak hanya menggeser layar ponselnya saja. "Abang gue, mau gue kenalin nggak?" Sontak Stevi menggeleng. "Enggak, aku malu." jawab Stevi cepat. Alfian mengulas senyum tipis, tidak terkejut mendengar jawaban Stevi. Gadis lugu seperti pacarnya ini, pasti tidak nyaman jika berada di antara orang yang tidak di kenali. Alfian paham akan hal itu. Keheningan terjadi di antara mereka, Alfian diam diam mengirim pesan pada Bagas agar sang kakak menghampiri dirinya dan Stevi. Hanya dalam hitungan detik, Bagas sudah duduk manis di samping Alfian. Kehadiran Bagas, tentu saja membuat Stevi canggung. Stevi, tidak terbiasa seperti ini. Apalagi, tadi Alfian mengatakan jika laki laki di samping kekasihnya itu adalah kakak dari Alfian. "Bang, kenalin ini Stevi. Pacar gue." Alfian mengenalkan Stevi pada Alfian. Pipi Stevi terasa panas, bagaimana tidak? Secara terang-terangan, Alfian mengatakan Stevi adalah kekasihnya. Bagas mengulurkan tangannya pada Stevi, lalu mereka saling berkenalan. "Adik cantik, kok mau sih sama Alfian. Dia jarang mandi loh," ujar Bagas tanpa beban. Tanpa menunggu lama, Alfian menginjak kaki sang kakak. Mendapat perlakuan kasar dari sang adik, hampir saja Bagas mengabsen hewan yang ada di kebun binatang. "An- Astaghfirullah!" Alfian terkekeh melihat tingkah Bagas yang menjaga image di hadapan Stevi, syukurlah Bagas masih punya rasa malu di hadapan calon adik iparnya. "Jangan di dengerin yang, dia emang hobi ngehujat." Bagas menyugar rambutnya kebelakang, seolah omongan Alfian tidak ada buktinya. "Karena Alfian baik kak," "No!" Stevi terkejut mendengar ucapan Bagas. Melihat ekspresi Stevi yang terkejut Bagas malah tertawa. "No, jangan panggil gue kak. Karena lo, pacarnya Alfian jadi panggil gue bang." "Abang tukang bakso," cibir Alfian. "Babang tamvan." "Nyenyenye." Alfian menggeleng tidak percaya, Bagas tetaplah Bagas si manusia tidak tahu diri. Yang sayangnya adalah kakak kandungnya sendiri. Jika di berikan sebuah pilihan, Alfian akan tetap memilih Bagas sebagai kakaknya. Karena, belum tentu pengganti Bagas bisa mengerti dirinya dengan baik. "Fian, enggak boleh gitu sama Abang kamu." Alfian menggeleng tidak setuju. "Nggak apa apa yang, Abang yang satu ini halal buat di nistakan." Ucap Alfian tanpa beban. Bagas berdecak kagum, lihatlah betapa tidak tahu dirinya sang adik. Berpacaran di depan kaum jomblo yang Budiman seperti dirinya. Apakah sopan? "Punten, di sini masih ada orang." Sindir Bagas, membuat Stevi tersenyum canggung. "Oh, situ orang kirain patung. Kok sendirian sih ngab? Nggak laku ya?" Tanya Alfian. Stevi tidak nyaman berada di dekat Bagas dan Alfian. Memang Bagas adalah tipe orang yang humoris, tapi itu sangat berbeda dengan dirinya. Stevi tidak mudah menerima orang baru, jangankan Bagas. Dengan Alfian saja, Stevi masih berusaha menjaga jarak. "Gue terlalu berharga," "Sini gue bayarin!" "Adik nggak ada akhlak!" Stevi hanya diam, tidak berniat ikut dalam perdebatan dua orang itu. "Gue terlalu indah, buat di miliki dengan cara yang salah." Ujar Bagas penuh rasa percaya diri. "Lebih tepatnya, lo itu sumber dosa yang harus di jauhi," cibir Alfian. "Lo kira, gue setan! sumber dosa?" Bagas geram dengan adiknya yang minus akhlak! Menjadi orang di tengah tengah Alfian dan Bagas, sangat memalukan bagi Stevi. Apa yang harus di lakukan? Kabur? Terlalu buruk, pikir Stevi. Tidak bisakah, dua manusia itu berdebat di rumah saja? "Alfian, udah kasian Abang kamu." Alfian tersenyum manis pada gadisnya itu, seolah tidak ada orang ketiga di samping mereka. Dengan sengaja, mengumbar kemesraan pada sang kakak yang sudah lama menyandang gelar ijo tomat. Ikatan jomblo terhormat. Gelar yang baik, untuk orang yang salah! "Nggak apa apa sayang, dia halal buat di hujat." Alfian menampilkan senyum manis untuk Stevi. "Demi Alex, gua nggak apa-apa. Tapi ya mikir lah! Di sini, gue jomblo. Sopankah begitu?" Sindir Bagas pada dua sejoli itu. Alfian menghembuskan nafas lelah, kenapa kakaknya ini sangat suka mengganggu? Apakah jomblo seperti ini saat gabut? Meresahkan sekali! "Katanya cakep, tapi jomblo. Canda jomblo," "Emang, bang Bagas beneran nggak ada pacar?" Tanya Stevi. Tentu saja Stevi tidak percaya, Bagas itu masuk dalam kategori goodloking. Jika Bagas di sekolah Stevi, sudah pasti cowok itu masuk dalam jajaran most wanted bersama dengan sang mantan. Arya Permana. s**l, kenapa Stevi kembali teringat pada Arya. Laki laki itu, sudah melupakan dirinya. Atau mungkin, laki laki itu lupa pernah mengenal Stevi. "Udah lama gue jomblo, lama banget. Ini rekor terlama dalam kisah asmara gue sih." Bagas menjawab pertanyaan Stevi dengan dramatis. Stevi yang begitu polos, nampak percaya begitu saja. "Emang, udah berapa lama jomblo bang?" tanya Stevi lagi. Alfian hanya menyimak, membiarkan Stevi mengenal betapa bobroknya Bagas. Alfian yakin, setelah ini Stevi akan paham bagaimana Bagas yang sebenarnya. "Berapa ya, kalau nggak salah tiga." "Tiga tahun?" Bagas menggeleng. "Tiga bulan," tebak Stevi. Bagas masih menggeleng, lalu menjawab. "Tiga..." Stevi menunggu dengan sabar, Bagas sampai tidak tega harus membuat gadis polos itu menunggu lebih lama lagi. Akhirnya, dengan rasa penuh percaya diri Bagas jujur pada Stevi. "Tiga hari." Bagas menampilkan senyum bodoh pada Stevi, sementara gadis itu? Masih diam. Diam diam ingin, menghujat Bagas sekarang juga. Kenapa Alfian punya kakak yang begitu aneh? Sangat berbanding terbalik dengan diri Alfian. Stevi, merasa beruntung memiliki Alfian yang selalu ada untuknya. Eh, apakah Stevi mulai bisa menerima Alfian sepenuhnya? "Alfian." Panggil Stevi. Alfian menoleh, seolah mengerti kalau gadisnya mulai terpancing emosinya. "Iya sayang." Stevi tersenyum tipis. "Bener kata kamu," "Soal?" Sebelum menatap Bagas, Stevi menarik nafasnya dalam dalam. "Abang kamu, halal buat di hujat." ***** Saat ini, Bagas, Alfian dan Stevi baru saja selesai makan. Masih sama, Bagas sang jones selalu melihat keuwwuan dari sang adik. Benar kata Alfian, kalau memang Bagas merasa goodloking kenapa susah sekali mendapatkan pacar? Atau mungkin, gadis yang di dekati Bagas sudah memiliki pacar dan Bagas hanya di jadikan pelampiasan saat pemeran utama tidak ada. Jika memang benar, berarti benar apa yang selama ini menjadi slogan para petualang cinta. Perbanyak cabang, pertahankan pusat. "Bang, nggak capek jadi penonton?" Tanya Alfian, setelah membayar makanan mereka bertiga. Sebenernya, tadi Stevi sudah makan. Tapi Alfian, terus memaksa dirinya untuk makan lagi. "Capek sih enggak, cuma mata gue lama lama panas liat yang uwwu uwwu." "Kayaknya, gue punya uwwu phobia deh." Ucap Bagas ngawur. Alfian berdecak kagum, hebat bukan alibi seorang Bagas idola kaum hawa yang sudah tiga menyandang status jomblo. "Copot aja matanya, kok susah." "Wah, ngadi ngadi nih bocah. Mentang mentang, udah ada doi main ngehujat sembarangan. Kasian dong, sama ciwi ciwi 62 nggak dapet lirikan mau gue." Bagas tersenyum pada gadis yang baru saja masuk ke dalam cafe. "Emang beneran, minta di copot tuh mata." Stevi sudah tidak tahan berada di sini, gadis itu sampai lupa tujuan sebenarnya datang ke sini untuk apa. "Meskipun bentukan gue begini, gue nyari cewek yang 24434 nya rajin." Bagas menjeda ucapannya. "Nggak harus cakep, asal pantes di ajak kondangan. Selalu wangi, selalu rapi_" "Nanti, kalau nyari pacar beliin parfum sepuluh botol. Suruh minum tuh semuanya. Biar wanginya sampe ketulang tulang." Lama lama, Alfian geram dengan Bagas. Bagas terkekeh melihat ekspresi Alfian dan Stevi. Kenapa sang adik bisa mendapatkan gadis polos seperti Stevi? Kalau di lihat-lihat, Stevi tidak kalah kalah cantik dari gadis yang baru saja masuk ke dalam cafe. Hanya saja, Stevi terlalu pendiam. Susah bersosialisasi, terlihat sejak tadi gadis itu hanya diam. Bagas tahu, Stevi diam diam ingin merukiyah dirinya dengan ayat kursi sejak tadi. "Hampir semua mantan gue wangi." Alfian menggeleng tidak percaya, apakah Bagas sudah gila? sampai hafal jika para mantannya selalu wangi. Atau, Bagas belum move on dari parfum mereka? "Minum tuh parfum," "Mendingan minum air putih, sehat biar gue tambah goodloking." Ujar Bagas cepat. "Stevi yang cantik, kalau di suruh milih. Kamu milih yang goodloking apa good attitude?" "Heh, jangan ngajarin yang nggak bener lo ya!" "Kenapa? Takut ya, Stevi milih yang goodloking?" Ejek Bagas pada Alfian. Di saat keduanya sedang berdebat, Stevi menjawab pertanyaan dari Bagas. Jawaban yang tidak pernah Stevi pikirkan sebelumnya. "Kalau bisa dapetin dua duanya, kenapa harus milih satu." Jawab, Stevi asal. Bagas tersenyum puas mendengar jawaban dari Stevi, gadis itu memang polos tapi kepolosannya mampu membuat Alfian kepanasan. Lihatlah sekarang, betapa lucunya ekspresi Alfian menahan rasa cemburunya. Dalam hati, Bagas menahan tawa Alfian dan Stevi sebenarnya tidak jauh berbeda sama sama polos.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN