Sabtu pagi, sesuai rencananya semalam. Alfian berangkat tepat jam enam ke rumah Stevi. Tak ingin membuat gadisnya menunggu terlalu lama. Alfian juga tidak ingin Stevi di hukum karena terlambat. Sebisa mungkin, Alfian akan melakukan yang terbaik.
Alfian memandang langit yang mendung, sama seperti hatinya.
"Jangan hujan dulu, gue takut Stevi sakit."
Alfian menjalankan motornya, dalam hati cowok itu merapal doa supaya pagi ini tidak turun hujan. Kalau tidak, hujan boleh turun setelah mereka berdua tiba di sekolah.
"Maaf lo nunggu lama ya?" tanya Alfian begitu motornya berhenti di sebelah Stevi.
"Enggak kok Fian, baru aja aku keluar."
Alfian bernafas lega, lalu menyuruh Stevi naik ke motornya. Tentu saja, Stevi sudah memakai helm.
"Udah?" tanya Alfian. Stevi hanya mengangguk.
Seperti biasanya keduanya sama-sama diam. Saat lampu merah, Alfian melihat jam di tangannya. Masih ada waktu untuk mengajak Stevi sarapan pagi ini. Karena mereka akan masuk jam 07.15 menit.
Alfian menghentikan motornya di sebuah warung makan. Letaknya tidak jauh dari sekolahan. Alfian sengaja memilih tempat yang tidak jauh dari sekolah.
"Jangan kebanyakan mikir, kita sarapan dulu."
Mereka masuk ke dalam rumah makan itu. Masih sepi, hal yang menguntungkan bagi mereka berdua. Karena tidak perlu mengantri. Bisa terlambat jika mereka harus mengantri.
"Mbak sarapannya dua ya,"
"Siap mas."
Alfian menghampiri Stevi yang mencari tempat duduk di kursi panjang. Alfian tahu, Stevi tidak nyaman jika berdekatan dengannya. Maka Alfian memilih duduk di kursi depan Stevi saja.
"Di makan."
Stevi hanya menurut, karena sejak tadi perutnya minta di isi.
***
Bel istirahat baru saja berbunyi, Stevi tidak berniat pergi ke kantin. Tujuannya adalah ke perpustakaan, bisa di bayangkan jika pergi ke kantin pasti akan bertemu sang mantan.
Setelah sampai di perpustakaan, Stevi mengambil salah satu buku. Lalu memilih duduk, di kursi paling belakang. Mencari kenyamanan.
Sepertinya rencana Stevi untuk mendapatkan kenyamanan gagal, orang yang di hindari malah ada di hadapan Stevi. Kalau sudah begini, Stevi bisa apa?
"Hai mantan, lama enggak ketemu. Apa kabar?" tanya Arya, laki laki itu duduk di depan Stevi.
"Baik." Ingin sekali Stevi kabur dari sini, tapi akan terlihat aneh kan?
Arya memperhatikan gerak gerik Stevi. Arya akui, meskipun Stevi itu polos. Tapi Stevi tetap cantik!
"Ngapain kamu disini?"
"Kenapa, gue mau belajar emang nggak boleh?"
Stevi mendengus kesal, kenapa hatinya berharap kalau Arya kesini mengikutinya.
"Terserah!"
Tiba-tiba saja Arya tertawa. Meskipun tidak keras, Stevi merasa terganggu. Stevi mengangkat bahu acuh, berusaha untuk tidak terlalu peduli. Walaupun sulit.
"Gue kangen."
Stevi tidak merespon apapun.
"Apa lo enggak kangen gue?"
Sakit. Itulah yang dirasakan Stevi, merindukan seseorang yang bukan siapa-siapanya lagi.
"Aku biasa aja."
Bohong, tentu saja Stevi merindukan laki laki itu. Bahkan kehadiran Alfian, tidak mampu menggantikan posisi Arya.
"Lo pacaran sama Alfian?"
Kali ini Stevi memberanikan diri untuk menatap Arya. Ada rasa yang sulit untuk di jelaskan, apa Stevi harus mengakui bahwa Alfian adalah pacarnya?
"Bukan urusan kamu,"
Lagi. Arya kembali tertawa, membuat Stevi ingin mencakar wajah tampan sang mantan.
"Jelas urusan gue, karena gue mantan sekaligus cinta pertama lo."
"Kamu cuma mantan," sela Stevi cepat.
Arya mengangguk, membenarkan perkataan Stevi sepenuhnya.
"Gue emang cuma mantan, dan Arya cuma pelampiasan kan?"
Deg
Sial! kenapa tebakan Arya tepat sasaran? Stevi tidak menunjukkan ekspresi apapun. Membuat Arya semakin yakin, bolehkah Arya mengejek Alfian karena di jadikan pelampiasan?
"Enggak perlu capek-capek nyari pelampiasan, kalau lo mau balikan. Gue bakalan pikirin." Ucap Arya tanpa pikir panjang.
Stevi terdiam, mana mungkin dirinya mau kembali pada Arya? Bukankah sangat bodoh kembali pada laki laki yang pernah begitu menyakiti hatinya? Stevi berusaha untuk tidak menyakiti siapapun, termasuk dirinya sendiri.
"Makasih, tapi maaf aku enggak minat."
Singkat dan jelas. Ya itu sudah jelas sebuah penolakan dari Stevi. Mungkin hatinya belum bisa melupakan Arya sepenuhnya, tapi Stevi tahu kembali bukanlah jalan terbaik. Mungkin memang benar, Arya akan menerimanya kembali. Namun, sangat mungkin suatu hari nanti Arya juga akan menyakitinya lagi.
"Kenapa? gue tau lo belum bisa lupain gue. Jadi ini kesempatan kedua buat lo."
Stevi tersenyum tipis.
"Bukan buat aku, tapi kesempatan kedua buat kamu nyakitin aku kan?"
"Makasih, aku enggak butuh kesempatan kedua dari kamu."
Stevi kembali fokus pada buku yang sejak tadi menjadi saksi perdebatan mereka berdua. Sementara Arya, laki laki itu tidak akan menyerah dengan mudah. Baginya mendapatkan Stevi kembali adalah sebuah keharusan!
"Makin hari, lo makin pinter. Gue suka." Arya terus berbicara seolah Stevi mendengarkannya.
"Kalau lo mau balikan sama gue, gue bisa kok putusin Anya demi lo,"
Gila.
Itulah yang Arya lakukan. Apakah semua laki laki sama. Demi mendapatkan apa yang mereka inginkan, rela melepaskan apa yang selama ini mereka genggam? Sungguh jika benar, semoga laki laki seperti itu akan mendapatkan karmanya dengan cepat.
"Jadi kapan lo mau balikan?"
"Enggak akan pernah balikan."
"Kenapa?"
Stevi geram terhadap tingkah Arya, apa kurang jelas? Apa yang pernah Stevi genggam tidak akan pernah ia lepas. Tapi apa yang sudah ia lepas, tidak akan ia cari lagi. Sejauh ini, Stevi masih berusaha bersabar. Bersabar menahan rasa sakit yang pernah Arya berikan, dan bersabar dengan sikap Arya yang semakin memuakkan. Namun, Stevi tetap saja tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Sejauh ini, Arya masih segalanya. Cinta pertamanya.
"Aku udah punya Alfian."
Ada rasa lega saat Stevi berhasil mengatakan hal itu. Mungkin, ini memang keputusan yang tepat. Membuka hati untuk Alfian, dan melupakan segala hal tentang Arya. Jika suatu saat nanti, Stevi tidak berhasil. Setidaknya gadis itu pernah berusaha membalas kebaikan seseorang. Seseorang, yang pernah membantunya kembali berjalan saat luka yang di berikan Arya masih terasa menyakitkan.
"Ck! Si bodoh itu enggak akan pernah bisa buat lo lupain gue. Apa sih, yang lo liat dari dia?"
"Dia lebih baik dari kamu!" Stevi benar benar kesal sekarang.
Arya tersenyum sinis.
"Tau dari mana kalau dia lebih baik daripada gue? Kebaikan apa yang pernah dia lakuin buat lo?" Arya mengatakan itu semua hanya satu tujuan. Menjauhkan sang mantan dari Alfian.
"Lo lupa, kalau dulu gue juga baik sama lo tapi akhirnya gue nyakitin lo? Apa kabar Alfian, orang yang baru lo kenal tiba-tiba ngajak lo pacaran." Dengan begitu mudah, Arya membuat Stevi ragu akan ketulusan Alfian.
Stevi menutup buku yang ada di mejanya, beruntungnya tugas yang sejak tadi ia kerjakan sudah selesai.
"Jangan anggap semua orang itu sama, kalau kamu mau buat aku tambah benci sama kamu itu udah pasti. Tapi tolong, jangan ganggu aku sama Alfian. Kamu sama Alfian udah jelas beda."
"Oh ya? Apa bedanya gue sama dia. Gue yakin, dia juga bakalan nyakitin lo."
Stevi berdiri meninggalkan Arya, biarkan saja Arya tetap berbicara sesuka hatinya. Tapi Stevi akan berusaha untuk tidak mempercayai apapun yang dikatakan Arya. Melihat Stevi keluar dari perpustakaan, membuat Arya berdecak kesal. Apa Stevi tidak akan pernah kembali lagi padanya?
"Gue akan buat lo nyesel. Lo bakalan nyesel karena udah banggain dia di depan gue!"
*****
Di dalam kelas, Lala menatap Stevi curiga. Sejak kembali dari perpustakaan beberapa menit yang lalu, temannya ini menjadi pendiam. Stevi memang gadis pendiam, tapi biasanya gadis itu selalu di sibukkan dengan buku buku paket ujiannya. Tapi kali ini, Stevi terlihat berbeda.
"Lo, enggak ketempelan hantu perpustakaan kan?" tanya Lala akhirnya.
Stevi menggeleng tidak berniat menjawab apapun.
"Tumben, pacar lo enggak nyariin lo?"
"Pacarku siapa?" tanya Stevi balik.
Lala memutar bola matanya malas, Stevi masih kelas XII. Tapi Stevi sudah pikun sekarang, itulah yang di pikirkan oleh Lala. Gadis itu semakin penasaran, apa yang membuat Stevi menjadi seperti orang bodoh seperti ini. Apa Stevi baru saja di bully? Apa Stevi sedang ada masalah dengan Alfian? Lala menggelengkan kepalanya cepat, untuk apa memikirkan masalah yang tidak penting sama sekali.
"Nanti malem Anya ulang tahun, lo dateng?
Pertanyaan Lala berhasil membuat Stevi menoleh.
"Apa kamu pikir aku bakalan dateng?"
Lala mengangkat bahu acuh, sudah pasti Stevi tidak akan pernah datang.
"Mana gue tau, tapi menurut gue jangan dateng deh. Jangan nyari penyakit disana,"
Stevi mengangguk memang benar apa yang di katakan Lala. Lagipula untuk apa dirinya datang? lebih baik Stevi memanfaatkan waktunya untuk belajar. Bukan untuk bermain-main. Ada orang tua yang harus ia banggakan, dan ada hati yang harus sembuh. Hatinya sendiri.
Bel pulang sekolah berbunyi, Stevi bernafas lega. Akhirnya Stevi bisa pulang dan istirahat di rumah. Hari ini cukup melelahkan, banyak tugas yang belum selesai. Salah satunya tugas melupakan sang mantan. Stevi akan merasa terbebani jika selalu memikirkan Arya seperti ini.
"Lo belum jawab pertanyaan gue?" Lala menghentikan langkah Stevi.
"Pertanyaan yang mana La? hari ini kamu banyak nanya soalnya." Jawab Stevi lalu kembali berjalan.
Lala mendengus kesal, Stevi sudah mulai pintar sekarang. Ya, Lala akui Stevi tidak pernah bodoh dalam pelajaran. Tapi gadis itu, bodoh dalam pertemanan di sekolah. Hampir tiga tahun tidak mendapatkan teman hanya karena gadis itu terlalu pendiam, dan tidak pandai bersosialisasi.
"Alfian kemana?"
Stevi menggeleng tidak peduli, mungkin Alfian sudah berangkat kerja. Atau ada urusan lain. Setiap orang memiliki kesibukannya masing-masing. Stevi memang pacarnya, bukan berarti Alfian harus selalu bersama Stevi kan?
"Dia sibuk mungkin."
Lala menahan tangan Stevi, mau tidak mau Stevi menghentikan langkahnya.
"Lo enggak mau tau dia sibuk apa?" tanya Lala lagi.
Stevi bingung harus menjawab apa. Di sisi lain, Stevi juga ingin tahu. Lagi lagi perkataan Arya membuatnya menjadi ragu pada ketulusan Alfian. Stevi belum bisa mempercayai Alfian sepenuhnya, mungkin di hadapan Arya dirinya membela Alfian. Namun, kenyataannya gadis itu juga membenarkan apa yang Arya katakan.
"Lo lupa, kalau dulu gue juga baik sama lo tapi akhirnya gue nyakitin Lo? Apa kabar Alfian, orang yang baru lo kenal tiba-tiba ngajak lo pacaran." Dengan begitu mudah, Arya membuat Stevi ragu akan ketulusan Alfian.
Stevi menepis semua kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi, dalam hati gadis itu berharap Alfian berbeda dari Arya.