Part 2

1512 Kata
Aku menatap perempuan di sampingku dengan heran. Kami memang sudah tiga tahun satu kelas, tapi hari ini pertama kali dia mengajakku berbicara. Namanya Viola, tapi gadis itu lebih suka dipanggil Lala. Entahlah aku tidak berniat menanyakan hal yang tidak penting bagiku. "Jadi, lo mau ke kantin apa diem di kelas?"  Sebenernya aku tidak berniat pergi dari kelas, tapi ini adalah hari pertama aku memiliki teman. Aku berfikir, tidak ada salahnya aku ikut dengannya. "Iya." Aku melihatnya memutar bola matanya malas, apa dia tidak takut jika kedua matanya sakit? "Lo irit ngomong, tiap hari sariawan?" tanya Lala padaku. Aku hanya tersenyum tipis, aku bukan orang pendiam. Hanya saja aku  tidak mudah akrab dengan semua orang. Akhirnya Lala menarik tanganku, diluar dugaanku. Temanku ini malah mengandeng tanganku. Aku kira Lala adalah gadis sombong seperti yang lain, tapi ternyata aku salah. "Kamu mau pesan apa? biar aku yang pesan." aku tidak ingin menyusahkan Lala. Lala menggeleng, membuatku menatapnya binggung. "Kita pesan bareng, nanti gue yang bawa makanan. Lo yang bawa minum, gimana?"  Dengan cepat aku mengangguk. Ide bagus. Aku berada di antrian yang cukup panjang, aku tidak biasa berada di antara orang banyak. Karena biasanya aku selalu berada di perpustakaan. Aku memesan dua porsi nasi goreng, tadi Lala bilang padaku jika nasi goreng adalah makanan favoritnya. Setelah mendapatkan pesananku, aku menyusul Lala di bangku kantin yang masih kosong. Aku berjalan dengan hati hati, aku tidak ingin membuat masalah menabrak seseorang di kantin. Kami makan dengan lahap, sampai seseorang menepuk pundakku cukup keras. Dalam hati, aku merapal doa semoga hari ini bukan hari yang s**l untukku. Aku sedikit terkejut saat mengetahui siapa yang berada di sampingku. Dia laki laki yang sama. Apa yang dia lakukan di sebelahku? "Kenapa?" seingatku, aku tidak memiliki masalah dengannya. Laki laki itu hanya menggeleng, lalu melirik nasi goreng di hadapanku. "Laper." Mau aku pesenin makan?" aku hanya bersikap baik, aku sedang tidak ingin bermasalah hari ini. Lagi, laki laki itu kembali menggelengkan kepalanya pelan. Aku tidak tahu apa yang ia inginkan, tadi dia bilang lapar, tapi kenapa tidak mau saat aku ingin memesankan makanan? "Suapin."  "Kamu kan punya tangan. Dua lagi, kenapa harus disuapin?"  Aku bisa mendengar helaan nafasnya, mungkin dia mulai jengah menghadapi sifatku. Aku tersenyum geli, kenapa dia terlihat menggemaskan? Dengan cepat aku menyendokan nasi untuknya, aku memang tidak peka. Tapi aku tahu apa yang ia inginkan. Raut wajahnya berubah cerah saat melihat aku ingin menyuapinya. "Lo berdua pacaran?"  Aku hampir lupa jika ada Lala di sini. "Enggak." "Iya." Lala kembali memutar bola matanya malas, kadang aku ingin mencoba seperti itu. Tapi aku tidak bisa. "Alfian, dia beda dari yang lain. Walaupun otaknya pinter, tapi tetep aja dia kadang lemot!"  Aku hanya diam, malas menanggapi apa yang Lala katakan. Sejak awal sudah aku katakan, aku tidak lemot hanya berbeda frekuensi. "Gue tau, lo boleh pergi."  "s****n!"  Detik berikutnya, Lala pergi meninggalkan aku dan Alfian. Aku baru menyadari jika kami belum sempat berkenalan sejak kemarin. "Tiap hari lo harus suapin gue," Dengan cepat aku menggeleng, membuat kedua alisnya Alfian semakin menggemaskan. "Lo nggak mau?" tanya Alfian. Aku tidak tahu, apa aku harus bersikap manis padanya. Sebenernya hubungan kami apa? apa kami benar benar sudah berpacaran? "Aku enggak setiap hari ke kantin, kadang aku makan bekal di kelas." jawabku cepat. Alfian mengangguk sebelum menjawab. "Kalau gitu, mulai besok. Lo harus bawain gue bekal." Aku sibuk mencari buku di perpustakaan. Tugas makalah minggu ini harus selesai, dan aku belum mengerjakannya. Semakin lama, rasa malasku semakin rajin.  "Hai mantan,"  Aku hanya diam, tidak berniat membalas sapaannya. Jujur hatiku masih sakit, tapi lihatlah Arya dengan mudahnya menyapaku setiap bertemu. Aku yakin, Arya berniat membuatku gagal move on. "Kok diem?" tanya Arya padaku, sementara tangannya dengan mudah mengacak rambutku. "Diem bisa!"  Kami berdua menoleh ke belakang, Alfian menatap tajam ke arah kami. Aku tidak tahu alasan dia marah, mungkin karena belajarnya terganggu. "Ups, ada orang." ucap Arya dengan nada mengejek, aku tidak memperdulikan mereka. Aku lebih memilih meneruskan kegiatanku mencari buku. "Sampai jumpa mantan, jangan cepet cepet ya move on nya." Arya mengatakan itu setelah mencubit sebelah pipiku, aku tidak mengerti apa yang ada di pikirannya. Setelah Arya berlalu, aku masih memikirkan perbuatannya kepadaku. Dulu sejak kami berpacaran, Arya tidak pernah menyapaku sama sekali. Lalu sekarang? "Seneng?"  Aku terkejut saat Alfian menatapku tajam. Raut wajahnya sulit untuk di tebak. "Maaf ya Fian, gara gara aku. Kamu enggak jadi belajar," aku merasa tidak enak pada Alfian, seandainya mantanku tidak menghampiriku mungkin aku tidak akan bermasalah dengan Alfian. "Gue tanya lo seneng?" Alfian mengulang pertanyaannya. Aku menatapnya takut, memangnya aku harus merasa senang karena apa? "Aku lagi banyak tugas, mana mungkin aku seneng." jawabku cepat, lalu mencari buku di rak sebelah. "Lo seneng ngobrol sama mantan? Padahal ada pacar lo di sini?"  Aku kembali terdiam. Arya memang mantanku, tapi pacar? Aku memperhatikan sekeliling, tidak ada orang untuk di akui sebagai pacar. Lalu siapa? "Ngapain lo nengok kanan kiri?"  Aku meringis, tidak ada orang lain di sini. Hanya ada aku dan Alfian. "Tadi kamu bilang pacar aku disini. Tapi di sini enggak ada siapa-siapa," Alfian menghembuskan nafasnya berat, apa aku melakukan kesalahan? "Pacar lo itu gue!" "Lo lupa, tadi pagi kita udah jadian." Aku teringat kejadian aneh tadi pagi, sungguh aku tidak sengaja mengatakan iya. Tapi kenapa Alfian menganggap serius? "Fian, tadi pagi aku enggak sengaja jawab iya."  Alfian mengangguk. "Gue tau. Tapi apa yang udah terucap enggak bisa di tarik lagi!"  Aku melongo mendengar apa yang Alfian katakan. Mana mungkin, dua orang yang tidak memiliki perasaan yang sama bisa menjalani sebuah hubungan? "Tapi kita bisa putus."  Aku tidak akan melanjutkan hubungan ini, cukup hubunganku dengan Arya yang penuh kebohongan. Aku tidak ingin kecewa untuk kedua kalinya. "Kita jadian baru tadi pagi, dan lo udah minta putus?"  Aku segera mengangguk. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk putus dari Alfian. "Kalau bisa pacaran, kenapa harus putus?" Bahuku lemas, apa yang Alfian lihat dariku? masih banyak gadis di sekolah ini jauh lebih cantik dan pintar. Tapi aku tidak akan menyerah. "Kita baru kenal Fian, sebuah hubungan itu enggak akan bisa bertahan lama tanpa adanya rasa yang sama," Alfian hanya terdiam, aku juga tidak tahu apa yang sedang dia fikirkan. Aku memilih keluar dari perpustakaan setelah menemukan buku yang aku cari. "Stevi."  Langkahku terhenti, aku mendengar langkah Alfian mendekat ke arahku. Dengan cepat, Alfian membalikkan tubuhku. "Kenapa?" aku berharap Alfian tidak akan meneruskan hubungan ini. "Lo mungkin baru kenal gue, tapi gue udah kenal lo dari lama. Lo yang selalu sendirian di perpustakaan karena enggak punya temen. Lo yang di jadiin selingkuhan sama Arya, gue tahu semuanya." Aku masih menunggu Alfian menyelesaikan ucapannya, entah mengapa hatiku merasa sensasi aneh saat aku tahu selama ini ada orang yang diam diam memperhatikanku dari jauh. "Sebenernya Arya itu udah lama suka sama lo sebelum lo jadi selingkuhannya. Tapi, hubungannya sama Anya udah terlanjur lama. Dia cinta sama Anya, di sisi lain dia sayang sama lo." Aku tercengang mendengar penjelasan Alfian. Sejak awal aku memang melihat ketulusan dari Arya, sekeras apapun usaha untuk membenci tapi rasa cintaku lebih besar.  "Tapi enggak tau kenapa, gue enggak bisa lihat lo nangis. Apalagi nangisin Arya."  Alfian menyandarkan tubuhnya di dinding perpustakaan. Sesekali cowok itu memejamkan matanya. "Gue bakalan jadi orang bodoh, kalau tetep izinin lo balikan sama Arya!" "Aku enggak mau jadi pengganggu hubungan orang, aku juga udah berusaha move on dari Arya." Ucapku penuh keyakinan. Bukankah wanita baik adalah wanita yang tidak merebut kebahagiaan wanita lain? Aku melihat Alfian mengembangkan senyumnya, ya Tuhan kenapa dia terlihat lebih tampan saat tersenyum? "Jangan pernah minta putus, biarin gue jadi obat patah hati lo," "Tapi kamu bukan pelampiasan Fian."  Aku tidak akan pernah menggunakan seseorang untuk melupakan seseorang, itu prinsipku sejak dulu. Tangan Alfian bergerak, merapikan rambutku.  "Gue yang maksa jadi pelampiasan lo, biarin gue jadi alasan lo tersenyum. Apa boleh?" Mataku memanas. Ini kedua kalinya aku akan menagis di hadapan laki laki. Namun, kali ini berbeda. Aku menangis bukan karena patah hati, tapi karena ucapannya membuatku merasa di cintai. "Jangan nangis, cukup kemarin gue lihat lo nangisin si b******k itu." Aku langsung mengangguk, membenarkan apa yang Alfian katakan. Jika ada seseorang yang membantumu berdiri saat jatuh, maka dia adalah orang yang sama yang akan kamu ajak berlari. "Makasih Fian."  Alfian menggeleng lalu menghapus air mataku. "Itu gunanya pacar, selalu menjaga bukan menyakiti!" Aku tersenyum tulus. Mungkin aku masih mencintai Arya, rasaku padanya begitu besar. Namun, Alfian adalah pengobat luka di saat yang tepat. Terimakasih Tuhan, aku hanya kehilangan orang yang aku sayang tapi aku masih punya orang yang menyayangiku. "Nanti pulang bareng mau?" Perlakuan kecil dari Alfian adalah yang pertama aku dapatkan. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk move on. "Mau."  Untuk kesekian kalinya aku terpesona melihat senyuman Alfian. Dia baik, semoga kami bisa selalu bersama. Aku tidak berharap akan menjadi pasangan nantinya, jika boleh memilih. Aku lebih memilih menjadi sahabatnya saja, sahabat hidup. "Tapi gue cuma punya motor, gimana?" Aku terdiam, apa Alfian fikir aku adalah gadis gila harta?  "Alfian."  "Hm."  Aku memperhatikan wajahnya yang tampan, alis yang tebal dan bulu mata yang lentik. Membuatku merasa iri karena tidak sesempurna itu. "Calon imam itu di depan, bukan di samping."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN