Alfian POV
"Mulai gila nih bocah, dari tadi senyum senyum sendiri!"
Aku menoleh, ternyata Niko sudah masuk kedalam kelas. Niko adalah salah satu temanku, sedikit badboy. Walaupun badboy, tapi harus aku akui. Niko tipe laki laki yang setia.
"Emang kenapa kalau gue senyum senyum sendiri? lo mau ikutan senyum bareng gue?" tentu saja Niko tidak akan mau.
"Gue masih waras buat nggak senyum senyum sendiri di pagi hari yang cerah," cibir Niko padaku.
"Tadi pagi pas gue berangkat masih cerah, pas ada lo jadi suram."
"Sialan." Umpat Niko padaku.
Begitulah kami, tidak lengkap rasanya jika tidak saling membuat kesal. Aku dan Niko sama sama diam, tumben sekali sahabatku tidak berisik. Aku menoleh, oh ternyata sedang bermain game.
"Al." Niko memanggilku, tentu saja masih fokus pada ponselnya.
"Kenapa?"
"Lo tadi berangkat bareng Stevi?" aku tidak perlu terkejut, karena memang tadi berangkat bersama Stevi. Gadisku.
"Iya, kenapa emang?"
Kali ini Niko berhenti bermain game, bisa ku tebak. Pasti kalah, kalau tidak kalah tidak mungkin akan berhenti bermain.
"Nanya doang, akhirnya tuh cewek punya temen."
Aku hanya mengangguk, apa mungkin harus ku katakan sekarang jika aku dan Stevi sudah resmi pacaran? aku rasa tidak perlu, cepat atau lambat Niko pasti tahu.
"Lo nggak suka kan sama Stevi?"
"Bukan urusan lo," aku memang tidak suka jika ada yang ikut campur dengan urusanku.
Niko berdecak kesal, aku yakin Niko akan mencari tahu sendiri. Mungkin, dia akan bertanya pada Stevi sendiri. Jika benar, aku ingin tahu apa reaksi Stevi. Mengakui aku sebagai pacarnya, atau malah pura pura tidak mengenal.
Aku bukannya tidak mau mengakui gadisku, hanya saja aku takut. Takut jika Stevi tidak nyaman dengan status kami. Atau bagaimana jika Arya tau, dan dia akan merebut Stevi dariku. Hal yang tidak akan pernah aku izinkan. Kecuali, jika Stevi sendiri yang ingin kembali pada laki laki b******k itu!
Aku hanya bisa berusaha dan berharap. Berusaha membuat Stevi mencintaiku, dan berharap Stevi akan melupakan Arya. Aku tau, semua butuh proses. Apalagi melupakan cinta pertamanya. Ngomong ngomong cinta pertama, aku juga pernah merasakan hal itu. Namun, sayang aku tidak bisa mendapatkannya. Dan memang benar, Stevi adalah pacar pertamaku!
"Beban hidup lo berat banget Al?"
Aku menoleh, ternyata Niko masih disini.
"Kenapa emang?"
"Dari tadi ngelamun, kayak punya beban hidup aja lo."
Aku hanya diam, biarkan saja Niko mengoceh sesuka hatinya. Lagipula, aku tidak ada waktu untuk mendengarkannya. Lebih baik, aku mengirimkan pesan pada Stevi. Sedang apa dia? apa dia sedang belajar?
Pacar ❤️
Semangat belajarnya!
Aku menutup kembali ponselku, aku sama sekali tidak berniat menganggu belajarnya.
Semua teman di kelasku diam, membuatku heran. Aku menatap lurus ke depan. Ternyata guru matematika sudah tiba entah sejak kapan? sebenarnya aku paling malas pelajaran ini. Aku ini bodoh, tapi kenapa masuk IPA? hal yang selalu aku pikirkan, dan sialnya tidak pernah menemukan jawaban yang tepat.
"Alfian Mahendra, sudah main hpnya?" suaranya lantang dan begitu tegas, membuat semua temanku langsung menoleh ke arahku.
Aku tidak berniat menjawab, bukan karena tidak sopan. Karena aku yakin, guruku yang paling baik itu akan memberikanku hukuman!
"Keluar kelas sekarang, hormat bendera 30 menit!"
Aku meringis, ini bukan hal yang baru. Aku sudah sering mendapatkan hukuman seperti ini. Biasanya karena aku datang terlambat, dan sekarang apa alasannya? aku tidak akan berlama lama di dalam kelas. Lebih cepat lebih baik kan? selamat tinggal matematika, selamat datang cuaca panas!
"Al please, lo jangan keluar."
Suara Niko mengehentikan langkahku.
"Kenapa?" tanyaku heran.
"Hari ini jadwal ulangan harian matematika, bisa enggak setelah ulangan selesai aja lo keluarnya?"
Aku menggeleng mantap, hukuman tidak bisa ditawar. Ulangan matematika, adalah hal yang paling di hindari. Apa aku harus bernafas lega? bisa di pastikan setelah hukumanku selesai. Aku akan di panggil untuk mengerjakan soal matematika lebih banyak dari teman temanku.
Aku memilih keluar kelas, tujuanku tentu saja lapangan. Ya Tuhan! sepertinya tadi tidak panas? tapi kenapa sekarang? Argh, sabar!
"Lo pasti di hukumkan?"
Aku menatap viola kesal, jika sudah tahu apa jawabannya kenapa harus bertanya? ck! basa basi.
"Bukan urusan lo!"
Aku berniat meninggalkan Viola, aku tidak heran sebenarnya kenapa gadis yang biasa di panggil Lala itu berada di luar kelas saat jam pelajaran. Lala itu ketua kelas, mungkin ada tugas dari guru. Aku tidak terlalu peduli.
"Gue bilangin, ke Stevi biar di putusin!"
Aku menatap Viola jengah! jika saja dia bukan pacar sahabatku. Ya, Viola adalah pacar Niko.
"Berani lo ngomong, gue pajang nomor Niko di mading biar cepet putus!"
Aku memilih kembali berjalan, bisa gawat kalau Stevi meminta putus hanya karena aku sering di hukum. Viola s****n!
Entah sudah berapa lama aku berdiri di bawah teriknya matahari. Sebenarnya aku tidak masalah jika bertambah hitam, karena setiap hari aku terbiasa panas panasan. Tuntutan pekerjaan, menjadi ojek online untuk mencukupi kebutuhanku. Keluargaku tergolong mampu, hanya mampu memberikan materi. Padahal aku juga ingin mendapat kasih sayang yang lebih.
Mataku terpejam, sampai aku sadar tanganku di tarik oleh seseorang. Sudut bibirku terangkat, ternyata Stevi yang menarik tanganku.
"Kamu di hukum?"
Aku mengangguk takut, bukan apa-apa. Sepertinya Stevi tidak suka aku yang selalu di hukum.
"Alasannya?" tanya Stevi lagi. Kali ini gadisku memberikan aku minum.
"Main hp." jawabku jujur, menandaskan minuman yang di berikan Stevi.
"Sering di hukum gini?"
Deg
Entah mengapa pertanyaannya malah membuat nyaliku ciut. Nada bicaranya begitu tenang, tapi hati seseorang siapa yang tahu?
"Em... ya iya." s**l! aku malah gugup.
Stevi hanya mengangguk lalu bermain ponselnya, tentu saja hal itu membuatku kesal. Aku tidak suka saat seseorang mengabaikan kehadiranku. Apalagi ini Stevi, yang sekarang menjadi pacarku!
"Sibuk banget kayaknya," sengaja aku menyindir Stevi.
Bahkan setelah mendapat sindiran dariku, Stevi tampak tidak peduli apapun. Sebenarnya kehadiranku di anggap atau tidak.
"Pacarnya di sini loh, sayang banget sama itu hp."
Astaga! masih diam saja. Aku sudah tidak sabar, dengan cepat aku merebut ponsel Stevi. Membuat gadis itu menoleh padaku.
"Kenapa?" tanya Stevi padaku.
Apa katanya? kenapa? ya tuhan salah apa aku harus mencintai gadis ini? sepertinya memang benar kata Viola, meskipun pintar dan cantik tetap saja Stevi lemot!
"Kalau ada aku enggak main hp bisa?" aku hanya berharap Stevi menjawab iya.
Aku melongo melihat gadisku menggelengkan kepalanya. Sebenarnya menggemaskan, tapi tetap saja ini menjengkelkan.
"Aku enggak bisa," jawab Stevi cuek. Lalu mengambil kembali ponselnya.
Aku berdecak sebal, aku apa dia yang keras kepala?
"Sayang, aku enggak bisa di cuekin." Sebenernya aku merasa geli mendengar ucapanku sendiri. Namun, kata kata itu keluar dengan sendirinya.
"Gimana rasanya?"
"Apa?"
Kini giliran Stevi yang berdecak sebal. Eh tunggu, kenapa semakin menggemaskan? katakan saja aku terlalu bucin, bucin sama pacar sendiri tidak apa apa kan?
"Gimana rasanya di cuekin? padahal kamu ada di deket seseorang?"
Aku terdiam, masih belum memahami pertanyaannya.
Stevi terlihat menghembuskan nafas sebelum memberikanku wejangan yang begitu panjang.
"Aku sengaja cuekin kamu, aku sengaja mainan hp padahal ada kamu disini. Biar kamu tau, kalau guru lagi jelasin materi di depan. Kamu enggak seenaknya sendiri, kamu itu udah kelas XII Fian. Kalau enggak bisa jadi contoh yang baik buat adik kelas, kamu harus bisa jadi contoh yang baik buat aku," Stevi menjeda ucapannya sebentar. Tanpa sadar, aku tersenyum. Sudah lama aku tidak mendapatkan perhatian seperti ini.
"Kamu tau kan? di luaran sana masih banyak anak yang enggak seberuntung kamu bisa sekolah. Mereka pengen di kasih kesempatan untuk belajar, tapi keadaan mereka yang enggak memungkinkan. Harusnya kamu lebih bersyukur, bukan malah mainan hp pas guru jelasin pelajaran!" aku bisa melihat Stevi begitu kesal padaku, andai saja dia tau. Aku sudah sering di hukum seperti ini.
Stevi tidak lagi bersuara, mungkin sudah terlalu lelah. Aku tidak marah saat Stevi memarahiku. Itu tandanya, Stevi mulai peduli padaku kan?
"Udah marah marahnya?" tanyaku heran.
"Siapa yang marah? biasa aja tuh."
Kalau enggak marah, yang barusan itu apa? Astaga, apa semua perempuan seperti ini? aku terkekeh membayangkan bagaimana kalau aku mendapatkan wejangan dari Stevi setiap hari?
"Maaf ya, tadi aku enggak tau kalau gurunya udah masuk kelas." memang itu kenyatannya.
"Enggak tau, karena kamu sibuk main hp terus!"
Aku tersenyum tipis, tadi katanya tidak marahkan? lalu ini tadi apa?
"Y- ya gitu hehe." mungkin lebih baik aku mengalah, pagi ini aku merasa cukup lelah. Dan aku rasa aku mulai lapar.
"Yang laper," aku tidak berbohong, perutku sudah minta makan. Aku teringat bekal yang di bawa Stevi tadi pagi.
Stevi berdiri, lalu menatapku tajam.
"Diem disini, jangan kemana-mana."
"Ke hatimu boleh enggak yang?" aku sengaja menggoda Stevi, ya ampun kenapa menggemaskan?
"Nggak!"
Setelah itu Stevi berlari meninggalkanku, aku tahu gadisku sedang kesal.
"Bahagia banget kayaknya!"
Aku menoleh, mendapati Arya berdiri di belakangku. Entah mengapa, hatiku merasakan seperti akan terjadi sesuatu.
"Suka suka gue lah." Memang benarkan? bahagia tidaknya hidupku bukan urusan si b******k itu.