Author POV
Alfian memaksakan senyumnya, perbincangan singkat dengan Arya nyatanya mampu memancing emosinya. Banyak pernyataan yang muncul, salah satunya. Bagaimana jika Arya akan membuktikan ucapannya?
"Makan dulu Fian," nampaknya Stevi sudah tidak marah.
Alfian tersenyum saat membuka kotak bekal yang di berikan Stevi. Ternyata Stevi membawakan bekal nasi goreng. Alfian tidak pernah memilih makanan apapun. Ini pertama kalinya, Alfian merasakan masakan Stevi.
Suapan pertama berhasil masuk ke dalam mulut Alfian, rasanya enak. Kenapa rasanya sama seperti masakan sang bunda? mungkin mereka berdua cocok jika bertemu, itulah yang sekarang di pikirkan Alfian.
"Kok kamu diem aja, enggak enak ya?" suara Stevi terdengar khawatir. Alfian adalah orang pertama yang merasakan masakannya.
Alfian menggeleng.
"Enak kok, rasanya sama kayak masakan bunda." Cowok itu tersenyum getir, mungkin sudah saatnya dia pulang ke rumah.
"Kamu kangen bunda?" tanya Stevi hati hati.
Tanpa ragu, Alfian mengangguk. Anak mana yang tidak merindukan ibunya. Meskipun rasa ingin pergi selalu ada, tapi rasa kembali lebih besar.
"Udah lama banget enggak makan masakan bunda, thanks ya." ucap Alfian tulus.
Stevi sama halnya dengan Alfian. Hidup sendiri di usia belasan bukan hal yang mudah. Terpaksa mandiri, bukan mandiri yang Stevi rasakan. Mungkin lebih tepatnya seperti terbuang.
"Sama sama Fian. Di habisin makannya. Oh iya Fian, hari ini kamu kerja?" tanya Stevi sambil mengunyah nasi gorengnya.
Alfian lagi lagi mengangguk, mungkin hari ini Alfian akan pulang malam mengingat kerasnya hidup. Apalagi, semenjak pergi dari rumah semua fasilitas Alfian kembalikan. Alasannya, jika kedua orang tuanya masih memaksakan keinginannya selama itu pula Alfian tidak akan kembali. Egois memang, tapi hidup adalah pilihan. Meskipun Alfian tahu, lari dari masalah hanya akan menambah masalah.
"Iya pulang ini langsung kerja, kenapa? lo mau main kayak kemarin?" pekerjaan memang sudah menjadi kegiatan wajib bagi Alfian, tapi Stevi disini juga menjadi prioritasnya sekarang.
"Enggak kok, cuma tanya aja. Mau kasih saran boleh?" kini giliran Stevi yang bertanya pada Alfian.
Alfian meletakkan kotak bekalnya karena sudah kosong.
"Boleh," jawab Alfian. Memang saat ini perhatian dari Stevi adalah hal yang Alfian inginkan.
"Sebelum kerja kamu kerjain semua tugas sekolah dulu, jangan sampai gara gara sibuk kerja kamu lupa kewajiban kamu sebagai pelajar. Kamu kerja buat diri kamu sendiri, begitu juga sekolah. Semua itu, dari kamu. Dan untuk kamu sendiri Fian. Kalau bukan diri kamu sendiri, siapa lagi?"
Alfian masih diam, membiarkan Stevi menyelesaikan ucapannya.
"Jangan terlalu mengandalkan orang lain, karena enggak selamanya orang lain selalu ada buat kamu."
Alfian tertegun sesaat, hatinya membenarkan apa yang di katakan Stevi.
"Apa lo suatu saat bakalan pergi dari gue?"
Kening Stevi berkerut, gadis itu tidak mengerti.
"Apa lo bakalan pergi, di saat gue benar benar sayang sama lo?"
"Semua orang akan pergi kalau kehadirannya enggak di hargai Fian. Begitu juga aku, kamu yang sekarang baik banget. Nggak tau besok gimana kan?"
Miris, di saat seperti ini Stevi malah teringat perlakuan Arya yang begitu menyakiti hatinya.
****
Setelah mengantarkan Stevi pulang, Alfian tidak langsung berangkat kerja. Cowok 18 tahun itu, mencoba menurut apa yang Stevi inginkan. Mengerjakan tugas sekolah terlebih dahulu, setelah selesai baru Alfian berangkat kerja. Tidak lupa, Alfian juga mengirimkan pesan pada Stevi.
Me
Gue kerja dulu
Btw tugas udah gue kerjain
Makasih sarannya pacar ?
Alfian segera mengambil kunci motor dan jaketnya, kali ini dirinya merasa beban hidupnya sedikit berkurang. Mungkin karena Stevi, ya bisa saja gadis itu lah yang sekarang menjadi penyemangatnya.
Alfian berangkat kerja pukul 3 sore, biasanya cowok itu akan pulang pukul 12 malam. Alfian tidak pernah mengeluh, semua itu di jalani dengan ikhlas. Meskipun ada rasa ingin kembali ke rumahnya, tentu saja karena merindukan kedua orang tuanya.
Alfian berhenti di depan rumah Stevi,
dengan cepat Alfian turun dari motornya. Berjalan pelan, berharap Stevi belum tidur. Tangannya terulur mengetuk pintu rumah Stevi. Namun, Alfian lupa jika lampu di rumah gadisnya sudah padam. Atau mungkin Stevi sudah tidur?
Alfian memundurkan langkahnya, harusnya ia tau waktu.
"Fian."
Alfian sedikit terkejut melihat Stevi membuka pintu. Stevi dengan piyama panjangnya, dan rambut yang berantakan. Sekarang Alfian tau, Stevi lama membuka pintu karena memang sudah tidur.
"Sorry, gue ganggu lo ya?" tanya Alfian tidak enak. Padahal ini masih jam 8, apa gadis itu biasa tidur cepat?
Stevi menggeleng, memperhatikan Alfian sebentar.
"Kamu baru pulang?" pertanyaan Stevi membuat Alfian tersenyum, Alfian berfikir jika gadisnya begitu perhatian.
"Iya, langsung kesini."
Stevi menyuruh Alfian masuk rumahnya, dan membiarkan pintu rumahnya terbuka.
"Kenapa langsung kesini? kamu pasti capek,"
"Gue kangen sama lo, dari tadi ke inget lo terus. Maaf ya, hari ini gue sibuk. Nggak sempet ngajak lo jalan. Tapi gue janji, setiap hari minggu full time buat lo gimana?"
Stevi menggeleng pelan, Alfian sibuk dengan pekerjaannya tapi masih mengingat dirinya. Sementara seharian ini Stevi malah sibuk memikirkan Arya. Kadang Stevi merasa begitu jahat.
"Kamu kalau kerja jangan mikirin apapun, cukup kasih aku kabar aja Fian. Aku juga enggak masalah kok kamu sibuk. Kamu enggak harus selalu ngajak aku jalan. Hari minggu, kamu lebih baik istirahat aja Fian."
Stevi bukannya tidak senang dengan sikap Alfian yang begitu baik dan perhatian. Hanya saja, Stevi belum bisa menerima sikap Alfian sepenuhnya.
"Nggak apa apa, gue capek belajar sama kerja tiap hari. Gue pengen setiap hari minggu kita jalan. Lo mau kan?" tanya Alfian penuh harap.
Alfian tahu, Stevi belum bisa membuka hati untuknya. Bagi Stevi mungkin Arya masih berarti, meskipun gadis itu selalu mengatakan move on. Alfian tahu Stevi masih mencintai laki laki itu. Alfian akan berusaha keras untuk mendapatkan hati Stevi, cinta ada karena terbiasa. Alfian akan membuat Stevi mencintainya, dengan selalu bersama gadisnya.
Stevi tersenyum lalu mengangguk, tidak ada salahnya menyenangkan hati Alfian. Lagipula cowok itu sudah begitu baik padanya. Anggap saja Stevi membalas budi pada Alfian.
"Asal kamu rajin sekolah dan nggak di hukum lagi, gimana?"
Tanpa ragu Alfian mengangguk, meskipun Alfian tahu syarat yang diberikan Stevi untuk kebaikannya. Jangan lupa, Alfian tidak pernah absen dari hukuman. Mungkin ini akan menjadi awal yang baik.
"Siap, demi lo gue bakalan jadi orang yang nurut."
Stevi menggeleng tidak membenarkan ucapan Alfian.
"Kamu harus berubah demi diri kamu sendiri Fian,"
"Kenapa? apa lo enggak mau jadi alasan gue jadi lebih baik?"
"Bukan,"
"Terus?" bahkan Alfian tidak memberikan kesempatan Stevi untuk berfikir.
"Hm, kamu enggak perlu alasan untuk berubah Fian. Berubah untuk diri kamu sendiri. Karena enggak selamanya aku ada di samping kamu, aku takut suatu saat nanti pas aku nggak di samping kamu. Kamu berubah jadi Alfian yang lain, berubah demi seseorang itu nggak akan merubah apapun Fian." termasuk perasaan, imbuh Stevi dalam hati.
Tenggorokan Alfian mendadak terasa kering, Alfian paham pembicaraan ini. Niatnya bertemu Stevi agar lelahnya cepat hilang, tapi semua tidak semudah itu ternyata.
Alfian memaksakan senyumnya, hatinya terasa sakit. Secara tidak langsung, Stevi sudah mengatakan akan meninggalkan dirinya bukan?
"Oh iya, nih tadi gue beliin lo martabak. Di makan ya, gue suapin aja gimana?"
Tangannya terulur untuk mengambil sepotong martabak, lalu menyuapi Stevi. Alfian tidak apa apa, rasa sakitnya tidak begitu penting. Yang terpenting adalah, berada di dekat Stevi. Itu lebih dari cukup!
"Lo jam segini udah tidur?" tanya Alfian.
Stevi hanya mengangguk, karena mulutnya sibuk mengunyah martabak. Stevi memang menyukai martabak, entah Alfian tahu dari mana makanan kesukaannya.
Alfian terus menyuapi Stevi, mungkin gadis itu tidak akan pernah mengerti betapa berharganya dirinya. Dan Stevi juga tidak pernah mengerti bagaimana kacaunya Alfian jika suatu saat nanti Stevi lebih memilih Arya.
Apakah hal itu akan terjadi? mungkin saja. Mengingat, Stevi yang begitu mencintai Arya dan Stevi yang belum bisa membuka hati untuknya. Belum berhasil membuat Stevi berpaling dari Arya, bukan berarti Alfian akan menyerah begitu saja. Selama Stevi masih bersamanya, selama itu pula Alfian akan berjuang.
Kurang bodoh apalagi, sudah mau menjadi pelampiasan tanpa di minta. Lalu rela menjadi obat untuk hati yang sedang terluka.
"Aku udah kenyang Fian."
Stevi menyandarkan tubuhnya di kursi yang sejak tadi ia duduki.
"Gue pulang ya, maaf udah ganggu lo tidur."
Alfian memperhatikan Stevi, terlihat jelas gadisnya masih mengantuk.
"Makasih martabaknya Fian."
Alfian tersenyum lagi, entahlah luka yang baru saja Stevi taburkan mendadak hilang. Hanya karena senyuman gadis itu.
"Sama sama,"
Stevi mengantarkan Alfian keluar rumah. Alfian berjalan menuju motornya, dan Stevi berdiri di depan teras rumahnya.
"Besok gue jemput, enggak usah bawa bekal. Besok kita sarapan di tempat spesial." ujar Alfian sebelum memakai helm.
Stevi tersenyum, meskipun tidak nyaman dengan perlakuan Alfian yang menurutnya terlalu berlebih-lebihan. Bukan berarti, Stevi akan menolak ajakan Alfian. Stevi hanya tidak ingin Alfian merasa sakit karena di tinggalkan. Namun, Stevi lupa. Jika sikapnya malah membuat Alfian kembali berharap cepat atau lambat Stevi bisa menerima Alfian sepenuhnya.
Stevi kembali masuk ke rumah saat motor Alfian sudah tidak terlihat. Ada rasa menyesal karena sudah berurusan dengan Alfian. Stevi tidak menyangka jika Alfian akan memperlakukan dirinya seperti ini. Stevi kira, Alfian hanya akan mempermainkan dirinya seperti Arya. Bahkan, saat sedang bersama alfian bayang bayang Arya tidak sepenuhnya hilang.
"Kenapa harus Alfian? kenapa harus Alfian yang perhatian sama aku? kenapa bukan Arya aja?"
Stevi memejamkan matanya.
"Bahkan di saat Alfian berbuat baik pun. Bayangan Arya enggak mau pergi. Segitu cintanya aku sama Arya?"
Mungkin cinta bisa datang karena terbiasa. Stevi hanya berharap, luka di masa lalu tidak akan pernah terulang.