Alfian mengatur nafasnya sejenak, hari ini dirinya memilih bolos sekolah. Bukan tanpa alasan, cowok itu harus menemui kakak laki lakinya yang hampir satu tahun ini tidak ia jumpai. Sebenernya, Alfian malas jika harus bertemu sang kakak. Tapi kakaknya selalu bisa membuat dirinya kalah. Alfian selalu kalah berdebat, lagipula akan terasa buruk jika berdebat masalah sepele.
"Kenapa ngajak ketemu? Kan lo tau, gue masih jam sekolah."
Laki laki di hadapannya ini malah tersenyum. Tidak tahu, kalau adiknya sudah kelas XII harus belajar dengan rajin.
"Gue cuma pengen ketemu, lo udah lama banget enggak pulang." Ucap sang kakak.
Alfian menyadari hal itu, satu tahun bukanlah waktu yang sebentar. Banyak hal yang mungkin sudah terlewati, tentang bagaimana remaja itu melewati masa masa bersama keluarganya. Namun, Alfian tidak menyesal. Berada jauh dari orang tua, adalah pilihan terbaik menurut Alfian.
"Gue kan udah bilang. Kalau gue selalu baik baik aja, lo enggak pernah percaya sama gue."
Mendengar penuturan Alfian, membuat sang kakak tersenyum sinis. Bagas tahu, selama sang adik pergi dari rumah keadaannya jauh dari kata baik.
"Bagian mananya yang lo bilang baik baik aja Al, coba lo ngaca. Semenjak lo pergi, badan lo makin kurus. Gue tau, selama ini lo kerja pulang malem. Kadang lo enggak makan seharian karena harus nabung buat bayar kontrakan!"
"Apa susahnya sih nurut kata orang tua. Mereka cuma mau yang terbaik buat lo, liat lo menderita mereka juga pasti ngerasain apa yang lo rasain."
Bagas Herlambang, kakak pertama Alfian. Laki laki yang baru saja mendapatkan gelar sarjana, baru tahu kalau hubungan sang adik dan orang tuanya tidak baik baik saja. Sejujurnya, Bagas merasa menyesal karena terlambat mengetahui hal itu. Namun, menyesal tidak akan merubah apapun. Yang Bagas pikirkan saat ini, bagaimana caranya agar Alfian mau pulang ke rumah.
"Yang terbaik menurut mereka, belum tentu baik bagi gue bang. Mereka itu pilih kasih, kalau lo boleh milih apapun yang lo suka. Kenapa gue enggak?"
"Apa yang sebenernya terjadi Al. Please, cerita ke Abang." Pinta Bagas sungguh-sungguh.
Secuek apapun seorang kakak, sebenarnya ada rasa sayang yang begitu besar. Hanya saja, mereka terlalu gengsi untuk mengungkapkan perasaan itu.
Alfian menghembuskan nafas kasar, apa gunanya bercerita pada Bagas. Tidak akan merubah apapun, mereka memang adik kakak. Tapi tetap saja berbeda, Bagas adalah anak pertama. Anak yang selalu di banggakan oleh kedua orang tuanya, sementara Alfian. Bahkan, orang tuanya tidak pernah membanggakan dirinya.
"Lo enggak perlu tahu apapun," sahut Alfian.
"Kenapa?"
"Karena kita itu beda."
Ada rasa sakit dalam hati Alfian saat mengatakan bahwa mereka berbeda, ya mereka memang berbeda.
"Perbedaan apa yang buat lo menjauh dari gue Al? Apa gue penyebab lo pergi dari rumah? Tapi gue enggak ngerasa pernah nyakitin lo?" Tanya Bagas bertubi tubi, rasanya sangat menyakitkan saat dua orang yang lahir dari rahim yang sama mengatakan jika mereka berbeda.
"Lo itu, anak yang penurut. Sementara gue?"
"Lo juga anak yang penurut Al, sejak kecil kita selalu sama sama jadi anak yang nurut sama orang tua kalau lo lupa," sela Bagas dengan cepat.
Tidak, Alfian tidak lupa. Bahkan semuanya masih tersimpan rapi dalam ingatannya.
"Itu dulu bang, sekarang gue udah nggak mau jadi anak penurut." Jawab Alfian jujur.
Bagas memijat pelipisnya, tidak mengerti apa yang terjadi selama ini. Hal apa yang membuat sang adik seperti ini. Tidak mungkin, jika dirinya harus terus memaksa Alfian. Takut jika, Alfian akan membencinya karena merasa Bagas juga sama seperti orang tuanya.
"Gue enggak mau maksain kalo lo belum bisa cerita apapun, tapi gue mohon jangan pernah ngelakuin hal yang bisa merusak masa depan lo." Pinta Bagas sungguh-sungguh.
Alfian mengangguk, tidak punya pemikiran sejauh itu. Sampai saat ini, dirinya masih berusaha untuk menahan sendiri masalahnya. Tidak pernah tau, jika ada seorang kakak yang begitu khawatir pada dirinya.
"Btw, happy graduation bang. Sorry gue nggak dateng pas lo wisuda."
Bagas berdecak kagum, alasan yang terlalu biasa. Padahal alasan yang sebenarnya adalah Alfian belum siap untuk bertemu dengan orang tuanya. Sebagai kakak, tentu saja Bagas memaklumi keadaan sang adik. Walaupun begitu, ada rasa kesal saat Alfian tidak hadir di hari pentingnya.
"Gue kesel sebenernya, padahal gue mau pamer ke temen temen gue. Kalau gue, punya adik cowok. Gak ganteng sih, masih gantengan gue. Tapi gak malu maluin kalau di ajak nongkrong," gurau Bagas.
Alfian hampir saja melempar sepatu miliknya, di sisi lain. Alfian sedikit lega, karena sang kakak tidak marah padanya.
"Mendingan mana, muka atau otak yang pas?" tanya Alfian dengan senyum meremehkan sang kakak.
Bagas tersenyum tipis, hampir tidak terlihat.
"Ih gak mau, nggak suka gelayyy."
Hening.
Alfian memperhatikan sang kakak baik baik, sepertinya Bagas sudah tertular sindrom gelayy, hmm.
"Kok lo diem aja njir!"
"Gak suka gelayyy," Alfian menirukan suara Bagas.
"Oalah, adik b*****t emang!"
Keduanya sama-sama tertawa lepas. Sama seperti saat mereka masih kecil, hanya ada tawa di setiap harinya. Tanpa berfikir, bagaimana sulitnya menjadi manusia dewasa.
Drttt drttt drttt
Ponsel Bagas bergetar, cowok itu mendengus kesal. Sudah pasti sobat bucinnya yang menelvon, jangan tanya pacar. Bagas itu, memang tampan. Tapi tidak punya pacar, katanya gunakan masa mudaku dengan hal yang bermanfaat. Menghosting misalnya, sungguh tidak ada akhlak sekali.
Sobat bucin ?
Alfian menatap heran Bagas, hanya menatap ponselnya.
"Siapa ngab?" tanya Alfian.
"Temen gue." Jawab Bagas lalu, menggeser layar ponselnya.
"Lo dimana?" Tanya seseorang
"Di jalan yang benar Vin, kenapa? Lo kangen?"
Alfian merinding saat mendengar Bagas mengucapakan kata kangen, jika itu telvon dari perempuan akan terasa wajar. Namun, dari suaranya saja sudah bisa di tebak suara laki laki.
"Jadi kapan?"
"Kapan apanya? kalau nanya yang jelas," sahut Bagas cepat.
"Kapan pulang ke Rahmatullah."
"s****n!"
Bagas mematikan ponselnya, persetan jika Levin akan marah. Selama ini dirinya sudah cukup di campakkan sejak sobat bucinnya sudah memiliki pawang, sementara dirun masih setia dengan predikat ijo tomat. Ikatan jomblo terhormat.
"Bang." Panggil Alfian.
"Hm,"
"Lo normal kan?" tanya Alfian khawatir.
Bagas tidak heran jika sang adik akan menanyakan hal itu, Alfian bukan orang pertama yang bertanya seperti itu padanya.
"Menurut lo?"
"Kayaknya enggak sih, agak belok dikit."
Bagas menatap Alfian sinis.
"Dek, lo udah pernah di mutilasi belom."
Alfian menggeleng, hal seperti ini juga sudah sering Bagas tanyakan padanya.
"Kenapa ngab, lo mau di mutilasi massal?" tanya Alfian.
"Lo, ada cita cita jadi psikopat Al?"
Alfian mengangguk.
"Buset, ternyata godloking tidak menjamin akhlak!"
Alfian terkekeh mendengar keluhan sang kakak.
"Buat jaga-jaga aja sih,"
"Dari?"
"Semisal lo udah bosen hidup, gue udah ada bakat." gurau Alfian.
Bagas mengusap wajahnya pelan.
"Mengapa semua menangis, padahal ku selalu tersenyum."
Alfian menggeleng pelan, kenapa bisa punya kakak hampir gila seperti ini.
"Karena, lo tercipta untuk selalu di nistakan ngab."
"Punya adek otaknya sering enggak di pakek ya gini," cibir Bagas.
"Bang." Panggil Alfian.
"Hm."
Alfian menahan nafas sedetik, kemudian bertanya pada Bagas. Meskipun ragu, tapi Alfian harus bertanya pada sang kakak.
"Kapan nikah?"
Bagas melongo mendengar pertanyaan sang adik, dirinya sendiri tidak pernah terpikirkan akan menikah muda. Ada angin apa? Sampai Alfian bertanya seperti itu. Apa Alfian tidak tahu, jika Bagas seorang jomblo senior?
"Em, kapan kapan." Jawab Bagas asal.
Alfian kembali menghela nafas pelan.
"Ya kapan ngab!"
Bagas menoleh, memberikan tatapan tajam pada Alfian. Rasa curiga mulai muncul di pikiran Bagas.
"Kenapa nanya gitu? Lo mau nikah duluan?"
Di luar dugaannya, ternyata Alfian malah mengangguk.
"Kalau iya, kenapa?" Tanya Alfian balik.
"Astaga dragon, lo itu masih bocil Al. Gue yakin lo juga pasti jomblo kan?"
"Umur enggak jadi patokan seseorang untuk jadi imam keluarga bang, kalau gue udah siap dan ada calon sabi lah." Ucap Alfian tanpa beban.
Sebenarnya, Alfian hanya ingin memancing sang kakak agar cepat mencari pacar. Kalau masalah pekerjaan, tidak perlu khawatir. Bagas bisa bekerja di perusahaan sang ayah. Menikah muda juga bukan tujuan Alfian saat ini, Alfian tersenyum manis. Ternyata ucapannya mampu membuat wajah Bagas menjadi kesal.
"Sabi pala lo, nikah enggak semudah itu. Gaya punya pacar, anak mana yang jadi bahan haluan lo Al. Tolong kalau mau halu di kondisikan, sesuai kemampuan lo aja. Kasian gue sama lo masih kecil udah ngebet nikah."
"Lagian nih ya Al, enggak baik kebanyakan halu." Ucap Bagas sok menasehati Alfian, tidak sadar jika setiap malam Bagas selalu halu jika akan tidur.
"Abang model lo gini, halal buat di tendang,"
"Adik model lo gini, haram buat di sayang!" balas Bagas tak kalah sengit.
Beberapa detik kemudian, Bagas tersenyum simpul. Saat melihat seorang gadis berusia sama seperti Alfian, masuk kedalam cafe yang sejak tadi menjadi tempat Bagas dan Alfian berdebat.
"Ngapain lo senyum gitu, ngerasa cakep lo ngab?"
Bagas tidak menjawab, matanya terus menatap gadis yang duduk tidak jauh dari mereka. Merasa heran dengan sang kakak, Alfian ikut memperhatikan siapa yang berhasil membuat Bagas seperti orang gila. Kedua mata Alfian melotot, bagaimana tidak. Sang kakak tersenyum sambil memperhatikan gadisnya, Stevi ileana.
Dengan cepat, Alfian menutup kedua mata Bagas dengan tangannya.
"Astaghfirullah, ulang tahun gue masih lama. Kalau mau ngasih surprise kecepatan Al!"
"Surprise mbahmu! jaga mata ngab, itu calon adik ipar lo."
Jika tidak ingat tempat, Bagas bisa saja mengumpati sang adik dengan nama nama bintang. Tapi Bagas masih punya malu, beda lagi jika dirinya sedang bersama Levin. Cowok itu seperti tidak ada rasa malunya sama sekali.
"Ikan hiu, makan permen. Pakyu men!"
"Ikan hiu, makan tomat. Bodo amat!"