"Calon imam itu di depan, bukan di samping."
Aku tidak tahu, kenapa aku mengatakan itu pada Alfian. Namun, aku merasa apa yang aku katakan itu sudah benar. Bagiku, selain calon imam memang berada di depan. Naik motor lebih nyaman. Bisa lebih cepat sampai tujuan, dan terhindar dari macet.
"Makasih." ucap Alfian padaku.
Aku hanya mengangguk, lalu kami keluar dari perpustakaan. Kami berjalan beriringan menuju parkiran, lalu Alfian memberikan helm padaku. Sempat terlintas di pikiranku, apa setiap hari Alfian membawa dua helm? tapi bagaimana jika Alfian terbiasa mengantarkan pacarnya pulang?
Aku mematung, tiba tiba saja Alfian memakaikan aku helm. Hatiku merasakan hal aneh, mungkin karena perlakuan alfian yang begitu manis.
Bolehkah aku kembali berharap, kalau Alfian tidak seperti Arya? aku menggeleng pelan, seharusnya aku tidak boleh mempunyai pemikiran seperti itu.
"Mau makan dulu, atau langsung pulang? gue enggak mau pacar gue telat makan,"
"Makan deh, tapi kamu yang traktirkan?"
"Iya nanti di traktir." Lalu Alfian melajukan motornya setelah aku naik.
Aku tidak tahu, apa aku akan melupakan Arya dengan cepat? karena saat ini aku melihat Arya menggandeng tangan Anya. Serasi.
Aku mengingat kejadian di perpustakaan tadi, pertemuan yang tidak lagi aku harapkan.
"Sampai jumpa mantan, jangan cepet cepet ya move on nya." Arya mengatakan itu setelah mencubit sebelah pipiku, aku tidak mengerti apa yang ada di pikirannya.
Arya memintaku untuk tidak move on, tapi apa yang dia lakukan? seharusnya aku tidak lagi berharap kembali padanya.
Tapi bagaimana kalau aku tidak bisa melupakannya dengan cepat?
Bahkan, saat ini laki laki yang sedang aku pikirkan tidak peduli dengan perasaanku. Ya Tuhan, apa aku tidak bisa move on dengan cepat?
Aku tersadar, motor Alfian tidak lagi bergerak. Aku mengernyit binggung, oh ternyata kami sudah sampai di warung makan pinggir jalan. Aku tidak menyangka kalau Alfian suka makan disini, bagiku makan dimana saja tidak masalah.
"Lo enggak suka makan disini?" pertanyaan Alfian menyadarkanku.
"Suka kok, ayok makan." lalu aku turun dari motor matic Alfian. Alfian dan motor maticnya adalah perpaduan yang pas.
Tak lama setelah aku turun, Alfian juga ikut turun.
"Lo beneran nggak apa apa makan disini?"
Aku mengangguk, memang kenapa kalau makan disini?
"Ayok fian, aku laper."
Aku sudah tidak sabar, dengan cepat aku menarik tangan Alfian.
Kami masuk kedalam warung makan yang sederhana, cukup ramai. Bisa aku simpulkan, pasti rasanya enak dan harganya terjangkau.
Kami duduk di sebuah kursi dekat jendela, dari sini kami bisa melihat banyak kendaraan lewat. Ada juga anak seusia kami, jika ku lihat dari seragamnya. Mereka bukan teman sekolah kami.
Entah kapan Alfian memesan makanan, tapi sang pemilik warung ini sudah mengantarkan pesanan kami.
"Mas Al tumben ngajak pacarnya?"
Aku hanya tersenyum canggung, apa aku dan Alfian terlihat sebagai pasangan kekasih?
"Iya bang, kapan lagi libur kerja bisa ngajakin pacar makan?"
Aku tertegun sesaat, apa Alfian sudah bekerja? banyak pertanyaan yang memenuhi benakku. Alfian bekerja apa? apa meneruskan usaha keluarganya? aku tidak mau menerka nerka. Bukankah lebih baik aku bertanya pada Alfian langsung?
Aku memilih sedikit menahan rasa ingin tahu sebentar, mungkin nanti jika kami selesai makan.
"Lo kenapa?"
Aku tersenyum canggung, masih berusaha menahan rasa ingin tahu ini.
"Laper,"
Alfian tertawa, apa ada yang lucu?
"Selamat makan pacar."
Aku tidak menanggapi ucapan Alfian, walaupun sebenarnya aku malu.
Kami makan dalam keadaan diam, masing masing dari kami menikmati makanan.
Tiba tiba Alfian menyuapiku ayam bakarnya, haruskah Alfian menyuapiku makan? aku tidak menyangka, jika responku sangat berbanding terbalik dari hatiku.
Suapan pertama dari Alfian, aku tersenyum kikuk.
"Lo, nggak mau nyuapin gue?"
Aku tidak menyangka jika Alfian memintaku, untuk menyuapinya makan. Ayolah, warung makan sangat ramai saat ini.
"Alfian."
"Hm."
Aku sedikit kesal dengan jawaban Alfian.
"Aku malu," lagipula siapa yang tidak malu, apalagi kami masih menggunakan seragam putih abu-abu.
Alfian mengehentikan makannya, kami saling menyelami netra teduh itu. Aku hampir saja tenggelam dalam sorot mata Alfian yang, sulit untuk di jelaskan.
"Mereka nggak akan peduli, keburu laper,"
Aku mengangguk, tanpa sadar aku mulai menyuapi Alfian makan. Aku baru ingat, jika ini adalah kedua kalinya aku menyuapi Alfian. Yang pertama, di kantin sekolah.
"Fian, aku mau tanya boleh?" ada rasa tidak enak dalam hatiku, takut jika nantinya Alfian tersinggung.
Sebelum menjawab pertanyaanku, Alfian menandaskan minumnya.
"Sejak kapan, orang nanya di larang."
Aku mengangguk, memang benarkan. Aku merasa tidak perlu bertanya.
"Enggak jadi,"
"Tanya aja, tapi kita cari tempat lain gimana?"
Aku langsung mengangguk, mungkin Alfian tahu. Aku akan banyak bertanya hari ini.
"Oke."
Aku tersenyum senang, Alfian membawaku ke sebuah taman. Banyak orang tua yang bermain dengan anak-anaknya. Senyumku berubah sendu, sudah lama aku tidak bertemu orang tuaku.
"Lo mau nanya apa?"
Aku menghela nafas pelan, aku masih memikirkan pertanyaan yang tepat. Takut jika Alfian tersinggung.
"Kamu udah kerja?"
Akhirnya aku berani untuk menanyakan hal itu.
"Kenapa nanya gitu, lo nggak mau pacaran sama orang yang udah kerja. Takut gue nggak ada waktu buat lo."
Aku sudah menduga respon Alfian sebelumnya, jadi aku tidak terlalu terkejut mendengar jawabannya.
"Bukan gitu,"
"Terus?"
Aku harus menjawab apa?
"Aku cuma mau tau aja kok Fian, kalau kamu enggak mau jawab juga itu hak kamu."
Benarkan? di jawab atau tidak itu adalah hak Alfian sepenuhnya. Aku menghembuskan nafas pelan, harusnya aku tidak bertanya soal ini.
"Gue emang udah kerja,"
Alfian menjawabnya tanpa menoleh sedikitpun padaku.
"Apa, lo bisa nerima pekerjaan gue?"
Aku menoleh pada Alfian, aku masih tidak menyangka. Jika laki laki di sampingku bukan tipe anak manja pada umumnya.
"Apapun kerjaan kamu, yang penting halal Fian."
"Setiap pulang sekolah, gue enggak langsung pulang. Gue kerja ojek online."
Jujur aku terkejut, tapi aku berusaha menutupi ekspresiku. Pantas saja, Alfian membawa dua helm tadi.
"Kenapa diem, lo pasti malu punya cowok kayak gue gini."
"Kata siapa aku malu, aku bangga sama kamu Fian."
Aku memang bangga pada laki laki ini. Meskipun baru saja mengenal, aku bisa merasakan kalau Alfian laki laki yang punya tanggung jawab besar.
"Ck! lo orang pertama yang bilang gitu ke gue. Makasih ya,"
Entah mengapa, aku mendengar ada nada tidak biasa dari ucapan Alfian.
Orang tua gue aja nggak pernah bilang gitu, miris kan?"
"Kenapa emangnya?"
Aku merutuki kebodohanku, cukup Stevi. Jangan terlalu jauh ikut campur urusan orang lain.
Masih menatap lurus ke depan, Alfian tak lagi mengatakan hal apapun. Akhirnya aku juga ikut diam, sekali saja aku bicara lagi. Itu hanya akan menambah masalah.
Hening diantara kami tidak berlangsung lama, Alfian akhirnya kembali bersuara.
"Mereka terlalu ngatur hidup gue, gue tipe anak yang susah di atur."
Alfian kini menggenggam tanganku.
"Gue mau jadi diri sendiri apa itu salah?" tanya Alfian, aku melihat sorot matanya yang begitu sendu.
Aku membalas genggaman tangannya, jika laki laki ini selalu ada untukku. Rasanya tidak salah, jika aku membalas kebaikannya.
"Setiap orang memang harus jadi diri sendiri Fian, tapi bukan berarti tindakan kamu enggak nurut sama orang itu benar. Setiap orang tua, pengen yang terbaik buat anaknya." Aku tersenyum tipis, bahkan aku yakin. Aku tidak akan bisa menjalani apa yang baru saja aku katakan.
Genggaman tangannya semakin erat, aku rasa Alfian memang sedang membutuhkan tempat untuk berbagi keluh kesah.
"Apa lo pernah ada di posisi gue? Apa lo akan kuat dengan segala tuntutan yang mereka berikan?"
Aku menggeleng, mungkin aku tidak akan kuat seperti Alfian. Karena setiap orang tidak sekuat Alfian, dan tidak akan selemah diriku.
"Aku belum pernah di posisi kamu Fian, mungkin juga aku enggak akan sekuat kamu." Aku menatap Alfian, ternyata dia juga menatapku.
"Tapi Fian, kamu itu orang pertama yang cerita banyak ke aku. Aku yakin, kamu kuat." Aku tersenyum, lalu mengalihkan pandangan terlebih dahulu. Aku tidak ingin Alfian tahu, seberapa terlukanya aku selama ini.
"Gue enggak seperti yang terlihat, tapi gue nggak akan pernah nyakitin orang yang gue sayang,"
Tanpa sadar, Alfian kembali mengingatkanku pada Arya. Orang yang aku sayangi, tapi malah menyakitku dengan begitu mudah.
"Alfian, kamu punya pacar?"
Aku tahu, Alfian terkejut. Biar saja, aku akan bertanya banyak hari ini.
"Punya, kan lo pacar gue."
Aku tidak mengharapkan jawaban itu.
"Pacar yang lain?" mungkin ini terdengar tidak sopan, ya aku tau ini adalah bagian dari privasi Alfian.
Alfian menggeleng.
"Lo pacar pertama gue."
Deg
Aku tidak percaya apa yang dikatakan Alfian. Mana mungkin Alfian belum pernah pacaran sebelumnya.
"Kamu pasti bohongkan?"
Ayo Alfian, aku berharap kamu jawab iya!
"Enggak, buat apa gue bohong! lo emang pacar pertama gue kok. Ya walaupun lo jawab iya tanpa sengaja,"
Apa aku harus senang? tentu saja tidak! Alfian bilang, aku adalah pacar pertamanya. Pacar pertamanya yang hanya menjadikan Alfian sebagai pelampiasan, ya walaupun aku tidak berniat seperti itu.
"Gue enggak tau gimana caranya nembak cewek, gue bukan tipe cowok romantis. Gue ya gini."
Aku tahu Alfian jauh dari kata romantis, tapi Alfian begitu baik dan peduli padaku. Apa aku boleh berharap padanya?
"Apa lo masih berharap balikan sama Arya?"
Aku tidak menyangka jika Alfian akan menanyakan hal itu padaku. Laki laki itu seakan tahu apa yang sedang aku pikirkan. Rasa ingin kembali memang masih ada, tapi aku berusaha untuk tidak terlalu berharap. Aku memang punya keinginan, tapi kenyataan menamparku dengan keras. Arya hanya menjadikanku selingkuhan! Bukankah, aku akan bertambah bodoh jika kembali padanya? Aku harap tidak ada kata kembali, setelah perpisahan yang begitu menyakitkan.