Aku menghembuskan nafas kasar, apa nantinya jawabanku tidak menyakiti Alfian?
"Aku enggak tau, tapi aku berusaha buat move on." jawabku jujur.
Aku melihat Alfian mengangguk, sepertinya Alfian memaklumi keadaanku yang sedang patah hati. Bahkan, Alfian tidak pernah memaksaku untuk move on dalam waktu cepat.
"Gue anterin lo pulang,"
Aku tidak menyadari, berapa lama kami duduk di taman ini. Ternyata keadaan taman sudah mulai sepi.
***
Setelah sampai di rumah kecilku, aku langsung masuk kedalam rumah. Sepi, itulah yang aku dapati setiap hari. Bukan hanya di sekolah, dirumah aku juga sendiri. Orang tuaku menginginkan aku menjadi anak yang mandiri, apa menjadikan anak mandiri dengan cara seperti ini?
Aku memilih duduk di depan televisi, tanganku terulur menyalakan televisi. Aku tidak begitu tertarik dengan sinetron, aku lebih suka menonton kartun. Katakan saja aku seperti bocah lima tahun, tapi memang aku lebih suka kartun. Alurnya tidak membosankan, tidak seperti jalan cerita hidupku. Terlalu monoton.
Ting...
Aku mengalihkan perhatianku, tumben sekali ponselku ada notifikasi masuk. Biasanya hanya grup kelas, notifikasinya aku bisukan selama 1 tahun. Aku tidak suka jika grup terlalu ramai, bahkan aku tidak pernah mengirim pesan apapun di grup. Hanya menyimak jika ada info penting!
Fian
Gue udah sampe rumah
Besok gue jemput
Perlakuan kecil dari Alfian, membuatku merasa menjadi orang yang di prioritaskan. Tanpa ragu, aku membalas pesannya.
Me
Oke
Mungkin aku terlalu singkat membalas pesannya, tapi aku tidak mau terlalu basa basi. Meskipun Alfian sudah menganggap aku sebagai pacarnya, rasanya masih begitu asing.
Mungkin, karena kami baru mengenal dan sialnya malah aku menerima ajakan Alfian menjadi pacarnya.
Aku melihat jam dinding, ternyata sudah hampir jam 6 sore. Aku bangkit dari dudukku yang terlalu nyaman. Sebelum pergi ke kamar, aku mematikan televisi. Aku harus berhemat.
Setelah membersihkan diri, aku merasakan lapar. Ternyata memikirkan beban hidup, bisa membuat seseorang merasa lapar dengan cepat, aku terkekeh saat menatap pantulan diriku di cermin. Aku yang selalu suka makan, tapi sulit sekali gemuk! mungkin bagi sebagian orang, hal itu sangat menguntungkan. Namun, itu tidak berlaku bagiku. Aku ingin gemuk sebenarnya, tinggiku 165 cm, berat badanku hanya 50 kg. Apa itu termasuk ideal?
Aku berjalan ke dapur, jika tidak memasak sendiri tentu saja akan membuatku semakin boros. Kadang aku memilih jalan kaki ke sekolah, meskipun cukup jauh. Aku tidak akan meminta jatah uang bulanan lebih dari biasanya. Dulu, aku pernah meminta lebih. Sebenarnya orang tuaku mampu, tapi mereka terlalu perhitungan padaku. Aku sempat berpikir, apa aku ini anak yang tidak di inginkan?
Aku memilih memasak mie instan, katanya instan. Tapi harus di masak dulu. Aku kembali menggeleng saat merasa tertipu, aku mengeluarkan mie dari bungkusnya. Mie goreng tapi harus di rebus terlebih dahulu? aku tidak mengerti kenapa aku memikirkan hal seperti ini. Tidak penting!
Hanya butuh waktu lima menit, mie goreng ala Stevi sudah siap. Aku meletakkan mie goreng di dalam piring, lalu membawanya ke meja. Dulu, aku pernah punya cita cita menjadi chef. Namun, semua itu hanyalah angan anganku saja. Mungkin, suatu hari nanti. Aku akan mewujudkan impianku sendiri.
***
Aku mengerjapkan mataku perlahan, seingatku aku tadi aku sedang mengerjakan tugas sekolah. Ternyata aku tertidur di meja belajar, jam berapa sekarang? jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Aku memilih merapikan buku buku yang akan aku bawa besok kesekolah. Setelah selesai, aku memilih tidur. Sebenarnya aku ingin menghubungi kedua orang tuaku, tapi ini sudah malam. Aku takut, mengganggu tidurnya. Jujur, aku sudah lama tidak bertemu mereka. Apa mereka juga merindukanku? Perlahan mataku terpejam, kegelapan mulai menguasai diriku. Semoga, esok aku akan lebih bahagia daripada hari ini.
***
Pagi pagi sekali ponselku sudah seperti alarm? aku tidak memperdulikannya, ini masih jam 4. Siapa yang menelvon di pagi hari seperti sekarang? Semakin di biarkan, penelpon tidak mau mengalah. Dengan terpaksa, aku menerima telvon dari orang yang tidak penting!
"Masih tidur?"
Kenapa suaranya begitu tenang, padahal tadi aku berniat untuk mematikan sambungan telepon ini.
Dengan malas, aku menjawab pertanyaan Alfian. Ya, orang yang menggangu mimpi indahku adalah Alfian.
"Masih Fian, kamu udah bangun?" aku memilih duduk, jika tidak aku akan kembali terlelap.
Alfian diam, rasanya aku ingin kembali tidur.
"Jangan lupa," Alfian seolah mengingatkanku, tapi apa?
"Apa?"
Di seberang sana, aku mendengar Alfian menghembuskan nafas kasar. Aku yakin, sekarang Alfian sedang marah padaku. Biar saja, siapa yang menyuruhnya mengganggu tidurku pagi ini?
"Bekal buat gue."
Refleks aku mengangguk, padahal Alfian tidak tahu kalau aku mengangguk. Bodoh memang.
"Mau sarapan apa?" aku memilih bangkit, dan keluar dari kamar menuju dapur. Aku meringis saat melihat persediaan makanan di dapur. Ternyata aku lupa belanja.
"Apa aja, asal lo yang masak."
Aku bernafas lega, bagaimana tadi jika Alfian memintaku untuk memasak ayam goreng? atau makanan lainnya. Bahkan, kadang aku hanya membawa bekal seadanya. Rasanya, aku ingin sekali kali boros. Namun, sudah di pastikan uang bulanan tidak akan cukup sampai orang tuaku mengirimkan uang lagi.
"Yaudah, aku masak dulu Fian. Kamu jadi jemput aku dulu?" tanyaku padanya, bukannya terlalu berharap jika pagi ini aku berangkat bersama Alfian. Hanya saja aku berfikir, akan terlalu buruk jika Alfian datang dan aku sudah berangkat ke sekolah. Tujuanku bertanya, hanyalah untuk memastikan.
"Jadi, mulai besok dan seterusnya kita berangkat bareng."
Apa aku tidak salah dengar? mulai besok dan seterusnya? itu tandanya aku akan semakin merepotkan Alfian.
"Em Fian, cukup hari ini aja ya. Seterusnya kita berangkat sendiri sendiri." aku tidak akan memanfaatkan Alfian lebih jauh.
"Nggak!"
Aku meringis, ternyata Alfian selain baik dia juga tidak bisa di bantah. Apa sebaiknya, aku mengalah dan mengikuti ajakannya? tapi bagaimana?
"Stevi, lo enggak tidur lagi kan?"
"Eh, enggak kok Fian. Ini mau masak. Udah dulu ya. Sampai nanti Fian."
Tanpa menunggu jawaban dari Alfian, aku mematikan telvon terlebih dahulu. Aku kembali ke kamar, menyiapkan baju sekolah terlebih dahulu. Lalu mencharger ponselku. Setelah itu, aku kembali ke dapur. Tujuanku adalah memasak nasi terlebih dahulu, sambil menunggu nasinya matang. Mungkin aku bisa membereskan rumah kecilku ini.
***
Suara motor Alfian sudah ada di depan rumah. Padahal ini baru jam enam, apa cowok itu terbiasa berangkat pagi? atau mungkin, Alfian tidak mau aku ikut terlambat jika berangkat siang. Andai saja dia tau, aku sering masuk terlambat.
Aku membuka pintu rumahku, Alfian duduk di motor maticnya. Sudah ku bilang kan, Alfian dan motor maticnya adalah perpaduan yang pas.
"Naik."
Aku hanya mengangguk, hari ini aku tidak ingin terlambat.
Kami sama-sama diam. Lagipula, aku tidak suka mengobrol saat di jalan.
Sepuluh menit berlalu, kami melewati gerbang sekolah. Sekolah masih cukup sepi, di parkiran ada beberapa anak yang sudah berangkat. Mungkin mereka ada jadwal piket hari ini, atau mungkin ada tugas yang belum selesai. Bicara tugas, aku bernafas lega. Aku sudah menyelesaikan tugasku tadi malam. Walaupun harus ketiduran di meja belajar, dan sekarang badanku sakit semua.
Tanpa menunggu, aku turun dari motor Alfian. Apa aku harus bertanya, kenapa helmnya berbeda? aku rasa memang aku harus bertanya.
"Fian." Aku memanggilnya pelan, Alfian yang sejak tadi sibuk merapikan rambutnya lalu menoleh.
"Kenapa?" tanya Alfian padaku.
Aku mengetukkan jariku di atas helm yang masih ku pegang.
"Ini helm baru?" astaga Stevi, perkara helm baru apa harus ditanyakan? mungkin itulah yang ada dipikiran Alfian saat ini.
Bukannya menjawab, Alfian malah tersenyum lalu turun dari motornya. Tangannya bergerak meraih helm yang sejak tadi aku pegang, kemudian meletakkan helm itu di atas motornya.
"Keliatan banget ya kalau baru?"
aku berdecak, apa susahnya tinggal jawab iya?
"Iya aku nggak tau, makanya aku nanya hehe."
Alfian malah mengacak rambutku, apa aku harus kesal karena rambutku berantakan?
"Itu udah lama sebenarnya, tapi baru di pake hari ini. Spesial buat lo. Pacar pertama gue."
Aku hanya mengangguk saja, sepertinya mood Alfian sedang baik hari ini. Aku jadi teringat sesuatu.
"Alfian, ini bekal kamu."
"Nanti aja, istirahat gue tunggu di perpustakaan."
"Fian, perpustakaan itu tempat belajar. Bukan tempat makan!"
Aku mulai kesal dengan permintaannya kali ini. Aku bahkan baru menemui orang yang makan di perpustakaan, padahal di perpustakaan tempat belajar kan?
"Iya ya, baru Inget."
Alfian menggandeng tanganku, banyak pasang mata yang menatapku sinis. Untuk pertama kalinya, ada yang mau berteman denganku setelah tiga tahun aku bersekolah di sini.
Alfian melepaskan genggaman tangannya setelah kami tiba di depan kelasku. XII IPA 3, kelas kami bersebelahan.
"Nanti gue tunggu di sini, kita makan di taman belakang sekolah aja."
Aku mengangguk setuju, mungkin itu pilihan terbaik. Daripada makan di perpustakaan?
"Iya Fian."
"Stevi."
"Iya."
Aku melihat Alfian menoleh ke arah kanan dan kiri, seperti mencari sesuatu.
"Kenapa Fian?" tanyaku saat mulai tidak sabar.
"Selamat belajar pacar.
Alfian mencubit pipiku pelan, perlakuan Alfian barusan sama persis dengan apa yang di lakukan Arya kemarin. Hatiku masih belum bisa melupakan Arya sepenuhnya, buktinya masih terasa sakit saat Arya menggandeng mesra tangan Anya. Ternyata patah hati seperti ini? Rasanya sakit, tapi nggak berdarah. Semacam, ada yang pecah retak tapi bukan kaca!