Jangan pergi. *** Di meja makan, Lingga dan Andin saling pandang dan kemudian mengamati Lia yang makan tapi seperti orang kehilangan nyawa. Lia mengaduk-aduk makanannya sebelum kemudian memasukkan ke dalam mulut dengan sangat perlahan. Mengunyah pun perlahan bahkan seperti tidak mengunyah. "Kenapa, Ma?" tanya Andin. Lia tak menyahut selain mengunyah pelan-pelan seperti orang pemalas. "Mikirin, Ayang?" tanya Andin lagi. Kali ini Lia merespon dengan menganggukkan kepala. Berupa anggukan lemah. "Kalau terlalu mikirin Ayang, kenapa tadi diijinkan?" Lia terdiam, tatapannya ke sedikit ke atas tapi bukan ke langit-langit ruang makan. "Gimana, ya, Pa...?" "Apanya gimana?" Lia kemudian menatap dalam suaminya. "Wajar, gak, Pa, kalau saya malah bersikap tenang?" Kini ganti Andin yang terdi

